
"Ini gara-gara istrinya Kak." Ucap Andra
Mata Mawan membulat.
"Kau menyalahkan istrinya? Apa yang dia lakukan memangnya?" Mawan meninggikan nada suaranya dan mulai tersinggung.
"Awalnya hanya salah paham, tapi entah kenapa Rendi jadi marah-marah padaku sampai berani menonjok ku."
"Menonjok?" Mawan mengerutkan dahi.
"Iya," Andra mengangguk. "Padahal aku hanya bilang kalau aku tidak suka dengan istrinya,"
Brakkk.... Mawan mengebrak meja. "Apa maksudmu tidak suka!" Pekiknya, kini Mawan menatap Andra dengan sangat tajam sambil berdiri.
Kok dia marah-marah sih. Oh aku tahu, mungkin dia juga terlena dengan wajah polos menantunya.
"Apa Kakak tahu istri Rendi adalah cleaning service di kantor Rendi dulu? Dia bahkan tidak punya darah orang kaya. Tapi Rendi begitu mencintainya, aku curiga dia pakai pelet untuk meluluhkan hati Rendi." Tutur Andra seraya menyunggingkan bibir.
Brengsek! Lancang sekali mulutnya.
Mawan kini berjalan menghampiri Andra yang tengah duduk, tangannya sudah dia kibas-kibaskan.
Tapi Andra masih melanjutkan omongannya, "Aku tahu Kakak hanya ayah tiri Rendi, tapi memang Kakak tidak kasihan kalau sampai Rendi di tipu oleh....." Belum sempat Andra meneruskan ucapannya, salah satu tangan Mawan sudah mencekik lehernya, dan mendorong tubuhnya di pojok tembok.
"APA KAU BILANG DI TIPU? SIAPA YANG AKAN MENIPU RENDI??" Gertak Mawan sorotan matanya bergidik ngeri.
"Is-istri....."
"AKU AKAN MEMBUNUHMU ANDRA!! Pekik Mawan.
Anton tersentak, dan menghampiri mereka. Mencoba menghentikan perlakuan Mawan kepada bosnya, "Pak, apa yang Bapak lakukan? Lepaskan Pak Andra, dia bisa mati." Anton mencoba menarik lengan Mawan namun justru perutnya di tonjok.
BUUUGGGGG..... "Kacung sialan diam kau! Habis ini kau yang akan ku bunuh!" Mata Mawan memerah dan luapan emosi membara. Padahal dia kemaren habis masuk rumah sakit gara-gara darah tinggi.
Mata Andra membulat sempurna dia binggung kenapa tiba-tiba Mawan mencekiknya, tangannya mencoba melepaskan tangan Mawan yang menyangga lehernya, tapi tidak bisa. Bahkan dia mencekiknya sangat keras. "Kak.... Ap-apa..." Suaranya terbata-bata.
"KAU BERANI SEKALI MERENDAHKAN INDAH DI DEPAN AYAHNYA, KAU HARUS MATI ANDRA!!"
Apa ayahnya? Jadi Indah adalah anaknya? Kenapa Anton tidak memberitahuku. Matilah aku.
Anton bodoh! Aku tidak mau mati konyol.
Anton mulai panik dia berlari keluar dan meminta pertolongan pada satpam untuk menghentikan aksi Mawan. Kalau tidak, bosnya akan tutup usia.
__ADS_1
Nafas Andra benar-benar sudah di ujung tanduk, Walau dia mencoba memberontak tetap saja tidak bisa, tubuh Hermawan sangatlah kuat, kali ini Mawan mencekiknya dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Bahkan pakai tenaga dalam, Andra merasakan lehernya akan segera putus.
"Pah.... Lepaskan Andra!" Teriak seorang wanita yang baru masuk kedalam dan menarik lengan Mawan. "Nanti dia mati Pah...."
Perlahan Hermawan melepaskan leher Andra dari genggaman tangannya, tubuh Andra tersungkur jatuh dan tidak sadarkan diri.
Brukkk.....
Apa dia beneran sudah koit? Anton yang masuk lagi ke ruangan itu langsung membopongnya dan membawa Andra ke panti jompo, eh salah. Ke rumah sakit.
Nafas Hermawan begitu tersengal-sengal, hatinya begitu sakit, karena mendengar umpatan yang keluar dari mulut kotor Andra.
Santi langsung memberikan air minum, guna meredakan amarahnya, "Papah kenapa sih bisa kayak gini? Papah kan baru sembuh. Andra juga kenapa di cekik seperti itu. Papah ada masalah apa padanya?"
"Dia telah merendahkan anakku!" Mawan menepuk dadanya sangat keras, sampai berbunyi.
"Dia bilang Indah tidak punya darah orang kaya dan Indah pakai pelet untuk meluluhkan hati Rendi. Enak saja!" Bantahnya.
"Dia pikir Indah wanita apa? Andra Brengsek! Mulutnya begitu lancang!" Pekik Mawan.
Santi terkejut. "APA?? Andra gila! berani sekali bilang kayak gitu. Mamah menyesal tadi menghentikan Papah! Harusnya biarkan saja Andra mati!" Umpat Santi geram dengan tangan yang sudah mengepal.
"Semoga saja dia sudah mati." Timpal Mawan sambil menyeringai.
Di kantor Rendi.
Tok... Tok... Tok.
"Ya masuk."
Ceklek....
Melly masuk sembari membawa secangkir kopi untuk Dion. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk, bahkan mereka hanya bisa berbicara tentang pekerjaan. Pada hal pernikahan mereka sudah di depan mata.
"Pak maaf mengganggu, saya ingin mengantarkan kopi untuk Bapak." Melly menaruh kopi di atas meja.
"Wah terimakasih Mell... Tapi ini sudah jam makan siang." Dion melihat jam di pergelangan tangannya, "Bagaimana kita makan siang bareng?" Dion menawarinya.
"Memang tidak apa-apa kita pergi berdua Pak?" rasanya Melly masih merasa canggung.
"Lho nggak apa-apa, lagian kan kamu akan jadi istri saya." Dion menutup laptopnya dan mengenggam tangan Melly untuk pergi ke cafe dekat kantor.
Mereka langsung memesan makanan dan minuman.
__ADS_1
"Pak tadi pagi saya bertemu dengan Pak Andra."
"Di mana?" Dion langsung memegangi tubuh Melly, "Apa kau di apa-apain sama dia Mell?"
"Di kantor Pak Mawan. Saya tidak di apa-apain kok Pak." Melly menggelengkan kepala. "Tapi saya takut kalau rencana pernikahan kita akan gagal." Dia menurunkan pandangan. Rupanya Melly mengingat ucapan Andra yang mengatakan kalau dia tidak boleh menikah. Tapi apa masalahnya? Andra kan tidak berhak melarangnya.
"Lho kenapa kamu ngomong kayak gitu? Kita akan menikah Mell, tidak mungkin gagal. Kau harus yakin." Tangan Dion perlahan mengelus punggung tangan Melly.
"Tapi sepertinya saya merasa tidak....."
"Pak Dion..." Sapa seorang wanita yang menghentikan ucapan Melly.
Dia langsung duduk diantara mereka. "Pak maaf saya ingin bicara dengan Bapak." Ucap Irene.
Dia sekretaris Pak Rendi yang satu setengah hari itu kan?
Batin Melly.
Dion menghela nafas, "Kau tidak lihat saya sedang makan Rene? Lagian ada perlu apa?" Dion mendengkus kesal, dia merasa Irene menganggu waktu berdua nya dengan Melly.
"Ya sudah Bapak makan dulu saja, saya juga mau pesan." Irene langsung memesan makanan, tapi dia menatap wajah Melly begitu keki di depannya.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Perasaan aku tak punya salah padanya.
Batin Melly.
Setelah mereka menyelesaikan makannya Irene berkata lagi. "Pak Dion apa kita bisa bicara berdua?" tanyanya.
Berdua? Memang Pak Dion mengenal dekat dengannya.
Batin Melly.
Melly berdiri. "Ya sudah Pak Dion. Saya balik duluan ke kantor." Ucapnya, Dion menghentikan Melly dan memegang lengannya.
"Nanti saja Mell, bareng dengan saya. Duduk lagi." Dia meminta Melly untuk duduk kembali, Melly pun menurut.
"Pak Saya mau bicara berdua...."
"Kalau mau bicara tinggal ngomong saja. Tidak perlu pakai berdua, memangnya rahasia. Cepat bilang!" Nada Dion sedikit meninggi, dia merasa sebal dengan Irene dan dia juga tak mau Melly salah paham.
Irene menghela nafas. "Pak, apa Bapak bisa bantu saya jadi sekretaris Pak Rendi lagi?"
^^^🌾To be continue.......^^^
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ❤️❤️