
"Sejujurnya aku pria yang kesepian. Kau mau menemaniku, tidak?" tangannya membelai pipi Siska. "Hanya semalam, apapun yang kau minta aku akan memberikannya," tawar Reymond.
Siska terdiam dan menelan saliva nya begitu kasar, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
Seseorang tengah keluar dari toilet pria dan melihat aksi Reymond sedang merayu Siska disisi tembok, terlihat tubuh mereka begitu dekat. Tapi pria itu hanya melihat wajah Siska.
Siska? Sama siapa dia?
Batin Anton seraya berjalan meninggalkan toilet, tapi bola matanya masih melihat pada pria yang sedang bersama Siska. Anton hanya melihat punggungnya dari belakang.
Setelah dia tahu, matanya terbelalak kaget.
Pria itu, kan. Yang waktu itu ketemu aku di Cafe bersama Bu Santi? Ternyata dia kenal dengan Siska juga.
Batin Anton.
Kepalanya seakan miring, tetap melihat pada Reymond dan Siska. Sampai-sampai menabrak tubuh pria lain.
Brukkk.....
Anton membenarkan posisi kepalanya dan melihat kearah depan, ternyata pria yang dia tabrak adalah Rio. "Pak Rio, maafkan saya. Saya tidak sengaja," ucap Anton menurunkan pandangan.
"Kau ini buta atau a ....," ucapan Rio terhenti, dia melihat pemandangan Reymond yang tengah merayu Siska sambil menyodorkan kartu nama padanya.
Dia Reymond, kan? Apa yang dia lakukan? Bejat sekali kelakuan! Sudah pernah menyentuh Indah dan bilang cinta padanya, sekarang dia bisa merayu wanita lain. Mana si Jalang Siska lagi, tidak akan aku biarkan kau mendapatkan Indah, Reymond!
Umpat Rio dalam hati.
Dia mengambil ponsel pada saku jas, dan mengabadikan momen itu. Senyum Rio terlihat begitu menyeringai, dia langsung mengirim foto itu kepada Ayahnya.
Kakinya berjalan masuk kedalam toilet, tanpa Siska dan Reymond sadari.
Setelah selesai dari urusannya, Reymond dan Rizky pulang dari pesta Andra menaiki mobil menuju tempat mereka masing-masing.
"Bagaimana, Rey. Sukses nggak?" tanya Rizky seraya menyetir mobil.
"Gue nggak tau sih, tapi gue sudah memberikan dia kartu nama gue Riz. Ya semoga saja dia kemakan rayuan gue," jawab Reymond penuh harap.
***
Keesokan harinya, Indah terbangun dari tidur dan cepat-cepat menuju kamar mandi. Rasanya begitu tak tertahan karena ingin buang air kecil, karena sudah terlanjur berada di kamar mandi, dia jadi sekalian mandi.
Baru saja selesai melucuti pakaian dan berjalan menuju shower, tiba-tiba perutnya bergejolak sangat mual.
__ADS_1
Indah buru-buru menghampiri westapel dan memuntahkan isi didalam perut. "Uuek ... Uuek ... Uuek."
Dia menyalakan kran air pada westapel dan membasuh bibir. "Perutku sakit sekali, mual lagi," lirih Indah.
Tiba-tiba dia teringat ucapan Reymond yang memintanya untuk memakai respect. Tapi dia sendiri lupa kemarin tidak membelinya, Indah kembali menuju shower untuk menyelesaikan mandinya.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, lagi-lagi perutnya itu bergejolak dan kembali mual. Indah berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan lagi dalam westapel. "Uuek ... Uuek ... Uuek."
Dia kembali membersihkan bibirnya menggunakan air. Perut sudah terasa kram dan kepala ikut pusing, Indah berjalan pelan menuju kasur untuk menyender ditepi ranjang.
"Apa jangan-jangan aku beneran hamil?" tanya Indah pada diri sendiri.
Dia mengingatkan kapan terakhir datang bulan. Tapi dia memang sering telat datang bulan sehabis melahirkan, jadi Indah merasa makin ragu.
Bayu terbangun dan duduk, bokongnya menggeser kearah Indah. Dia melihat Bundanya sedang memijat kepalanya sendiri.
"Bunda napa? Cakit?" tanya Bayu seraya mengangkat tangannya keatas, ingin memegang wajah Indah tapi tangannya tidak sampai.
Indah menoleh dan tersenyum, "Tidak sayang, Bunda tidak apa-apa," jawab Indah seraya mengelus punggung Bayu.
Bayu merosotkan tubuhnya kebawah tempat tidur. "Kamu mau kemana sayang?" tanya Indah.
Kaki kecil Bayu sudah berjalan menuju pintu kamar. "Bayu mau anggil Oma cama Opa, Bunda cakit."
"Oma," ucap Bayu menghampiri Santi yang tengah berdandan didepan meja rias.
"Aduh, cucu Oma udah kesini? Kenapa sayang? Bunda sudah bangun, belum?" tanya Santi seraya mengangkat tubuh Bayu untuk duduk di pangkuannya.
"Oma, Bunda cakit. Adi ual-ual di kamal mandi," tutur Bayu.
Mawan menghampiri Santi untuk menggendong Bayu diatas dadanya. "Apa tadi yang kamu bilang? Bunda mual?"
"Iya, Opa," sahut Bayu.
Mual? Apa mungkin Indah masuk angin? Apa magh? Dari kemarin dia seperti tidak nafsu makan. Kasihan dia.
Batin Mawan.
Dia sudah melangkah menuju pintu kamar, tangannya memegang gagang pintu. Namun terjeda karena terasa getaran ponselnya pada saku jas. Mawan mengambil ponselnya untuk mengangkat telepon.
"Halo, pagi. Pah," sapa Rio.
"Pagi. Ada apa?" tanya Mawan.
__ADS_1
"Papah semalam sudah lihat foto yang aku kirim belum?"
"Foto? Foto apa? Papah tidak menerima foto apapun."
"Masa sih? Pah?"
"Iya. Memangnya foto apa?" tanya Mawan penasaran.
"Nanti saja di kantor aku bahas, pagi ini aku mau ke kantor Papah. Ada hal yang ingin aku obrolkan."
"Oke."
Mawan menutup sambungan telepon dan melihat pada Santi yang sibuk menyisir rambut panjangnya. "Mamah, Mamah tahu Rio mengirimkan foto di ponsel, Papah?" tanya Mawan.
"Tidak. Foto apa memangnya?" Santi malah berbalik tanya.
"Papah juga tidak tahu, yasudah Papah ke kamar Indah dulu." Mawan membuka pintu kamar seraya berjalan keluar.
Untung saja semalam aku lihat foto itu lebih dulu dari Papah. Aku bisa segera menghapusnya, Rendi ini bodoh apa bagaimana? Bisa-bisanya dia merayu Siska tidak lihat-lihat orang sekitar. Bodohnya tidak pernah hilang dari dulu.
Batin Santi.
Ceklek.....
Mawan membuka pintu kamar Indah bersama Bayu dan Bibi pembantu. "Sayang, kamu kenapa? Sakit?" tanya Mawan dengan nada lembut.
Indah tengah berbaring dan langsung bangun menyenderkan punggungnya disisi ranjang, tidak menjawab pertanyaan dari Ayahnya.
Bibi menaruh secangkir susu jahe diatas meja dekat kasur.
"Ini susu jahe, Nona. Supaya perut Nona tidak mual-mual lagi," ucap Bibi seraya berjalan keluar.
Indah menjawab dengan anggukan kepala, tangannya meraih susu itu dan menyeruputnya, terasa hangat masuk kedalam perut. Karena minuman itu juga Bibi buat tidak terlalu panas, supaya langsung bisa diminum.
Mawan mendudukkan bokongnya disamping Indah sambil memangku Bayu, tangannya menyentuh dahi, leher dan lengan. Untuk mengecek panas atau tidak.
"Badan kamu tidak panas, mungkin hanya masuk angin saja. Kamu hari ini tidak usah ke kantor. Istirahat saja di rumah," ucap Mawan.
"Iya, Pah." Wajah Indah terlihat begitu lesu dan tidak bergairah.
"Kamu pengen sarapan apa? Nanti Bibi buatkan?" tanya Mawan seraya mencium rambut Indah.
Indah mengelus perutnya, "Aku pengen makan masakan Papah Antoni, Pah. Apa aku boleh kesana?"
__ADS_1