Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 30. Bunda Bayu memang antik


__ADS_3

"Pak Jojo berbohong! Ya sudah bilang ke Papah bebaskan dia Pak. Mas Reymond tidak bersalah. Aku mencintainya," desis Indah kesal seraya menutup telepon.


"Jangan kasih tahu Indah, biarkan saja," ucap Hermawan seraya berdiri meninggalkan cafe. Mereka berdua masuk lagi ke dalam kantor.


Harun sudah duduk menunggu di dekat lobby, melihat Mawan datang Harun langsung menghampirinya.


"Selamat siang Pak Hermawan," sapanya dengan sopan.


"Ada apa kau kesini? Tumben," Mawan berkata sambil lewat dia berjalan menuju lift dengan Jojo.


Harun berlari kecil dan ikutan masuk ke dalam lift. "Pak Mawan, boleh saya bicara dengan Bapak? Ini tentang kasus Nona Indah."


"Oh, kau jadi pengacara si mesum itu?" tanya Mawan sambil melengos.


"Pak Reymond maksud Bapak?"


Mawan mengangguk, kini mereka sudah berada di dalam ruangan Mawan. Harun memberikan dokumen yang sudah dia cetak, niat hatinya ingin meminta tanda tangan.


Harun meletakkan dokumen itu di atas meja kerja Mawan, Mawan sudah duduk di depan di kursi putar miliknya.


"Bapak, saya minta Bapak cabut tuntutan atas nama Pak Reymond dan Pak Rizky. Pak Rizky melakukan hal itu karena membantu temannya, dan Pak Reymond melakukan itu karena dia mencintai anak Bapak. Nona Indah," ucap Harun dengan hati-hati.


Brakkk......


Mawan sudah mengebrak meja, tubuh Harun sudah mulai bergetar. Belum apa-apa dia sudah merasa ketakutan.


"Kau bilang apa tadi? Karena cinta? Dia tidak mencintai anakku bodoh! Tapi dia melecehkannya, kau kira anakku wanita murahan hah?" Mawan menunjuk-nunjuk wajah Harun yang sudah menunduk itu.


"Aku tahu Reymond, pertama kali melihat anakku saja. Dia sudah menatapnya dengan tatapan mesum! Dan masih untung dia hanya di penjara tidak aku bunuh!" Pekik Mawan marah-marah.


Keringat di dahi Harun sudah mengalir deras. "Iya Pak, saya tahu dia salah. Tapi dia sangat mencintai anak Bapak, dia ..."


Mawan melempar dokumen yang berada di meja ke sembarang arah.


"Mencintai? Persetan dengan semuanya, anakku butuh laki-laki yang bisa melindungi dan menjaganya, bukan seperti Reymond. Lagian aku tidak tahu asal usul dia bagaimana!"


"Sekarang kau keluar dari ruangan ku, karena sampai kapan pun aku tidak akan membebaskan pria sialan seperti Reymond!"


"Tapi Pak ..."


Mawan mengepalkan salah satu tangannya dan mengangkatnya ke atas. "Kau ingin di usir sambil di tonjok begini," Matanya sudah melotot.

__ADS_1


Harun langsung bangun dari duduknya, "Tidak Pak, saya akan pergi. Selamat siang," ucap Harun seraya mengambil dokumen di lantai dan meninggalkan ruangan Mawan.


Dia melangkah keluar sambil memegang dokumen. "Pak Hermawan ternyata seram juga, bagaimana bisa aku meminta dia mencabut tuntutannya," ucap Harun pelan seraya berjalan keluar, dia mulai bimbang harus kemana.


Langkah kakinya terhenti melihat Dion berpapasan dengannya, Dion berjalan di belakang Rio yang hendak masuk.


"Pak Harun," panggil Dion, Rio juga menoleh sekilas namun dia tetap melanjutkan langkah kakinya, bahkan meninggalkan Dion.


"Dion."


"Bapak apa kabar?" Dion sudah mengajaknya berjabat tangan, mereka berdua sudah saling mengenal dan akrab. Terkadang sama-sama mendapatkan tugas yang konyol oleh Rendi.


"Saya baik, bagaimana denganmu?" tanya Harun.


"Saya juga baik. Bapak ada perlu apa datang ke sini?"


"Saya sedang mengatasi kasusnya Pak Reymond. Oh ya Dion, apa kau punya nomor telepon Nona Indah?"


"Tentu punya Pak, tapi saya tidak tahu masih aktif atau tidak," Dion sudah mengambil ponselnya untuk di berikan oleh Harun.


***


Sementara itu di rumah sakit. Santi memesan baju dari butiknya dan menyuruh sopir untuk mengantarkan baju untuk Indah. Dia begitu risih melihat leher Indah karena bekas gigitan seorang pria, tapi justru Indah sendiri merasa enjoy saja. Dia terlihat senang dan bahagia.


Santi perlahan menurunkan kepala Bayu dari pahanya, dia berdiri karena ingin membuka pintu.


"Selamat siang Bu Santi, ini baju pesanan ibu," ucap sang sopir seraya memberikan paper bag.


"Iya terima kasih Pak."


Santi sudah celingak-celinguk mencari Indah yang sejak tadi belum pulang dari kantin, semenjak masalah penculikan itu. Baik Indah ataupun Bayu, dia jadi sangat mencemaskan mereka berdua.


"Tante Santi," panggil seorang laki-laki yang barusan lewat.


Santi mulai memperhatikan wajahnya, seakan tak asing namun dia seperti lupa namanya, "Saya Steven. Apa Tante lupa," dia sudah mengenalkan dirinya.


"Oh, Tante tidak lupa."


Steven memegang keranjang buah yang sudah di press di tangannya, dia juga memang ingin menjenguk seseorang.


"Siapa yang sakit Tante? Apa Indah?" mata Steven sudah melihat sedikit dari luar, tapi tidak terlihat siapa yang sedang di dalam.

__ADS_1


"Bukan, Ibunya Indah yang sakit."


"Boleh saya menjenguknya?"


Santi menggeser tubuhnya supaya Steven bisa masuk ke dalam, dia melihat Sarah berbaring tidak sadarkan diri.


"Sakit apa ibunya Indah?" tanya Steven seraya menaruh buah di atas meja.


"Dia terkena serangan jantung."


"Mamah," suaranya seperti Indah. Mereka berdua berbalik badan dan melihat kearah pintu. Indah bahkan sudah masuk ke dalam.


"Kamu lama sekali? Ngapain aja di kantin?" Santi sudah mendekati menantu kesayangannya itu, tidak lupa mengecup keningnya.


"Mamah aku cuma sebentar, lho ada Pak Steven. Ngapain di sini Pak?" tanya Indah.


Mata Steven berfokus pada leher Indah yang merah, semua orang yang melihat Indah langsung berfokus pada leher yang sangat membuat para mata salah paham.


"Tunggu sebentar ya Steven," Santi menarik tangan Indah untuk mengajaknya ke dalam kamar mandi.


Indah sangat kaget melihat tingkah aneh Santi, "Mamah kenapa bawa aku masuk ke kamar mandi? Ada apa?" tanya Indah binggung.


Santi memberikan paper bag ke tangan Indah, "Kamu ganti baju sayang, Mamah tidak ingin semua melihat leher kamu yang merah. Mamah yang malu," lirih Santi pelan.


Deg.....


Indah memegangi leher jenjangnya itu, "Maaf Mah. Indah akan ganti baju."


Indah langsung menurut dan mengganti pakaian, dia mengenakan rok tutu berwarna merah di bawah lutut dengan kaos pendek kerah panjang. Hingga bisa menutupi leher merahnya.


Tak lama Indah keluar sambil membereskan rambut dia juga melihat Steven duduk dan mengobrol dengan Santi. Bayu sudah bangun bahkan sedang berada dalam pangkuan Steven.


"Kamu cantik Indah," puji Steven melihat Indah keluar kamar mandi.


"Bunda Bayu memang antik..." ucap Bayu.


Bayu merentangkan tangannya, meminta untuk di gendong Indah. Indah langsung mengangkat tubuh Bayu dan menggendongnya.


"Pak Steven ada perlu apa? Apa mau jengguk Mamah?" tanya Indah, pertanyaan yang tadi belum sama sekali di jawab oleh Steven.


"Aku sebenarnya mau menjenguk Nella, tapi tidak sengaja bertemu Tante Santi. Nggak tahunya Mamah kamu sakit, jadi aku sekalian menjenguknya,"

__ADS_1


"Oh ... Terimakasih Pak, Nella sakit apa?"


__ADS_2