
Reymond memarkirkan mobilnya tepat didepan gedung itu dan membuka pintu mobil.
"Malam, Pak," sapa bodyguard didepan.
Reymond mengangguk dan berjalan masuk kedalam. Dia melihat Ali, Aldi dan juga Hersa, kakinya melangkah menghampiri mereka.
"Malam, Pak Reymond," sapa mereka bertiga.
"Malam."
Reymond melihat kondisi Siska, dia tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Siska bahkan masih memakai handuk kimono, tapi dia belum sadarkan diri.
"Kenapa dia belum bangun?" tanya Reymond.
"Mungkin sebentar lagi, Pak," sahut Ali dan Aldi. Mereka berdiri disamping kanan-kiri Siska.
Sedangkan Hersa, disamping kiri Reymond tepat didekat meja dan beberapa pelaratan.
Reymond mengambil ponselnya pada saku jas untuk menyalakan perekam suara, setelah itu dia beralih mengantonginya pada kantong celana.
"Bawa sini sarung tangannya," pinta Reymond pada Hersa seraya membuka telapak tangan.
Hersa memberikan padanya, perlahan sarung tangan itu berhasil menutupi seluruh punggung dan telapak tangan.
Tak ingin berlama-lama menunggu Siska sadar. Reymond mengayunkan lengannya, kearah pipi kanan Siska.
Plakk......
Sebuah tamparan keras itu berhasil membangunkan Siska dengan paksa, perlahan mata itu terbuka dan terbelalak. Melihat Reymond didepan wajahnya tengah senyum menyeringai.
"Selamat malam, cantik," ucap Reymond seraya melipat kedua tangannya diatas dada.
"Eemmmm...,"
Deg.....
"Eemmm ...," Dia baru sadar kalau bibirnya sudah di lakban. Dia menurunkan kepalanya, melihat tubuhnya tengah di ikat kuat. Siska mulai memberontak.
"Eemmmm ...,"
"Kau mau bicara cantik? Oke, aku akan membukanya." Tangan Reymond sudah berada pada ujung lakban itu, jarinya dengan cepat menarik lakban dengan kasar.
"Aaww." Siska meringgis kesakitan, bibirnya terasa begitu perih.
"Kenapa? Segitu saja sudah meringgis? Itu belum apa-apa cantik."
"Reymond. Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Siksa.
__ADS_1
Mata Siska berkeliling melihat seluruh isi ruangan gedung itu, dia juga melihat kedua pria yang membiusnya dan Hersa disamping Reymond.
"Aku ingin balas dendam padamu."
Deg.....
"Balas dendam? Apa maksudmu? Bukankah kau mengajakku untuk bersenang-senang dan tinggal bersamamu, Rey? Lalu apa semua ini?" Seluruh isi didalam otaknya terisi penuh sebuah tanda tanya besar.
"Oh, iya. Aku lupa, kau tidak kenal siapa aku. Oke, sekarang aku akan mengenalkan siapa aku sebenarnya." Reymond melirik pada Hersa dan menganggukkan kepala.
Hersa membantunya untuk membuka jas biru dan kemeja putih yang ia kenakan.
Reymond sudah telanjang dada didepan semuanya, tangannya meraba benjolan kiri pada dadanya dan menatap tajam wajah Siska.
"Kau lihat bekas luka ini? Ini luka yang kau buat jalang Sialan!" seru Reymond.
Lagi-lagi tangannya berayun dan menampar wajah Siska.
Plakk.......
"Aaww, sakit bodoh!" umpat Siska.
Tubuh Reymond membungkuk mendekat pada Siska, tangannya sudah memeras kuat kedua lengannya.
"Aku Rendi Pratama, suami dari Indah Permatasari. Anak dari Santi, anak tiri dari Hermawan, kakak dari Rio Pratama, keponakan Andra Pratama dan satu lagi."
Deg....
Mata Siska terbelalak, dia juga meringgis menahan rasa sakit pada kulit kepalanya.
Apa katanya? Rendi? Bukannya Rendi sudah mati dan menjadi abu?
Batin Siska.
"Apa yang kau katakan? Kau jelas bukan Rendi!" pekik Siska.
Reymond melepaskan rambut Siska dan meraba wajahnya, "Pasti karena wajah ini, kan? Aku sudah operasi plastik, Jalang! Aku juga masih hidup, kau dulu ingin membunuhku, bukan? Sekarang aku yang akan membunuhmu!" pekik Reymond dengan lantang.
Glek......
Apa jangan-jangan benar dia Rendi? Astaga! Bagaimana ini?! Nyawaku terancam sekali! Aku, aku tidak mau mati!
Batin Siska ketakutan, perlahan keringat di dahinya bermunculan. Tubuhnya sudah bergetar dan merinding tak karuan, kalau bisa meminta, dia ingin menghilang saja saat ini.
Reymond mengulurkan tangannya pada Hersa untuk memberikannya sebuah pisau tajam dan lancip itu.
Ujung pisau sudah dia tempelkan pada dada sebelah kiri Siska.
__ADS_1
"Sekitar 3 tahun yang lalu, kau juga menempelkan benda ini padaku, Sis. Bagaimana jika langsung aku tusuk saja?"
Tatapan mata Reymond begitu tajam dan mengerikan, jangan lupakan senyum menyeringai-nya juga. Tangan Reymond sudah menekan-nekan benda itu, ujung pisau sudah lolos dari handuk dan menempel pada kulit Siska.
"Ren ... Rendi, maafkan aku. Ampuni aku, Ren," pinta Siska dengan nada memelas, air matanya sudah mengalir membasahi pipi.
"Maaf?! Aku disini ingin balas dendam. Bukan mau mendengarkan kau meminta maaf, bodoh!" pekik Reymond.
Siska menatap wajah Reymond begitu dalam, mereka juga sangat berdekatan sekarang.
"La-lalu, apa maumu sekarang, Ren? Tapi aku mohon, jangan bunuh aku. Aku du-dulu mem-membunuhmu ter-terpaksa," ucap Siska terbata-bata, dia begitu ketakutan.
"Terpaksa? Oke! Aku hanya ingin tahu siapa di belakangmu? Aku tahu kau pasti disuruh seseorang! Siapa orangnya, Jalang!" desak Reymond.
"Tidak, Ren. Aku dulu membunuhmu gara-gara kau menolak menikah denganku, itu saja," elak Siska.
"Bohong! Aku tahu pada malam itu kau di telepon oleh seseorang!" tangannya perlahan melepaskan pisau itu sampai tergeletak di tanah, kini tangan kanannya menyangga leher Siska.
"Kau jujur siapa orang yang menyuruhmu! Kalau tidak?! Aku akan mencekikmu, Jalang!" ancam Reymond.
"Tidak, ada Ren. Aku sungguh mencintaimu, aku ingin kau menikah denganku dan meninggalkan Indah, mangkanya aku mengancam mu begitu." Siska masih berusaha untuk berkelit.
"Oh, kau masih belum mengaku?!" Reymond melirikkan matanya pada Ali dan Aldi.
Tangannya sudah terlepas dari leher Siska dan berdiri tegap.
"Angkat dia keatas!" perintah Reymond seraya berjalan mundur.
Deg......
"Apa yang akan kau lakukan, Ren? Jangan bunuh aku," lirih Siska sambil menanggis.
Ali dan Aldi mengangguk, mereka berdua membuka ikatan dari kursi, tapi tangan dan kaki Siska masih di ikat. Ali naik keatas tembok terlebih dahulu dan mengulurkan tangan pada Aldi yang sudah membopong tubuh Siska.
Dengan kerjasama mereka berdua, akhirnya Siska berhasil naik keatas tembok. Mereka memposisikan Siska untuk berdiri dan menghadap pada Reymond dibawah.
Ali dan Aldi melompat turun kebawah dan meninggalkan Siska diatas sana sendirian.
Tubuh Siska sudah bergetar, dia juga melirik kebelakang. Banyak sekali buaya dengan mulut yang ternganga, seakan meminta dia sebagai santapan malamnya.
"Siapkan semuanya!" perintah Reymond.
Ali dan Aldi mengangguk, Ali menancapkan gagang pisau ke tanah. Hingga yang tajam itu menjulang keatas, sedangkan Aldi mengambil beberapa potongan kayu rapuh pada sekitar gedung itu, mereka menumpuknya diatas pisau. Posisinya juga tepat dibawah tembok, mengarah pada Siska yang sedang berdiri diatas.
Hersa mengambil korek api diatas meja untuk membakar kayu itu, hingga tercipta kobaran api kecil. Asap itu berhasil masuk kedalam hidung dan sampai pada tenggorokan Siska.
"Uhuk .... Uhuk ... Uhuk." Siska sudah mulai batuk-batuk.
__ADS_1
Reymond, Hersa, Ali dan Aldi berjalan menjauhi Siska.