Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 17. Menitipkan bayinya


__ADS_3

"Wulan ... sejujurnya aku masih mencintaimu. Apa kamu mau kita balikkan?"


Deg.....


Mata Wulan terbelalak. "Apa yang Kakak katakan? Kakak ini konyol sekali! Aku ini sudah menikah, aku istrinya Mas Rio!"


"Iya aku tau. Tapi aku ingin kembali lagi padamu ... kita mulai lagi dari awal Wulan, aku akan menerimamu apa adanya," pinta Dido.


"Aku tidak mau!"


"Kenapa?"


"Pakai ditanya lagi, aku ini sudah bersuami, Kak!" dengkus Wulan kesal.


"Kau bisa cerai dengannya dan kembali padaku."


Deg.....


"Enak saja! Memangnya semudah itu? Kakak pikir pernikahan itu hanya untuk main-main? Tidak, Kak."


Kalaupun suatu hari nanti aku dan Mas Rio bercerai, aku tidak akan mau kembali padamu, Kak.


Batin Wulan.


***


Disebuah rumah sederhana, tempat tinggalnya para anak-anak yang tidak memiliki sanak saudara dan kedua orangtua. Ada tiga orang pengurus panti juga disana.


Indah, Bayu, Antoni dan Irwan turun, berjalan menuju teras depan. Mereka langsung disambut hangat oleh Susan yang baru saja keluar dari pintu.


"Mbak Indah ... Mbak kesini," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya, Bu. Bagaimana kabar Ibu?"


"Saya baik, Mbak sendiri bagaimana? Perutnya sudah mulai kelihatan sekarang."


Indah langsung mengelus-ngelus perutnya. "Saya juga baik. Oya, kenalkan ini Papah saya." Indah mengenalkan Antoni pada Susan.


Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Saya Antoni."


"Saya Susan."


Tak lama datanglah jasa pengantar katering, tiga orang pria menghampiri mereka sambil menjinjing beberapa kotak makanan.


"Maaf permisi, saya ingin mengantarkan pesanan atas nama Bapak Antoni," ucap salah satu dari mereka.


Antoni menoleh pada ketiga pria itu. "Langsung bawa masuk saja, kedalam," pintanya.


"Repot-repot sekali, Pak. Terima kasih," ujar Susan.


"Tidak masalah, Bu."


"Mari masuk kedalam." Susan mempersilahkan mereka masuk, tapi Irwan memilih menunggu di luar.


Segerombolan anak-anak laki-laki dan perempuan langsung mengerubungi mereka dan bersalaman satu persatu.


Lucu-lucu sekali mereka.


Batin Indah.


"Opa, Bayu mau main cama meleka," ucap Bayu dengan kaki yang hendak turun dari gendongan Antoni.

__ADS_1


"Bagaimana sayang?" tanya Antoni kearah Indah.


"Izinkan saja, Pah. Biarkan Bayu ikut main," jawab Indah.


Antoni mengangguk dan menurunkan tubuh Bayu, kaki kecilnya langsung berlari menghampiri beberapa anak laki-laki yang tengah bermain mobil-mobilan.


"Anak-anak, ajak Bayu main juga, ya?" ucap Susan.


"Iya, Bu!" sahut mereka bersamaan.


Ada sebagian yang sedang makan, belajar, dan bermain.


Kini Susan, Indah dan Antoni duduk sofa. Diatas meja juga sudah ada es jambu dan cemilan untuk tamu.


"Di minum dulu, Mbak. Pak," ucap Susan.


"Iya, Bu," sahut Indah seraya mengambil gelas dan menyedot jus itu lewat sedotan.


Tak lama datang seorang gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda, ia mengenakan seragam SD dan menggendong tas berwarna pink.


"Assalamualaikum," ucapnya memberikan salam.


"Walaikumsalam," sahut mereka yang tengah duduk di sofa.


Gadis itu menghampiri mereka dan menciumi punggung tangan secara bergantian.


"Shelly, ini kenalkan Kak Indah dan ini Ayahnya."


"Hai Kak Indah, hai Papahnya Kak Indah," ucap Shelly sambil melambaikan tangan.


"Hai sayang. Coba sini ... kamu duduk disebelah Kakak," pinta Indah dengan tangan terulur.


Gadis itu menurut dan kini duduk di sampingnya.


"Apa Shelly ini anak yang waktu itu, Bu?" tanya Indah.


Indah mengelus pucuk rambut Shelly secara perlahan.


"Kamu sudah besar sayang, cantik lagi."


Shelly menoleh kearah Indah dan tersenyum padanya.


"Kakak juga cantik."


"Permisi!" pekik seorang laki-laki yang baru datang, ia berdiri tepat diambang pintu.


Mereka semua yang didalam menoleh padanya, Bayu segera berlari menghampiri pria tampan itu.


"Ayah ....," ucap Bayu.


Reymond langsung membungkuk untuk bisa mengendong anaknya.


"Duh ... anak Ayah, sedang apa kamu, sayang?"


"Main Ayah!" ekspresi wajah Bayu terlihat begitu ceria, dia memang jarang sekali bermain dengan anak-anak sebayanya.


"Mas Reymond, kok kamu ada disini?" tanya Indah yang masih duduk di sofa.


Antoni segera menggeser bokongnya supaya Reymond bisa duduk disebelah istrinya.


Langkah kakinya mengarah pada mereka.


"Pak Reymond, selamat siang Pak," ucap Susan.

__ADS_1


"Siang," jawab Reymond seraya duduk dan mencium kening istrinya.


"Mas ... kamu kok kesini? Memang acara persidangan Om Andra sudah selesai?" tanya Indah.


Reymond mengangguk, tapi mendengar nama itu mendadak wajahnya menjadi sendu.


"Lalu dia dihukum berapa lama? Apa selamanya?" tanya Antoni disampingnya.


Reymond menoleh kearah Antoni. "15 tahun, Pah. Sebenarnya aku ingin Om Andra membusuk di penjara ... terdengar begitu jahat memang, tapi menurutku itu lebih pantas."


Antoni mengusap bahu Reymond. "Yasudah, biarkan saja. Itukan sudah keputusan dari Hakim. Lagian 15 tahun itu bukan waktu yang lama, kan?"


"Iya, sih."


"Semoga saja ketika Pak Andra bebas nanti dia akan berubah. Usia dia juga tidak lagi muda, masa masih begitu-begitu saja," ucap Antoni.


"Aku berharap juga begitu, Pah," jawab Reymond.


"Lalu Anton, berapa lama dia?" tanya Antoni lagi.


"12 tahun, Pah."


"Ternyata lebih ringan dari pada Andra, ya?"


"Iya, mungkin karena dia hanya jadi kaki tangan Om Andra saja."


Mumpung aku ada disini, apa aku sekalian tanya pada Bu Susan tentang bayinya Siska? Siapa tau dia pernah menitipkan bayinya disini.


Batin Reymond.


Reymond melihat kearah Susan yang tengah mengobrol dengan Indah. Dia mulai mencari ide supaya bisa berbicara dengan wanita berjilbab itu tanpa Antoni dan Indah curiga.


"Bu Susan ... apa kita bisa bicara berdua?" tanya Reymond tiba-tiba.


Indah langsung melihat kearah suaminya. "Kamu mau bicara apa memangnya, Mas? Kenapa musti berdua?"


Reymond menarik senyum.


"Ini sayang ... aku 'kan baru mulai masuk ke kantor lagi, dan semua masalahku sudah beres. Jadi ... rencananya aku mau memberikan donasi ke panti asuhan ini, sayang. Kata kamu 'kan aku harus sering-sering beramal."


Indah memegangi kedua pipi mulus suaminya itu.


"Wah ... bagus itu, Mas. Aku mendukungmu."


"Yasudah, sebentar aku mau ngobrol dulu dengan Bu Susan, ya?" pinta Reymond seraya menciumi telapak tangan istrinya.


"Iya, Mas."


"Ayah! Bayu mau main agi!" seru Bayu.


Reymond segera menurunkan Bayu kebawah.


Susan mengangkat bokongnya. "Silahkan ikut saya keruangan saya, Pak."


Reymond mengangguk dan kini ia masuk kedalam ruangan yang dimaksud tadi.


Mereka berdua kembali duduk diatas sofa single. Hal yang pertama Reymond bahas adalah masalah yang diomongkan barusan pada Indah. Dia tidak berbohong untuk memberikan donasi pada panti ini.


Setelah masalah itu selesai, kini Reymond merogoh ponsel pada saku jas. Sebelum datang kesini dia meminta Dion untuk mengirimkan foto Siska padanya.


Layar ponsel itu dia arahkan pada Susan.


"Apa Ibu pernah melihat wanita ini menitipkan bayinya disini?" tanya Reymond.

__ADS_1


Susan langsung mengambil ponsel itu dari tangan Reymond, ia memperhatikan wajah Siska dengan seksama.


^^^Kata : 1020^^^


__ADS_2