
Setelah satu jam berlalu, mereka naik ke lantai atas untuk menemui Rio dan tentunya Indra yang mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" pekik Rio dari dalam.
Indra meraih handle pintu dan perlahan membukanya.
Kak Ivan.
"Wulan ...," ucap Ivan sambil membulatkan netranya. Ia melihat Wulan tengah duduk di sofa dengan bahu yang dirangkul oleh Rio. Rio duduk dengan menyilang kaki disampingnya.
Keduanya masih memakai baju yang sama, namun rambut keduanya sama-sama basah karena habis mandi wajib.
Ivan terkejut bukan hanya melihat Wulan yang berada disana, tapi melihat Rio disampingnya. Ia bertanya dalam hati, siapa pria itu? Apa mungkin dia yang bernama Rio Pratama? Tapi kenapa masih muda? Bahkan seperti seumuran dengannya.
Rio menyunggingkan senyuman saat Ivan berjalan mendekati dan berdiri didepannya dengan Indra.
"Kau yang bernama Ivan?" tanya Rio.
"Iya, Bapak siapa?" Ivan berbalik tanya.
"Aku Rio Pratama, suaminya Wulan," kata Rio sambil mengecup pipi Wulan yang membuat Ivan terbelalak.
Jleb!
Sakit! Ada yang terasa sakit dalam hati Ivan, ada yang terasa sesak dalam dadanya juga. Tapi ini baru perkenalkan, Ivan nampaknya belum percaya pria tampan didepannya adalah Rio Pratama.
"Apa Bapak berbohong?" tanya Ivan tanpa ragu.
"Kau meragukan aku ini Rio Pratama sekaligus suaminya Wulan?"
"Ya."
Rio mengambil dompetnya disaku celana, untuk mengambil kartu namanya. Lantas menyuruh Indra untuk memberikan kertas kecil bersegi empat itu pada Ivan.
Ivan menerima dan membacanya, ternyata benar namanya Rio Pratama. Sebelum bertemu, Ia bahkan sudah membayangkan pria yang mempunyai nama itu adalah pria tua. Berperut buncit dengan wajah mesum. Namun, semua gambarannya hilang seketika, saat melihat pria yang tampak sempurna didepan matanya. Tapi bukti kalau dia adalah suaminya belum ada.
"Mana bukti Bapak suaminya Wulan? Apa Bapak dan Wulan hanya sekedar dekat saja?"
"Kak Ivan, apa maksud Kakak? Aku sudah bi--"
__ADS_1
Cup~
Rio menyerobot bibirnya, mengecupnya sekilas demi menyela ucapan Wulan. Kata 'kakak' sangat sensitif masuk kedalam telinga Rio, ia benar-benar tidak suka istrinya memanggil pria lain dengan sebutan itu.
"Kau diam saja Manis ...," ucap Rio seraya mengelus rambut istrinya. Ia kembali menatap tajam wajah Ivan. "Kau ingin aku buktikan apa? Buku nikah?"
Ivan mengangguk cepat. "Iya, itu juga kalau Bapak punya."
"Buku nikahku ada di rumah, aku akan telepon orang rumah dulu." Sikap Rio begitu santai sekali, ia juga sama sekali tidak bernada tinggi. Apa mungkin efek setelah bercinta? Jadi hati dan pikirannya seketika menjadi jernih.
Rio menelepon Bibi pembantu untuk memotret buku nikahnya dengan Wulan. Selang beberapa menit saja, foto itu berhasil pada ponsel Rio. Lantas, ia menyuruh Indra untuk memberikan ponselnya pada pria didepannya itu.
Ivan menerimanya dan melihat jelas gambar buku nikah Rio dan Wulan, terlihat juga usia pernikahannya yang baru memasuki dua bulan. Sama persis dengan apa yang Wulan katakan.
Tapi, lagi dan lagi Ivan merasa tidak percaya. Tidak percaya kalau wanita yang ia cintai adalah istri orang.
"Bagaimana? Kau sudah percaya?" pertanyaan Rio menepis Ivan yang saat ini tengah termangu.
"Tapi ... apa Bapak memaksa Wulan untuk menikah? Aku tau selama ini Wulan tidak bisa melupakan mantan pacarnya, dia juga tidak mungkin semudah itu mencintai orang lain."
"Kakak! Apa yang Kakak katakan? Berhenti bicara omong kosong!" geram Wulan.
"Aku tidak bicara omong kosong, memang itu kenyataan. Wulan ... kau tidak perlu menikah hanya karena terpaksa. Kau juga harus menikah dengan orang yang kau cintai dan orang yang mencintaimu," kilah Ivan.
Kak Ivan tidak waras! Kenapa dia kesini sih? Nekat banget.
Semakin melihat wajah Rio lebih dekat, Ivan baru sadar kalau ia pernah bertemu dengannya. Tapi dari kejauhan.
"Iya, memang Bapak tidak mencintai Wulan, kan? Kalau memang Bapak mencintainya, Bapak tidak mungkin menabraknya dulu!" celetuknya.
Bug!!
Secepat kilat Rio menonjok pipi kiri pria itu sampai dirinya terhentak. Namun karena menjaga keseimbangan, Ivan tidak sampai terjatuh.
"Ya ... aku memang menabraknya, tapi aku tidak sengaja! Tidak ada maksud untuk mencelakainya!" bantah Rio.
"Tapi Bapak termasuk orang yang jahat, tega membayar orang untuk menangkap Wulan waktu itu!" hardiknya.
Bugh!!
Sekarang pipi kanan Ivan yang Rio tonjok, ia menonjoknya begitu keras dan sekuat tenaga. Tapi nampaknya Ivan tidak merasakan sakit apa-apa, sudah tertutup dari rasa penasarannya tentang Wulan.
__ADS_1
"Lupakan masa lalu yang kau lihat dulu! Sekarang aku bukanlah orang yang jahat! Aku mencintai Wulan, mencintai istriku! Kau tidak boleh menganggu rumah tanggaku!" pekik Rio seraya mendorong tubuh Ivan hingga tersungkur di lantai. Pria itu terdiam dan melihat sorotan mata Rio yang terlihat begitu menyeramkan dalam pandangan.
Mas Rio mencintaiku? Benarkah? Apa dia berbohong hanya demi mengatakannya pada Kak Ivan?
"Aku peringatkan padamu! Berhenti menganggu istriku dan berhenti untuk mencintainya!" bentaknya sambil melotot. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Ivan.
Ivan menelan ludahnya dengan kasar, sambil mengangkat tubuhnya, mencoba untuk berdiri.
"Kak Ivan, sebaiknya Kakak pulang saja. Aku tidak berbohong pada Kakak, Mas Rio benar-benar suamiku." Wulan bangun dari duduknya untuk menghampiri Rio. Nafas Rio sudah naik turun karena begitu emosi.
"Jangan panggil orang lain dengan sebutan Kakak! Aku tidak suka!" geram Rio, ia beralih melototi Wulan.
Wulan tersentak kaget dan menunduk kepalanya. "Maaf, Mas. Maafkan aku ...."
"Indra! Seret pria tidak tau diri ini dari ruanganku!" perintah Rio seraya duduk kembali pada sofa.
Indra mengangguk dan menarik kasar lengan Ivan untuk keluar dari ruangan Rio.
Hati Ivan seketika hancur berkeping-keping saat mengetahui semuanya. Dadanya sangat sesak, benar-benar seperti kehilangan oksigen.
Tidak, aku tidak rela Wulan bersamanya. Aku ingin Wulan menikah denganku.
***
Seusai Ivan pergi dari kantor Rio. Rio dan Wulan menaiki mobil dengan Indra yang menyetir.
Tapi suasana didalam mobil begitu hening, tanpa obrolan sama sekali. Bahkan wajah Rio berpaling melihat jendela. Ia seperti marah dan kesal saat gara-gara kejadian tadi.
Ingin rasanya Wulan bertanya dan mendekatinya, tapi nyatanya Wulan tidak berani, takut Rio makin marah.
Tangan Wulan sudah terulur hendak menyentuh bahu suaminya, tapi ia tarik kembali, ia urungkan. Alhasil, mereka berdua sama-sama memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, sambil bergumam dalam hati.
'Aku bukannya sudah bilang, jangan sebut pria lain dengan sebutan Kakak. Tapi kenapa sampai sekarang, Wulan masih menyebut si Ivan itu dengan panggilan itu. Apa mungkin Wulan suka padanya?' batin Rio.
'Semua ini gara-gara Kak Ivan! Mas Rio jadi marah padaku. Maafkan aku, Mas' batin Wulan.
"Pak Rio maaf, kita langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Indra.
"Pulang," sahut Rio singkat.
"Baik, Pak." Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
__ADS_1
Wulan mengelus-elus perutnya sendiri, sambil sesekali kali menoleh ke arah Rio yang tengah menatap layar ponselnya. Wajah suaminya begitu masam dan cemberut, tidak ada rona berseri-seri lagi seperti sehabis bercinta.
^^^Kata: 1091^^^