Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 182. Obrolan Rio dan Wahyu


__ADS_3

"Mereka menyusunya sama Wulan, Yah."


"Terus kenapa memangnya? Ada yang salah?"


"Tidak, aku hanya ingin masuk ke kamar saja sekarang, memang tidak boleh? Kita 'kan jarang mengobrol," jawab Rio beralasan.


"Oh, ya sudah kita ngobrol. Ada obrolan apa hari ini? Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" Wahyu mengelus pelan punggung Rio sebentar.


"Pekerjaanku semuanya baik, tidak ada masalah. Itu berkat si Kembar."


"Hebat sekali mereka, memangnya apa yang mereka buat dalam pekerjaanmu?"


"Mereka seperti penyemangatku, Ayah. Aku sayang mereka."


"Ayah juga sayang mereka."


"Oya, Yah. Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya saja, kenapa musti meminta izin?"


"Apa Ayah tidak ada niat untuk menikah lagi?"


"Menikah?" Wahyu mengerutkan kening, segera ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah ini sudah tua. Ngapain menikah lagi."


Rio memperhatikan wajah Wahyu yang sudah berkerut, sepertinya dibandingkan dengan Mawan, Wahyu jauh lebih muda. Mungkin seumuran dengan Antoni. Hanya saja Wahyu tidak pernah mengurus penampilannya, ia juga berkulit sawo matang. Jadi terlihat lebih tua dari umurnya. "Memang berapa usia Ayah sekarang?"


"Berapa, ya?" Wahyu terdiam dan mengingat-ingat umurnya sendiri, tapi rasanya lupa. "Ayah lupa."


"Kok lupa? Umur sendiri masa lupa?"


"Iya, Ayah tidak pernah mikirin umur. Yang Ayah pikirkan cuma bakso, Wulan, Clara dan si Kembar."


"Hahahaha ...." Rio terkekeh. "Ayah ada-ada saja. Tapi kok, aku tidak Ayah pikirkan juga?"


"Kenapa Ayah musti mikirin kamu? Kamu 'kan baik-baik saja."


"Tapi 'kan aku satu-satunya menantu Ayah." Rio mengerucutkan bibirnya, seakan iri tidak ada dari daftar pikiran Wahyu.


"Oh ...." Sekarang Wahyu yang terkekeh. "Iya, iya. Ayah mikirin kamu, kok."

__ADS_1


"Oya, Yah. Menurut Ayah ... Mamahku cantik tidak?"


"Bu Santi?"


"Iyalah, Mamahku 'kan hanya dia."


"Cantik, kamunya saja tampan." Wahyu mengelus dagu Rio sekilas.


"Bagaimana kalau ...." Rio mengantung ucapannya, merasa ragu untuk meneruskan.


"Kalau apa?"


"Tidak, lupakan saja." Rio menggeleng cepat, tidak jadi mengatakannya. "Besok Ayah ikut denganku, ya?"


"Kemana?"


"Ini." Rio mengetik layar ponselnya, memperlihatkan gambar sebuah kedai yang cukup besar, berada di depan jalan raya. "Aku beli kedai ini untuk Ayah jualan bakso, kita besok ke sana."


"Kok kamu beli? Itu tidak perlu. Ayah masih bisa jualan di rumah."


Semenjak si Kembar pulang ke rumah Rio, Wahyu sudah kembali berjualan di rumahnya. Hanya saja saat malam hari, ia pulang ke rumah Rio untuk menginap.


"Kalau di kedai seperti ini, jauh lebih luas tempatnya, Yah." Rio menggeser 'kan lagi layar ponselnya untuk melihat beberapa gambar meja dan bangku untuk para pengunjung. Kios itu juga terlihat sangat baru.


"Nanti aku juga sewa dua pelayan untuk membantu Ayah jualan. Jadi Ayah hanya fokus membuat bakso saja, itu juga bisa meringankan pekerjaan Ayah, Ayah jadi tidak capek," tambah Rio lagi.


Wahyu menggeleng cepat. "Tidak, itu tidak perlu Rio. Ayah bisa jualan di kios dan Ayah juga tidak perlu dibantu pelayan. Ayah masih mampu sendiri."


"Aku tau, kok. Ayah mungkin tidak enak padaku, kan? Mangkanya menolak," tebak Rio. Iya, Rio kenal betul siapa Wahyu, ia jarang sekali menerima pemberian dari menantunya.


"Iya, mangkanya jangan, Rio. Ayah tinggal di rumahmu saja sebenarnya tidak enak."


"Tidak enaknya kenapa? Kan kita mau jagain si Kembar sama-sama."


"Itu memang benar, tapi Ayah tidak mau merepotkanmu."


"Ayah membuatkan aku susu saja ... Ayah bilang aku tidak merepotkan, kenapa giliran aku yang memberikan kedai ... Ayah bilang tidak mau merepotkan aku? Aku juga sama kok ... tidak merasa direpotkan, kita 'kan keluarga," terang Rio dengan tulus.


"Iya, kita keluarga. Tapi tetap saja Ayah tidak bisa menerimanya. Sebaiknya uang kamu ditabung saja untuk masa depan si Kembar. Biaya sekolah sekarang mahal, Rio." Wahyu mencari alasan dengan membawa-bawa kedua cucunya.

__ADS_1


"Tabunganku sudah banyak, jangankan untuk si Kembar ... untuk Wulan, Ayah, Clara dan Mamah, aku juga sanggup untuk membiayai hidup kalian, Ayah tidak perlu khawatir."


Tiba-tiba terasa hening, Wahyu sedari tadi diam saja sembari menurunkan pandangan, entah apa yang ia pikirkan. Namun, ia seperti tak ada tanda-tanda merespon ucapan Rio. Rio mengusap-usap tengkuknya, merasa binggung untuk membujuk Wahyu.


"Eemm ... ya sudah, begini saja." Rio mengenggam punggung tangan Wahyu dengan hangat. "Ayah bisa cicil kedai itu padaku, sebulan sekali dari hasil Ayah berjualan." Mungkin dengan tawaran seperti itu, Wahyu mau menerima kedai dari Rio.


"Sebulannya kena berapa?"


"Berapa saja, terserah Ayah."


"Kok terserah? Jangan begitu."


"Eemm ...." Rio memikirkan beberapa nominal angka yang paling kecil untuk cicilan kedai tersebut. "Seratus ribu saja."


"Mana ada seratus ribu orang sewa kedai sebulan, kau ini ada-ada saja." Wahyu geleng-geleng kepala, merasa tak percaya dengan akal-akalan Rio.


"Ya terus berapa? Aku 'kan nggak tau masalah cicilan."


Apa yang dikatakan Rio benar, ia bahkan tidak pernah menyicil apapun. Semua yang ia beli langsung lunas.


"Ya pikirkan saja berapa, biar Ayah enak memberikan uangnya."


"Ya sudah lima ratus ribu, segitu kemahalan tidak?"


"Tidak, berapa bulan Ayah bayar?"


"Berapa?" Rio mengerutkan kening dengan ekspresi binggung. "Aku tidak tau. Ayah biasanya berapa bulan kalau bayar cicilan?"


"Tergantung harganya berapa dulu. Kamu mau ngasih harga berapa kedai itu sama Ayah?"


"Satu juta deh."


"Murah amat? Tidak ada kedai seharga segitu, Rio?"


"Ah sudah deh, terserah Ayah saja! Lama-lama kepalaku pusing!" Rio merasa jengah atas obrolannya yang tidak ada ujungnya itu, lebih baik ia akhiri saja. Rio meraih segelas susu di atas nakas, kemudian menenggaknya sampah habis. Rio membaringkan tubuhnya sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.


Nyebelin banget Ayah, padahal tinggal terima saja memberianku. Kenapa harus muter-muter bicaranya? Dia memang tidak pernah mau jika aku membantunya, terakhir kali saja aku memaksanya, baru dia mau' gerutu Rio dalam hati.


Wahyu ikut membaringkan tubuhnya di samping Rio dan menarik selimut, perlahan ia memejamkan mata.

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


TBC


__ADS_2