Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 53. Di Toilet


__ADS_3

Andra berjalan ke tempat bartender, karena di Restoran itu juga terdapat berbagai macam jenis minuman beralkohol.


Tak sengaja juga Siska lewat dia langsung menyapanya, "Siska." Panggil Andra sambil melambaikan tangan.


"Om Andra." Sahutnya kemudian mereka berdua saling cipika-cipiki. "Wah... Om kemana saja baru kelihatan?"


"Biasalah, namanya orang kaya pasti sibuk." Ucapnya sambil memegang dasi. "Kamu lihat ke sana." Tunjuk Andra kearah Rendi yang sedang mengobrol.


"Rendi." Mata Siska langsung membulat dia melangkahkan kaki hendak menghampiri Rendi.


"Eits... Kamu mau kemana?" tanyanya sambil memegang lengan Siska.


"Aku mau samperin dia Om."


"Kamu masih deketin dia? Memangnya kamu nggak tau Rendi sudah menikah?" tanyanya.


"Tau kok... Tapi aku masih butuh uangnya Om." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Andra tersenyum. "Siska-Siska, kalau kau masih menginginkan hartanya kenapa dulu kau meninggalkannya, dasar perempuan bodoh!" ucapnya sambil menepuk pinggul semok Siska.


"Kan Om tau sendiri tante Santi nyuruh Rendi nikah mulu, aku kan belum siap menikah. Harusnya Om bantuin aku dong, biar aku bisa dekat lagi dengannya," Ucap Siska dengan nada sedikit manja.


"Kau mau aku bantu apa?" tanyanya sambil mengelus pipi kiri Siska.


"Aku mau Rendi bercerai sama istrinya, dan kembali lagi padaku."


Andra menarik tangan Siska sampai membawanya ke depan pintu toilet. "Om mau ngapain narik aku ke sini?" tanya Siska.


"Katanya mau di bantuin, sekarang bayar dulu." Jawabnya berbisik di telinga Siska. Dia langsung membawa Siska masuk ke dalam toilet.


"Jangan sekarang Om, nanti saja." Ucapnya menolak, namun tangan Siska dua-duanya di pegang erat oleh Andra dan menempelkan di tembok.


"Ayo lah sebentar saja, kan sudah lama juga kita nggak melakukannya," lirihnya merayu, Andra memposisikan tubuh Siska membelakangi dirinya.


Dia menyuruh Siska untuk menungging di depan kloset duduk, dia langsung menarik roknya ke atas dan melorotkan celana d*l*m Siska.


"Om tunggu dulu." Ucap Siska memegang lengan Andra, "Om harus pakai k*nd*m, aku nggak mau hamil."


"Kau tenang saja aku akan keluarkan di luar," Andra membuka resleting dan kancing celananya, tanpa berlama-lama Andra langsung menancapkan miliknya yang sudah tegang ke dalam milik Siska.

__ADS_1


"Aaaahhhhhh...." Desahnya pelan.


Tidak ada penolakan sama sekali dari Siska malahan dia menikmatinya, karena mereka juga sering melakukan hal itu.


Desahan demi desahan keluar dari mulut Siska sambil memegang erat bangku kloset, Andra menutupi mulut Siska dengan tangan supaya tidak ada orang lain yang tau jika mereka sedang mantap-mantap di dalam toilet.


30 menit berlalu mereka mantap-mantap. Akhirnya mereka keluar dari toilet dan merapihkan pakaian mereka masing-masing supaya tidak ada yang curiga.


Mereka merasakan perasaan lega atas kenikmatan yang sudah tadi di alami.


"Om terus sekarang aku harus bagaimana?" tanya Siska sambil menyisir rambutnya yang tadi sempat di tarik-tarik oleh Andra.


"Kau ambil satu botol wine dan ajak Rendi minum, buatlah dia mabuk. Nanti kau bisa bersenang-senang dengannya malam ini dan Rendi bisa kembali ke pelukan mu lagi." Ucapnya memberi ide sambil senyum menyeringai.


Siska menurut, dan langsung membawa dua botol sekaligus dengan kedua tangannya.


Pertunjukkan akan di mulai Ren, bersiaplah.


Batin licik Andra.


"Hai Rendi sayang." Sapa Siska yang menghampiri Rendi dan langsung duduk di samping Rendi. "Kau malam ini tampan sekali." Ucapnya menggoda sambil menyentuh dagu Rendi.


Sombong sekali dia.


Dalam hati Siska.


Siska membuka botol wine dan menuangkan kedua gelas yang berada di atas meja. Dia menenggak satu gelas penuh, dan satu gelasnya dia pegang untuk menawarkan kepada Rendi.


"Ren nih minum," ucapnya menyodorkan gelas.


"Aku nggak mau minum." Tolak Rendi sambil menggelengkan kepala.


"Ayo lah, temani aku minum." Rayunya dengan manja sambil memainkan bulu mata lentiknya.


"Sudah Ren terima saja, buat malam ini saja." Kata Andra ikut merayunya juga yang baru datang dan ikut duduk.


"Nggak Om, aku nggak mau. Lagian tadi abis minum kopi." Sahutnya yang kekeh menolak.


Kalau sampai aku pulang membawa aroma Alkohol mamah bisa-bisa marah.

__ADS_1


Batin Rendi mencoba mengingat perkataan ibunya.


Karena sebelum Rendi berangkat, dia sudah izin terlebih dahulu ke ibunya untuk datang ke undangan pak Hadi, namun ibunya berpesan untuk Rendi tidak minum-minuman beralkohol lagi. Karena selain bisa memabukkan itu juga tidak sehat untuk tubuhnya.


Dulu ketika Rendi putus dengan Siska, dia sempat kecanduan minuman dan sampai depresi, untung tidak sampai mati.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Flashback on


Sebulan setelah kepergian Siska yang meninggalkan Rendi tanpa kabar, dia selalu menghabiskan waktunya untuk pergi ke bar dan minum-minum bersama teman-temannya.


Sudah hampir satu botol Vodka yang Rendi tenggak. "Pak bawa dua botol lagi kemari." Ucap Rendi yang sudah agak mabuk.


"Eh Ren lu mau nambah lagi?" tanya Brian salah satu temannya yang sedang merokok.


"Lu kelihatan udah mabok lho Ren." Ucap Bima mendekat pada Rendi.


Rendi yang memakai kemeja dengan lusuh dan badannya sudah berkeringat, dia membuka kancing kemejanya dari atas kerah hingga terlihat dada bidang miliknya. Pelayan itu mengantarkan minuman yang Rendi pesan dan langsung dia tenggak satu botol sampai habis.


Teman-temannya pada melonggo, "Wah gila lu Ren. Putus cinta sampai segitunya, cewek masih banyak kali." Ucap Rizky tertawa dan kemudian teman-temannya ikut menertawakan Rendi.


"Hhaahh.." Rendi mengelai nafas, "Brengsek kalian semua!" Ucap Rendi yang sudah melayang-layang. "Kalian kan tahu gue itu cinta banget sama Siska." Tiba-tiba Rendi langsung tidur di atas sofa bar.


Ponsel Rendi bergetar beberapa kali tapi Rendi dia menghiraukannya karena masih di alam bawah sadar antara tidur dan mabok.


Dengan iringan musik DJ yang terdengar sangat keras.


"Ren.. Ren.. Bangun." Ucap Brian menepuk-nepuk bahu Rendi, Rendi terisak kemudian membuka mata. Terlihat Dion yang sedang berdiri di hadapannya, "Kamu ngapain di sini?" tanya Rendi sambil sesekali cegukan, meski sudah mabuk Rendi masih bisa mengenali wajah asistennya.


"Ibu Santi sedang ada di apartemen menunggu Bapak." Ucapnya, karena sudah seminggu Rendi tidak pulang ke rumahnya, dia menghabiskan hari-hari penuh kegalauannya di apartemen.


Rendi kembali memejamkan matanya, Dion tidak bisa tinggal diam dia harus menyuruhnya pulang atas perintah dari Santi.


Dia menggangkat tubuh Rendi dan di bantu oleh Brian, "Ngapain kalian." Ucap Rendi terbelalak dan menjadi sangat emosi.


"Lepaskan! Kalian pikir aku nggak bisa jalan sendiri." Ucap Rendi kemudian berjalan dengan sempoyongan, sesekali Dion ingin memegang bahunya untuk membantu.


Namun Rendi menolak, dia kemudian masuk ke dalam mobilnya, "Bapak pulang sama saya saja." Ucap Dion mengetuk kaca mobil.

__ADS_1


...๐Ÿ’œJangan Lupa Tinggalkan Like๐Ÿ’œ...


__ADS_2