
"Aku tidak apa-apakan Wulan, Ayah."
"Tapi kenapa--"
"Ayah! Jangan marahin Mas Rio! Kalian kesini sebentar!" pekik Wulan dari dalam.
Wahyu dan Rio langsung masuk lagi kedalam kamar, menghampiri Wulan yang masih berbaring.
"Aku mual karena tadi melihat Mas Rio telanjang dada Ayah, memang dari kemarin aku seperti itu," tutur Wulan. Ia tak ingin ayahnya salah paham dan menyalahkan Rio.
"Maksudnya bagaimana? Kok bisa mual?" tanya Wahyu seraya mengerutkan kening.
"Mungkin bawaan bayi, Yah," sahut Wulan.
"Oh ... tapi Rio tidak melakukan hal yang aneh-aneh, kan?" tanya Wahyu sekali lagi, ia ingin memastikan.
"Tidak Ayah, Mas Rio tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok."
'Kenapa aku bisa lupa Wulan mual karena aku tel*nj*ng? Ah bodoh sekali memang!' Rio mengerutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Oh yasudah, nanti Ayah bersihkan bekas muntahan kamu, ya! Sebentar Ayah mau ambil--"
"Tidak usah Ayah, aku bisa sendiri," sela Wulan dengan cepat, ingin sekali rasanya ia bangun dari tempat tidur. Tapi ia ingat tubuhnya masih polos, hanya berbalut selimut.
"Tidak usah biar Ayah saja, sebentar ...."
Wahyu melangkah kakinya keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk mengambil kain pel. Sedangkan Rio mengangkat tubuh Wulan, membawanya menuju kamar mandi.
Netra Wulan membola dengan sempurna, ia terperajat karena Rio melakukannya dengan tiba-tiba.
"Mas ... apa yang Mas Rio lakukan? Aku bisa jalan, kok."
"Kau ini lemas, mana bisa jalan sendiri," elaknya.
Rio menurunkan tubuh Wulan didalam bathtub, ia menarik selimutnya dan menaruhnya pada ember dekat mesin cuci di luar kamar mandi. Kemudian, Rio balik lagi untuk mengisi air hangat pada bathtub.
"Mas Rio, tidak usah Mas ... aku bisa sendiri, kok." Wulan mencegah tangan Rio yang sedang memegang spons mandi, hendak menuangkan sabun cair.
"Kenapa? Kau juga sering memandikan aku, kenapa aku tida boleh memandikanmu?" tanya Rio tak terima.
"Bukan tidak boleh, tapi hari ini Mas Rio harus ke kantor. Kamar mandi juga hanya ada satu, kita tidak mungkin mandi bersama. Jadi biarkan aku mandi sendiri ... biar cepat selesai, lalu gantian dengan Mas Rio," jelas Wulan.
__ADS_1
Rio terdiam sejenak dan mulai mengangguki penjelasan dari istrinya. "Iya, kau ada benarnya juga. Yasudah, aku keluar kalau begitu."
"Iya, Mas."
Rio keluar dari kamar mandi, meninggalkan Wulan mandi. Setelah mereka semua selesai mandi dan berpakaian rapih. Sekeluarga itu duduk lesehan dengan beralaskan tikar. Ada empat bungkus nasi uduk yang Wahyu belikan untuk porsinya masing-masing. Tentunya di temani oleh dua cangkir kopi hitam dan dua gelas susu. Satu susu ibu hamil dan satunya lagi susu putih biasa untuk Clara.
Wulan membuka bungkusan nasi uduk untuk Rio dan menaruhnya diatas piring yang sudah ada sendok, kemudahan ia memberikannya pada Rio.
"Kau doyan nasi uduk, kan?" tanya Wahyu melihat kearah menantunya
"Doyan kok, aku sering makan nasi uduk waktu kuliah," sahut Rio.
"Bagus deh, makan yang banyak."
"Iya, Ayah."
Merekapun menyantap sarapannya bersama. Hati Rio terasa begitu hangat, ia sangat bahagia karena bisa jadi anggota keluarga Wahyu. Keluarga sederhana yang sama sekali tidak Rio bayangkan sebelumnya, tapi sekarang bisa mengisi hati Rio yang dulunya kosong dan selalu sendirian.
Rasa penyesalannya menikahi Wulan sudah sirna, terhapus oleh benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hatinya. Tapi sampai sekarang, Rio belum mampu mengatakannya rasa cinta itu. Ia takut kalau Wulan tidak percaya padanya. Bagi Rio, yang terpenting sekarang adalah sifat dan sikapnya sudah mulai berubah, tidak sejelek dulu. Ia juga bisa memperbaiki hubungannya dengan Wulan, untuk bisa harmonis dan saling menyayangi.
"Wulan, kok kamu pakai seragam Restoran? Memangnya masih mau kerja?" tanya Wahyu yang baru saja sadar melihat penampilan Wulan dengan kunciran kuda. Rio juga sempat menoleh saat Wahyu bertanya seperti itu, ia juga sama halnya, baru menyadarinya.
"Aku 'kan sudah waktunya masuk kerja lagi, Ayah. Kemarin sudah libur tiga hari."
"Tapi kerjanya tidak berat kok, Mas. Hanya mencuci piring dan--"
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak!" sela Rio dengan lantang. Lantas Wahyu menepuk kasar bahu menantunya.
"Kalau melarang seorang wanita, tidak perlu membentaknya! Apa kau tidak lihat ada Ayahnya disini?" tekan Wahyu dengan tatapan nyalang. Jelas sekali ia tidak terima dunia akhirat, putrinya di bentak-bentak walaupun oleh suaminya.
Rio menelan salivanya dengan kelat. Ia segera mencium punggung tangan mertuanya, kerena takut Wahyu murka padanya. "Maaf Ayah, aku kelepasan. Habis Wulan sering sekali membantah ucapanku. Aku tidak suka sekali, aku ingin dia menurut padaku," lirihnya.
"Iya, Ayah mengerti. Tapi tidak perlu pakai urat! Ayah saja tidak pernah membentak-bentak putri Ayah sendiri meskipun dia salah!" tegurnya.
"Iya, Rio minta maaf Ayah. Coba Ayah yang jelaskan pada Wulan, biar dia menurut padaku."
Wahyu menarik tangannya yang sedari tadi Rio genggam, kemudian ia meraih tangan Wulan dan mengelus punggung tangannya dengan lembut.
"Kamu harus menuruti ucapan dari Rio, Wulan. Dia suamimu. Lagian ... apa yang Rio katakan ada benarnya. Kau tidak perlu kerja karena sedang hamil. Jaga kandungan kamu sayang, ada cucu Ayah. Ayah tidak mau kehilangannya lagi." Wahyu mendekati Wulan untuk bisa menyentuh perutnya sekilas.
"Iya, deh. Aku tidak akan kerja lagi. Tapi ... aku harus bilang dulu sama Bu Nissa dan Mbak Nella, Ayah."
__ADS_1
"Nanti aku telepon Nella, aku bilang padanya, Wulan," terang Rio.
"Kalau lewat telepon tidak enak, Mas. Aku kerja disana sudah dua kali dan sekarang risen bahkan baru kerja dua hari."
"Lalu maunya bagaimana?" tanya Rio seraya mengedikkan kepalanya, aslinya ia sudah mulai emosi. Tapi berusaha untuk menahan diri.
"Aku mau ke Restoran dan izin risen secara langsung saja, biar enak kasih alasannya juga," jelasnya.
"Kau kuat kesana? Tidak mual dan pusing?" tanya Rio.
Wulan mengangguk cepat. "Iya, aku kuat. Aku 'kan mual hanya karena itu saja, selebihnya aku baik-baik saja kok, Mas."
"Eemm ... yasudah, tapi nanti kau berangkat dengan Indra saja, biar dia menemanimu. Aku tidak bisa mengantar karena hari ini harus ke kantor Papah, ada meeting dengannya."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa sendiri kok."
"Benar ya bisa sendiri? Jangan genit dan kalau semuanya sudah selesai ... kau pulang dan istirahat di rumah," tegur Rio seraya berdiri, ia sudah menyelesaikan sarapannya.
"Iya Mas."
Wulan, Wahyu dan Clara ikut berdiri saat Rio hendak berpamitan.
"Kau hati-hati Rio," ucap Wahyu.
"Kantor Papah dekat kok, Yah. Aku hanya perlu jalan sebentar," sahutnya sambil nyengir kuda, aslinya ia senang mendengar ucapan dari Wahyu yang seolah-olah perhatian padanya.
Wulan dan Clara mencium punggung tangan Rio secara bergantian, dan pria tampan itu berlalu pergi dari rumah Wahyu.
Wulan membereskan piring, sendok dan gelas sisa sarapan mereka. Ia membawanya ke dapur untuk sekalian ia cuci.
Sedangkan Wahyu, ia mengambil tas gendong Clara didalam kamarnya, karena ia ingin mengantarkannya ke sekolah yang dekat dari rumahnya.
*
Sepeninggal Wahyu dan Clara pamit untuk pergi ke sekolah, beberapa menit berlalu, terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya.
Tok ... tok ... tok.
"Permisi!" panggil seorang pria dari luar rumahnya. Suaranya terdengar tak asing di telinga Wulan. Ia yang berada di dapur mampu mendengarnya.
"Ada tamu," gumam Wulan.
__ADS_1
"Om Wahyu ... Wulan, permisi!" pekiknya.
^^^Kata: 1137^^^