
Sebagian konten mengandung area dewasa.
...****...
Milik Rio tentunya sudah sangat menegang dibawah sana. Namun tertindih oleh bokong istrinya. Rio menggeserkan pinggang Wulan sedikit untuk bisa menurunkan celana pasiennya, ia mengeluarkan miliknya yang terasa sesak. Setelah berhasil keluar hingga menjulang tinggi, barulah Rio menarik celana berenda istrinya, melepaskannya.
Perlahan tapi pasti, Rio mengarahkan miliknya untuk masuk kedalam sarangnya, melakukan penyatuan dengan sempurna.
"Hhmm ... Mas, masa kita bercinta di rumah sakit?"
"Memang kenapa?"
"Nanti kalau ada orang .... Uh!" Wulan merasakan benturan dari bawah, Rio sudah menarik turunkan permainannya.
"Ah!"
Dengan masih melaju, Rio membuka tiga kancing didepan dada dress istrinya. Ia kembali mengenggam benda kenyal itu dengan kasar, kepala Rio kembali mengecup leher Wulan.
Rio menuntun lengan Wulan untuk mengalungkan pada lehernya.
"Aku mencintaimu," lirih Rio sambil tersenyum, menatap wajah istrinya yang terlihat menahan rasa nikmat.
Wulan membuka matanya yang sempat terpejam ia hanya tersenyum. Ia tak mampu mengucapkan kata-kata karena kini Rio telah membawanya terbang ke udara.
Keringat pada dua sejoli itu sudah bercucuran, Rio juga tidak ada niat untuk saling melepaskan pakaian, baginya segini saja sudah cukup, asal bisa sama-sama enak.
"Sekarang berbalik lah!" perintah Rio. Ia menghentikan sejenak aktifitas panasnya itu, menyeka dahi dengan punggung tangannya.
"Berbalik bagaimana?" tanya Wulan binggung.
"Kau berbalik, menghadap kedepan." Karena Wulan terlalu banyak mikir, Rio segera membalikkan tubuh istrinya menjadi duduk membelakanginya. Rio bangun sedikit dengan dengkul yang menahan tubuhnya di kasur, ia kembali mengguncang Wulan dari belakang.
"Oh! ... ini nikmat!" erang Rio.
Wulan menarik-narik seprei dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri, ia malu untuk mengeluarkan suara desah han.
Sampai tiba waktunya Rio sudah berada di puncak tertinggi. Ia segera mendekap Wulan belakang, menarik tubuhnya hingga milik Rio ikut menekan lebih dalam. Has**t yang terpendam itu akhirnya tuntas sudah, membanjiri rahim istrinya.
"Oh ... A-ayah, memberimu vitamin lagi, Sayang," racau Rio. Ia mengelus kembali perut buncit istrinya, lalu mencium rambut Wulan. "Aku mencintaimu, Wulan," ucapnya lagi, dengan deru nafas yang naik turun.
__ADS_1
"A-aku juga, Mas."
Setelah itu Rio melepaskan dekapannya, ia membanting tubuhnya kebelakang, berbaring dengan nafas yang tersengal-sengal. Rasanya capek, tenaganya terkuras habis. Namun kenikmatan itu mengalahkan segala.
Bercinta dengan Wulan memang sangat nikmat.
Wulan segera turun dari tempat tidur suaminya, ia berlari menuju kamar mandi, ingin membersihkan diri.
Mendengar suara dari gagang pintu, Rio langsung gelagapan. Lengannya terulur pada nakas untuk menarik beberapa lembar tissu. Kemudian, ia membersihkan miliknya sisa pelepasan tadi. Sekarang milik Rio sudah lemah tak berdaya, tidak tegang dan membuatnya kram lagi.
Ceklek~
Pintu kamar itu sudah terbuka, Santi yang datang. Rio menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, ia juga sekalian membereskan celana.
"Rio, kenapa tempat tidurmu berantakan begitu?" tanya Santi seraya meletakkan koper didekat sofa. Ia terbelalak saat melihat seprei dari ujung kasur itu terlepas, bahkan terlihat acak-acakan.
"Mamah. Eemm ini ...." Rio mengantung ucapannya, rasanya malu jika berkata jujur.
"Kau juga, kenapa wajahmu berkeringat sekali? Apa kau demam?" Santi mendudukkan bokongnya didekat Rio, ia menyentuh dahi Rio dengan punggung tangannya. Ingin memastikan panas atau tidak. Nyatanya tidak, malahan dingin.
Mata Santi kembali membulat tatkala melihat celana berenda berwarna merah milik Wulan berada didekat bantal, ia akhirnya mengerti apa yang habis Rio lakukan. Telinganya juga mendengar suara gemericik air.
Rupanya mereka habis bercinta.
"Yang di kamar mandi siapa?"
"Wulan."
"Kau mesum sekali! mengajak Wulan bercinta di rumah sakit!" Santi menepuk kasar paha Rio.
"Aku tidak tahan, Mah. Burungku sakit sekali tadi, aku tersiksa." Rio memasang wajah memelas pada Santi, supaya sang mamah mengerti.
"Yasudah tidak apa." Santi tersenyum dan menyeka keringat pada wajah anaknya menggunakan tissu. "Bagaimana badanmu sekarang? Apa sudah enakan? Kau bicara sudah mulai lancar, dadamu masih sesak, tidak?" Santi mencecarnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, ia juga memegang dada bidang Rio.
"Jauh lebih enakan, tapi sekarang aku lemas, Mah."
"Iyalah lemas, namanya habis bercinta!"
"Hehehe ...." Rio nyengir kuda. "Ngomong-ngomong, Mamah habis dari mana? Itu bawa koper isinya apa?" pandangan Rio mengarah pada koper besar yang tadi Santi bawa.
__ADS_1
"Itu pakaian ganti, punya kita bertiga. Tadinya, Mamah berencana untuk pergi ke kantor polisi, Rio. Tapi tidak jadi." Wajah Santi mendadak menjadi murung.
Rio mengenggam punggung tangan mamahnya. "Kantor polisi? Memang mau apa?"
"Tadinya Mamah mau melaporkan Papah, Mitha dan Aji. Tapi Mamah tidak jadi."
Rio terbelalak. "Kok sampai ingin melaporkan mereka? Memang kenapa? Eemm ... Mamah juga belum cerita padaku. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku awal mulanya, sampai aku dibius dan diberi obat perangs*ng?"
Ceklek~
Wulan baru saja selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah basah. Namun pakaiannya belum ganti, masih dress tadi.
Santi menoleh pada menantunya. "Mamah bawa pakaian ganti untuk kita, kamu ganti pakaian saja, Wulan," titah Santi seraya menunjuk koper.
"Iya, Mah. Terima kasih." Wulan berjalan menuju koper itu lalu membukanya, ia mengambil baju tidur lengan pendek yang Santi bawa untuknya. Kini Wulan masuk lagi kedalam kamar mandi, untuk berganti pakaian.
"Mah ... kok tidak dijawab?" tanya Rio lagi, karena Santi menunda jawabannya gara-gara Wulan.
"Wulan juga ingin tau, sebentar tunggu dia."
Rio mengangguk. Selang beberapa menit, Wulan selesai dari kamar mandi. Ia duduk di sofa sambil mendengarkan Santi bercerita.
"Tapi Mamah binggung deh, kenapa kamu bisa di jebak Papah. Malam itu kau pergi kemana?" tanya Santi memulai pembicaraannya kembali.
"Aku meeting di Restoran bersama Kak Rizky. Setelah selesai meeting, tubuhku terasa aneh. Aku pergi ke toilet untuk mencuci muka, lalu Setelah aku keluar dari toilet ... tiba-tiba ada yang membungkam mulutku, dan aku tidak ingat apa-apa lagi," papar Rio.
"Oh, mungkin itu rencana Papah. Karena setelah itu ...." Santi menceritakan kembali kejadian waktu itu dan tentang melakukan pelecehan terhadap Mitha.
Netra Rio dan Wulan membulat sempurna, mereka tercengang dengan apa yang Santi ceritakan.
"Lalu, Mah. Kenapa Mamah punya niat ingin melaporkan mereka ke penjara? Dan kenapa tidak jadi?" tanya Rio.
"Mamah ingin melaporkan karena Mamah merasa tidak terima. Tapi, Mamah juga tidak mau jika Pak Aji melaporkan Mamah balik. Mamah juga mengaku, kalau tindakan Mamah ini salah."
"Mamah ... maafkan aku, gara-gara aku, Mamah melakukan perbuatan dosa dan keji seperti ini. Maaf, Mah. Maafkan aku, maaf jika selama ini aku sering merepotkan Mamah." Rio jadi merasa bersalah, ia menatap wajah Santi dengan lekat dan manik matanya kini berkaca-kaca.
"Kenapa jadi kau yang merasa bersalah?" Santi menyentuh pipi mulus anaknya. "Kamu tidak salah, yang salah itu Papah dan mereka."
"Lalu, sekarang bagaimana? Bagaimana hubungan Mamah dan Papah?"
__ADS_1
"Itu dia, Mamah mau bercerai dengan Papah, Rio. Apa kau setuju ... jika Papah dan Mamah bercerai?"
Jangan lupa like 💕