Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 72. Mulai Mencintainya


__ADS_3

🍁🍁🍁


Flashback On


Seberapa tahun yang lalu, sebelum ayah Rendi meninggal.


Alex Pratama, pria sempurna. Bagaimana bisa di katakan sempurna? Sudah kaya, sayang keluarga dan dia punya wajah yang sangat tampan. Tentu, tidak di ragukan lagi. Karena sudah mewarisinya kepada kedua anaknya, dan wajahnya juga sangat mirip dengan Rendi. Bagaikan pinang di belah dua, atau kembar beda usia?


Kata orang dulu sih, jika salah satu anak memiliki kemiripan dengan orang tua. Salah satu dari mereka ada yang mengalah, mungkin itu yang di alami Alex. Tapi entahlah, mungkin saja itu hanya mitos dan sudah garis dari ilahi.


Saat itu Alex hendak pergi keluar kota bersama adik satu-satunya, siapa lagi kalau bukan si Casanova Andra. Alex memang sering pulang pergi luar kota, untuk urusan bisnis tentunya bukan wanita. Karena dia adalah pria yang sangat setia, tidak seperti Andra. Ah sudahlah kali ini aku hanya membahas ayah Alex.


Sebelum berangkat Alex berpamitan kepada istri tercintanya, Santi yang sedang menggendong Rio kecil berusia 4 tahun. Tidak lupa dia menghampiri anak sulungnya yang tengah serius belajar, Rendi 9 tahun.


"Rendi anak Ayah sedang belajar apa sayang?" tanya Alex sambil mengelus rambut putranya.


"Rendi lagi belajar matematika Ayah, biar gampang kalau lagi ngitung duit." Sahutnya yang masih memegang bolpoin.


Masih kecil pikirannya sudah ke duit, Rendi.... Rendi...


Alex tertawa kecil. "Pintar anak Ayah, belajar yang rajin ya. Kamu kan nanti yang akan meneruskan bisnis ayah." Ucapnya memberikan semangat.


Rendi hanya mengangguk-angguk, entah dia mengerti atau tidak. Dia melihat kearah ayahnya yang sudah rapih dengan pakaiannya, "Ayah mau kemana? ini kan hari Minggu?" tanyanya dengan polos.


"Ayah mau pergi ke luar kota dengan om Andra." Jawabnya.


"Keluar kota lagi?" tanyanya sambil cemberut. Memang ayahnya ini sering sekali keluar kota dan meninggalkan keluarganya.


"Ah... Hahaha," Alex terkekeh melihat wajah mengemaskan anaknya, "Jangan cemberut begitu. Gantengnya nanti ilang, Ayah cuma seminggu kok di sana."


"Sama saja itu lama." Sahut Rendi sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Ah tidak, itu sebentar kok. Kamu bisa janji nggak sama Ayah?"


"Janji apa?"


"Janji buat jangan nakal. Nurut apa kata mamah dan jagain dede Rio."


"Rendi nggak nakal kok." Ucapnya yang kian memelas.

__ADS_1


"Iya kamu nggak nakal sayang, kan Ayah cuma ngasih tau. Oya inget jangan suka berantem dan mengalah sama dede Rio ya, kasihan. Rendi sayang kan sama Rio?" Rendi mengangguk mengerti.


"Ya sudah Ayah berangkat." Ucap sambil mengecup Rendi dan pamit pergi.


Itu adalah ucapan terakhir Ayahnya sebelum meninggal karena kecelakaan mobil.


Flashback Off


🍁🍁🍁


Apa itu berarti Rendi harus mengalah dan menyerahkan Indah pada Rio Ayah?


Tapi hati Rendi sudah mulai mencintainya....


Batin Rendi, lalu tiba-tiba saja dia mendengar suara Indah yang sedang teriak-teriak. Sontak Rendi membuka matanya dengan paksa dan langsung meraih handuk kimono untuk dia pakai.


🌺🌺🌺


Meskipun Rendi sedang banyak masalah, dia tidak bisa melalaikan kewajibannya di kantor. Jadi, Rendi menyuruh Dion sejak pagi untuk pulang ke Jakarta.


Tibanya di kantor Dion melihat Melly tengah duduk di sofa tunggu di depan Resepsionis. Terlihat wajahnya sangat kalang kabut. Sambil menjepit tas di ketiaknya, dan tangannya sibuk memainkan ponsel.


Melly langsung berdiri dan berkata. "Pak Dion, dimana pak Rendi? Saya ingin bertemu dengannya,"


"Pak Rendi lagi ada urusan, dia hari ini tidak masuk kekantor. Ada apa memangnya?


"Ya sudah. Saya ingin bicara dengan Bapak saja, apa Bapak ada waktu?" tanyanya dengan wajah memelas.


"Oke, tapi hanya sebentar ya, saya hari ini banyak tugas dari pak Rendi." Sahutnya sambil berjalan, Melly membuntut di belakangnya.


Dan kini mereka masuk di ruang Sekretaris.


"Ada apa? Apa kamu ada masalah?" tanya Dion yang seolah sudah mengetahui prasaan Melly, padahal dia hanya menebak saja.


"Pak saya tidak mau pindah ke kantor pak Andra." Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Memangnya kenapa Mell?"


"Bapak tau sendiri kan bagaimana pak Andra orangnya? Saya tidak nyaman bekerja dengannya, saya lebih nyaman bekerja dengan pak Rendi."

__ADS_1


Dion menghela nafasnya, "Bukannya dulu kamu kerja dengannya? Lalu apa yang membuatmu tidak nyaman?"


"Dia......"


Tok tok tok.... Tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuat Melly menghentikan kata-katanya. Dion bangun dan membuka pintu.


Ceklek...


"Pak Andra." Kata Dion, seketika saja bulu kuduk Melly merinding.


"Di mana Melly?" tanyanya sambil menenggok ke dalam ruangan, dan dia melihat Melly yang tengah duduk. "Melly ngapain kamu di situ, apa kemaren belum cukup jelas aku memberi tahu kalau kamu hari ini pindah ke kantorku."


Sialan, kenapa dia pakai kesini sih.


Gerutu Melly.


Melly langsung berdiri dan menghampiri Dion dan Andra, "Maaf Pak, tadinya saya ada urusan dulu dengan pak Rendi." Ucapnya menurunkan pandangan.


"Di mana Rendi?" tanya Andra dengan wajah datar kearah Dion.


"Pak Rendi ada urusan Pak, hari ini dia tidak masuk ke kantor."


Andra hanya manggut-manggut dengan expresi wajah tidak senang. "Kamu masih betah kerja dengan Rendi?"


Kenapa tiba-tiba pak Andra nanya kayak gitu?


Batin Dion.


"Kok tiba-tiba Bapak nanya gitu, saya kan asisten pribadi pak Rendi Pak." Sahutnya.


Andra memutar bola matanya dengan malas, "Ya siapa tau aja kau sudah tidak betah kerja dengannya, memang berapa sih kamu di gajih oleh Rendi?" tanyanya lagi dengan kepo.


Dion tersenyum tipis. "Maaf Pak, masalah gajih saya itu bukan urusan Bapak."


Andra langsung memalingkan wajahnya keki. "Cih... Nggak bosnya nggak asistennya, mereka sekarang sama-sama sombong. Anak baru kemaren sore juga, belagu amat!" Umpatnya.


"Maaf Bapak ngomong apa barusan?" tanya Dion pura-pura tidak mendengarkan ucapan Andra barusan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


Note: Jangan lupa dukung selalu Author ya πŸ™πŸ™ lewat like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❀️❀️


__ADS_2