Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 40. Undangan I


__ADS_3

"Ah nggak, aku mau langsung ke kantor." Sahutnya, kemudian Rendi memutar balik mobil dan pergi ke kantornya.


Indah berjalan masuk ke dalam rumah dengan bersama Hasan sang satpam penjaga rumah yang membuntut di belakang. "Assalamualaikum Mah." Salam Indah sambil tersenyum ceria.


Sarah sedang asyik menonton tv, tapi dia mendengar salam dari anak semata wayangnya, "Walaikumsalam." Jawab ibunya yang berdiri memeluk anaknya.


"Maaf Bu ini mau taruh di mana?" tanya Hasan.


"Di sini saja." Sahut Indah melepas pelukannya.


Hasan menaruhnya di atas meja. "Itu apaan Ndah? Kamu habis belanja?" Indah menjawab dengan gelengan kepala. "Nggak kok Mah, itu tas di beliin sama mas Rendi. Apa ada yang Mamah suka?" tanya Indah kemudian membuka lima kotak yang berisi tas.


"Ini sih tas model anak muda semua Ndah, kayaknya nggak cocok buat Mamah." Ucapnya ibunya seraya memegang tas.


"Mamah kan masih muda." Sahut Indah.


"Sudah itu tas buat kamu saja, lagian Mamah nggak pernah kemana-mana kok." Ibunya kembali mengembalikan tas ke tangan Indah.


"Ah Mamah ini, kan Mamah nggak punya tas." Indah memilih-milih tas yang kira-kira terlihat sederhana, karena ibunya punya selera yang seperti itu. "Eh yang ini saja buat Mamah, warnanya juga kalem." Kata Indah menunjukkan tas selempang berwarna cream.


"Iya bagus juga, tapi nggak papa ini buat Mamah? Kan ini dari Rendi."


"Ah Mamah ini, punya aku kan punya Mamah juga." Ucap Indah tersenyum manja.


"Maaf Bu mau saya bawakan barang-barangnya?" tanya bi Milla pembantu di rumah Rendi menghampiri Indah dan ibunya.


"Taruh di kamar Mas Rendi saja Bi."


"Baik." Bi Milla berjalan menaiki tangga.


"Ya sudah Mah, aku mau mandi dulu ya gerah." Ucap Indah sembari berjalan menaiki tangga dan ke kamar Rendi.


Terlihat bi Milla berdiri seperti orang yang kebinggungan dengan masih menjinjing paper bag. "Bi, kenapa nggak di taruh?" tanya Indah ketika masuk kamar.

__ADS_1


"Bibi binggung mau taruh di mana?" Tanya pembantunya yang memusatkan matanya ke lemari kecil Indah. Bahkan lemari itu seperempat dari ukuran lemari Rendi yang berada di sampingnya, "Bibi taruh di lemari pak Rendi aja ya Bu." Ucap bi Milla seraya membuka pintu lemari milik Rendi.


"Eh jangan Bi." Kata Indah menghentikan dan langsung menutup pintu lemari.


Bisa-bisa mas Rendi marah kalau tasku ada di lemarinya, hari ini kan dia lagi baik. Jangan sampai aku menghancurkan moodnya.


Pikirnya dalam hati.


Indah langsung mengambil paper bag di tangan pembantunya dan menaruhnya di lantai di samping lemari. "Tapikan itu tas baru Bu, emang nggak sayang taruh di bawah?" tanya bi Milla.


"Nggak papa Bi, lagian kan masih di bungkus ini."


"Ya sudah Bibi permisi Bu." Ucap pembantunya pergi, Indah kemudian mengambil handuk untuk dirinya mandi.


***


Sementara itu di kantor Rendi.


Rendi yang sedang duduk di kursi empuk miliknya, dia membuka beberapa dokumen lalu membacanya.


"Maaf Pak, ini saya Harun." Ucap seseorang dari balik pintu.


"Masuk." Sahut Rendi yang masih fokus membaca.


Pria itu membuka pintu dan menghampiri meja Rendi. "Selamat siang Pak, apa saat ini Bapak sedang sibuk?" tanyanya dengan sopan.


"Tidak." Rendi menutup dokumen itu. "Duduklah."


Harun duduk di depannya, dia juga mengambil amplop putih di saku jasnya, "Ini dari pihak polisi Pak, semua tuntutan nona Indah sudah di cabut." Ucapnya sembari menaruhnya dia atas meja.


Rendi mengambil dan membuka serta membacanya, "Bagus." Tersenyum menyeringai.


Kali ini aku bakal berusaha lebih keras untuk menghindari Siska, supaya aku tidak di rayunya lagi.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok,


"Ya masuk." Ucap Rendi ketika mendengar suara ketukan pintu lagi.


Melly membuka pintu, "Maaf menganggu Pak ini undangan buat Bapak." Menaruhnya di atas meja.


"Ya sudah Pak kalau gitu saya permisi." Ucap Harun sembari berdiri. Rendi hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Dia kemudian membuka undangan itu dan berkata. "Apa aku harus pergi kesana?"


"Iya Pak, ini penting untuk kelancaran bisnis Bapak bersama Pak Hadi." Jawab asistennya.


Pak Hadi ini adalah salah satu pembisnis yang bekerjasama di perusaan Rendi semenjak di pegang oleh pamannya.


Pasti om Andra juga ada di sana, sebaiknya aku datang bersama Indah. Dia kan belum sempat ketemu dengannya.


***


Sekitar pukul 7 malam Indah menurunkan anak tangga dengan mengenakan baju tidur, dia menghampiri ibu tersayangnya yang sedang duduk di meja makan.


"Malam Mah." Sapa Indah ceria sembari duduk di samping.


"Malam sayang, Rendi kok belum pulang jam segini ya?" tanya Sarah sambil memandang jam dinding yang berdetak.


"Mungkin dia hari ini sangat sibuk Mah." Indah mengambil piring hendak menuang nasi.


"Eh kamu makannya nggak mau nunggu Rendi." Ucap Sarah mengambil piring Indah.


"Perutku sudah lapar banget Mah." Ucap Indah memasang wajah imut sambil mengelus-ngelus perutnya yang keroncongan.


Sarah tersenyum, "Ah ya sudah, nggak papa kamu makan duluan." Ucapnya memberikan piring itu kembali ke tangan anaknya.


Ding... Dong, suara bel rumah berbunyi.

__ADS_1


...💜Jangan Lupa Like💜...


...😍Dan Masukkan Novel Ini Ke Daftar Favorit😍...


__ADS_2