
Satu Minggu kemudian
Di rumah sakit.
Ceklek~
Jojo masuk ke kamar inap Mawan, ia datang tidak sendiri, melainkan bersama seorang pria dewasa dengan setelah jas rapih berwarna hitam. Mereka berdua menghampiri Mawan yang tengah berbaring di tempat tidur.
Mawan sudah menjalani terapi selama seminggu, ada perubahan sedikit pada tubuhnya. Kini dirinya sudah bisa duduk, walau masih merasakan linu. Namun dokter sendiri meminta Mawan untuk tidak terus berbaring, supaya tulangnya tidak lagi kaku.
"Selamat pagi Pak Mawan," sapa Jojo.
"Pagi."
Pria dewasa berjas hitam itu mengulurkan tangannya ke arah Mawan, segera Mawan menjabat tangannya.
"Perkenalkan, saya Arif Susanto. Saya adalah seorang pengacara yang akan mendampingi sidang Bapak nanti siang."
Ya, tepat di hari ini dan siang hari Mawan dan Santi akan melakukan sidang untuk pertama kali. Mawan bahkan menghitung hari, sehabis bertemu Santi. Tapi hitungannya ingin terasa lama, namun sayangnya justru cepat.
"Pak! Bapak tidak apa-apa?" Jojo menepuk bahu Mawan hingga membuat pria paruh baya itu tersentak kaget, rupanya Mawan sedari tadi melumun.
"Oh!" segera Mawan menarik kembali tangannya pada orang yang bernama Arif tersebut.
"Saya akan membantu Bapak supaya tidak jadi bercerai dengan istri Bapak," ucap Arif.
"Membantu? Itu tidak mungkin." Mawan menggeleng prustasi. "Kau hanya mendampingiku saja, keputusan berada di tangan Santi dan Hakim."
"Iya, tapi setidaknya saya aku berusaha untuk membujuk Bu Santi untuk kembali dengan Bapak."
"Mana bisa? Putriku saja yang termasuk orang yang dia sayangi ... Santi tetap tidak terbujuk," keluhnya.
Jojo menatap wajah Mawan yang begitu muram, terlihat sangat gelap dan menyedihkan. Ia benar-benar seperti tidak ada gairah untuk hidup.
"Bapak jangan seperti itu, jangan patah semangat." Jojo mengelus punggung Mawan. Mungkin hanya ia dan Indah yang masih menyemangati hati Mawan yang sudah rapuh.
"Semuanya sudah patah, Jo. Aku tidak ada semangat hidup. Kalau saja aku tidak ingat pada Indah, Bayu dan Caca, mungkin aku sudah bunuh diri sekarang juga."
__ADS_1
Tes!
Tes!
Buliran air mata itu mengalir pada kedua pipi Mawan. Ini belum apa-apa, bagaimana jika di depan Hakim saat persidangan nanti? Pasti akan terasa sangat sakit.
"Apa Bapak mau mandi? Saya bantu Bapak ke kamar mandi, ya?" Jojo mengambil secarik tissu untuk menyeka air mata Mawan.
Mawan perlahan mengangkat tubuhnya sambil meringis, ia dibantu Jojo dan Arif. Kedua kaki Mawan sudah Joko turunkan di lantai.
"Aku bisa sendiri, Jo. Aku tidak mau menyusahkan orang lain." Mawan menepis lengan Jojo yang tengah memegangi pundaknya saat dirinya melangkah. Kemudian Mawan melangkah sendiri menuju kamar mandi.
"Bapak tidak menyusahkan kok. Bapak mandi dulu saja, nanti saya siapkan pakaian ganti." Jojo tersenyum saat melihat Mawan yang baru saja menutup pintu.
Jojo membuka koper dan mengambil setelan jas berwarna biru dongker, jas itu terlihat masih baru sebab Jojo sengaja membelikannya untuk Mawan.
"Pak Mawan kasihan ya, Pak," ucap Arif.
"Iya." Jojo mengangguk.
*
Sebelum berangkat ke pengadilan, Mawan meminta izin dulu pada dokter. Dan dokter tersebut mengizinkannya setelah Mawan diperiksa terlebih dahulu.
Kini mereka menaiki mobil, Jojo mengemudi dan Arif duduk di sebelahnya. Ia memegangi tas jinjing yang berisi surat-surat untuk kasus Mawan.
Sedangkan Mawan, ia tengah duduk di kursi belakang sambil melihat ke arah jendela, melihat-lihat kendaraan yang lalu lalang.
Pikirannya terpenuhi oleh bayang-bayang Santi, bayangan yang meminta dirinya datang ke pengadilan.
Aku datang Santi, aku tidak akan membuatmu duduk sendiri di dapan Hakim' batin Mawan.
Setengah jam kemudian, mobil Mawan tiba di gedung besar pengadilan agama. Sebelum turun, ia menoleh pada sisi kanan dan kiri parkiran. Melihat beberapa mobil yang ia rasa kenal. Ternyata memang ada dua mobil, dua mobil Lamborghini sedan berwarna hitam dan putih, mobil tersebut adalah milik Rio dan Reymond.
Ternyata mereka tiba lebih dulu, apa memang mereka sudah tidak sabar ingin melihat aku dan ibunya bercerai?' batin Mawan.
Jojo membukakan pintu belakang mobil untuk Mawan. Segera ia turun dan bersama-sama memasuki gedung itu.
__ADS_1
...(POV Mawan)...
Saat masuk, entah kenapa seluruh tubuhnya begitu lemas seperti mati rasa. Apa lagi kedua lutut dan kakiku. Aku hampir saja terjatuh kalau tidak ada Jojo yang memegangi kedua pundakku, menopang tubuhku.
Tak lama ada seseorang datang sambil mendorong kursi roda, aku menoleh dan ternyata dia Arif, dapat kursi roda dari mana dia?
"Duduk di sini, Pak," ucap Arif seraya membantuku untuk duduk.
Jojo mendorong kursi roda yang sudah ada aku yang duduk menuju tempat di mana aku harus berada.
Aku melihat ada Indah, Reymond dan Rio. Mereka duduk di belakang Santi yang berada di depan Hakim.
Hanya Indah yang tersenyum padaku dan menatapku dengan penuh kasih sayang, Reymond juga menatap ke arahku tapi dia bersikap biasa saja. Dan yang terakhir, Rio ... orang yang sudah aku sakiti, dia sama sekali tidak menatap ke arahku bahkan memalingkan wajahnya. Apa sampai detik ini ... pintu maaf di hatinya masih tertutup rapat? Dia masih marah dan membenciku?
Tiba-tiba aku merasa mataku ini sudah berair, segera aku mengusap kedua mataku sebelum air mata itu benar-benar jatuh. Tidak ada gunanya aku menangis sekarang, mereka yang berada di gedung ini sama sekali tak peduli pada aku yang jahat ini.
"Saya duduk di sana ya, Pak." Jojo menepuk pundakku saat dirinya berhasil mengantarkan kursi roda yang aku tunggangi tepat di depan Hakim dan tentunya di samping Santi.
"Iya," jawabku singkat.
Jojo berjalan bersama Arif yang sudah berganti pakaian sidang, duduk di kursi berjarak denganku.
Aku belum sempat menoleh ke samping, untuk melihat wajah cantik Santi, tapi saat leherku ingin menoleh ... rasanya aku tak sanggup, tak sanggup sebab sangat menyakitkan nantinya. Aku tidak kuat melihat wajahnya, wajah seseorang yang selalu aku rindukan dan tak akan aku miliki lagi.
Aku mengurungkannya dan mengarahkan pandangan ke depan, pada pria yang sebentar lagi mengajukkan beberapa pertanyaan padaku dan Santi.
Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Kedua tanganku sudah berkeringat, aku sangat gerogi dan begitu takut. Padahal ini bukan sidang perceraian pertama dalam hidupku, namun kenapa saat ini sungguh berbeda. Rasanya tak ikhlas tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Hadirin, sidang pada tanggal 2 Desember 2021 dibuka," ucap Hakim yang seumuran denganku seraya mengetuk palu.
Tok ... tok ... tok.
"Kepada penggugat, benarkah Anda ingin bercerai?" tanya Hakim mengarahkan pandangannya pada Santi yang berada di sampingku.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1
TBC