Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 120. Jahat sekali


__ADS_3

"Wah ... ternyata Pak Andra ini adalah Om kandungnya Pak Reymond alis Pak Rendi. Bapak ternyata jahat sekali," sindir Pak Polisi kearah Andra, pria itu hanya diam. Karena mulutnya sudah di lakban oleh Mawan pada saat didalam mobil.


"Pak Andra juga pernah memperkosa Melly, sekretarisnya Pak Rendi," ucap Dion.


"Benarkah? Coba kasih saya bukti," sahut Pak Polisi.


Dion segera memutar rekaman Melly saat bercerita tentang Andra beberapa tahun yang lalu. Memang sejak dulu Dion berniat untuk memenjarakan Andra karena merasa tak terima atas apa yang ia perbuat pada Melly, hanya saja buktinya kurang kuat. Tapi dengan terbongkarnya kejahatan yang lain, itu membuat hukuman Andra semakin berat.


"Baik, semuanya sudah sangat jelas. Jadi korban dan pelapor adalah Rendi Pratama yang sekarang menjadi Reymond Alexander. Semua laporan ini akan secepatnya saya urus, kita tinggal tunggu acara persidangan perkara pidana. Nanti Hakim sendiri yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mereka berdua," terang Pak Polisi.


"Saya harap Om Andra dan Anton mendapatkan hukuman seberat-beratnya, supaya mereka berdua bisa jera, Pak," ucap Reymond.


"Tentu saja, Pak." Kedua polisi itu berjabat tangan pada Reymond dan Mawan.


"Nanti saya konfirmasi pada Pak Reymond dan Pak Hermawan tentang acara tersebut. Mulai malam ini juga Pak Andra dan Anton sudah bisa menempati sel tahanan."


"Iya, terima kasih, Pak," ucap Reymond seraya memberikan kartu namanya didalam dompet. "Ini kartu nama saya, Bapak bisa menghubunginya."


"Baik."


Reymond dan Mawan mengangkat bokongnya, untuk sekilas Reymond menatap wajah Andra. Saling melayangkan pandangan. Langkah kakinya perlahan meninggalkan kantor polisi.


Aku tak menyangka padamu, Om. Kau jahat sekali.


Batin Reymond.


Kini mereka semua sudah berada di halaman kantor polisi, anak buah Reymond dan yang lainnya berkumpul.


"Pertama-tama gue ngucapin terima kasih banyak buat Elu Riz. Lu salah satu orang paling baik di hidup gue, tanpa adanya lu waktu itu ... gue nggak bisa bayangin, mungkin gue sudah jadi Almarhum," ucap Reymond seraya memeluk tubuh Rizky.


"Sama-sama. Gue juga seneng bantu elu, Kok." Mereka berdua melepaskan pelukan.


Kini Reymond menatap wajah Dion dan Melly. "Kalian berdua juga orang baik dan setia padaku, aku tak menyangka ... walau aku dulu sudah tidak jadi bos kalian, tapi kalian masih baik dan membantuku. Terima kasih Dion, Melly."


"Sama-sama, Pak. Kami juga senang kalau bisa membantu Bapak," sahut Melly dan Dion.


"Apartemen yang kalian tinggali sekarang akan jadi milik kalian dan aku akan memberikan kamu mobil baru, Dion. Anggap saja bentuk terima kasihku. Tapi, aku tidak mau penolakan, kau harus menerimanya," ucap Reymond sedikit memaksa.


"Iya, Pak. Terima kasih banyak."


"Besok aku akan kembali ke Kantor. Kita akan urus semuanya, gajih kalian juga akan aku naikkan."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," ucap Dion dan Melly.


Kini Reymond menatap wajah Ali, Aldi dan dua orang bodyguardnya. "Untuk kalian berempat dan orang-orang yang ikut membantuku. Aku akan memberikan kalian masing-masing 40 milyar, tugas kalian sangat bagus."


"Terima kasih, Pak," sahut mereka berempat.


Sekarang giliran Harun dan Hersa. Reymond memeluk tubuh mereka berdua.


"Kalian berdua adalah kunci aku bisa menjebloskan Om Andra ke penjara. Entah apa yang bisa aku bayar. Tapi niatku akan membelikan kalian rumah dan mobil baru."


"Terima kasih, Pak. Kami juga senang membantu Bapak."


Mereka sudah melepaskan pelukan.


"Yasudah, tugas kalian sudah selesai. Kalian bisa beristirahat dan menjalani kehidupan masing-masing, jika ada yang butuh tambahan dana. Segera hubungi aku, aku akan memberikan berapapun yang kalian minta," terang Reymond.


Mereka membungkuk. "Baik, Pak. Terima kasih ... Semoga Bapak dan keluarga selalu bahagia dan sehat."


"Amin," sahut Reymond dan Mawan.


Akhirnya mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sama halnya dengan Reymond dan Mawan.


Mereka sudah berada dihalaman rumah. Suasananya begitu sepi, namun ada beberapa petugas dari WO yang tengah membereskan barang-barang sewaan Mawan pada acara tadi pagi.


"Sepertinya sudah," jawab Mawan.


Mereka masuk kedalam rumah, terlihat Santi, Indah, Rio dan Wulan tengah duduk menunggu di ruang tamu. Mereka sudah berganti pakaian santai.


Sedangkan Bayu sedang main mobil-mobilan sambil duduk lesehan di lantai ditemani oleh Clara.


"Opa ... Ayah!" panggil Bayu seraya berlari menghampiri kedua pria itu.


Reymond langsung membungkuk sambil mengendong tubuh anaknya.


"Mas ... Papah, kalian sudah pulang." Indah langsung bangun dari duduknya.


Mawan dan Reymond mengecup kening Indah bergantian.


"Bagaimana? Apa semuanya sudah beres? Om Andra sudah di penjara?" tanya Indah.


"Iya sayang," sahut Reymond.

__ADS_1


"Hukumannya berapa lama? Mamah harap seumur hidup," sambung Santi ikut berdiri menghampiri mereka.


"Masalah hukuman bagaimana nanti Hakim yang memutuskan, Mah. Nanti kita semua ikut menyaksikan persidangan Om Andra," jawab Reymond.


"Oh yasudah, kita makan dulu saja. Kami disini menunggu kamu dan Papah. Ayok makan bersama," ajak Santi seraya berjalan menuju meja makan.


Mereka semua makan bersama. Disesi makan Mawan baru sadar ada Clara, namun tidak tau hubungannya dengan Wulan. Gadis kecil itu makan bersebelahan dengan Wulan.


"Wulan ... siapa dia?" tanya Mawan pada Wulan sambil mengerakkan kepalanya kearah Clara.


Wulan memegang lengan Clara. "Dia Adik saya, Pak. Namanya Clara."


"Oh ...," jawab Mawan.


"Wulan ... panggil saja Papahku dengan sebutan Papah. Kamukan sekarang jadi Adik iparku," ucap Indah.


Wulan menoleh pada Indah. "Iya Ndah."


Adik ipar?! Ah benar. Pak Reymond dan Pak Rio adalah Kakak Adik. Tapi Pak Hermawan berarti mertua Indah dong, ya? Tapi kelihatannya Indah sangat dekat dengan keluarga mereka, malah seperti anak sendiri. Semoga mereka juga menganggapku sama seperti menganggap Indah.


Batin Wulan.


"Reymond, Mamah ingin mengajak Rio, Wulan dan Clara menginap malam ini disini. Apa boleh?" tanya Santi kearah Reymond.


"Lho ... Kenapa Mamah tanya padaku? Inikan rumah Mamah dan Papah, terserah Mamah saja," sahut Reymond.


"Mamah takut kamu keberatan saja," ucap Santi tak enak hati.


"Tidak usah, Mah. Aku, Wulan dan Clara malam ini akan pulang ke rumahku saja," sahut Rio.


"Kalian akan tinggal bertiga?" tanya Mawan, wajahnya terlihat tidak senang.


"Iya Pah. Aku sudah meminta izin pada Ayahnya Wulan, mengajaknya untuk tinggal bersamaku," jawab Rio seraya menatap wajah Clara sambil tersenyum.


Gadis kecil itu masih fokus makan.


"Kenapa kau ajak dia tinggal bersamamu? Memang Ayahnya Wulan tidak bisa mengurus anaknya sendiri?" tanya Mawan dengan nada ketus.


Deg....


"Bukan begitu, Pah. Wulankan biasa tinggal bersama Clara. Jadi ... aku merasa kasihan kalau mereka tidak bersama, lagian aku juga menyayangi Clara, kok," jawab Rio.

__ADS_1


"Kaliankan baru menikah, harusnya fokus saja dulu berdua. Tidak perlu sibuk mengurus-"


^^^Kata: 1024^^^


__ADS_2