
Sampainya di rumah sakit, Mawan segera masuk kedalam. Terlihat Indah tengah duduk di tempat tidur bersama Antoni. Ayah sambungnya itu sedang menimang-nimang Caca yang baru saja selesai minum susu lewat dot.
"Papah," panggil Indah saat melihat kedatangan Mawan, wajah papahnya nampak begitu murung.
Mawan segera menghampiri Indah dan memeluk tubuhnya, ia lagi-lagi menangis. Ia merasa jadi manusia cenggeng sekarang, gampang sekali menangis jika mengingat apa yang telah ia lakukan.
"Papah, Papah ada apa? Cerita sama aku." Indah terlihat binggung dengan sikap Mawan yang mendadak menjadi melow, tidak biasanya Mawan bersikap seperti itu.
Antoni merasa tidak enak berada di tengah-tengah mereka, ia sangat menghargai Mawan. Setelah Caca tertidur pulas dalam gendongannya, Antoni segera meletakkan kedalam box bayi dengan perlahan.
"Sayang ... Papah keluar dulu, ya?" pamit Antoni.
"Iya, Pah."
"Kau pergi kerja saja Antoni, biar Indah aku yang jaga," titah Mawan lirih.
"Iya, Pak."
"Papah hati-hati kerjanya," ucap Indah pada Antoni.
"Iya, Sayang." Antoni melangkahkan kakinya keluar dari kamar inap anaknya.
"Ada apa, Pah?" Indah melepaskan pelukan Mawan dan perlahan menyeka air mata papahnya
"Indah ... apa kamu mau membantu Papah, Sayang?" tanya Mawan dengan nada memohon.
"Membantu apa? Kalau bisa, aku pasti membantu Papah." Indah tersenyum.
"Tolong kamu bicara pada Mamah, minta dia untuk tidak jadi bercerai dengan Papah. Papah tidak mau bercerai dengan Mamah, Sayang."
Indah terbelalak. "Apa? Bercerai? Maksud Papah bagaimana?"
"Iya, Mamah meminta cerai sama Papah, Indah. Ini semua salah Papah," keluhnya.
"Memangnya apa yang Papah lakukan sampai Mamah minta cerai? Bukannya Papah dan Mamah baik-baik saja?"
Mawan binggung, kalau misalkan ia cerita, Indah pasti marah, sama halnya dengan yang lain. Tapi kalau tidak cerita, bagaimana cara Mawan meminta bantuan padanya?
__ADS_1
Mawan terdiam sejenak, sampai akhirnya ia membuka mulut untuk bisa menceritakan segalanya, semua peristiwa yang ia lakukan selama ini pada Rio. Semuanya tidak ada yang terlewat dan Mawan tutup-tutupi, murni dari kejujurannya.
Indah sampai tercengang dengan apa yang Mawan ceritakan. Kalau saja dirinya tidak ingat ada Caca yang baru saja tidur, Mawan sudah habis-habisan ia tampar. Tangannya sudah mengepal, tapi lebih baik ia memeras seprei.
Melihat Indah seperti emosi dengan wajah yang memerah, Mawan segera menuangkan air putih pada gelas diatas nakas. Ia memberikan pada Indah supaya mengurangi emosinya.
Tentu saja Indah segera mengambil segelas air putih itu dan menenggaknya sampai habis, ia mengatur nafasnya naik turun dan geleng-geleng kepala.
Setelah gelas kosong itu di taruh ketempat semula, Mawan mengenggam tangan putrinya dengan lembut.
"Indah ... Papah sudah mengakui kalau perbuatan Papah ini sangat salah, benar-benar salah. Papah ingin berubah, Sayang. Papah mohon padamu ... tolong bantu Papah. Papah tidak mau bercerai dengan Mamah. Papah tidak mau jauh dengan kamuu, Bayu, Caca, Reymond dan juga Rio. Papah sayang kalian semua," ucapnya lirih.
"Aku binggung, Pah. Sepertinya aku tidak bisa bantu Papah apa-apa. Karena kesalahan Papah sangat menyakiti Mamah."
Deg!
Mawan kembali memeluk Indah, masih berupaya untuk meminta bantuan putrinya. Sebenarnya, bukan Indah tidak mau membantu. Hanya saja ia binggung harus membantunya lewat jalur apa. Indah juga mengerti apa yang dirasakan Santi, sama halnya dengan almarhumah Sarah dan dirinya dulu. Merasa kecewa dan sakit hati.
"Indah, hanya kamu satu-satunya yang bisa membantu Papah. Papah sudah tua, Papah tidak mau menjadi duda lagi. Papah ingin menghabiskan umur Papah bersama kalian, bersama Mamah, kamu dan yang lain. Tentunya dengan cucu Papah. Papah mohon ... bantu Papah, Indah."
"Tapi disini Papah harusnya minta maaf sama Mamah, sama Rio dan juga Wulan. Karena yang Papah sakiti adalah mereka. Meskipun aku membantu Papah, tetap saja akan sulit, Pah. Semua itu tergantung mereka," jelas Indah.
"Algojo? Siapa Algojo?"
"Irwan dan Indra, lalu itu yang dua orang berbadan kekar. Anak buah Reymond. Mamah menyuruh mereka supaya mengawasi Papah. Papah ingin bicara dengan Reymond saja sulit tadi, bagaimana bicara dengan Rio? Yang jelas-jelas ada didalam," keluhnya
"Otak Papah 'kan licik, masa begitu saja mengeluh. Papah pakailah otak licik Papah itu supaya bisa menemui Rio." Indah memberikan saran sekaligus menyindir Mawan, tapi memang saran dari Indah ada benarnya.
Mawan terdiam dan memikirkan hal itu dengan baik-baik, ia juga harus ekstra hati-hati supaya tidak mempengaruhi kondisi Rio.
"Setelah minta maaf sama Rio, Papah juga harus minta maaf sama Wulan," tegur Indah lagi.
Lebih baik aku bicara dengan Wulan saja. Rio 'kan sangat mencintainya. Mungkin Wulan bisa membantuku.
***
Sore hari.
__ADS_1
Wulan tengah mengupas beberapa buah apel merah, lalu memotong dan menaruhnya diatas piring. Rio duduk menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur.
"Mamah kemana?" tanya Rio, sehabis bangun tidur tadi, ia tak melihat batang hidung Santi.
"Mamah pergi, katanya ada urusan, Mas." Wulan memberikan potongan buah apel itu pada mulut Rio, Rio segera membuka mulutnya, mengunyahnya secara perlahan.
"Duduk sini." Rio menepuk kedua pahanya, ia tengah duduk selonjoran.
"Mas Rio 'kan sedang sakit."
"Aku mau pegang pe-perutmu. Duduk." Rio kembali menepuk pahanya, meminta Wulan untuk duduk di pangkuannya.
Dengan ragu-ragu Wulan berdiri, ia naik keatas ranjang dan duduk dipangkuan Rio. Mereka kini duduk berhadapan.
"Paha Mas Rio sakit, tidak?" tanya Wulan. Ia merasa tak tega, takut Rio merasa berat menindih tubuhnya. Padahal mereka sering duduk dengan posisi seperti itu.
Rio menggeleng pelan, ia mengukir senyum tipis dan perlahan mengusap lembut perut buncit istrinya.
"Si kembar, sedang apa?"
"Eemm ... dia sedang tidur pasti, Mas. Memang mereka ngapain lagi didalam sini?" Wulan ikut memegangi perutnya, ikut mengelusnya.
Setelah puas mengusap perut Wulan, kini Rio beralih mengusap-usap bibir istrinya.
"Mas Rio mau apa?"
"Cium." Mulut Rio sudah menganga, ia menekan tengkuk istrinya supaya kedua bibir itu bisa saling menempel.
Cup~
Rio memagut bibir Wulan, mengem*tnya tipis-tipis. Wulan juga melakukan hal yang sama, hingga lidah mereka saling berbelit dan menukar saliva.
Kedua tangan Rio langsung menyusup kedalam dress istrinya, ia meraih pengait bra untuk bisa membukanya. Setelah berhasil membuka, kini kedua tangan Rio menjelajahi benda kenyal istrinya, merem mas lembut hingga kasar, sampai membuat tubuh Wulan meremang tak karuan.
Sekarang kepala Rio sudah turun ke leher istrinya, ia mengecupi dan melum mat kasar, memberikan jejak kepemilikan seperti biasanya.
"Uh! Mas ...," desah Wulan lirih. Ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Rio berikan.
__ADS_1
Apa Mas Rio mau mengajakku bercinta?
Jangan lupa like 💕