
"Suka, Kak. Terima kasih, bonekanya cantik dan tampan," lirih Clara seraya tersenyum manis.
Reymond mengelus rambut istrinya. "Sayang, kamu sudah makan?"
"Sudah, Mas."
"Kalau Bayu?"
"Sudah juga."
"Kamu kesini sama Irwan doang? Dimana Mamah?"
"Mamah ke butik."
"Eemm ... kita ke Restoran sebentar, yuk!" ajak Reymond.
Indah menengadah kearahnya. "Mau apa?"
"Temenin aku makan siang, aku lapar," ucap Reymond seraya mengusap perut. Memang asli ia lapar, tapi kebetulan juga bisa dibuat alasan supaya Indah pergi bersamanya, selama Mawan dan Clara melakukan tes DNA.
"Yasudah ayok!" Indah langsung bangun dari duduknya dan mengelus rambut Clara sekilas.
Reymond mengambil Bayu dari gendongan Mawan.
"Papah mau ikut juga?" tanya Indah kearah Mawan.
"Tidak, Papah disini saja," jawabnya.
Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sepeninggal mereka, tak lama Dion, dokter dan suster datang sambil mendorong meja troli yang berisi peralatan untuk melakukan tes DNA.
"Ayah, Clara mau diapain?" tanya Clara menoleh pada Wahyu, ketika dokter itu datang mendekatinya.
"Kamu hanya di periksa Sayang, kamu tenang saja." Wahyu mengelus rambut Clara dan mencium keningnya.
Sementara Clara dan Mawan melakukan tes DNA, Reymond mengajak Indah dan Bayu untuk pergi ke Restoran yang berada didepan rumah sakit.
Saat mereka berada disisi jalan raya, ada sebuah mobil taksi berhenti disamping. Dua orang keluar dari mobil dan ternyata mereka adalah Rio dan Wulan. Keduanya seperti habis mandi, terlihat begitu fresh dan tercium aroma wangi. Tangan Wulan juga menenteng paper bag besar, isinya seperti boneka.
"Kak Rey, Indah, Bayu," sapa Rio seraya berjalan menghampiri mereka, menghentikan Indah dan Reymond yang akan menyebrang.
Wulan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya samar.
"Rio, Wulan. Kalian disini? Mau apa?" tanya Reymond.
"Kita mau menjenguk Clara, Kak," sahut Rio.
'Jenguk Clara? Ah tidak-tidak, mereka jangan tau dulu masalah ini. Apalagi Wulan, dia sepertinya belum tau kalau Clara bukanlah adiknya' batin Reymond.
"Kakak dan Indah sedang apa kesini? Siapa yang sakit?" tanya Wulan.
Rio menoleh kearah istrinya. "Ish, kau ini! Aku 'kan sudah bilang, jangan panggil pria lain dengan sebutan Kakak Aku tidak suka!"
__ADS_1
"Tapi Kak Reymond adalah kakak Mas Rio, masa aku tidak memanggilnya kakak ?" tanya Wulan binggung.
"Kataku juga panggil Bapak, kalau bicara dengan orang yang lebih tua darimu, Wulan!" Rio berdecak kesal menatap wajah istrinya.
'Bapak? Jelas Kak Reymond adalah Kakak iparku. Mas Rio ini kadang sangat aneh' batin Wulan.
"Kalian ini kenapa? Kok malah berantem?" tanya Indah yang binggung melihat perdebatan mereka berdua.
"Lebih baik kalian ikut kami ke Restoran depan," ajak Reymond seraya menggerakkan kepalanya kearah yang dimaksud.
"Mau apa?" tanya Rio.
"Mau apa mau apa! Ya ke Restoran mau makan dan minumlah! Kau ini bodoh sekali!" umpat Reymond.
"Iya, aku tau. Tapi aku dan Wulan sudah makan, Kak. Kakak saja sama Indah. Aku dan Wulan mau menjenguk Clara." Rio sudah menarik tangan Wulan untuk meninggalkan mereka di sisi jalan raya. Namun dengan cepat Reymond menarik jaket jeans yang Rio kenakan.
"Aku mengajak kalian! Sekali-sekali kita menghabiskan waktu bersama. Jarang juga, kan?"
Reymond ini memang pintar sekali beralasan, supaya adik dan adik iparnya tidak mengacaukan rencananya.
"Yasudah tidak apa-apa, Mas. Kita ikut mereka saja, benar kata Kak Reymond," ucap Wulan menatap wajah Rio.
"Aku sudah bilang, jangan panggil Kakak! Kau ini tidak pernah mengerti dari tadi!" Rio mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal.
"Maaf, Mas ...."
"Memang kenapa kalau Wulan memanggil aku Kakak? Memang aku Kakak iparnya, kan?" tanya Reymond sambil berkacak pinggang, seakan menantang adiknya.
"Kenapa? Memang ada yang salah dengan sebutan itu?"
'Tidak salah memang, tapi terdengar begitu mesra. Aku mual mendengarnya, apalagi jika dia memanggil si Dido dan si Ivan-ivan itu. Menyebalkan!' gerutu Rio.
Plak~
Reymond menabok lengan Rio, karena sedari tadi pria itu malah melamun dengan wajah cemberut.
"Jawab kau! Kenapa memangnya!" pekik Reymond.
"Mas ... sudah! Kenapa jadi kalian yang berantem, sih?" Indah menarik lengan Reymond supaya ia tidak terlalu dekat dengan adiknya. "Ayok ke Restoran, katanya tadi lapar!" ajak Indah.
Rio menghela nafas panjang dan kembali mengenggam tangan Wulan. Mereka ikut membuntut dibelakang Reymond dan Indah.
Mereka berlima langsung mencari tempat ternyaman, Rio dan Wulan duduk berhadapan dengan Indah, Bayu dan Reymond.
Tak lama seorang pelayan datang menghampiri mereka berlima.
"Selamat siang, silahkan mau pesan apa?" tanyanya dengan ramah.
"Kamu mau pesan apa Sayang?" tanya Reymond seraya menyodorkan buku menu pada Indah.
"Bayu mau entang goleng, Ayah."
__ADS_1
"Iya, Bayu. Nanti Ayah pesankan untukmu."
"Aku jus alpukat saja, Mas. Berdua dengan Bayu," sahut Indah.
"Jus alpukat dua, kentang goreng dua, es jeruk satu sama burger satu," ucap Reymond.
"Mas dan Mbak, pesan apa?" pelayan itu bertanya pada Rio dan Wulan yang tengah sibuk menatap buku menu.
"Kau mau apa?" tanya Rio.
"Sama kayak Indah, Mas."
"Makanannya?"
"Tidak usah, aku masih kenyang."
"Kita pesan jus alpukat dua," ucap Rio.
"Baik tunggu sebentar." Pelayan itu mencatat. Kemudian, ia berlalu pergi untuk membuatkan pesanan.
"Oya ... kata Mamah kau tinggal di rumah Pak Wahyu. Beneran apa bohongan?" tanya Reymond menatap wajah adiknya.
"Benarlah, masa bohong. Aku dari kemarin tinggal disana."
"Betah kau tinggal disana? Bukannya kau ini manja?" ejek Reymond seraya tersenyum miring.
"Betah kok."
"Wulan, kau pasti kerepotan 'kan dengan si Rio ini?" Reymond melihat kearah adik iparnya. "Dia ini memang pria manja, belum dewasa! Kau tau, tidak? Dulu saat kau pergi meninggalkannya, aku yang memandikannya."
Mata Wulan membelalakkan. "Kakak memandikan Mas Rio? Serius?"
'Ish! Kakak ini kenapa musti cerita sih!' gerutu Rio.
Reymond mengangguk pelan. "Iya, masa mandi saja tidak bisa sendiri! Jangan bilang kau juga pernah memandikannya? Apa sering?" tebaknya dengan tatapan menyelidik.
Dengan refleks Rio dan Wulan saling memandang. Wulan ingin menjawab pertanyaan Reymond, tapi seakan berat keluar dari mulutnya, ia takut kalau salah bicara.
"Wulan," panggil Reymond.
Kepala Wulan langsung menghadap kearah Reymond.
"Kita lebih sering mandi bersama, kok. Lagian ... kalau Wulan memandikanku memang kenapa? Dia 'kan istriku, Kak," ucap Rio dengan cepat.
"Iya, memang dia istrimu. Tapi jangan buat dia merasa kerepotan juga, nanti yang ada dia bosan dan meninggalkanmu, Rio!"
Rio segera memegangi kedua tangan Wulan. "Apa selama ini kau merasa kerepotan setiap kali membantuku?"
Wulan menggeleng pelan. "Tidak, Mas."
"Benarkah? Kau tidak ada niat untuk meninggalkanku lagi, kan? Aku tidak mau itu sampai terjadi, Wulan."
__ADS_1
^^^Kata: 1017^^^