
"Tumben Om ke sini ada apa?" tanya Rendi kemudian menutup berkas yang sedari tadi dia baca.
"Om perlu suntikan dana Ren." Katanya sambil melipat kedua kakinya.
Suntikan dana? Bukannya dua bulan yang lalu om sudah meminta 25% dari perusahaan ayah?
Batin Rendi.
"Memang kenapa dengan perusahaan Om? Bukannya dua bulan yang lalu Rendi sudah kasih 25% suntikan dana ke Grup B?" tanya Rendi binggung, dia merasa pamannya sekarang bekerja tidak profesional, selalu mementingkan kehidupan pribadinya ketimbang pekerjaan nya sendiri.
"Om di tipu habis-habisan sama Lisa, dia membawa kabur uang gajih karyawan." Jawabnya dengan kesal.
Rendi mengusap-usap pelipis matanya, "Lisa sekretaris Om sekaligus pacar Om itu?"
"Ya." Angguk Andra.
"Bagaimana bisa? Bukannya uang gajih di pegang oleh bendahara?" tanya Rendi sambil memegangi jari jemarinya.
Andra menghela nafasnya dengan kasar, "Sudahlah Ren, Om sedang pusing sekarang. Mending kamu kasih Om dana 50%." Ucapnya yang seakan memaksa.
"50%." Mata Rendi langsung terbelalak. "Itu terlalu besar, Rendi nggak bisa." Sahutnya menggelengkan kepala.
"Apa maksudmu? Kamu nggak mau membantu Om? Kamu mau Om bangkrut?" oceh nya dengan nada mulai emosi.
"Bukan Om," kata Rendi sambil mengerakkan kedua tangannya, "Rendi nggak bisa kasih sebanyak itu, karena sangat beresiko untuk perusahan Rendi. Rendi paling bisa kasih 25%."
"Apa-apaan 25% itu sangat sedikit." Ucapnya tak terima. "Kamu kan punya proyek di Bandung, dan Om denger kamu juga sudah ada rencana bikin kantor baru. Berarti kamu sudah banyak uang sekarang." Katanya dengan nada tinggi.
Kenapa kesannya om sangat memaksa?
Batin Rendi.
Rendi menghela nafasnya dengan kasar dan mencoba bersikap tenang di depan pamannya, karena terlihat pamannya sudah sangat emosi. "Om itu uang perusahaan peninggalan ayah, dan masalah proyek dan kantor baru itu hasil kerja keras Rendi sendiri, kantor itu juga Rendi bikin untuk Rio."
Sombong sekali dia sekarang.
Gerutu Andra.
"Apa kamu lupa? Kamu bisa seperti ini juga karena Om yang ngajarin kamu. Kamu jangan melupakannya Ren." Celotehnya, seolah sudah mengungkit-ungkit.
Deg....
Hati Rendi terbesit mendengar ucapan pamannya barusan. "Iya Om Rendi tau, tapi Om tolong mengerti. Rendi hanya bisa kasih segitu," jawab Rendi memohon.
Andra bangun dari duduknya seraya menggeser kursi dengan paksa, "Ya sudah terserah kamu mau kasih suntikan berapa." Ucapnya malas. "Om juga mau kasih tau kalau besok Melly Om ambil untuk jadi sekretaris Om."
"Tapi Om...." Ucap Rendi namun pamannya berlalu pergi dengan penuh amarah.
Anak baru kemaren sore, sudah ngerasa hebat. Awas kamu ya Ren!
Ancamnya dalam hati. Lalu dia meraih ponsel dan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Hallo."
"......"
"Ketemu di kantor saya."
"....."
"Iya." Sahutnya kemudian menutup telepon.
Rendi mengulurkan dasi di lehernya supaya tidak terlalu ketat, dan membuka satu kancing kemeja dari atas kerahnya. Dadanya sangat sesak atas perdebatan dengan pamannya barusan. Dia merasa kalau sifat pamannya seakan berubah-ubah tidak seperti dulu, kadang baik. Kadang juga jadi arogan padanya, apa itu karena dia sedang ada masalah di perusahaannya?
Rendi keluar kantor mencari udara segar dan mengajak Dion untuk ngopi bareng di cafe supaya bisa mengobati stress di pikirannya.
🌺🌺🌺
Sementara itu di kampus.
Mereka berdua tengah duduk bersebelahan di kantin, Nella mengambil kotak hp dari dalam tasnya, "Ini Ndah aku balikkin ponsel kamu." Ucapnya sambil menyodorkan kotak itu kesamping.
"Lho kenapa? Aku kan belum membayarnya, apa kamu sekarang lagi butuh uang?" tanya Indah merasa tak enak hati.
"Bukan Ndah, suamimu sudah bayar uang gadai nya, jadi aku balikkin ponsel ini ke kamu."
"Lho kok bisa? Gimana ceritanya?" tanyanya mulai binggung.
"Ah jadi gini, kemaren dia tanya-tanya tentang kita ketemu di cafe. Aku jujur saja, soalnya aku takut juga. Wajah suamimu agak serem kalau lagi serius gitu." Kata Nella agak merinding.
"Indah sepertinya, rumah tangga kamu makin baik ya, syukur deh." Ucapnya terlihat senang.
Indah hanya mengangguk dan tersenyum tulus.
"Eemm apa kamu mulai suka sama pak Rendi?" tanya Nella sedikit kepo.
Blussss.... Seketika saja pipi Indah merah merona, otaknya teringat kejadian kemarin sore, bibirnya mulai senyam-senyum sendiri. "Wah kayaknya ada yang lagi jatuh cinta." Ucap Nella menyenggol lengan Indah.
"Siapa yang sedang jatuh cinta?" Kata Rio datang secara tiba-tiba dengan Dimas dan duduk di antara mereka.
"Ini Indah. Dia sudah jatuh cinta sama suaminya sendiri." Ucap Nella kembali menggoda Indah sambil tertawa kecil.
"Bagus dong, sepertinya kita akan punya keponakan." Timpal Dimas.
Degg....
Hati Rio seolah terpecah menjadi dua bagian, ubun-ubun kepalanya kian panas. "Gays gue ke toilet dulu ya." Ucap Rio bangun dari duduknya dengan wajah datar.
Apa dia sakit hati? Ah Rio harusnya kamu sudah melupakan aku.
Batin Indah yang mengerti kalau Rio tak suka dengan ucapan Dimas barusan.
Rio masuk ke toilet sambil menonjok-nonjok tembok.
__ADS_1
"Aaakkhhhh kurang ajar." Pekiknya dengan emosi.
Seseorang mengedor-gedor pintu toilet itu dan berkata. "Woy kenapa lu teriak-teriak di toilet." Ucap pria itu dari balik pintu.
Tapi Rio tidak menghiraukannya, dia duduk di atas kloset duduk sambil melamun.
Indah nggak boleh cinta sama kak Rendi apa lagi sampai punya anak. Nggak, nggak bisa.... Mereka harus berpisah.
Batin Rio merana. Dia mengambil ponselnya dari saku celana dan menelepon seseorang.
"Hallo. Lu dimana?" Kata Rio
"....."
"Bisa ketemu?"
"...."
"Sekarang."
"....."
"Di cafe Xxx." Rio langsung menutup teleponnya.
Rio berjalan keluar toilet, tapi tak sengaja dia bertemu dengan Dosen jurusannya, "Eh Rio ngapain masih di sini bukannya masuk ke kelas?" tanya pak Eko.
"Maaf Pak, Rio ada urusan mendadak jadi hari ini izin nggak ikut kelas." Ucapnya langsung melangkah namun lengannya di cegah.
"Urusan apa? Yang jelas." tanya Pak Eko memastikan.
"Eemm... Temanku masuk rumah sakit Pak, keadaannya darurat. Aku harus segera ke sana." Sahutnya sambil mikir-mikir.
"Oh ya sudah hati-hati kamu." Kata pak Eko sambil mengusap punggung Rio.
Rio langsung berlari kecil untuk sampai ke parkiran, dan langsung mengendarai motor.
☘️☘️☘️
Di cafe.
"Bapak kenapa? Sepertinya lagi ada masalah?" tanya Dion tanpa ragu-ragu, karena dia sudah sangat dekat dengan bosnya sendiri.
Rendi menghela nafasnya dengan kasar. "Aku pusing, tadi Om Andra datang marah-marah minta suntikan dana 50%." Keluhnya seakan sudah curhat.
"Sebesar itu Pak? Lalu Bapak memberikannya?"
"Tidaklah. Mana mungkin aku kasih segitu, itu terlalu besar Dion, dan tadi juga Om minta Melly untuk kerja di kantornya," kata Rendi lagi sambil menyeruput secangkir kopi.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
Note: Beri dukungan yuk. Dengan cara like, vote, dan gift seikhlasnya ya ❤️
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol favorit juga, soalnya update setiap hari. Thanks All.....