Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 107. Tanggung jawab


__ADS_3

Mamah sama siapa? Penampilannya kayak mau kondangan saja.


Batin Mawan.


Dia Wulan, kan?! Kenapa wajahnya berubah? Tapi kok kenapa dia kesini?! Atau jangan-jangan dia sudah cerita banyak pada Mamah! Gawat! Mati aku.


Batin Rio.


"Papah, kenalin. Namanya Wulan," ucap Santi seraya melirik pada Wulan sekilas.


Tangan Wulan terulur dan dibalas oleh Mawan.


"Wulan, Pak."


"Hermawan."


Santi dan Wulan langsung duduk di sofa, didepan sofa yang Rio dan Mawan duduki.


"Mamah ngapain mengajak Wulan kesini?" tanya Rio dengan tatapan sinis melihat kearah Wulan.


"Bibi ... Sini Bi," panggil Santi pada Bibi pembantu yang lewat.


Bibi mengangguk dan menghampirinya. "Ada apa Bu?"


"Buatkan 2 jus mangga."


"Baik," sahut Bibi pembantu seraya berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman.


"Dia siapa, Mah?" tanya Mawan.


Wulan terlihat diam saja dengan keringat yang bercucuran, jantungnya berdegup sangat kencang. Rasa takut, grogi dan malu, tercampur menjadi satu. Bibir itu seakan kelu dan tersenyum dengan penuh penekanan. Ia mengingat perkataan Santi sebelum sampai ke rumah ini.


"Kamu tinggal duduk dan tersenyum, tidak perlu bicara apapun. Semuanya aku yang urus!" itu yang Santi ucapkan.


"Wulan ini adalah calon menantu Papah, calon istri Rio."


Deg.....


Mata Rio terbelalak. "Apa?!" Dia mengangkat kedua alisnya keatas. "Mamah ini bicara apa? Aku tidak mau menikah dengannya!" pekik Rio dengan lantang.


Mawan melihat wajah Rio yang tidak terima, namun banyak pertanyaan dalam benaknya.


"Mamah, Wulan ini siapa? Anaknya siapa? Kenapa Mamah menjodohkan dia dengan Rio?"


"Dia seorang OB, Pah. OB di kantorku!" sahut Rio.

__ADS_1


Mata Mawan terbelalak. "OB?! Mamah yang benar saja, kenapa ingin menjodohkan Rio dengan seorang OB. Bukankah banyak gadis di luar sana? Kenapa musti dia?"


Rio bangun dari duduknya dan menunjuk kearah wajah Wulan didepannya. "Wulan! Apa saja yang kau katakan pada ibuku?! Pasti kau memfitnahku, kan?" tuduhnya.


Wulan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, Pak. Saya hanya bicara jujur pada Bu Santi," jawab Wulan sambil menunduk.


"Rio! Bersikap yang sopan didepan wanita! Turunkan jari telunjukmu!" seru Santi.


Rio segera menurunkan jari dan lengannya, namun sekarang kakinya melangkah hendak pergi.


"Kau berani pergi dari sini?" tanya Santi dengan lantang, dua langkah kaki anaknya langsung terhenti sejenak.


"Berarti kau bukan lagi anak Mamah!"


Deg......


Apaan-apaan ini?! Wulan ini benar-benar kurang ajar! Sudah kuberi uang tapi tidak tau terima kasih. Dia pasti begini karena uang lagi.


Batin Rio.


Rio mengurungkan niatnya untuk pergi, kini dia duduk kembali disamping Mawan.


Bibi pembantu berjalan mengantarkan minuman, ia menaruhnya diatas meja. Santi meminumnya sampai setengah gelas, helaan nafasnya terasa gusar.


"Mamah, apa yang Mamah katakan? Kenapa memaki Rio begitu?" tanya Mawan.


Rio hanya terdiam dengan wajah datar.


"Rio ... Dia telah menodai Wulan, Pah!" serbu Santi.


Deg.....


Mata Mawan kembali terbelalak. "Menodai?!" tangan besarnya langsung menarik lengan Rio dengan kasar hingga wajahnnya saling menghadap.


"Benar, Rio? Kau telah menodai Wulan? Seorang OB di kantormu?!" salah satu tangannya sudah mengepal, dia hendak menonjok pipi anaknya. Namun menunggu jawaban dari Rio.


Rio menelan salivanya begitu kasar, kalau boleh jujur. Saat ini dia merasa ketakutan, namun berusaha bersikap tenang.


"Tidak, Pah. Aku akan ceritakan semuanya, Mamah mungkin hanya mendengarkan dari yang Wulan katakan saja, tapi tidak dari mulutku."


Mawan langsung melepaskan lengan Rio dan mengusap dada. "Oke, bicara. Tapi kau harus jujur! Papah tidak mau ada kebohongan."


"Kau jangan coba-coba mengarang cerita Rio!" seru Santi sambil melotot.

__ADS_1


Rio mengangguk dengan helaan nafas panjang.


"Beberapa bulan yang lalu aku tidak sengaja menabrak Wulan dan Adiknya. Iya, aku mengaku itu kesalahanku. Aku bertanggung jawab dan membayar semua biaya pengobatan sampai dia dan Adiknya sembuh."


"Tapi wanita ini seperti memanfaatkanku, Pah." Rio melihat kearah Mawan.


"Dia meminta biaya rumah sakit sekali, dua kali, sampai tiga kali. Padahal saat itu aku tau lukanya tidak terlalu parah. Tapi dia memanfaatkan uangku untuk terus dia kuras ... Sampai akhirnya untuk keempat kalinya, hari ini. Dia meminjam uang 10 juta padaku! Aku sudah bosan dengan ucapan yang keluar dari mulutnya itu! Aku tidak memberikannya," jelas Rio.


"Lalu, kenapa kau sampai menodainya?" tanya Mawan.


"Aku hanya mengajukkan penawaran, kalau dia mau aku memberikan uangku, ia harus menukar dengan perawannya."


Buggghhh..........


Sebuah tonjokan keras langsung Mawan berikan kepada pipi kanan Rio, tubuh Rio sampai terhentak di sofa.


"Bejat sekali kau Rio! Kenapa otakmu bisa tidak waras seperti ini!" pekik Mawan dengan emosi.


Bagaimana? Apa enak di tonjok?


Batin Santi, dia sangat kesal. Namun merasa puas melihat anaknya di tonjok oleh Mawan.


Rio langsung membenarkan posisi duduknya dan memegang tangan Mawan.


"Tapi aku tidak memaksanya, Pah. Dia yang menawarkan dirinya sendiri dan mengatakan kata mau."


Mawan menepis tangan Rio dan bangun dari duduknya, tatapan mata itu mengarah pada Santi.


"Kalau Mamah ingin menjodohkan Rio dengan Wulan, jodohkan saja. Papah tidak peduli." Kakinya sudah berjalan meninggalkan ruang tamu dan menaiki anak tangga.


Dengan cepat Rio mengejarnya, Ia berjongkok dan langsung memeluk lutut Mawan guna memohon ampun. Kaki Mawan sudah berhenti melangkah.


"Papah ... Maafkan aku, aku hilaf. Aku melakukan itu karena aku sangat ingin menikah dengan Indah ... Hasratku sudah menggebu-gebu. Aku yakin Papah pasti mengerti maksudku, memang aku melakukan kesalahan. Tapi, bukannya Papah tau betapa sakit hatiku, saat aku tidak jadi menikah dengan Indah dan tau kalau dia hamil anak Reymond. Bagaimana perasaanku, Pah?! Sakit ... Hancur hatiku," ucap Rio sambil menanggis.


Mawan membungkuk dan mengangkat tubuh Rio untuk berdiri, dia memeluk tubuhnya.


"Iya, Papah tau kau sangat sakit hati. Tapi Papah sekarang tidak bisa apa-apa. Kau harus menerima semuanya, kalau Indah bukan jodohmu Rio."


Glek.....


"Kenapa?! Kenapa bisa seperti itu?! Pertama Kak Rendi, sekarang Reymond. Kenapa aku tidak bisa memiliki Indah, Papah. Aku seperti orang gila, setiap hari aku terus mengingat dan memikirkannya."


"Sekarang sudah terjadi, bagaimana pun alasan kamu tentang Wulan. Dia sudah kamu nodai, sebagai seorang pria sejati dan pria dewasa. Kau harus bertanggung jawab, jangan menjadi pengecut begini," jelas Mawan.


"Tapi aku tidak suka padanya, Pah. Dia sama sekali tidak menarik. Jauh dari Indah, wanita idamanku. Aku juga tidak mengenal Wulan seperti apa. Seujung kuku pun aku tidak punya rasa ketertarikan padanya."

__ADS_1


"Lalu apa?! Apa yang harus Papah lakukan? Kau turuti saja keinginan Mamah. Jangan buat Papah dan Mamah malu. Papah tau, Papah bukanlah pria baik-baik. Tapi Papah tidak ingin anak-anak Papah menjadi seperti ini, jika sudah terlanjur terjadi, biarkan saja. Tapi sekarang kau harus tanggung jawab dan hadapi semuanya."


^^^Kata: 1040^^^


__ADS_2