
"Maaf, Bu. Pak Rio. Hanya ada ini, silahkan di minum," ucap Wulan.
"Iya, terima kasih," sahut Santi.
"Maaf juga, Ibu dan Bapak. Tempat kami memang seperti ini," ucap Ayah Wulan.
"Tidak apa-apa Pak. Maaf sebelumnya, tujuan kami berdua kesini adalah ingin meminta restu dari Bapak. Anak saya ....," Santi mengelus pundak Rio disebelahnya.
"Namanya Rio, dia ingin menikahi putri Bapak. Saya Santi, Ibunya."
Mata Ayah Wulan terbelalak. "Menikah?!" Ia langsung menatap wajah Wulan disampingnya.
"Benar itu Wulan?"
"Iya, Ayah. Aku ingin minta restu. Supaya bisa menikah," sahut Wulan.
"Tapi kenapa mendadak? Kamu tidak memberitahu Ayah sebelumnya?"
"Itu karena ....,"
"Karena memang mereka sudah berjodoh, Pak." Santi langsung menyela ucapan Wulan, dia tak enak rasanya kalau berkata terus terang. Toh mereka akan menikah ini.
"Kalau memang sudah sama-sama suka, akan lebih baik jika mereka menikah. Lagian menikah juga ibadah," lanjut Santi.
Siapa yang suka? Aku tidak suka padanya.
Batin Rio.
"Tapi Bu, kami orang tak mampu. Nanti Ibu dan anak Ibu akan malu," ucap Ayah Wulan merendah.
"Bapak tidak perlu ngomong seperti itu. Saya dan Rio menerima Wulan apa adanya, saya juga ingin melangsungkan pernikahan antara Wulan dan Rio secepatnya, kira-kira besok ... Tapi di rumah saya," ucap Santi.
Ayah Wulan menoleh lagi kearah putrinya. "Ayah terserah kamu, Wulan. Kalau kamu setuju, Ayah juga setuju."
Wulan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Yasudah, nanti besok pagi sekitar jam 7. Kita akan melangsungkan prosesi ijab kabul di rumah saya, nanti akan ada sopir yang mengantar kalian."
"Baik, Bu," sahut Ayah Wulan.
Santi dan Rio langsung bangun dari duduknya, kedua kaki mereka bahkan sudah kesemutan. "Kalau begitu saya dan Rio permisi dulu," ucap Santi.
Rio mencium punggung tangan Ayah Wulan, dia juga mengelus rambut Clara sekilas dan tersenyum padanya.
"Clara, Kakak pulang dulu. Besok kamu juga harus ikut dengan Ayah dan Kak Wulan, ya?"
"Iya, Kak."
Rio tersenyum dan berjalan bersama Ibunya keluar rumah kontrakan.
***
Malam hari.
Reymond keluar dari pintu kamarnya, dia malam ini akan menemui Anton. Memintanya untuk berkata jujur. Kakinya melangkah menuruni anak tangga, namun tiba-tiba ada yang memanggil.
"Mas Reymond." Ia hafal suara dan panggilan itu, tubuh kekarnya langsung berbalik dan naik lagi keatas.
Terlihat Indah mengenakan jaket jeans dan rok tutu berwarna hitam selutut.
__ADS_1
"Sayang. Kamu kok pakai pakaian kayak gini? Bukannya tadi sudah memakai baju tidur?" tanya Reymond seraya menghampiri dan mencium keningnya.
"Kamu mau berangkat sekarang, Mas?" Indah berbalik bertanya.
"Iya."
"Aku mau ikut. Boleh, ya?" pinta Indah.
"Ikut?! Aku disana tidak ingin bersenang-senang, sayang. Tapi ingin mengintrogasi Anton."
"Iya, aku tau Mas."
"Lalu kenapa kamu mau ikut? Lagian ini sudah malam." Reymond melihat jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10.
Indah langsung memeluk tubuh Reymond. "Mas, aku takut ... Aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, kau ingat dulu malam-malam kau pergi?"
Deg........
"Saat itu kau tidak kembali, Mas. Aku juga saat itu sedang hamil ... Sama halnya dengan sekarang, aku tidak mau di tinggal lagi," lirih Indah sambil menangis.
Reymond mengusap-usap punggungnya dan menciumi rambut.
"Sayang, kau harus percaya padaku. Itu tidak akan terjadi, aku akan menemanimu selamanya."
"Tetap saja aku takut, Mas. Aku ingin ikut."
"Aku pergi tidak sendiri sayang, Ada Ali dan Aldi. Mereka juga semobil denganku, tidak akan terjadi apa-apa."
Indah menggelengkan kepalanya, "Anakmu yang ada di perutku tidak ingin di tinggal. Coba pegang."
Reymond melepaskan pelukan dan membungkuk untuk dapat mencium perut Indah dan mengelusnya secara perlahan.
"Bayu aku titipkan sama Mamah nanti. Mas ... Aku mohon, aku mau ikut." Ia sudah menciumi tangan Reymond supaya suaminya mengizinkan.
Ceklek....
Terdengar bunyi pintu kamar terbuka, asalnya dari kamar Mawan. Benar saja, ia membuka pintu dan melihat Indah menangis sambil memegangi tangan Reymond.
Matanya terbelalak, ia langsung menghampiri Indah dan menyeka air mata.
"Sayang kau kenapa? Kenapa menangis?" Mata nyalanya langsung ia keluarkan kepada Reymond.
"Apa yang kau perbuat Reymond?! Apa kau menyakiti anakku?!" lengan sudah terangkat, hendak menampar. Namun dengan cepat Indah mencegahnya.
"Tidak, Pah. Mas Reymond tidak menyakitiku. Aku hanya ingin ikut dengannya, tapi dia tidak mau mengajakku," ucap Indah mengadu.
Apa si mesum ini mau pergi berselingkuh?
Batin Mawan.
Reymond mengusap wajahnya dengan kasar.
Astaga! Kenapa musti ngadu sama Papah. Aku tidak mengizinkanmu itu karena sayang padamu, mending tidur dan istirahat saja. Kenapa musti ingin ikut?!
Batin Reymond menghela nafas dengan gusar.
"Kau mau kemana malam-malam?" tanya Mawan.
"Aku mau ke rumah Rizky, Pah. Ada urusan," jawab Reymond.
__ADS_1
"Urusan. Urusan apa?"
Tuh, kan. Pasti begini nih, sayang kamu kok gitu sama aku.
Batin Reymond sambil melihat wajah Indah, ia masih memeluk Mawan.
"Urusan kantor, Pah."
"Tunda saja besok. Malam ini kau temenin Indah saja."
Iya, aku senang kalau nemenin Indah. Tapi jangan malam ini, karena malam ini adalah malam yang aku tunggu-tunggu.
Batin Reymond.
"Urusannya tidak bisa di tunda, Pah. Mas Reymond harus ke rumah Pak Rizky sekarang. Tapi aku mau ikut dengannya," sahut Indah.
"Yasudah kau ajak Indah saja," pinta Mawan.
"Tapi ini sudah malam, Pah. Aku kasihan sama dia." Reymond masih berusaha meminta Indah tidak ikut.
Mawan melihat wajah Indah yang sudah memerah, ia hendak mengeluarkan air matanya lagi.
"Bukankah dulu aku pernah bilang padamu? Turuti semua perkataan Indah tanpa terkecuali?! Apa kau lupa?"
Deg.....
"Iya, yasudah aku ajak Indah. Sayang ... Ayok ikut," ajak Reymond dengan lengan yang terulur.
Indah langsung melepaskan pelukan dan mengenggam tangan Reymond.
"Papah, aku titip Bayu, ya?"
"Iya ... Papah akan tidur di kamarmu. Kamu dan Reymond tidak usah pulang saja, pulang besok. Takut kemalaman."
Tumben Papah sedang baik, sayangnya waktunya nggak tepat.
Batin Reymond.
"Iya, Pah," sahut Indah.
"Tapi kau ingat Reymond, jangan macem-macem!" ancam Mawan.
"Iya, Pah. Yasudah aku dan Indah berangkat dulu."
"Ingat juga, besok pagi-pagi kalian pulang. Rio akan menikah," ucap Mawan lagi.
Mereka sudah menuruni anak tangga tapi tetap menyahuti Mawan. "Iya, Pah."
Reymond sudah merangkul bahu Indah sambil mengelus-elus perutnya. Kini mereka sudah berada di halaman rumah, Mawan, ada Ali dan Andi tengah berdiri didepan mobil Reymond.
"Malam Pak Reymond, Nona Indah," sapa mereka berdua.
"Malam." Indah dan Reymond menyahut bersamaan.
"Bapak mau menyetir mobil sendiri apa bagaimana?" tanya Ali.
"Tidak, kalian ikut denganku. Kita berempat."
Mereka berdua mengangguk, Aldi langsung masuk membukakan pintu mobil untuk Reymond dan Indah masuk.
__ADS_1
^^^Kata: 1030^^^