Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 127. Angsuran rumah


__ADS_3

"Salah, salah. Jelas kau salah karena telah berbohong padaku! Kata Wulan ... kau pernah membelikan dia pizza! Kapan itu? Kapan itu Botak!" pekik Rio. Ia mendorong tubuh Indra sekuat tenaga, tapi nyatanya tidak berhasil. Pria itu masih berdiri tegak diposisi semula.


"Saya bersumpah! Saya tidak pernah membelikan Nona Wulan pizza, Pak!" jawabnya dengan tegas dan jujur.


"Kenapa kau masih saja berbohong! Jangan mentang-mentang tubuhmu lebih besar dariku, lalu kau pikir aku takut padamu, hah?" Rio menaikkan dagunya sedikit, seolah-olah menantang pria yang dua kali lipat lebih besar darinya.


"Tunggu dulu, Pak. Bapak jangan emosi dulu ...." Indra memegang lengan Rio saat pria itu berusaha menarik kemejanya. "Mungkin yang Bapak maksud membelikan pizza itu saat Bapak dan Nona Wulan pergi berbulan madu. Saya memang membelikan pizza karena disuruh oleh Bapak. Saya juga disuruh membeli minuman yang akan dicampurkan obat perangs*ng untuk Nona Wulan, apa Bapak ingat?"


"Aku tidak bertanya soal itu! Aku ingat itu Indra! Yang aku tanya adalah ... apa selama ini kau diam-diam membelikan Wulan pizza tanpa sepengetahuanku? Kau ingin merebut istriku, benar begitu?" tuduh Rio.


"Saya bersumpah demi apapun, saya tidak pernah melakukan hal itu, Pak. Bahkan niat juga tidak ada. Bapak bisa tanya sama Nona Wulan, apa pernah saya membelikan dia pizza selain saat itu? Saya jamin dia pasti bilang tidak pernah." Indra masih berusaha untuk menjelaskan pada bosnya yang masih emosi.


Rio terdiam dan memperlihatkan wajah Indra. Tapi dilihat dari sikapnya, pria plontos itu seperti berkata jujur. Begitu tenang dan santai, walau seberapapun Rio menekannya.


Rio menghela nafasnya dengan gusar. "Oke, nanti aku tanya. Awas saja kalau memang kau benar-benar main di belakangku! Aku akan memecatmu Indra!"


"Iya, Pak. Saya akan menerimanya. Sekarang Bapak mau kemana?"


"Antarkan ke tempat dimana kau membeli pizza, aku ingin membelinya!" titah Rio seraya masuk kedalam mobil.


Indra melakukan hal yang sama dan langsung mengendari mobilnya menuju Restoran.


"Bapak mau saya yang membelikannya?" tawar Indra.


"Tidak usah! Aku yang membelinya sendiri." Rio turun dari mobil, segera masuk kedalam Restoran.


Setelah ditelaah, ternyata ini bukan Restoran pizza. Namun Restoran umum yang juga menyediakan berbagai macam jenis pizza. Rio memesan satu kotak pizza dengan topping komplit dan dua jus alpukat.


Saat Rio mendudukkan bokongnya di kursi, sembari menunggu. Ponselnya berdering dan itu dari Wahyu. Tanpa berlama-lama, Rio segera mengangkatnya dan berbicara sesantai mungkin, supaya tidak curiga.


"Halo, Ayah."


"Rio, kau dan Wulan ada dimana? Kok pintu kamar kalian terbuka dan pintu rumah terbuka. Ada apa? Apa Wulan baik-baik saja?"


Tidak mungkin juga Rio jujur kalau Wulan jatuh pingsan karena menangis yang Rio sendiri tidak tau alasannya. Lebih baik ia berbohong. Lagian, kata dokter, Wulan baik-baik saja.


"Aku sedang keluar dengan Wulan cari pizza, dia ingin pizza Ayah!"


"Benarkah? Apa kamu berbohong?"


"Iya, benar. Tadi aku lupa menutup pintu karena terburu-buru. Maafkan aku, Ayah."


"Yasudah, tidak masalah. Berarti kau dan Wulan sudah baikkan, kan?"

__ADS_1


"Kapan kita berantem? Aku tidak berantem dengannya. Yasudah Ayah, aku mau bayar pizza dan segera pulang sekarang." Rio segera mematikan sambungan teleponnya, takut Wahyu mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.


*


"Apa rasanya enak?" tanya Rio saat melihat Wulan tengah mengunyah satu gigitan pizza yang pertama. Wanita itu makan begitu lahap didalam mobil.


"Enak, Mas." Wulan tersenyum dengan mata yang berbinar-binar, menatap wajah Rio.


"Ini pizza aku yang beli, bukan Indra!"


"Iya, aku tau. Terima kasih Mas."


"Oya ... kapan Indra membelikan kau pizza?" ini pertanyaan yang sedari tadi di nanti-nanti oleh Indra yang tengah mengemudi.


"Saat kita mau pergi bulan madu. Memangnya, Mas Rio lupa?"


"Aku ingat, tapi selain itu ... apa Indra pernah membelikan kau pizza? Tanpa sepengetahuanku?" tanya Rio sambil memicingkan matanya, menatap penuh dengan selidik.


Wulan menggeleng cepat. "Tidak."


"Kau bohong?" Rio makin mendekat dan memegangi salah satu pipi Wulan.


"Tidak, Mas. Ngapain aku berbohong. Aku jujur. Kalau tidak percaya ... Mas bisa tanya pada Pak Indra."


Rio dan Indra menghela nafas dengan lega secara bersama. Akhirnya, Indra bisa aman karena sempat dicurigai oleh bosnya sendiri.


"Iya, kau benar." Rio mengangguk dan percaya padanya.


"Memang kenapa, Mas?" tanya Wulan.


"Tidak kenapa-kenapa, kau lanjutkan saja makannya."


Wulan mengangguk dan mengambil beberapa potong pizza lagi, untuk mengisi perutnya yang lapar.


"Oya ... tadi saat kau pingsan, kau sempat ingin mengatakan sesuatu. Apa itu? Aku masih penasaran."


"Aku lupa, Mas." Wulan tersenyum malu-malu.


"Lupa? Kok bisa? Tapi kau baik-baik saja sekarang, kan? Apa ada yang sakit? Hhmm?" Rio mengelus-elus rambut Wulan dan mengecup keningnya.


"Aku baik-baik saja." Wulan menyentuh punggung tangan Rio dengan lembut. "Aku tidak mau Mas Rio marah padaku. Maafkan aku, Mas. Maaf kalau aku selalu buat Mas Rio kesal."


Rio mengangguk. "Iya, tidak apa-apa, aku sudah tidak marah, kok."

__ADS_1


***


Selesai membuat nasi goreng, Wahyu bergegas membangunkan putri kecilnya didalam kamar. Karena saat ini sudah jam 6 pagi, satu jam lagi Clara harus berangkat ke sekolah.


"Clara bangun, ayok mandi."


Hanya ditepuk bahunya dengan pelan saja, gadis kecil itu langsung mengerjap-ngerjapkan matanya. Memang ia tidak susah untuk dibangunkan tiap pagi, karena sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah.


"Jam berapa Ayah?" tanya Clara seraya mengucek-ngucek matanya.


"Jam 6, hari ini kata Bu Guru ada senam. Kamu harus datang lebih awal."


"Ah iya, aku lupa Ayah!" Clara beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.


"Tidak usah lari-lari! Nanti terpeleset!" tegur Wahyu dengan nada sedikit keras, supaya Clara mampu mendengarnya.


Kemudian, ia membereskan tempat tidurnya dan merapihkan boneka-boneka Clara yang berjatuhan di lantai.


Tok ... tok ... tok.


Terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya begitu keras.


"Wahyu! Buka pintunya!" seorang pria dengan suara beratnya berteriak.


Deg!


Jantung Wahyu langsung berdebar dengan kencang, ia sempat menelan salivanya dengan susah payah.


Tok ... tok ... tok.


"Wahyu! Buka pintunya atau aku dobrak!" tekan pria itu dengan nada tinggi.


Wahyu langsung berlari menuju pintu, ia membuka kunci dan membuka pintu itu dengan lebar. Terlihat dua pria berbadan kekar berada di samping kanan kiri pria yang memekik tadi.


Pria itu bersedekap seraya berkata, "Mana angsuran rumahmu? Kau belum bayar bulan ini, dan bulan kemarin kau bayar hanya setengahnya!" pintanya sambil berteriak, ia menadahkan salah satu tangannya didepan wajah Wahyu.


"Sebentar Pak ...." Wahyu pamit untuk masuk lagi ke kamarnya, mengambil uang hasil penjualannya yang ia sisipkan untuk biaya angsuran rumah. Lantas, ia balik lagi menghampiri pria itu dan memberikan uang tersebut.


Pria itu menghitung hanya ada tujuh lembar uang ratusan dari Wahyu. Wajahnya tampak tidak senang. Lebih tepatnya geram.


"Apa ini? Ini masih kurang, Wahyu! Hanya tujuh ratus ribu!" bentaknya dengan emosi.


...***...

__ADS_1


Yang belum pernah kasih vote dan gift, bolehlah sekali-kali kasih. Dan buat yang udah pernah, boleh kok kasih lagi. Boleh ... boleh banget🤭


Selamat hari Senin ❤️


__ADS_2