Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 63. Apa aku mencintai Wulan?


__ADS_3

Mata Dido membulat sempurna, tapi ia binggung dengan ucapan dari bosnya. "Ba-bapak kenapa? Bukannya dulu Bapak sendiri yang bilang akan mendukung saya untuk kembali bersama Wulan?"


"Lupakan dulu! Aku bicara sekarang! Kau jangan coba merebut apa yang aku miliki! Camkan itu!" seru Rio dengan tegas dan penuh penekanan.


Dido tidak mengangguk ataupun menggeleng, ia benar-benar tercengang dengan kalimat yang Rio lontarkan. Bahkan bosnya terlihat begitu serius mengatakan hal itu.


Rio melepaskan leher Dido dan melangkahkan kakinya, masuk kedalam rumah sakit.


Apa ini? Kenapa mendadak Pak Rio berubah? Kenapa dia sekarang mengancamku?


Ah tidak-tidak, pokoknya aku mau Pak Rio dan Wulan bercerai. Wulan harus kembali bersamaku.


Batin Dido.


Sepeninggal Dido melajukan mobilnya, Wahyu berjalan menyebrangi jalan raya, ia habis dari mini market depan. Tangannya menenteng plastik kresek putih berisi bedak bayi dan minyak angin.


Belum sampai pada halaman rumah sakit, kedua matanya tertuju pada poster foto yang menempel pada tiang besi. Karena foto dalam poster itu terasa tak asing, ia mendekati tiang itu dan mengambilnya.


Matanya membulat sempurna, Wahyu memperhatikan dengan seksama dan membaca apa yang ada dalam poster itu.


"Wulan Priyanka?! Ini Wulan anakku, kan? Kenapa ada yang menempel poster dia dengan info orang hilang? Siapa yang melakukannya?"


Tanda tanya besar langsung memenuhi otaknya sekarang. Tapi jujur, ia begitu geram dengan apa yang ia lihat. Terlebih lagi ada imbalan uang sebesar 40 juta, ia merasa anaknya seperti dibuat sayembara oleh orang-orang. Padahal nyatanya Wulan tidak hilang dan bersamanya sekarang.


Wahyu menoleh ke kanan dan kiri dengan kaki melangkah. Ia baru sadar, kalau poster yang sekarang dipegang oleh tangannya bukan hanya satu yang ia temukan. Melainkan ada beberapa yang lain. Tertempel pada tiang dan tembok dekat trotoar.


Karena rasa penasaran yang berlebihan, Wahyu memutuskan untuk menelepon nomor yang tertera pada poster itu. Nomor itu langsung tersambung.


"Halo, apa kau menemukan wanita yang bernama Wulan?" terdengar suara berat dari seberang sana, ia langsung menebaknya.


"Apa kau yang menempel poster Wulan Priyanka?" tanya Wahyu.


"Iya, benar. Bapak menemukan wanita itu? Dimana?"


"Keterlaluan sekali kau! Wulan itu anakku dan dia tidak hilang! Apa yang kalian lakukan dengan menyebarkan poster info orang hilang, hah?" Wahyu berkata dengan nada tinggi dan marah. Jelas, ia benar-benar tak terima.


"Hahahaha ... Bapak pasti mengaku-ngaku, kan? Kalau memang menginginkan uang, Bapak itu kerja! Jangan ngibulin orang!"


Deg~


Tut ... tut ... tut.


Sambungan telepon itu langsung dimatikan secara sepihak. Pria dari seberang sana sama sekali tidak percaya dengan ucapan Wahyu. Bahkan ditelepon kembali oleh Wahyu saja sudah tidak tersambung nomornya.


Kini Wahyu mencoba menelepon Wulan, ia merasa khawatir pada putri pertamanya itu. Tapi sudah ditelepon tiga kali pun, sama sekali tidak mendapatkan jawaban.


"Mungkin Wulan sudah masuk kerja, aku kirim dia pesan saja kalau begitu."


To: Wulan P


09.33 AM


Wulan, kamu kerjanya hati-hati. Pulangnya juga hati-hati. Ayah tadi lihat ada poster wajah kamu tertempel dimana-mana. Ayah binggung siapa yang melakukan hal itu? Tapi tetap ingat pesan Ayah, hati-hati. Ayah sayang kamu.

__ADS_1


...________________________...


Setelah mengirim pesan, ia juga memotret poster itu untuk langsung di kirimkan pada Wulan.


Wahyu melipat poster itu menjadi empat lipatan, kemudian mengantonginya didalam kantong celana bahan yang ia kenakan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Langkah kaki itu terhenti tepat didepan kamar inap Clara. Rio yang melihat kedatangan Wahyu tepat hadapannya, ia langsung bangun dari duduk dan mencium punggung tangan sang mertua.


Rio, dia kesini?


"Ayah ... bagaimana kabar Ayah?" tanya Rio dengan senyuman hangat, menatap wajah Wahyu. Tapi Wahyu sama sekali tidak membalas senyuman untuk pria tampan didepannya itu. Hatinya masih sangat kesal, gara-gara mendengar cerita dari Dido.


"Ayah baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Aku baik, Ayah." Kepala Rio menoleh ke kanan dan kiri, ia seperti mencari seseorang. Tapi tidak berani bertanya pada Wahyu.


Kenapa wajah Ayah sangat masam memandangiku? Dia seperti marah, apa Wulan sudah cerita padanya?


Batin Rio.


"Ayok masuk kedalam, kamu mau menjenguk Clara, kan?" ajak Wahyu seraya berjalan menuju pintu lalu membukanya.


Rio ikut masuk kedalam. Sementara Wahyu sudah duduk di sofa, Rio menghampiri Clara yang tengah berbaring. Ia mengelus lembut rambut gadis kecil itu dan mencium keningnya.


Cup~


"Cepat sembuh Clara Sayang, Kak Rio sayang padamu."


Dimana Wulan? Kok dia tidak ada didalam?


Batin Rio.


Mata Pria tampan itu melihat seisi ruangan, masih mencari keberadaan Wulan yang tidak terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


"Rio, kamu sudah lama datangnya?" tanya Wahyu tiba-tiba.


Rio menoleh kearahnya dan ikut duduk di sofa bersebelahan.


"Aku baru saja sampai, Yah. Bagaimana keadaan Clara? Apa operasinya kemarin berjalan dengan lancar?"


Wahyu memandangi wajah Clara lekat-lekat. "Operasi berjalan lancar. Alhamdulillah, untung Papahnya Nona Indah mau membantu mendonorkan darahnya. Dia sempat kehilangan darah, Rio."


Mata Rio membulat sempurna. "Kehilangan darah? Lalu Papah Mawan yang mendonorkannya? Tapi kenapa tidak Ayah saja?"


"Bukan Pak Mawan, tapi Pak Antoni. Iya ... darah Ayah dan Clara memang tidak sama, Rio," sahutnya dengan sendu.


Kok bisa tidak sama? Apa Clara bukan anak kandungnya?


Batin Rio.


"Oya ... Ayah ingin bertanya padamu, tapi Ayah harap, kamu jujur pada Ayah, Rio."


Deg~


Mendadak jantung Rio berdetak sangat kencang, ia melihat sorotan mata Wahyu begitu serius menatapnya.


"Tanya apa, Yah?"


"Apa sebenarnya kamu memang tidak mencintai, Wulan?"


Deg~


Mata Rio membulat sempurna, lidahnya terasa begitu kelu untuk menjawabnya. Ia termangu dan bertanya pada hati kecilnya sendiri.


Mencintai? Apa aku mencintai Wulan?


Batinnya.


"Kalau kamu tidak mencintai Wulan dan terpaksa menikahinya. Kalian bercerai saja, Ayah juga tidak keberatan. Ayah setuju."


Glek~


Rio menelan salivanya kelat. Ia kaget, benar-benar kaget dengan ucapan Wahyu yang mendukung perceraian mereka.


"A-aku tidak mau bercerai dengan Wulan, Yah." Rio menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Malah aku kesini ingin mengajaknya kembali pulang ke rumahku."


"Benarkah? Bukannya kamu bilang sendiri ingin bercerai dengan Wulan? Tidak perlu berbohong didepan Ayah, Rio."


Ternyata benar, Wulan sudah cerita pada Ayah. Apa Wulan juga sudah cerita tentang perlakuanku padanya? Aku harus bagaimana sekarang?


Batin Rio.


Wahyu perlahan mengenggam tangan Rio begitu lembut, wajahnya terlihat sangat sendu dan bola matanya mulai berkaca-kaca.


"Awalnya Ayah percaya, kalau kamu bisa menerima Wulan apa adanya. Terlebih lagi, kamu dan Bu Santi datang ke rumah dan meminta Ayah untuk menikahkan kalian, Bu Santi bilang juga kalian saling mencintai. Tapi nyatanya itu bohong, kan? Kamu sama sekali tidak mencintai putri Ayah, Rio? Lalu ... kenapa kalian bisa menikah? Apa Wulan berhutang padamu?"


Deg~

__ADS_1


^^^Kata: 1033^^^


__ADS_2