
Dia terkejut, matanya membulat sempurna karena melihat orang asing masuk ke dalam kamarnya, dengan cepat Indah meraih tubuh kecil Bayu untuk dia peluk.
"Siapa kalian!" Pekik Indah dengan keras, dengan cepat salah satu pria itu membungkam mulutnya mengunakan sapu tangan yang sudah di teteskan obat bius.
"Emmm..." Tanpa menunggu lama, obat bius itu berhasil membuat Indah pingsan dengan tangan yang masih memeluk tubuh Bayu.
"Bunda.... Hiks... Hiks..." Anak kecil itu menanggis melihat ibunya berbaring tidak sadarkan diri, sorotan matanya juga menandakan bahwa dia merasa ketakutan.
Pria yang berhasil membuat Indah pingsan langsung memeluk tubuh kecil Bayu.
"Jangan menanggis sayang, Bunda tidak apa-apa... Bayu mau kan pergi jalan-jalan sama Om dan Bunda." Pria itu berkata dengan hangatnya.
Anak polos itu mengangguk, "Riz lu gendong Bayu. Gue yang bawa Indah." Perintahnya, ternyata kedua pria itu adalah Rendi dan Rizky.
Rendi mengangkat tubuh Indah dan berjalan keluar lewat jendela. Di ikuti oleh Rizky yang mengendong Bayu keluar lewat jendela juga.
"Bayu anak pintar, jangan nanggis. Om tidak jahat kok." Tutur Rizky seraya menyeka air mata yang mengalir di pipi Bayu.
Apa yang mereka lakukan? Jelas sekali mereka membawa kabur ibu dan anak itu. Mungkin hanya itu yang bisa Rendi lakukan, demi mengutarakan isi hatinya, karena dia tidak mau ada salah paham dan sejujurnya Rendi juga sangat rindu pada istri dan anaknya itu.
Rizky dan Rendi masuk kedalam mobil dan melepaskan masker juga topi.
Rizky langsung menyetir dan menancapkan gas, sedangkan Rendi duduk di belakang sambil memangku tubuh Indah yang masih pingsan, kepala Indah dia senderkan di bahunya dengan pelukan hangat yang melingkar di pinggul istrinya itu. Bayu di dudukan di sebelahnya, anak kecil itu diam dan patuh.
"Sayang. Kita akan berkumpul lagi, aku kamu dan Bayu." Tutur Rendi seraya mengecup pipi Indah.
Dia menoleh kearah anaknya yang sejak tadi menatapnya dengan heran. Tangan Rendi perlahan menyentuh punggung anaknya, dan menggeser tubuhnya supaya lebih dekat padanya.
Ayah sayang kamu Bayu.
Batin Rendi.
***
Vinno terisak dalam tidurnya, dia merasa seluruh tubuhnya sangat panas. Kaos putih yang ia kenakan terasa rembes terkena air keringat, dia mulai membuka matanya. Dia sendiri tidur selalu mematikan lampu, kecuali jika tidur bersama Bayu.
"Kenapa panas sekali? Apa AC nya mati?" Tanya Vinno pada diri sendiri.
Dia mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel di atas meja. Di pencetnya tombol pinggir di handphone, layar handphone itu menyala dan menunjukkan pukul 01.20 Vinno bangun dan memencet tombol lampu kamarnya.
Di pencetnya berulang kali, tapi tetap tidak menyala. "Apa mati lampu?"
Vinno meraih gagang pintu kamar dan membukanya sambil menyorot memakai senter ponselnya.
__ADS_1
Ceklek.....
Antoni membuka pintu secara bersamaan dengan anaknya, kamar Vinno juga berada di sebelahnya, dan di sebelahnya lagi kamar Indah dan Bayu.
"Papah... Kenapa gelap dan panas sekali? Apa mati lampu?" Tanya Vinno kearah ayahnya yang berdiri di depan pintu kamar miliknya.
"Papah juga nggak tahu Vin, Papah lihat meteran listriknya dulu di luar ya." Ucap Antoni seraya berjalan menuju pintu keluar rumahnya sambil membawa senter.
Di sorotnya dua meteran listrik yang menempel di tembok, tepat di sebelah pintu. Tapi sudah terlihat bahwa itu menyala, artinya tidak ada masalah. Namun saklar listriknya yang dua-duanya mati, Antoni langsung menyalakannya lagi.
Setelah berhasil terang lagi rumahnya, dia masuk lagi ke rumah. Sebelum tangannya menutup pintu, dia merasa terkejut. Melihat satpam di rumahnya tergeletak di bawah dan pintu gerbang rumahnya terbuka lebar.
Mata Antoni terbelalak. "Vin... Vinno, ikut Papah ke sini." Panggilnya pada anaknya.
Antoni berlari menghampiri Pak Udin yang pingsan akibat obat bius yang Rizky berikan terlalu banyak. Di goyangkannya tubuh Pak Udin.
"Pak... Pak Udin.. Bangun Pak." Ucap Antoni, dia juga melihat sapu tangan di dekat kepala Pak Udin yang tergeletak.
Apa Pak Udin di bius seseorang?
Batin Antoni.
"Pah.. Pak Udin kenapa?" Tanya Vinno yang sudah datang menghampiri ayahnya, dia juga melihat pintu gerbangnya terbuka.
Dengan cepat Vinno menutupnya kembali. "Kenapa gerbangnya terbuka Pah... Apa jangan-jangan ada maling?!" Ujar Vinno sambil melotot kaget dan melihat ayahnya yang sama-sama melotot melihatnya, anak dan ayah itu seakan mengeluarkan bola matanya secara bersamaan.
"Vinno kau berikan dia minyak angin. Papah akan periksa sekitar rumah."
"Tapi Pah. Apa Papah tidak berbahaya kalau sendiri? Biar Vinno antar." Ucap Vinno yang ingin ikut.
"Ya sudah, tinggalkan saja Pak Udin di situ. Kita langsung ke area samping rumah. Di mulai dari kamar Indah, Papah merasa cemas padanya Vin." Vinno mengangguk.
Mereka berdua pun berjalan menuju halaman rumah nya, tepat di jendela kamar Indah. Mata mereka terbelalak. Kala melihat jendela besar yang sudah copot, bahkan berada di bawah tanah.
"Indah... Bayu..." Panggil Antoni seraya masuk ke dalam kamar lewat jendela yang sudah bolong itu, dia tidak melihat Indah dan Bayu sama sekali.
"Pah... Indah dan Bayu kemana?" tanya Vinno yang ikut masuk lewat jendela.
"Papah tidak tahu Vin." Antoni memegang gagang pintu kamar Indah untuk mengecek. Dan pintu kamar Indah di kunci dari dalam, memang setiap hari Indah mengunci pintu kamarnya.
"Pah aku menemukan sapu tangan ini. Ini punya siapa?" Tanya Vinno seraya mengambil sapu tangan yang berada di atas kasur.
Mata Antoni terbelalak.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Indah di culik Vin!!" Seru Antoni panik, dia langsung membuka kunci pintu dan membukanya.
"Pah... Vinno. Kalian ngapain di kamar Indah?" Tanya Sarah yang baru saja bangun dan berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mah... Indah dan Bayu nggak ada, sepertinya mereka di culik oleh seseorang!" Ucap Vinno dengan lantangnya.
"Apa? Di culik? Itu Tidak mungkin Vin." Ucap Sarah tak percaya.
Sarah merasa tak yakin, dia langsung menerobos masuk ke kamar Indah yang sempat terhalang tubuh Vinno dan Antoni. Di lihatnya seisi kamar, dan tidak ada Indah dan Bayu.
"Indah... Bayu.... Kalian kemana?" tanya Sarah sambil menanggis, tubuhnya terasa lemas. Perlahan dia dudukan bokongnya di atas kasur, jantungnya berdegup kencang. Rasa panik dan cemasnya datang. Tiba-tiba jantungnya terasa begitu sakit.
Sarah memegangi dadanya, "Mah... Mamah kenapa?" tanya Antoni menghampiri istrinya.
Sarah tidak menjawabnya sama sekali, dan seketika tubuhnya ambruk. Dia pingsan tidak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mumpung hari Senin, yang banyak poinnya mari bersedekah 🤗