Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 105. Jangan pecat saya


__ADS_3

Kata sayang itu mampu menyentuh hatinya, terasa begitu hangat dan menenangkan. Ia kembali memeluk gadis itu dan mencium keningnya. "Kakak juga sayang padamu, sayang sekali."


Sekarang Wulan yang menjadi iri melihat pemandangan didepan matanya. Padahal mereka memang sering sekali memeluk satu sama lain. Tapi setelah tau Indah adalah Kakak kandungan Clara, Wulan jadi merasa takut. Takut adiknya akan lebih menyayangi wanita cantik itu dibanding dirinya.


"Kaka Lala! Ayok main!" sedari tadi Bayu begitu anteng dan diam saja. Baru sekarang ia membuka mulutnya.


Indah melepaskan pelukannya dari tubuh gadis kecil itu. Clara lantas memegangi tangan Bayu untuk turun dari sofa.


"Ayok main Dede, kita ke kamar Kakak!" ajak Clara seraya menuntun bocah itu masuk kedalam kamar ayahnya.


"Sayang ... kamu ingin main kesini dulu? Apa mau pulang? Aku ingin ke kantor," ucap Reymond.


"Aku disini dulu, Mas. Aku masih ingin bertemu dengan Clara."


"Oh yasudah ... aku ke kantor dulu. Kamu baik-baik disini, nanti aku telepon Irwan suruh kesini juga."


"Iya, Mas."


Reymond mengelus perlahan rambut Indah dan mencium keningnya.


"Kak, ke kantornya bareng saja denganku. Ada hal yang ingin aku bicarakan," ujar Rio.


"Ayok, tapi naik mobilku dan kau yang menyetir." Reymond merogoh kantong celana bahannya untuk mengambil kunci. Langsung saja ia lempar kedepan adiknya yang tengah berdiri agak dekat dan dengan sigap, Rio menangkapnya.


"Wulan ... aku ke kantor dulu, kau jangan pergi kemana-mana, ya!" Rio mendekati Wulan dan mengelus lengannya.


"Iya, Mas. Mas Rio hati-hati, Kak Reymond juga hati-hati."


Dua wanita itu saling melayangkan pandangan dan tersenyum melihat para suaminya melangkah keluar dari rumah.


***


Nyatanya bukan Rio yang menyetir mobil, tapi Indra. Dan mereka berdua duduk di kursi belakang mobil Reymond.


"Bagaimana acara bulan madunya? Berapa ronde kau bercinta?" tanya Reymond seraya menoleh kearah Rio.


"Uh ... beronde-ronde, Kak. Wulan sampai kalah."


"Kalah? Kalah bagaimana?"


"Iya kalah, aku yang menang. Adikmu ini terlalu perkasa di ranjang," kekeh Rio dengan bangganya.

__ADS_1


"Masa sih? Kau pasti minum obat kuat, kan?" terka Reymond dengan tatapan mata menyelidik.


"Enak saja, tidaklah! Aku tidak perlu pakai obat kuat segala. Aku memang sangat perkasa, maklum ... aku 'kan masih muda," kilahnya.


Indra hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala, mendengar ucapan bohong dari Rio. Sepertinya Rio malu kalau berkata jujur, dia malah sengaja berbohong.


"Iya ... iya, terserah kau saja. Semoga saja cepat bunting si Wulan, ya."


"Amin, Kak. Oya ... aku ingin bicara tentang Dido, Kak."


"Dido? Kenapa lagi dia? Membuat ulah?"


Rio menghela nafasnya dengan kasar. "Iya, aku tak menyangka dia bisa berani-beraninya membohongi Wulan dan Ayah."


"Membohongi apa?"


"Waktu Clara di operasi, aku menyuruh Dido mencarikan Dokter untuk Clara. Aku juga sekalian memberikan biaya operasinya. Tapi dia malah bilang pada Wulan, kalau aku belum membayar biaya operasi. Lalu dia sok jadi pahlawan dengan meminjamkan uang pada Ayah, dan uang yang dia pakai adalah uangku, tapi dia bilang adalah uangnya," papar Rio.


"Dido sepertinya sengaja ingin aku terlihat tidak berguna didepan mereka. Aku sangat kesal, Kak. Hubunganku dengan Ayah dan Wulan baru proses perbaikan, tapi dia seperti ingin memperburuk posisiku," tambahnya, Rio seperti tengah mengadu pada Kakaknya. Mungkin dengan begitu Reymond akan cepat membantunya untuk mencari pengganti Dido.


"Kurang ajar sekali Dido, tidak tau diri! Aku akan beri dia pelajaran!" geram Reymond.


Saat mereka berdua turun dari mobil didepan kantor Rio, Reymond juga ikut turun dan masuk kedalam kantornya bersama Rio dan Indra dibelakang.


Dido yang baru keluar dari pintu lift langsung ditarik kembali oleh tangan kekar Reymond. Ia mengajaknya untuk masuk kedalam lift dan ikut dengan mereka ke lantai atas.


Pria berkumis tipis itu membulatkan kedua matanya, ia juga terperanjat saat melihat Rio yang sudah pulang.


"Pa-pak Rio, Pak Reymond ... selamat pagi, Pak." Sangat gugup dan binggung harus berbuat apa, ia sampai tak berani menatap wajah Rio dan Reymond, karena tatapan mereka begitu nyalang, seperti akan melahapnya hidup-hidup.


Lengannya masih dicengkeram kuat oleh salah satu tangan Reymond, dan pada saat lift itu terbuka, Reymond kembali menarik pria berkumis tipis itu dan mendorong tubuhnya masuk kedalam ruangan Rio. Dido langsung terhentak hingga jatuh di lantai.


Bruk!


"Pak ... apa yang Bapak lakukan? Kenapa Bapak bersikap kasar pada saya? Apa salah saya?" tanya Dido seraya bangun, ia merasa ketakutan.


Bug!


Dido amat terkejut saat Reymond melayangkan satu Bogeman pada pipi kirinya. Begitu kasar dan seperti memakai tenaga dalam. Sampai pipinya menjadi merah dan nyeri.


"Aaww!" Dido meringis seraya mengusap-usap pipi.

__ADS_1


Reymond duduk diatas meja Rio sambil melipat kedua tangannya diatas dada, dan Rio duduk di kursi putar miliknya. Ada Indra juga disana. Pria plontos itu hanya berdiri agak jauh dari mereka bertiga.


"Dido, aku ingin bertanya padamu. Apa posisimu di kantor ini?" tanya Reymond. Ia seperti mengingatkan untuk Dido sadar diri.


"Asisten, Pak." Dido menurunkan pandangannya.


"Asisten Rio, kan?"


"Iya, Pak."


"Apa tujuanmu berbohong pada Pak Wahyu dan Wulan? Kenapa kau mengaku-ngaku uang Rio adalah uangmu? Kenapa kau berani sekali, Dido!" pekik Reymond dengan lantang.


Dido terperanjat, tubuh dan nyalinya seakan menciut sekarang. Ia sangat takut dan tidak ingin dipecat.


"Maaf, Pak ... maafkan saya, saat itu saya ...." Dido binggung memberikan alasan apa, tapi kalau jujur niatnya memang ingin merebut Wulan dari Rio, itu sama saja cari mati.


"Kau tidak bisa meneruskan ucapanmu karena kau punya niat terselubung, kan?" terka Rio dengan tatapan sengit.


"Tidak, Pak. Bukannya saya sudah bilang ... saya sudah melupakan Wulan. Masalah yang kemarin, saya khilaf. Maafkan saya, Pak."


Reymond memiringkan posisi duduknya diatas meja, supaya ia bisa melihat kearah adiknya yang duduk dibelakang.


"Kalau misalkan Dido dipecat, kau mampu untuk mengerjakan semuanya hanya berdua dengan Riana?" tanya Reymond.


Deg!


Jantung Dido langsung berdegup kencang, ia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat sebentar kedua pria itu. Lalu ia menurunkan kepalanya lagi dengan bahu yang membungkuk.


Apa katanya? Pak Reymond mau memecatku? Ah tidak, aku tidak mau dipecat. Aku masih butuh pekerjaan ini.


"Memangnya Kakak tidak bisa mencarikan aku asisten baru?" tanya Rio.


"Bisa. Ini untuk sementara saja, kau kerjakan pekerjaan di kantor hanya berdua dengan Riana. Mungkin hanya sehari dua hari, kau lembur pulang malam, apa kau sanggup?"


"Sanggup, yang penting Dido dipecat, Kak!" sahut Rio dengan mantap.


Padahal ia tau akan secapek apa saat pulang kerja nanti. Namun untuk sekarang, memecat Dido adalah hal yang terbaik.


"Yasudah, beri dia gajih sebulan full," titah Reymond.


"Iya, Kak." Rio mengangguk dan mengambil ponselnya pada saku jas, kemudian ia mentransfer gajih satu bulan full untuk Dido.

__ADS_1


"Pak Reymond ... Pak Rio, maafkan saya, Pak. Jangan pecat saya. Saya masih butuh pekerjaan ini. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan dan akan bekerja keras. Bila perlu saya lembur juga tidak masalah, Pak." Dido melawan rasa takutnya untuk memberanikan diri dengan nada memohon. Kedua telapak tangannya juga sudah menempel, masih berupaya supaya kedua pria itu tidak jadi memecatnya.


^^^Kata: 1105^^^


__ADS_2