Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 22. POV Rizky - Melly dan Dion


__ADS_3

Dokter itu sudah berjalan menuju pintu, namun dengan cepat gue menghampiri dan memeluk tubuhnya, gue benar-benar merasa bahagia dan bangga atas kerjanya.


"Thank you, Docter." Dokter itu membalas pelukan dan mengusap punggung gue.


Setelah dokter dan suster itu pergi gue menghampiri Rendi kembali. Anna sedang meraba wajah Rendi, dia itu begitu menyebalkan. Bisa-bisanya menggoda teman gue.


"Berhenti pegang wajahku! Wajah ini hanya untuk istriku bodoh!" Pekik Rendi marah-marah, dia terlihat begitu risih pada tingkah Anna.


Gue menghela nafas. "Anna lu bisa pergi dulu? Gue mau ngobrol dengan dia." Ucap gue mengusirnya.


"Oke Riz...." Sahutnya dengan murung dan berjalan keluar.


Gue duduk di kursi kecil di dekat Rendi.


"Riz terima kasih, berkat lu wajah gue menjadi lebih baik." Ucap Rendi, manik matanya terlihat begitu tulus.


Gue tersenyum padanya. "Sama-sama Ren... Gue juga bersyukur. Perjuangannya gue nggak sia-sia. Oya gue mau kasih tahu lu, kalau mulai sekarang nama lu berubah menjadi Reymond Alexander ya."


Mata Rendi terbelalak. "Lu ganti nama gue?"


"Iya... Maaf ya Ren... Ah mungkin sekarang gue akan memanggilmu Rey, soalnya waktu lu mau di operasi identitas lu nggak ada. Lagian wajah lu juga berbeda, jadi nggak ada salahnya gue ganti. Apa lu keberatan?"


"Tidak Riz, nama yang bagus. Lagian memang penting gue merubah nama."


Deg.....


"Apa maksud lu? Oya mengenai kondisi lu saat itu. Gue masih penasaran bagaimana lu bisa jadi seperti ini?" Tanya gue penasaran.


"Nanti kalau gue benar-benar normal. Gue kasih tahu segalanya Riz. Oya bagaimana dengan tubuh gue? Apa gue akan selamanya lumpuh?" Tanya Rendi dengan sendu.


"Semoga saja tidak. Nanti kalau lu sudah agak baikkan. Kita akan periksa lu ke Dokter syaraf yang profesional."


"Iya Riz.... Masalah semua biaya nanti gue janji akan tebus semuanya kalau gue sudah sembuh. Gue akan kerja di kantor lu."


"Lu ini apa-apaan sih. Santai aja kali sama gue, lu kan teman gue Rey, kita bukannya dari dulu sering membantu. Iya kan?" Rendi mengangguk paham.


Karena memang menurut gue sih nggak perlu. Kantor gue juga dulu nggak ada apa-apa nya kalau tanpa tangan dia, gue hampir bangkrut gara-gara suka main cewek. Tapi dia memberikan gue suntikan dana sangat besar.


Rendi benar-benar temen gue yang baik, jadi menurut gue. Gue juga harus membantunya di kala dia sedang kesusahan, ya seperti sekarang ini.


"Mengenai Indah dan anak lu bagaimana? Apa lu ingin mengabari mereka sekarang?"

__ADS_1


"Nanti saja Riz. Gue yang akan menemuinya secara langsung, setelah gue normal kembali. Lu ngerti maksud gue kan?"


Gue mengangguk, lebih baik gue turuti kemauannya saja. Dia jauh lebih mengerti mengenai hidupnya sendiri. Benar kan?


"Oya Rey... Dion akan menikah hari ini, dia meminta gue video call lu. Apa lu mau bicara dengannya?"


"Tentu saja, coba telepon sekarang. Gue sebenernya sedih tidak bisa datang ke acara pernikahan nya." Sahut Reymond.


Gue langsung mengambil ponsel dan menyambungkan panggilan video call. Tidak menunggu waktu yang lama, Dion mengangkatnya.


"Pak Rizky." Ucap Dion sambil tersenyum.


Dia begitu tampan memakai jas hitam dan dasi. Dion memang aslinya tampan. Tapi gue tidak terlalu memperhatikan nya.


"Iya... Lu di mana?" Tanya gue. Gue masih mengarahkan kamera pada wajah gue.


"Ini di kamar Pak. Di rumah Melly."


Dia mengarahkan kamera kepada seisi ruangan. Kamar yang begitu sederhana, namun begitu rapih dan di hiasi bunga-bunga. Seperti kamar pengantin pada umumnya.


"Lu di Jakarta apa di mana itu?"


"Tidak Pak, saya di kampungnya Melly." Sahut Dion.


Wanita itu mendekati Dion dan tersenyum di depan layar. "Iya Pak, saya Melly. Bagaimana Pak Rendi... Ah maaf maksud saya Pak Reymond." Ucapnya meralat.


Kenapa Melly terlihat begitu sangat cantik, balutan kebaya dan make up begitu cocok padanya, gue baru sadar Rendi punya sekretaris secantik Melly.


"Ini dia lagi bersama gue." Gue langsung mengarahkan layar ponsel kearah wajah Rendi.


"Wah... Tampan sekali apa itu benar-benar Pak Rendi yang sekarang menjadi Pak Reymond." Ucap Melly dan Dion secara bersamaan.


Mereka berdua memang benar-benar cocok. Kok gue jadi iri ya...


"Iya ini aku, bos kalian. Kalian bagaimana kabarnya?"


"Baik Pak." Sahut Dion, gue menaruh ponsel dengan berdiri di atas meja. Supaya wajah gue ikut terlihat di layar ponsel.


"Pak Reymond, saya minta do'a restu. Semoga semuanya berjalan dengan lancar." Ucap Dion.


Reymond terkekeh. "Kalian ini, aku berasa sudah jadi orang tua. Tenang saja, aku akan berdo'a yang terbaik buat kalian. Kalian sudah akad atau belum?"

__ADS_1


"Belum Pak, ini sebentar lagi di mulai."


"Ya sudah, perlihatkan padaku. Aku ingin melihat kalian ijab kabul." Sahut Reymond


"Baik Pak."


Melly menyuruh salah satu saudaranya untuk memegangi ponsel dan mengarahkan kamera ke dapan Dion dan Melly, kita bisa ikut melihat walau hanya lewat sambungan video call.


Gue melihat mata Reymond yang berkaca-kaca, dia juga mungkin ikut terharu senang.


Gue melihat Dion dan Melly sedang duduk di depan penghulu, ada beberapa orang di sana juga. Sebagai saksi dan juga wali nikah.


"Bagaimana sudah bisa di mulai acaranya?" Tanya seorang pria yang mengunakan peci hitam, dia seperti seorang penghulu. Tapi gue hanya melihat punggungnya.


"Iya Pak." Sahut Dion.


Di sebelah penghulu juga seperti ada ustadz, dia juga memimpin do'a sebelum memulai acara akad dan tiba waktunya di mana Dion mengulurkan tangannya ke depan penghulu dan mengucapkan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Melly Agustina binti..............." Ucap Dion dengan lantangnya.


Dan tak lama semua orang yang berada di sana bersorak "SAH"


"Alhamdulilah....." Ucap gue dan Reymond.


Kita berdua juga ikut mendo'akan. Gue juga sempat merasa deg-degan, seperti gue yang berada di sana.


"Semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, kalian berdua orang yang baik." Reymond bergumam, namun gue bisa mendengarnya.


Setelah semuanya selesai kami meneruskan video call.


"Kamu hebat Dion. Sekali sebut langsung sah." Ucap Reymond memuji, menurut gue Dion sudah bukan seperti asistennya lagi, melainkan teman. Ya... Reymond seperti sudah menganggap Dion sebagai temannya.


"Terima kasih Pak."


"Rizky, lu belikan tiket bulan madu buat Dion dan Melly." Ucap Reymond sambil melihat ke arah gue.


"Bapak itu tidak per......"


"Sudahlah, kau terima saja. Itung-itung hadiah pernikahan!" Serbu Reymond menyela ucapan Dion.


"Iya Reymond benar." Sahut gue mengiyakan.

__ADS_1


Setelah sambungan video call terputus gue langsung memesan tiket bulan madu ke Bali untuk mereka berdua dan langsung mengirimkannya ke Indonesia.


__ADS_2