Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
107. Semoga garis dua


__ADS_3

...๐ŸPOV Rendi๐Ÿ...


Satu jam berlalu, akhirnya Dokter itu sampai. Indah sudah ketiduran karena menunggunya terlalu lama.


"Maaf Pak. Menunggu lama."


"Iya nggak apa-apa Dok." Sahutku.


Dokter langsung memasang tensi darah di lengan Indah, menempelkan stetoskop di dada Indah dan membuat dia terbangun.


"Ah maaf Dok, Mas... Aku ke tiduran." Aku mengangguk dan mengelus pipinya dengan senyum di bibir.


"Tidak apa-apa Bu." Suster itu memberikan alat tes kehamilan pada Dokter.


"Coba ibu pakai tespeck dulu." Indah meraihnya dan membaca tespeck yang masih di bungkus kardus.


Sayang, kau manis sekali.


Indah berjalan melangkah kearah kamar mandi sambil membawa bak stainless yang suster berikan. Aku ikut membuntut di belakang.


Indah memegang gagang pintu kamar mandi dan melihat ke arahku. "Mas kau mau apa? Katanya aku suruh periksa kandungan, kok kamu mau ngajak aku tempur lagi." Tutur nya, ah dia ini fikiran nya tempur mulu.


"Bukan sayang, aku hanya ingin lihat hasilnya,"


"Ya udah tunggu saja di luar. Ngapain mau ikut di dalem, emang mau nadahin air kencing aku." Dia terlihat marah, langsung masuk dan menutup pintu.


Maafkan aku sayang. Padahal aku hanya penasaran. Jantungku sudah berdebar kencang menunggu dia keluar dari kamar mandi dengan membawa kabar baik. Semoga garis dua ya Allah.


5 menit berlalu dia keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah merona. Apa ini pertanda baik.


"Apa sayang. Coba lihat." Aku mengambil tespeck itu dari tangannya.


Seperti dugaan ku, terdapat dua garis merah tergambar jelas. Indah hamil! Sebentar lagi aku jadi seorang Ayah. Air mata ku langsung berlinang dan langsung memeluk Indah dengan erat.


"Sayang ini benarkah? Terima kasih ya Allah.... Sayang aku bahagia banget."


"Aku juga Mas."


Aku melepaskan pelukan dan langsung memegangi kedua pipi, aku meraup bibirnya, mencumbunya, mencium kening dan kedua pipinya, tidak ada henti.


Sampai akhirnya, "Ehem...." Dokter itu berdehem. Aku melupakannya sejak tadi.


"Kalau sudah ada hasilnya, kita coba USG ya Pak, Bu." Ucap Dokter itu, aku merangkul Indah untuk membantunya tiduran di atas kasur.


Perlahan-lahan Dokter itu mengangkat baju Indah keatas dan mengoleskan sesuatu cairan, entah apa namanya, lalu dia menggosok-gosok perut Indah memakai alat yang tersambung ke layar USG. Aku melihat mahluk kecil di monitor, begitu kecil dan mungil.


"Wah lihat ini.... Bagus sekali." Dokter itu berkata sambil melihat wajah Indah. Indah juga tersenyum dengan bahagia, buah cinta kita sayang. Hasil tugas negara kita membuahkan hasil.


"Usia kandungan Ibu baru menginjak 3 minggu. Masih sangat muda." Tutur Dokter.


"Dok maaf, kok istri saya tidak mual-mual? Biasanya kalau orang hamil kan sering mual."

__ADS_1


"Nggak semuanya kok Pak, ada yang mual ada juga yang tidak. Kalau Bu Indah tidak ada gejala mual, itu bukannya bagus kan?" Dokter itu benar, kalau Indah mual malah bisa menyiksanya kan?


"Iya Dok. Lalu bagaimana janinnya? Apa dia sehat di dalam?" tanyaku lagi, aku benar-benar sangat penasaran.


"Sehat Pak semuanya, tapi tetap Ibu Indah harus perbanyak istirahat, minum vitamin dan susu ya." Tutur nya.


Dokter itu membereskan kembali baju Indah, dan memberikan foto dari USG.


Aku berjalan keluar dari rumah sakit dan masuk mobil. Indah tampak antusias sekali melihatnya, begitu juga denganku.


"Mas aku tidak menyangka aku hamil." Dia mengelus perutnya, kepalaku mendekat pada perutnya dan menciumnya.


"Sebenarnya aku sudah menduga sayang. Kamu pasti sedang hamil." Aku ikut mengusap-usap dengan lembut, bahkan perutnya sama sekali belum buncit. Aku tidak sabar menunggu perutnya membesar.


"Ah sebentar, aku mau kasih tahu Mamah sama Papah dulu." Aku mengambil ponselku, tapi Indah mencegahnya.


"Nanti saja Mas kita beritahu mereka secara langsung." Aku mengangguk paham, mungkin Indah juga ingin melihat expresi wajah Papah dan Mamah secara langsung.


Mah... Anakmu ini akan menjadi seorang ayah.... Rasanya aku ingin lompat-lompat. Gigiku seakan sudah kering karena terus saja nyengir sedari tadi.


"Ya sudah, aku telepon Dion sebentar ya." Indah mengangguk, aku langsung memencet nomor Dion di ponselku.


"Hallo selamat siang Pak." Sahutnya.


"Siang. Dion, gajih semua karyawan kau naikkan jadi 10% ya, dan buatmu dan Melly aku naikkan 25%."


Bukankah ini berita yang sangat bagus? Tidak ada salahnya aku menaikkan gajih karyawan ku kan? Bentuk dari rasa syukurku.


"Iya."


"Tumben.. Ada apa Pak? Apa Bapak menang Lotre?"


"Ish... Apaan kau, sejak kapan aku main begituan." Dion ini kadang-kadang suka menyebalkan.


"Aku akan jadi seorang Ayah Dion, kau tidak mau memberikan ucapan selamat padaku?"


"Selamat Pak. Semoga Bapak dan Mbak Indah bahagia selalu, dan selalu sehat, juga dengan calon anak kalian. Bapak hebat sekali, saya benar-benar bangga."


"Ya jelas dong, topcer kan?" aku terkekeh sendiri.


"Iya Pak, jelas! Bibit unggul."


"Bagaimana di kantor?"


"Semua aman dan terkendali, Bapak tenang saja."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Tok.... Tok... Tok. Di pintu ruangan Hermawan Andra mengetuk pintu.


"Masuk..." Sahut Hermawan dari dalam.

__ADS_1


Ceklek.....


"Kak Mawan, apa kabar?" tanya Andra seraya memeluk.


"Saya baik, silahkan duduk." Tuturnya mempersilahkan duduk di kursi dekat meja. "Tumben kesini, ada apa Pak?"


Andra tersenyum, "Kak Mawan tidak usah memanggilku Bapak, aku kan adik ipar Mbak Santi."


"Oh iya. Andra maksud saya, ada apa?"


Andra menoleh kearah Anton, dan Anton menyerahkan dokumen kerjasama kepada Hermawan.


Andra memegang jari jemarinya, "Begini Kak,


aku mau minta perusahaan Kakak bekerjasama dengan perusahaan ku. Bagaimana?"


"Kerjasama? Kenapa? Bukankah sejak dulu kau tidak pernah mau mengajukan kerjasama dengan perusahaan ku?"


"Aku...."


Aku kasih alasan apa ya?


"Kau ada masalah dengan Rendi?" Mawan mendadak bertanya seperti itu yang membuat Andra terkejut.


"Kakak tahu? Memang Rendi cerita apa pada Kakak?" tanya Andra.


Mawan menggelengkan kepala, "Tidak. Rendi tidak bercerita, aku hanya menebak. Perusahaan mu kan sudah seperti benalu di perusahaan Rendi."


Jleb...... Andra menelan saliva nya dengan kasar.


Cih... Apa dia tadi sedang meremehkan perusahaan ku? Sabar-sabar Andra.


Andra menghela nafas.


"Tidak kok Kak, bukan seperti itu. Memang aku dan perusahaan Rendi saling membantu, sejak dari dulu di pegang oleh almarhum ayahnya juga begitu. Tapi akhir-akhir ini semenjak Rendi sudah menikah dia jadi berubah."


Mawan mengangkat kedua alisnya, "Berubah? Berubah bagaimana? Aku rasa Rendi sama seperti dulu."


Andra tersenyum tipis. "Aku lebih mengenal Rendi lebih dulu daripada Kakak. Sekarang dia membawa masalah pribadi kedalam urusan kantor, dia menarik semua dana yang sejak dulu di kantorku. Anak itu sudah berubah." Tuturnya memberitahu.


"Masalah pribadi? Coba beritahu. Mungkin saja aku bisa membantu."


.


.


.


.


"Gimana? Seneng nggak tahu Indah HAMIL? Bisa kasih hadiah lho kalau berkenan, untuk Author receh ini... Sekuntum bunga juga Author sudah sangat bahagia banget.... Sampai jumpa di bab selanjutnya, sayang-sayangku......."

__ADS_1


๐ŸŒพJangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya.....๐ŸŒพ


__ADS_2