
"Reymond ini keterlaluan sekali! Istrinya masih ada di UGD dia malah mencemaskan anak penyakitan itu! Nggak Wulan, Nggak adiknya. Mereka berdua benar-benar pembawa sial" umpat Mawan kesal.
Santi lebih memilih diam tanpa menghiraukan ocehan dari Mawan, ia tau betul sifat keras kepala suaminya. Ia juga tidak mau memperburuk keadaan. Apalagi mengingat Indah masih ada didalam UGD.
Sebenarnya yang keterlaluan itu Papah, Papah tega sekali sampai tidak mau mendonorkan darah pada Clara. Diakan adik ipar Rio.
Tapi semoga saja darah Antoni juga B, biar dia saja yang mendonorkan dan menyelamatkan Clara.
Batin Santi.
Ceklek~
Pintu ruang UGD itu dibuka lebar-lebar oleh perawat dan tak lama ada beberapa perawat lainnya mendorong brankar yang sudah ada Indah tengah berbaring dengan mata terpejam.
Santi dan Mawan mengikuti langkah kaki para perawat yang membawa Indah masuk kedalam kamar VVIP nomor 190. Namun mereka masih menunggu di luar.
"Selamat malam, Bapak ... Ibu," sapa Dokter yang baru saja datang menghampiri mereka berdua.
"Malam, Dok. Bagaimana keadaan putri saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Mawan dengan wajah cemas.
"Dia baik-baik saja, tapi usahakan putri Bapak untuk hindari stres yang berlebihan. Kandungannya begitu lemah dan riwayat kesehatannya kurang baik, Pak," jelas Dokter.
Indah stres?! Kenapa bisa stres? Ada masalah apa dengannya?
Batin Mawan terdiam.
"Apa dia tidak bisa langsung pulang, Dok?" tanya Santi menatap kearah Dokter.
Dokter itu tersenyum kearahnya. "Besok bisa pulang kok, Bu. Dia menginap malam ini saja. Oya ... siapa yang bernama Bayu dan Reymond?"
"Dia suami dan anaknya, Dok," sahut Santi.
"Oh, lalu adiknya. Apa dia ada disini?"
Mata Mawan membelalak. "Adik?!" ia menatap nanar wajah Dokter didepan. "Putriku anak tunggal, Dok. Dia tidak punya adik."
"Dia terus memanggil adiknya, tapi tidak menyebutkan nama, Pak."
"Oh mungkin dia hanya berhalusinasi saja, Dok. Karena dulu dia sempat menginginkan seorang adik, tapi tidak jadi," jelas Mawan mengarang.
"Yasudah kalau begitu saya permisi, Pak ... Bu."
"Iya, Dok."
__ADS_1
Dokter itu berlalu pergi, sedangkan mereka berdua langsung masuk kedalam kamar rawat Indah.
Santi duduk diatas sofa. Tapi Mawan lebih memilih duduk di kursi kecil didekat anaknya. Tangannya mengelus perlahan rambut Indah dan mencium keningnya.
"Semua ini gara-gara Reymond, Mah. Coba saja dia tidak memberitahu Indah tentang adiknya. Dia tidak mungkin masuk rumah sakit lagi! Lagian, Papah yakin kok, Papah tidak punya anak selain Indah, Mah," ucap Mawan kesal.
"Iya, Pah. Mamah juga percaya." Santi mengambil ponsel pada tasnya, ia mengirim pesan pada Rio.
💬
To: My Boy 2
20.03 PM
Rio, Mamah tau kamu pasti belum bertemu dengan Wulan, kan? Mamah sedang baik hati padamu. Mamah tau dimana Wulan. Dia ada di rumah sakit Sejahtera, Clara adiknya sedang di operasi. Kalau tidak bisa kesini sekarang, kau bisa kesini besok.
Jaga kesehatan, Mamah sayang padamu ❤️
Ting~
Bunyi notifikasi pesan masuk pada ponselnya sama sekali tak dibuka. Ponsel itu ia biarkan diatas meja.
Sedangkan Rio, pria itu tengah duduk di lantai, di bawah tempat tidur. Ia sedang menenggak minuman beralkohol. Sudah dua botol ia habiskan dan sekarang tinggal satu botol lagi ia minum.
Rasa stres, rasa capek, seketika hilang dengan sendirinya karena pengaruh alkohol itu. Lama-lama efeknya menjadi pusing. Ia meraih ujung ranjang supaya mampu menarik tubuhnya untuk bangun. Setelah itu, ia banting tubuhnya sendiri diatas kasur hingga tengkurap.
"Wulan ... kau dimana?"
"Jangan tinggalkan aku, Wulan ...."
"Wulan, aku ingin kau memandikanku ...."
"Aku ingin makan nasi gorengmu ...."
"Aku ingin bercinta dengan ... eugh ... eugh ...."
"Hahahaha ... sialan kau, Wulan! Masih untung aku bertanggung jawab! Tapi sekarang ... kau pergi dariku! Tidak tau diri!" umpatnya kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Rio terus mengoceh-oceh nama Wulan dan bermonolog. Sampai akhirnya ia memejamkan mata dan tertidur pulas. Pakaian kerjanya masih menempel rapih pada tubuhnya sendiri, tentunya ia juga belum mandi.
Hampir sudah beberapa malam sebelum tidur, Rio melakukan kebiasaannya lagi. Hanya saja, bedanya ia minum di rumah. Tidak pergi ke bar. Kalau tidak minum begitu, ia susah sekali untuk tidur nyenyak. Ya, setidaknya hanya botol minuman yang menjadi sahabatnya sekarang.
***
__ADS_1
Balik lagi ke rumah sakit.
Antoni sudah melakukan pengecekan darah, dan ternyata memang darahnya B. Dokter juga mengecek kecocokan dari darah keduanya dan ternyata memang bisa. Antoni bisa mendonorkan darahnya untuk Clara.
Kedua kalinya Antoni seperti malaikat penolong untuk kelurga Wahyu, orang yang belum terlalu ia kenal. Mungkin karena dia memang sosok pria dan Ayah yang baik. Dia begitu tak tega melihat orang lain menderita. Apalagi seorang gadis kecil.
Antoni tengah terbaring dengan lengan yang sudah terpasang jarum untuk mengambil darahnya, ia juga berada diruang operasi Clara.
Wajah gadis kecil itu terlihat sedikit dari hordeng yang menghalangi antara dia dan Antoni. Untuk sekilas, Antoni seperti melihat Indah pada wajah Clara. Mungkin bisa dibilang wajah Indah sewaktu kecil, karena dia sendiri sempat melihat beberapa album tentang foto-foto Indah sewaktu kecil. Bahkan dia menyimpan foto Indah, Vinno dan Bayu. Pada dompetnya.
Guratan senyum itu tergambar jelas pada wajah tampan Antoni, ia terus memperhatikan Clara dari kejauhan.
Clara semakin dilihat malah makin mirip dengan Indah. Dia bahkan sama sekali tidak mirip dengan Wulan, Pak Wahyu maupun istrinya.
Aneh sekali, apa dia bukan anak kandungnya?
Batin Antoni.
Seusai darah Antoni cukup untuk Clara, ia keluar dari ruangan itu. Sudah ada Wulan, Wahyu, Reymond dan Bayu didepan menunggunya
Wahyu yang melihat kedatangan Antoni, ia segera memeluk tubuhnya.
"Pak Antoni, Bapak sungguh-sungguh seperti malaikat. Terima kasih, Pak. Terima kasih telah membantu saya untuk kedua kalinya."
Antoni melepaskan pelukan dan mengendong Bayu dari tangan Reymond, karena sedari tadi kedua tangan cucunya seperti minta di gendong.
"Sama-sama, Pak."
"Memangnya Papah kenal dengan Pak Wahyu sebelumnya?" tanya Reymond.
"Iya, dulu Papah pernah menolongnya, Reymond."
"Pak Antoni, Kak Reymond, terima kasih, terima kasih telah menolong Clara," ucap Wulan.
Antoni melihat kearah Wulan dan tersenyum padanya. "Sama-sama, semoga Clara cepat sembuh. Kami permisi kalau begitu," ucap Antoni.
"Salam untuk Nona Indah ya, Pak. Semoga dia baik-baik saja," ucap Wahyu.
"Iya."
Mereka berdua melangkahkan kakinya, meninggalkan Wulan dan Wahyu. Seiring langkah kaki mereka menuju kamar rawat Indah, Antoni mengajak Reymond mengobrol.
"Reymond. Lama-lama Papah lihat Clara ... dia makin mirip dengan Indah, apa kamu juga merasa seperti itu?" tanya Antoni.
__ADS_1
"Masa sih, Pah? Kataku mereka tidak mirip." Jelas sekali Reymond tidak pernah memperhatikan antara wajah Indah dan Clara. Tapi nyatanya bukan hanya Antoni saja yang merasa mereka mirip, melainkan Rio.
^^^Kata: 1034^^^