
"Apa kau tidak mau memaafkan Papah?" tanya Mawan setelah beberapa saat, karena menantunya itu sedari tadi diam saja.
"Aku, aku memaafkan Papah. Tapi ... apa Papah benar-benar tulus mengatakannya?" tanya Wulan ragu-ragu.
"Kau tidak percaya memangnya?"
"Bukan, bukan aku tidak percaya." Wulan terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Yang aku tau, Papah sangat membenciku. Papah juga tidak suka padaku."
"Iya, itu dulu. Tapi sekarang tidak."
Apa Papah jujur? Kok aku tidak yakin.
"Eemm ... Wulan, apa kau bisa membantu Papah?"
Wulan mengedikkan kepalanya sedikit agar bisa melihat wajah garang mertuanya. Namun segera ia menurunkan pandangan, merasa tak nyaman jika saling bertatapan.
"Membantu apa, Pah?"
"Kau pasti sudah dengar penyebab Rio masuk ke rumah sakit, Mamah juga pasti sudah cerita padamu dan Rio. Papah mau ... kamu membantu Papah. Tolong bilang pada Rio dan Mamah, untuk bisa memaafkan Papah. Papah tidak bisa hidup tanpa mereka, Wulan. Papah menyayangi mereka, Papah akan merubah sifat jelek Papah mulai sekarang," paparnya dengan sendu.
"Aku tidak berani mengatakannya, Pah."
"Kau 'kan istrinya Rio dan menantu Mamah. Masa bilang begitu saja tidak berani?" Mawan mengerutkan kening.
"Iya, aku tau. Tapi tetap saja aku tidak berani, Pah. Maaf ... bukan aku tidak mau membantu Papah, tapi memang aku tidak berani," ucapnya tak enak hati.
"Yasudah deh, Papah titip salam saja sama Rio. Nanti kau sampaikan saja, Papah mau ke kantor." Mawan mengangkat bokongnya, ia berlalu pergi dengan rasa kecewa. Karena sampai detik ini pun, tak ada yang mampu membantunya.
***
Rio sudah boleh pulang oleh Dokter, tapi Santi menyarankan untuk Rio tinggal beberapa hari di rumah Reymond bersama Wulan. Tentunya Santi juga ingin berkumpul dengan kedua anak dan menantunya itu.
Malam hari.
Mereka semua tengah menyantap makan malam di ruang makan. Terasa begitu hangat dan nikmat. Namun, bagaimana pun juga Indah merasa kehilangan sosok sang papah yang biasa duduk disamping Santi, selalu bersama ibunya. Tapi kini ia harus tinggal berjauhan, bahkan pisah rumah bersama Santi.
Kalau Mamah dan Papah jadi bercerai, kok aku ngerasa sedih. Sedang apa kira-kira Papah di rumahnya? Apa dia sudah makan?' batin Indah.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Kok dari tadi makanannya hanya di lihatin terus?" Reymond menepuk pelan bahu istrinya, ia merasa Indah seperti tengah melamun.
"Ah, tidak apa-apa kok, Mas." Indah menggelengkan kepalanya, ia meneruskan makannya yang sempat terhenti.
Apa Indah kangen sama Papah? Sedang apa Papah kira-kira?' batin Reymond.
Baik Indah maupun Reymond, mereka memang sebal dengan sifat buruk Mawan. Tapi jika jauh seperti ini, mereka juga merasa kehilangan sosoknya. Karena sudah terbiasa selalu bersama-sama, apalagi jika sedang makan seperti saat ini.
"Eemm Reymond, nanti malam Indah dan Caca tidur sama Mamah, ya?" pinta Santi
"Kok sama Indah, aku mau tidur dengan Indah, Mah," jawab Reymond.
"Eemm ... Mamah tidur denganku saja," sambung Wulan.
"Bukan seperti itu, Indah 'kan masih proses penyembuhan. Kau jangan tidur seranjang dulu. Kan kau dan dia belum boleh berhubungan dulu," tegur Santi menatap wajah Reymond, ia tau sekali kelakuan mesum kedua anaknya itu.
"Iya, Mamah benar, Mas," sambung Indah.
"Kita 'kan nggak akan melakukan tugas negara Sayang, tapi aku hanya ingin tidur bersamamu,” sanggah Reymond.
"Kakak ini lebay banget, sih. Masa Mamah tidak boleh tidur dengan Indah, kasihan Mamah," timpal Rio seraya tersenyum mengejek.
"Ayah Lemon bobo cama Bayu aja, Ayah!" tangan kecil Bayu memegangi lengan Reymond, ia tengah duduk di pangkuan sang Ayah.
"Iya, Sayang. Kamu tidur dengan Ayah." Reymond mengelus pelan rambut Bayu dan kembali menyuapinya.
***
Di Rumah Hermawan.
Pria tua itu hanya berbaring kesana kemari, ia nampak begitu gelisah, padahal sudah tengah malam, tapi dirinya tak kunjung memejamkan mata. Mawan sangat kesepian, apalagi jika menoleh pada sisi tempat tidur disebelahnya, tempat dimana Santi biasa berbaring. Ia rindu sosok istrinya yang tiap malam selalu ia goda sebelum tidur.
Mawan menatap langit-langit kamarnya sambil memijit pelipis mata yang terasa pening, sudah dua hari ia tidak bisa tidur dan tidak bisa fokus untuk mengerjakan sesuatu. Bahkan di kantor pun ia kebanyakan melamun.
"Ah tidak-tidak, aku tidak boleh bercerai dengan Santi. Aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku sangat kesepian." Mawan menarik tubuhnya untuk duduk, ia menuangkan air kedalam gelas lalu menenggaknya.
Ia melihat jam weker pada nakas, sudah menunjukkan pukul 23.00 sudah hampir larut malam.
__ADS_1
"Apa aku pergi ke rumah Reymond saja? Setidaknya, jika aku tidak bisa tidur bersama Santi, aku bisa tidur dengan Bayu." Mawan lagi-lagi bermonolog. Ia segera beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju lemari.
Mawan mengambil koper didalam lemari dan mulai mengemasi barang-barangnya. Memasukkan beberapa stel baju kedalam sana. Niatnya ingin pergi menginap ke rumah Reymond. Ia yakin, Reymond dan Indah tidak mungkin tega untuk mengusirnya.
***
Di Rumah Reymond.
Rio tengah memeluk Wulan dari belakang, ia masuk kedalam baju tidur istrinya untuk mengelus-elus perut buncit Wulan. Semakin terasa buncit, Rio makin gemas untuk selalu menyentuhnya.
"Aku tidak sabar ingin lihat mereka lahir Wulan. Kira-kira ... dia dua perempuan, dua laki-laki atau satu perempuan dan satu laki-laki, ya?" Rio menerka-nerka sendiri, mereka belum sempat melakukan USG lagi untuk mengecek jenis kelamin calon anaknya.
"Mas Rio maunya apa?"
"Maunya sih sepasang, laki-laki dan perempuan. Kalau kau bagaimana?"
"Aku sih apa aja, Mas. Yang penting mereka sehat." Wulan merasa geli saat merasa sentuhan bibir Rio yang tak ada henti-hentinya mengecupi tengkuknya. Pria tampan itu semakin lengket saja dengannya. "Eemm ... Mas, tadi pagi aku ketemu Papah," ucap Wulan ragu-ragu. Entah mengapa sejak pertemuannya tadi pagi, ia teringat terus pada Mawan. Apalagi saat dirinya tak sengaja melihat air mata sang mertua berlinang, Wulan merasa tak tega. Mungkin saja memang benar, Mawan mau berubah.
"Aku sudah tau," jawab Rio ketus. Mimik wajah yang tadinya berseri langsung memudar menjadi cemberut.
"Mas Rio tau dari mana? Pak Indra?"
"Iya, aku tau semua dari dia."
"Apa Pak Indra juga cerita, kalau Papah menangis, Mas?"
"Iya, tapi air matanya pasti buaya. Aku tau itu."
"Apa Mas Rio tidak mau memaafkan Papah?" tanya Wulan hati-hati.
Rio melepaskan dekapannya pada tubuh istrinya. Lantas, ia berbaring membelakangi Wulan.
"Bukannya aku sudah pernah bilang, aku tidak mau membahas orang itu? Kenapa kau malah bertanya seperti itu padaku." Rio mendengus kesal.
Wulan membalikkan tubuhnya, kini dirinya yang memeluk tubuh Rio dari belakang, menghirup aroma wangi tubuh suaminya.
"Maaf, Mas. Aku tau Mas Rio sangat sakit hati. Tapi ... aku merasa kasihan sama Papah. Sepertinya, dia benar-benar menyesali perbuatannya."
__ADS_1
Jangan lupa like 💕