
Tukang parkir berbaju merah itu memperlihatkan wajah Wulan pada ponsel Rio.
"Iya, saya melihatnya, Pak."
Deg~
"Benarkah? Apa Bapak lihat dia berjalan kearah mana sehabis bertemu kurir?" tanya Rio penasaran, tapi kedua pipinya bersemu merah karena senang mendapatkan informasi.
"Kesana, Pak ... saya lihat dia datang dan pulang dari sana." Tukang parkir itu menunjuk kearah barat jalan raya.
Rio mengambil dompet pada kantong belakang celananya dan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah, untuk dia berikan pada tukang parkir itu.
"Ini untuk Bapak, terima kasih atas informasinya."
"Kenapa Bapak memberikan saya uang? Tidak usah, Pak." Ia menggeser tangan Rio, mencoba menolaknya.
"Tidak masalah, ini rezeki buat Bapak," ucap Rio dengan tulus.
"Terima kasih, Pak." Akhirnya tukang parkir itu menerima uang.
Alhamdulilah dapet rezeki malem-malem.
Batin tukang parkir.
"Boleh saya minta nomor Bapak? Kalau sewaktu-waktu wanita itu datang kesini. Bapak beritahu saya, Pak." Rio memberikan ponselnya pada tukang parkir itu.
"Bisa, Pak," jawabnya seraya mengetik nomor pada ponsel Rio. "Maaf sebelumnya kalau saya tidak sopan, wanita itu memang siapanya Bapak?"
"Dia istri saya, Pak. Dia sedang marah dan pergi dari rumah. Saya ingin membujuknya untuk pulang," jelas Rio.
Lebih tepatnya memaksanya untuk pulang.
Batin Rio sambil tersenyum miring
"Oh istri Bapak, semoga saja dia datang lagi kesini ya, Pak. Nanti saya akan beritahu."
"Iya, yasudah saya permisi kalau begitu."
"Hati-hati, Pak."
"Iya."
Rio berjalan dan masuk kedalam mobilnya kembali, ia termenung mencari ide sambil memijat dahinya sendiri.
Apa aku harus sewa orang untuk cari keberadaan Wulan?! Habis aku pusing mencarinya, masa iya malam-malam aku mencarinya lagi ... mending kalau langsung ketemu, kalau tidak?! Bisa-bisa rontok rambutku!
Batin Rio.
Ponsel miliknya ia buka dan mencari-cari nomor kontak seseorang. Setelah ketemu ia langsung meneleponnya.
"Halo."
"Halo selamat malam, Bos. Sudah lama Bos Rio tidak telepon, ada perlu apa, ya?"
"Apa kau sedang sibuk?"
__ADS_1
"Tidak, Bos."
"Kita ketemuan di ...." Rio melihat sekeliling daerah itu dan ternyata tepat didepan mini market ada sebuah Cafe.
"Dimana, Bos?" tanya pria dari sambungan telepon.
"Di Cafe mentari, jalan Xx. Aku tunggu kau disana. Jangan lupa bawa temanmu juga," titah Rio.
"Baik, Bos. Saya segera kesana."
Setelah menutup telepon, Rio membelokkan stir untuk memarkirkan mobilnya kedepan Cafe.
Tadi Rio sempat membawa nasi goreng kirimin dari Wulan, jadi sekalian saja makan malam disana.
"Selamat malam, Pak. Bapak mau pesan apa?" tanya pelayan Cafe yang baru saja menghampiri Rio duduk.
Rio melihat daftar pada buku menu, niatnya hanya ingin memesan minuman. Tapi semua minuman andalan di Cafe itu tidak terlihat mengiurkan. Justru ia hanya ingin teh manis hangat. Seperti teman nasi gorengannya.
"Saya pesan segelas teh manis hangat."
"Bapak tidak ingin mencoba jus pada menu disitu? Banyak sekali rekomendasi jus enak, Pak," ucap pelayan menawarkan.
"Tidak, aku ingin itu saja. Cepat buatkan dan pergi dari sini!" usir Rio dengan sinis.
"Ba-baik, Pak. Tunggu sebentar ...." Pelayan itu bahkan tidak mencatat menu minuman Rio, ia segera pergi menuju dapur untuk membuatkan pesanannya.
Padahal tampan, sayang sekali sikapnya begitu ketus.
Batin pelayan Cafe.
Setelah teh manis hangat sudah ada didepan meja, kini Rio membuka paper bag dan mengambil tupperware. Dibukanya kotak itu dengan perlahan, manik matanya seakan berbinar menatap nasi goreng. Apalagi aroma wanginya, mampu membuat perut Rio makin keroncongan dan tidak sabar untuk menyantapnya.
"Aku tak menyangka, Wulan punya kelebihan. Nasi goreng buatannya enak sekali ...," ucapnya memuji.
"Ah tidak-tidak ...." Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dia tidak punya kelebihan, ini mah kebetulan saja nasi gorengnya enak. Iya ... benar, hanya kebetulan," tambahnya lagi sambil mengangguk-ngangguk, lagi-lagi Rio masih pintar berdusta. Mulut dan hatinya tidak selaras.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rio baru menyelesaikan makan dan tak lama kedua anak buahnya datang, menghampiri meja yang ia duduki.
"Selamat malam, Bos," sapa mereka berdua.
__ADS_1
"Malam, duduklah." Rio menggerakkan kepalanya dengan pandangan yang melihat kedepan kursi kosong, menyuruh mereka duduk.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?" tanya salah satu pria yang duduk sebelah kiri didepannya.
"Ada kerjaan untuk kalian."
"Kerjaan apa, Bos?"
Rio meraih ponselnya diatas meja, ia segera mengirimkan foto Wulan pada anak buahnya. Sebetulnya ia menyimpan foto itu bukan karena sengaja, tapi dapat kiriman oleh Ibunya. Foto pertama kali Wulan selesai didandani oleh Santi dan tentunya dengan rambut panjang cantiknya.
Kling~
Notifikasi kiriman foto itu sudah sampai pada anak buahnya, pria kekar itu membuka pesan dari Rio.
"Kau cetak dan perbanyak foto wanita itu. Tulis info orang hilang dan tulis nomormu disana, jangan lupa tulis juga imbalan 40 juta untuk orang yang melihat wanita itu," titah Rio.
"Baik, Bos. Lalu kalau sudah ketemu bagaimana? Apa wanita itu diculik seperti Nona Indah?"
Ah benar, mereka orang yang sama dengan orang yang menculik Indah beberapa tahun yang lalu.
"Nanti kau dapat instruksi selanjutnya dariku."
"Baik, Bos. Dia namanya siapa, Bos?"
"Wulan Priyanka, nanti ciri-ciri detailnya aku kirim lewat pesan. Setelah jadi, kalian pasang dan tempel posternya pada sekeliling daerah sini. Pokoknya semua tempat harus ada fotonya," jelas Rio.
"Maaf, Bos. Tapi dia bukan istri orang, kan? Nanti suaminya tidak terima dan memasukkan saya ke penjara, saya baru keluar lima bulan yang lalu, Bos."
Deg~
Mata Rio langsung melotot. "Apa maksudmu? Kau sedang meledekku!" bentaknya.
Padahal kedua tubuh pria itu jauh lebih besar dari Rio, tapi mereka begitu kaget dan takut saat pria didepannya marah.
"Maafkan saya, Bos. Kenapa Bos Rio marah? Saya 'kan hanya bertanya," lirihnya pelan.
"Jelas aku marah! Dia istriku, bodoh!"
Deg~
Kedua pria kekar itu membulatkan mata dan saling melayangkan pandangan.
"Wah, Bos ... Bos Rio sudah menikah? Selamat ya, Bos."
Masing-masing dari mereka mengulurkan tangannya, ingin bersalaman dengan Rio. Namun Rio hanya melihat uluran tangan itu, tidak membalasnya sama sekali.
"Tidak perlu selamat-selamat segala, itu tidak penting! Yang terpenting aku minta ... malam ini juga, poster itu sudah jadi dan besok sudah tertempel dimana-mana!" tegas Rio.
Kedua pria kekar itu menarik lengannya kembali.
"Masalah itu Bos tenang saja, tapi saya minta uang mukanya, ya?"
"Iya, aku kirim sekarang. Sekarang kalian pulanglah," usir Rio.
"Baik, Bos."
__ADS_1
Kedua pria kekar itu bangun dari duduk dan berjalan keluar Cafe meninggalkan Rio yang tengah senyum-senyum sendirian. Entah apa yang sedang Rio pikirkan, tapi pria itu lebih suka menghayal sekarang.
^^^Kata: 1031^^^