Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 108. Hanya menginap


__ADS_3

"Tanggapan Pak Wahyu apa?"


"Aku tidak tau tanggapannya. Tapi semoga saja, Ayah tidak melakukan hal yang sama."


"Oya ... bagaimana kalau untuk sementara waktu, kita berenam tinggal bersama? Hanya sementara saja sih, aku takut kapan-kapan Indah meminta untuk tinggal bersama Clara lagi. Lagian ... bukannya lebih bagus begitu? Indah dan Wulan bisa menyayangi Clara bersama-sama."


"Iya, aku sih setuju saja, Kak. Nanti aku bicarakan dengan Wulan ya, Kak."


"Eh tapi kau ... kau sudah melupakan Indah atau belum? Nanti kau malah mencuri-curi waktu untuk berdekatan dengan Indah lagi." Reymond menatap wajah Rio penuh dengan kecurigaan.


"Kakak ini apaan sih? Selalu saja bilang seperti itu. Aku sudah melupakan Indah dan rasa cintaku padanya sudah tidak ada," bantah Rio.


"Benarkah?" Reymond menggembungkan senyuman di bibirnya. "Apa ini tandanya kau sudah mencintai Wulan? Benar begitu?"


"Sepertinya ...."


Tok ... tok ... tok.


Suara ketukan pintu itu menghentikan ucapan Rio, ia segera bangun dan melangkah untuk membuka pintu.


Ceklek~


"Maaf Mas ... maaf aku tidak tau kalau Mas Rio sudah pulang. Aku tadi ketiduran di kamar Clara," ucap Wulan seraya menurunkan pandangan.


"Tidak apa-apa."


"Apa Mas Rio ingin mandi? Aku akan siapkan air hangat di kamar tamu, ya?"


Rio memutar kepalanya kebelakang, ia melihat Reymond sedang melihat kearahnya juga.


Masa bodo deh kalau aku dibilang manja. Aku ingin Wulan memandikanku.


"Yasudah, tunggu aku disana. Aku sekalian mau bawa baju ganti."


"Iya, Mas." Wulan mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang berada di samping kamar Clara.


Ia mengisi air hangat pada bathtub dan tak lama Rio masuk kedalam kamar mandi.


"Mau dibuka bajunya disini, Mas?"


"Iya, biar sekalian."


Wulan mendekat dan perlahan jari jemarinya mulai membuka beberapa kancing kemeja Rio, dari atas sampai bawah. Namun saat semuanya sudah terlepas dan ia melepaskan kemeja itu pada tubuh bagian atas Rio, entah mengapa ia menjadi sangat mual melihat pemandangan itu. Perutnya bergejolak.


"Oek ...." Wulan segera menutup mulutnya dan berlari menuju wastafel. "Oek ... Oek ... Oek."

__ADS_1


Ia bukan hanya mual saja, melainkan muntah. Wulan menguras makan malamnya didalam perut.


"Wulan, kau kenapa? Kok jadi muntah-muntah?" tanya Rio seraya menghampiri dan memijat pelan tengkuk belakang istrinya.


Bukannya rasa mual itu mereda. Tapi tambah menjadi-jadi, Wulan kembali memuntahkan isi dalam perutnya saat ia melirik tubuh Rio yang yang polos setengah badan.


"Oek ... Oek ... Oek." Wulan menyalakan kran dan membasuh mulut beserta wajahnya. Setelah itu ia memberi kemeja biru itu ke tangan Rio dan bergegas keluar dari kamar mandi dengan nafas yang tersendat-sendat, keringat yang baru mengalir pada dahinya langsung ia hapus.


"Wulan ... kau kenapa? Sakit? Mau aku antar ke dokter?" tanya Rio ikut keluar dari kamar mandi, ia begitu cemas dan heran melihat tingkah aneh istrinya. Kaki itu berjalan pelan, menghampiri Wulan yang duduk disisi kasur dengan mata terpejam.


"Mas ... kayaknya aku tidak bisa memandikan Mas Rio deh."


"Kenapa? Kau sakit?"


"Aku mual liat Mas Rio telanjang dada begitu."


"Mual? Maksudmu aku bau?" Rio mengendus tubuh dan juga ketiaknya. Hanya bau asam sedikit yang ia rasakan dari hidungnya, karena memang tubuh Rio tidak bau badan. "Aku tidak bau, Wulan. Sejak kapan aku bau ketek?"


"Mas Rio memang tidak bau, aku hanya mual karena melihat Mas Rio telanjang dada."


Rio membulatkan kedua matanya dan langsung bergelak tawa. "Hahahaha ... ada-ada saja kau Wulan. Jangan bercanda seperti itu."


"Aku tidak bercanda, aku serius, Mas. Sumpah!"


Rio memakai kembali kemeja yang ia pegang sedari tadi, ia langsung mengancinginya.


Wulan membuka matanya secara perlahan dan melihatnya.


"Mual tidak?" tanya Rio.


Wulan menggeleng pelan. Rio dengan cepat kembali membuka kancing kemejanya dan melepaskannya. Ia seperti tengah menguji apa yang Wulan katakan barusan, merasa tidak percaya karena terdengar konyol. Masa iya, hanya telanjang dada ia bisa mual-mual? Bukannya Wulan hampir setiap hari melihat tubuh Rio yang polos? Apalagi saat bercinta. Hanya itu yang ada dalam pikiran Rio.


Wanita itu tidak berbohong, disaat ia melihat dada putih tanpa bulu milik Rio. Ia lantas berlari masuk kedalam kamar mandi dengan perut yang bergejolak.


"Oek ... Oek ... Oek." Wulan kembali muntah-muntah.


Pria tampan itu untuk kedua kalinya memakai kembali kemejanya dan mengancinginya. Ia geleng-geleng kepala seraya membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Wulan ini konyol, ada-ada saja."


"Mas ... apa Mas Rio sudah memakai kembali kemejanya?" Wulan memekik dari dalam kamar mandi.


"Sudah, kau keluar saja."


Wanita itu perlahan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat, langkahnya begitu pelan sambil memegangi perut.

__ADS_1


"Apa perutmu sakit?" Rio menggeserkan kepalanya tepat dimana Wulan berada.


"Sedikit," sahutnya sambil meringis.


Rio menggerakkan tangannya. "Kemarilah."


Wulan mengangguk dan mendudukkan bokongnya tepat disebelah Rio yang tengah berbaring.


"Mau di periksa? Aku antar, ya?" Rio ikut memegangi perut rata Wulan.


"Tidak usah, Mas. Aku tidak kenapa-kenapa kok. Lagian ... Mas Rio juga capek habis pulang kerja."


"Iya aku memang capek, tapi kalau kau sakit begini ... aku masih sanggup kok mengantarmu ke dokter." Rio mengangkat kepalanya dan menarik tubuhnya supaya ia bisa menyangga kepalanya diatas kedua paha istrinya.


"Tidak usah, Mas. Aku benar-benar tidak apa-apa." Wulan memijat lembut dahi Rio dengan kedua tangannya.


"Kenapa jadi kau memijatku?" Rio tersenyum dan menerima sentuhan itu dengan senang hati. "Tapi enak juga rasanya, lanjutkan Wulan."


"Iya, Mas. Tapi Mas Rio belum mandi."


"Aku tidak mandi deh, kamunya saja mual melihat tubuhku. Apa kau sudah bosan padaku, Wulan? Kau bosan melihat tubuhku, mangkanya kau mual-mual?" Rio menatap lekat wajah Wulan dari bawah, ia merasa istrinya tambah manis.


"Mas Rio ini bicara apa? Aku tidak bosan sama sekali. Aku juga tidak tau, tapi sekarang aku tidak mual kok."


"Bagus deh. Oya ... aku ingin bicara masalah Clara."


"Kenapa dengan Clara?"


Dia pasti ingin membahas masalah itu. Ah kesal aku.


"Bagaimana kalau kau, aku, Kak Reymond, Indah, Clara dan Bayu, tinggal semua disini. Kita berenam tinggal disini untuk sementara waktu saja."


Tuh 'kan bener.


"Bagaimana Wulan? Kau tidak keberatan, kan? Hanya sementara saja," tambah Rio lagi.


"Tapi Ayah mengizinkanku hanya menginap malam ini dengan Clara, Mas."


Rio mengerutkan keningnya. "Hanya menginap? Apa maksudmu?"


"Iya, berhubung Indah yang memaksa ingin tidur dengan Clara, Ayah mengizinkan untuk semalam kita kembali ke rumah Mas Rio."


"Jadi ... kau tidak mau tinggal denganku di rumah ini lagi?" tanya Rio dengan wajah kecewa. Ia sudah terlanjur senang dan bahagia tadi, karena mendengar ucapan Wahyu saat dirinya pulang kerja. Tapi sekarang, sirna begitu saja.


Wulan termangu, mulutnya tertutup dengan rapat. Menggeleng dan mengangguk pun tidak sama sekali ia lakukan.

__ADS_1


^^^Kata: 1051^^^


__ADS_2