Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 44. Merindukannya?!


__ADS_3

Dengan refleks, Rio memegangi juniornya. Merasa tersindir didalam celana.


"Mau berbulu ataupun botak, Mamah tidak peduli! Kau juga punya burung, kan? Pasti sama juga berbulu! Jadi sudahlah ... tidak perlu dipermasalahkan. Kau bantu Adikmu mandi! Mamah capek mengurusnya dari kemarin!" Santi melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah keki.


Kini mereka berdua ditinggal didalam kamar mandi. Reymond berkacak pinggang menatap wajah Rio.


"Serius kau ingin aku memandikanmu?" tanya Reymond masih tak percaya.


Rio mengangguk pelan.


"Sebenarnya Wulan itu pergi kemana? Bukannya dari semalam menginap disini dengan Adiknya?"


"Dia tidak kesini dari semalam, Kak. Mungkin dia pulang ke rumah Ayahnya."


"Kata Mamah kalian berantem, berantem kenapa?"


"Sebenarnya hanya masalah sepele."


"Sepelenya bagaimana?"


"Kakak ... Kakak jadi tidak memandikan aku? Kenapa bertanya terus?!"


Aku seperti di interogasi saja.


Batin Rio.


"Tinggal buka saja semua pakaianmu. Kau bisa sendiri, kan? Masa aku juga yang membukanya."


Rio mengangguk dan melepaskan seragam pasiennya yang berwarna biru.


"Kau ingin mandi di bathtub?"


"Iya."


Reymond mengisi air hangat untuk Rio dan memapahnya untuk berendam. Ia menuangkan shampoo pada telapak tangannya dan mengusap-usap kasar pada rambut kepala Rio.


Sebenarnya Rio merasa kesakitan, namun dia diam dan pasrah.


Kak Reymond ini benar-benar tidak ikhlas memandikan aku, kulit kepalaku terasa perih.


Tidak seperti Wulan. Walau usapannya lembut, tapi terasa nikmat.


Batin Rio.


"Padahal mandi sendiri juga bisa, dasar manja! Tidak malu sama burungmu sendiri. Besok-besok kau cukur, Rio! Bulumu lebat sekali. Hahahaha ...." Reymond bergelak tawa.


Rio langsung menutupi juniornya menggunakan kedua tangan, merasa begitu malu namun sudah terlanjur.


"Enak saja, segini tidak lebat, Kak. Pasti punya Kakak yang jauh lebih lebat," balas Rio.


"Tidaklah, aku sering mencukurnya seminggu sekali. Hahahaha ...."


"Hahahaha .... pakai apa Kak? Apa gunting dapur? Atau gunting rumput?"


"Enak saja! Tidaklah, aku kan punya alatnya. Memangnya kau tidak tau?"


"Seperti apa alatnya Kak?! Apa seperti pisau cukur?" tanya Rio penasaran.


"Nanti aku beritahu saat di kantor."

__ADS_1


"Benar ya, Kak. Tapi tidak sakitkan saat dipakai? Tidak membuat kulitku iritasi?"


"Tentu tidak. Tapi nanti jangan kau buat botak, bisa-bisa Wulan syok melihatnya. Hahahaha ...."


"Hahahaha ... Kakak ini ada-ada saja," ucap Rio sambil geleng-geleng kepala.


Mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak membahas hal yang nyeleneh. Namun ini seperti momen langka bagi mereka, karena keduanya jarang sekali tertawa lepas bersama. Mereka lebih sering berantem.


Boleh dicoba juga, aku ingin lihat reaksi Wulan saat melihatnya nanti. Apa dia akan langsung melahapnya seperti di mimpiku?


Batin Rio sambil berkhayal.


"Oya, aku masih penasaran. Wanita tidak akan pernah pergi kalau masalah sepele, Rio. Apa jangan-jangan kau menyakitinya?" terka Reymond.


Bukannya langsung menjawab, Rio malah senyum-senyum sendiri sambil memainkan juniornya naik turun.


Merasa jengkel dengan tingkah absurd Adiknya yang tidak tau malu, tangan Reymond segera memeras kuat junior Adiknya yang sudah mengeras itu. Hingga membuat Rio meringgis kesakitan.


"Auw sakit Kak! Ampun!"


"Lagian! Kau ini aku tanya tidak dijawab! Malah sibuk memainkan burungmu, tidak sopan kau di depanku!" bentak Reymond seraya melepaskan junior Rio dalam genggamannya.


Rio merasa nyeri pada juniornya, sampai nyut-nyutan. Ia kembali mengelus-elus.


Aku seperti disiksa. Kak Reymond tega sekali.


Batin Rio.


"Maaf, Kak. Tadi aku sempat berkhayal yang tidak-tidak. Kakak tanya apa tadi?"


"Si Wulan pergi kenapa? Apa alasannya?"


"Sebenarnya aku hanya menyuruh dia pulang untuk mengganti pakaian, Kak."


Reymond meminta Rio untuk berdiri, supaya dia bisa memberikan sabun pada seluruh tubuhnya.


Ia kembali mengusap kasar pada tubuh Rio. Sampai kulit putihnya memerah. Namun Rio seakan pasrah, yang penting dia mandi dengan bersih.


"Tidak salah memang. Tapi bagian dadanya terlihat terbuka. Aku tidak mau jika orang lain melihatnya, Kak. Apalagi ada Dido disini!"


"Oh ... kau cemburu pada Dido?! Wulan tidak mungkin selingkuh dengannya, dia hanya asistenmu. Lagian kau dan dia jauh lebih tampan kau, Rio," puji Reymond.


Pipi Rio langsung bersemu merah, ia pertama kali mendapatkan pujian yang keluar dari mulut Reymond.


"Bukan masalah itu, Kak. Tapi masalahnya Dido itu mantan pacarnya Wulan. Dia juga pernah bilang kalau dia masih mencintainya," jelas Rio.


Mata Reymond terbelalak.


"Mantan pacar?!"


"Iya ... waktu pertama kali Dido menjadi asistenku saja, sikap Wulan seperti aneh. Wulan juga pernah berbohong padaku, dia bilang tidak mengenal Dido. Tapi kenyataannya dia adalah mantan pacarnya. Coba Kakak jadi aku, mungkin Kakak juga akan kesal!"


"Kau tanya tidak padanya, kenapa dia bisa tidak jujur padamu?!"


"Aku tidak tanya, cuma dia hanya bilang kalau dia membenci Dido. Tapi yang aku lihat ... Wulan seperti masih menyimpan cinta padanya, Kak."


"Apa kau mencintai Wulan?"


Deg.......

__ADS_1


Mencintai?! Aku rasa tidak. Aku mana mungkin mencintainya.


Batin Rio.


"Rio ...."


"Iya, Kak."


"Aku tanya, apa kau mencintai Wulan?" Reymond mengulang kembali pertanyaannya.


"Aku tidak tau."


"Kalau Indah. Apa kau masih menyimpan rasa padanya?"


Indah?!


Batin Rio.


"Sejauh ini aku masih berusaha melupakannya, Kak. Kakak tenang saja padaku. Aku tidak akan melakukan hal konyol pada rumah tangga Kakak."


"Oke, aku masih pegang janjimu Rio. Aku hanya menyarankan saja padamu ... jangan pernah menganggap pernikahan sebuah mainan. Aku memang dulunya bukan pria yang baik ... bahkan bisa dibilang tidak baik. Tapi yang kutahu dari Indah, Wulan wanita yang baik, Rio. Jangan sakiti dia. Aku saja dulu sangat menyesal menyakiti Indah. Beruntung dia masih bisa memaafkanku dan kembali padaku. Aku bahkan masih hidup sampai sekarang karena dia juga, aku sangat mencintainya. Kau dan aku sama-sama menikah tanpa cinta. Tapi aku tau ... seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Apalagi kita sering bertemu. Kau pasti merindukannya jika dia tidak bersamamu," jelas Reymond.


Deg......


Merindukannya?! Apa sekarang aku sudah merindukannya?


Batin Rio.


Setelah menyelesaikan mandi, Rio segera memakai pakaian dan keluar dari kamar mandi.


Terlihat Dokter dan Suster juga ada disana, bersama Santi dan Indah.


"Mari Pak Rio, kita lakukan rontgen pada perut Bapak," ajak Dokter.


"Kenapa di rontgen? Perutku tidak apa-apa kok, Dok," tolak Rio.


"Sudah turuti saja, Mamah ingin lihat hasilnya. Mamah bosan lama-lama di rumah sakit, Rio. Kau memangnya tidak bosan?" tanya Santi.


Rio mengangguk. Karena masih terasa lemas, ia duduk di kursi roda yang didorong oleh Suster, mereka membawanya pada ruangan khusus.


***


Wulan tengah berdiri di pinggir jalan bersama Clara, mereka baru saja pulang dari pasar. Tangannya memegangi kantong plastik yang berisi barang belanjaan. Ia membeli pakaian untuk dirinya, Clara dan Wahyu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sekali-sekali boleh dong kasih dukungan buat Author. Vote, gift bunga dan kopinya..... Sepi banget nggak ada yang kirim hadiah, Sedih aku tuh 🤧


^^^Kata: 1027^^^


__ADS_2