Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 80. Kamu akan bahagia


__ADS_3

Indah tidak sanggup menahan apa yang hendak ia keluarkan, alhasil cairan itu muntah sebelum tubuhnya sampai ke westapel.


"Uuueekk .... Uuueekk." Seluruh isinya bahkan hanya susu semalam.


Indah membasuh mulut dan menyirami lantai kamar mandi mengunakan air. Baju yang ia kenakan juga terkena muntahannya itu, Indah berjalan keluar kamar mandi dan membuka lemari untuk mengambil handuk kimono. Dia sekalian mandi.


Setelah selesai mandi dan menggunakan handuk, dia berjalan melangkah secara perlahan. Tapi kepalanya sekarang terasa berputar-putar, pandangan juga sangat buram.


Tubuh sudah lemas, tangannya terulur untuk meraih seprei kasur. Tapi tidak berhasil sampai, kepalanya makin sakit dan akhirnya pingsan. Dia tersungkur jatuh dibawah lantai.


Brukkk.......


Tak lama bunyi suara orang membuka pintu, dia adalah Mawan dan Santi. Mata keduanya terbelalak, melihat anaknya sudah berada di lantai dengan mengunakan handuk kimono. "Indah!" pekik Santi dan Mawan


Kakinya mereka berlari menghampiri Indah dan duduk tersungkur, kedua tangan Mawan memegangi kepala Indah.


"Sayang ... Bangun, kamu kenapa?" Tangannya mengoyang-goyangkan kepala Indah.


"Papah, kita bawa Indah ke rumah sakit," ucap Santi.


Mawan mengangkat tubuh Indah seraya berdiri, kepalanya menoleh pada Bayu yang masih tertidur pulas. "Mamah disini saja jagain Bayu, kasihan dia masih tidur. Biar Papah yang bawa Indah ke rumah sakit," pinta Mawan.


Santi mengangguk dan duduk diatas kasur. "Nanti Papah telepon Mamah, ya?"


"Iya," sahut Mawan.


Mawan berjalan keluar sambil mengangkat tubuh Indah, didepan pintu sudah ada pelayan Hotel yang membawa troli berisi makanan yang Mawan pesan.


"Antar saja kedalam," titah Mawan.


"Baik, Pak," sahut pelayang itu seraya mendorong troli masuk kedalam.


Mawan berlari kecil supaya cepat keluar dari Hotel dan menuju mobilnya diparkiran. Sedari tadi Jojo ikut membuntut dibelakang, ia membukakan pintu belakang mobil untuk Mawan. Setelah itu dia langsung menyetir mobil.


Mawan mendudukkan Indah disebelahnya seraya memeluk. Dia menempelkan punggung tangannya pada setiap kulit Indah, merasakan panas atau tidak. Tapi tubuhnya sama sekali tidak panas.


"Kita ke rumah sakit, Pak?" tanya Jojo.


Matanya melihat pada arloji yang ia kenakan, sudah menunjukkan pukul 7 pagi. "Jangan, Jo. Kita ke gedung saja sekalian," perintah Mawan.


"Baik, Pak."


"Kau punya minyak angin?" tanya Mawan.

__ADS_1


Jojo menepikan mobilnya sebentar dan meraih botol minyak angin pada saku jas. Tubuhnya memutar kebelakang, memberikan botol itu pada Mawan.


Mawan membuka tutup botol dan mengolesi minyak itu pada leher, lengan dan kaki Indah.


Padahal saat ini, Indah sedang pingsan, tapi bukannya membawa dulu ke rumah sakit. Mawan justru berniat untuk menikahkan Indah langsung, menunggu dia sadar dari pingsannya sendiri.


Maafin Papah sayang, Papah seperti memanfaatkanmu sedang pingsan begini. Tapi yang Papah lakukan demi kebahagiaan kamu.


Setelah kamu sadar nanti, kamu akan tahu semuanya, Papah yakin kamu akan bahagia dengan pilihan Papah ini.


Batin Mawan dengan yakin.


Mereka menempuh jarak 2500 meter dari Hotel menuju gedung besar, gedung itu sudah Mawan persiapkan untuk acara ijab kabul antara Indah dan Rio, tidak terlalu mewah. Karena dia hanya mempersiapkan supaya Indah dan Rio menjadi pasangan suami-istri saja.


Tubuh Indah sudah dibaringkan diatas tempat tidur, tak lama ada beberapa wanita berjumlah 4 orang masuk kedalam kamar itu, beberapa dari mereka sudah membawa kebaya cantik berwarna putih dengan rok batik berukir bunga.


Ada juga yang membawa koper besar, berisi alat make up dan pelengkapkan yang lain untuk pengantin.


Mereka menaruh semua yang ia bawa diatas meja rias didepan.


Mata Mawan melirik kearah kebaya putih. "Kalian pakaian anakku pakaian itu, pelan-pelan saja memakaikannya," titah Mawan pada mereka.


"Baik, Pak," sahut wanita itu.


Mawan berjalan keluar dari kamar, dia memanggil seorang pelayan wanita yang lewat. "Sini kamu!"


"Bawakan susu jahe dan bubur untuk anakku didalam," perintah Mawan


"Baik, Pak." Pelayan itu berlalu pergi meninggalkannya.


Mawan melihat pada Rio yang tengah duduk di kursi ijab kabul, dia sudah rapih memakai jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu melingkar leher. Kaki Mawan melangkah menghampiri Rio dan duduk disebelahnya.


"Kamu tampan sekali," puji Mawan seraya mengelus pundak anak tirinya.


"Terima kasih, Pah. Dimana Indah? Apa dia sudah siap menjadi calon istriku?" tanya Rio dengan pipi yang merona, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera menikahi istri dari kakaknya itu.


"Dia sedang bersiap. Sebentar lagi Papah akan menjemputnya, untuk jadi istri kamu," sahut Mawan sambil tersenyum.


Rio memeluk tubuh Mawan begitu erat. "Aku senang sekali, Pah. Sebentar lagi keinginanku akan terwujud, semoga saja acaranya lancar sampai kata 'SAH' ya, Pah?"


"Iya, amin. Papah juga akan do'akan yang terbaik untuk kamu, Rio."


***

__ADS_1


Sementara itu, di Hotel. Santi sudah memandikan Bayu dan memakaikannya baju, dia lupa kalau ponselnya tertinggal dikamar sebelah. Kamar dia dan Mawan. Santi mengendong tubuh Bayu dan berjalan menuju kamarnya.


Tapi sialnya lagi, setelah sampai didepan kamar. Card systemnya dibawa oleh Mawan, akhirnya dia memutuskan untuk meminta card system lagi pada pelayan Hotel.


Tangannya sudah menempelkan kartu itu dibawah gagang pintu dan langsung terbuka.


"Oma, Bunda cama Opa mana?" tanya Bayu.


"Tadi Bunda sakit, sayang. Opa mengantarnya ke rumah sakit," sahut Santi seraya berjalan masuk.


"Bayu mau kecana Oma," pinta Bayu.


Santi mengambil ponselnya pada tas yang berada diatas meja.


"Iya. Ini Oma mau telepon Opa dulu," sahut Santi.


Bayu sudah ingin turun dan berdiri diatas kasur, kakinya sudah melompat-lompat. Merasakan rasa empuk dari kasur itu.


Santi langsung menelepon Mawan. "Halo, Pah? Bagaimana? Apa Indah baik-baik saja? Ada di rumah sakit mana? Mamah akan menyusul," ucap Santi dengan beberapa pertanyaan, dia begitu cemas kalau sudah mengenai menantunya itu.


"Indah tidak apa-apa kok Mah, dia hanya kelelahan saja," sahut Mawan.


"Apa Papa bawa Indah ke dokter? Lalu apa kata Dokter?"


Semoga saja Papah akan bilang kalau Indah hamil.


Batin Santi.


"Tadi bukannya Papah sudah bilang, kalau Indah hanya kelelahan, Mah."


"Dokter tidak bicara apa-apa lagi?"


"Iya, Dokter hanya mengatakan itu," sahut Mawan berbohong, padahal dia sama sekali tidak membawa Indah ke rumah sakit.


Jadi, Indah tidak jadi hamil? Tapi masa sih? Sampai sekarang aku masih belum percaya.


Batin Santi.


"Yasudah, sekarang Papah di rumah sakit mana? Mamah akan menyusul kesana."


"Tidak usah, ini sebentar lagi Papah akan pulang. Mamah tunggu di Hotel ya, habis ini kita liburan bersama." Suara Mawan terdengar begitu halus dan senang.


"Iya, Pah. Papah dan Indah hati-hati."

__ADS_1


"Iya, Mamah juga. Jangan lupa Mamah dan Bayu sarapan, ya?"


"Iya, Pah."


__ADS_2