
"Apa sih lu Riz. Tapi enak tahu." Sahut Mas Rendi seakan tak malu, tapi aku yang malu di sini. Aku diam dan menunduk.
"Gue mau mandi di kamar lu saja ya Rey, habis itu kita sarapan bareng." Mas Rendi mengangguk dan menutup pintu.
Dia menghampiriku sambil mendudukkan tubuh Bayu di atas kasur, si kecil itu pipinya sudah basah. "Bunda.... Heee.... Heee..."
Aku memeluk tubuh kecilnya. "Cup... Cup... Cup sayang... kamu kenapa? Ada Bunda di sini." Aku menyeka air matanya dan mencium keningnya.
"Bayu mau ulang Bunda," rengek nya.
"Iya sayang kita pulang. Oya Bayu sayang, ini Ayah. Panggil dia Ayah." Ucapku sambil memegang tangan Mas Rendi.
Mas Rendi mengelus rambut Bayu. "Ayah? Bayu unya Ayah?"
"Iya sayang punya. Panggil Ayah." Ucapku.
"Ayah..." Bayu merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Mas Rendi.
"Api Bunda, Ayah namanya capa?"
"Reymond sayang." Sahut Mas Rendi.
"Lemon? Api kata Bunda, Ayah Bayu Lendi namanya."
"Iya sayang... Ayah Rendi, itu juga sama dengan Ayah Reymond." Bayu mengangguk, tapi entah dia mengerti atau tidak. Asalkan sekarang dia sudah ku beritahu ayahnya, semuanya akan baik-baik saja.
"Sayang kamu bersihkan diri dulu. Aku akan mengambil pakaian ganti buat kamu dan Bayu." Ucap Mas Rendi seraya memberikan Bayu padaku.
"Iya Mas, aku juga sekalian mandiin Bayu deh." Sahutku.
***
Setelah Indah dan Bayu selesai mandi dan memakai pakaian, Indah juga membereskan kasur Rizky yang acak-acakan itu. Dia merasa tidak enak karena telah melakukan tugas negaranya di kamar orang. Rendi juga sudah mandi dan berganti pakaian.
Mereka bertiga menuruni anak tangga dan langsung sarapan bersama dengan Rizky yang sudah menunggu. Indah mendudukkan tubuh Bayu di kursi tengah, antara dia dan Rendi.
Indah ingin menyuapi Bayu dengan bubur ayam yang sudah ada di atas meja, namun mangkuk bubur itu di pegang oleh Rendi.
"Biar aku yang menyuapi Bayu, kamu makan duluan saja sayang," ucap Rendi, Indah mengangguk dan menuangkan sarapan untuk dirinya dan Rendi.
Tak lama suara ponsel Rizky berdering, dia menghentikan sarapannya dan langsung mengangkat panggilan yang tertulis nama satpam rumahnya.
"Halo Pak Rizky." Ucap sang satpam.
"Iya kenapa Pak?"
"Ada polisi di depan Pak, beliau membawa surat penangkapan atas nama Bapak dan Pak Reymond."
Mata Rizky terbelalak dan berdiri. "APA?! Polisi!" Pekiknya dengan kaget.
__ADS_1
"Cepat buka pintunya brengsek! Cucu dan anakku ada di dalam!" Pekik Hermawan di depan gerbang.
Dia bersama Jojo dan kedua polisi, mereka ingin menangkap Reymond dan Rizky. Karena dari hasil penyelidikan dia melihat mobil Rizky terekam CCTV di rumah Antoni.
"Bapak cepat buka gerbang!" Perintah polisi.
Satpam itu menutup teleponnya dan langsung membuka gerbang. Dengan cepat Hermawan berlari menuju pintu utama.
Tok... Tok... Tok.
Dia mengetuk pintu rumah Rizky begitu kasar, tangannya juga sudah terasa gatal ingin sekali menonjok kedua penculik itu.
"Buka bodoh!" Pekik Mawan menendang pintu.
Rizky membuka pintu, dan keluar. Wajah yang baru nonggol di depan sudah langsung di hantam oleh Mawan.
Buuuggg......
"Aaww..." Rintih Rizky memegang pipi kanannya.
"Di mana Indah dan Bayu. Kau brengsek kenapa menculik anak dan cucu....." Ucapan Hermawan terhenti karena melihat Indah yang melebarkan pintu, dia juga mengendong Bayu.
"Opa Wawan.." Ucap Bayu sambil tersenyum. Mawan langsung memeluk tubuh Indah dan Bayu.
"Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Mawan seraya mengelus rambut Indah yang basah.
"Tidak Pah."
Buggghhhhh......
Namun Reymond diam saja, justru Indah yang panik dan memegang pipi Reymond.
"Papah.... Apa yang Papah lakukan, jangan berbuat kasar padanya." Ucap Indah membela.
"Dia menculik mu! Bagaimana bisa Papah diam saja." Pekik Hermawan marah-marah, matanya juga memerah.
"Pak Reymond dan Pak Rizky bisa ikut kami ke kantor polisi?" tanya Polisi yang berada di samping Hermawan.
"Pah... Papah tidak perlu memenjarakan mereka." Ucap Indah dengan wajah memelas.
Mata Mawan terbelalak, karena melihat leher anaknya dengan bercak merah yang begitu banyak.
Mawan memegang leher Indah. "Kenapa lehermu sayang? Apa mereka menyakitimu? Siapa yang melakukan ini?" tanya Hermawan.
Deg.....
Indah dan Reymond saling menatap satu sama lain, tapi Hermawan seolah mengerti arti sikap mereka. Dia langsung mencengkeram leher Reymond dan mencekiknya.
"Sialan kau ya.... Beraninya kau melecehkan anakku!" Pekik Mawan.
__ADS_1
"Papah.... Jangan lakukan itu, aku mencintainya," ucap Indah seraya menarik tangan Hermawan dengan cepat, dia tidak ingin suaminya di sakiti.
"Uhuk.... Uhuk... Uhuk."
Baru sebentar saja tenggorakan Reymond merasa begitu sesak.
"APA?!" Mata Mawan mendelik, dia merasa tak percaya atas apa yang Indah katakan barusan.
"Apa yang kau katakan Indah? Dia pria asing. Bagaiman bisa kau mencintainya?" tanya Mawan menatap mata anaknya.
"Dia sebenarnya......"
Dret.... Dret.... Dret.
Ucapan Indah terhenti karena deringan telepon dari ponsel Mawan yang bertuliskan nama 'Istriku.
"Halo, Pah.... Hiks.... Hiks." Ucap Santi merintih lewat telepon.
"Mah... Mamah kenapa? Kenapa menangis, Indah dan Bayu sudah ketemu." Ucap Hermawan.
"............"
"APA?!" Teriak Mawan seraya mengusap dada, tangan yang memegang ponsel di pipinya seakan merosot, dia begitu tak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya lewat sambungan telepon.
"Pah kenapa?" tanya Indah memegang tangannya.
"Mamah kamu sayang...." Lirih Mawan, air matanya tak terasa berlinang.
"Mamah? Mamah kenapa?" tanya Indah.
"Dia sudah tiada."
"APA!?" Mata Indah langsung melotot, tubuhnya terasa begitu lemas. Bahkan tubuh Bayu hampir jatuh dari gendongannya, dengan cepat Mawan mengendong cucunya itu.
"Tidak Pah... Itu tidak mungkin... Bagaimana bisa?" tanya Indah sambil geleng-geleng kepala, dia benar-benar tak percaya. Tapi tubuhnya begitu lemas dan tak bertenaga, dia langsung pingsan namun tidak jatuh ke bawah.
Karena ada Reymond yang menopang tubuhnya, "Sayang....." Ucap Reymond sambil memeluk tubuh Indah.
"Jo... Angkat Indah dan bawa ke mobil." Perintah Mawan seraya menyeka air mata, dia berjalan meninggalkan Reymond dan Rizky dengan masih mengendong Bayu.
"Dadah.... Ayah Lemon.... Dadah Om Iki...." Ucap Bayu seraya melambaikan tangannya, anak polos itu bahkan tidak mengerti apapun yang terjadi.
Jojo mengambil alih tubuh Indah namun tidak di izinkan oleh Reymond.
"Jangan pegang tubuh istriku, dia milikku!" Pekik Reymond.
"Bapak ini gila? Dia bukan istri Bapak." Sahut Jojo dengan wajah sebal, tangannya meraih tubuh Indah.
Reymond mengangkat tubuh Indah. "Biar aku yang bawa dia menemui ibunya," ucap Reymond.
__ADS_1
Salah satu polisi itu memegang tangan Reymond, mencoba mencegahnya, "Bapak ikut kami ke kantor polisi, biarkan Nona Indah bersama Pak Jojo." Ucap polisi melarang dengan keras.