
Ia mengangkat bokongnya dan membuka lemari untuk mengambil tas dan map coklat. Ya, hari ini Wulan memutuskan untuk mencari pekerjaan. Mumpung rumahnya dekat dengan sebuah kantor, ia ingin mencoba dulu disana.
Aku melamar jadi cleaning service saja deh, jangan OB.
Batin Wulan.
Wulan melangkahkan kakinya keluar kamar, terlihat Ayah dan Adiknya tengah duduk lesehan sembari nonton televisi pada tikar.
"Ayah, Clara ... do'ain Kakak biar diterima kerja, ya?" Wulan membungkuk dan mencium punggung tangan Ayahnya.
"Kamu serius mau kerja?"
"Iya, Ayah. Aku mau coba melamar di kantor dekat sini."
Wahyu mendekatkan bibirnya kearah dahi anaknya, lalu mengecup lembut. "Yasudah, Ayah do'akan semoga kamu diterima kerja."
"Iya, Clara juga do'ain Kakak," balas Clara seraya memeluk tubuh Kakaknya.
"Yasudah Kakak pergi dulu." Wulan pamit dan berjalan keluar rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kakinya sudah berdiri tepat didepan gedung pencakar langit, sebuah perusahaan besar yang bernama Herma Skincare. Perusahaan kosmetik.
Banyak sekali wanita-wanita cantik yang keluar masuk, membuat Wulan makin tidak percaya diri dengan penampilannya.
Dilihat dari pakaian yang seksi saja, ia sangat paham kalau mereka-mereka adalah seorang model.
Semoga di kantor ini membutuhkan cleaning service.
Batin Wulan.
Ada dua orang satpam tengah berdiri didepan pintu utama, ia menghampirinya. "Pagi, Pak. Saya ingin bertanya ... apa di kantor ini ada lowongan pekerjaan?" tanya Wulan dengan sopan, kedua tangannya masih memegang map coklat.
Salah satu satpam itu melihat Wulan dari bawah sampai atas. Tentunya dia tau, wanita didepannya itu pasti akan melamar menjadi OB ataupun cleaning sarvice.
"Sepertinya ada, Mbak."
"Saya ingin melamar jadi cleaning sarvice, apa saya bisa bertemu langsung dengan HRD disini, Pak?"
__ADS_1
"Mari ikut saya," ajak sang satpam seraya masuk kedalam.
Wulan ikut masuk kedalam ruangan luas itu, bola matanya sudah berkeliling pada sudut ruangan.
Ternyata yang melamar kerja bukan hanya dia sendiri, tapi ada beberapa orang juga disana. Pria dan wanita dengan memakai seragam putih dan hitam tengah duduk di kursi lobby.
Satpam itu mengajak Wulan menuju ruangan HRD, tangannya terangkat seraya mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" pekiknya dari dalam.
Satpam itu menoleh kearah Wulan. "Ayok, masuk."
"Iya, Pak."
Ceklek~
Wulan masuk kedalam ruangan itu, terlihat seorang pria berkumis dan berkacamata sedang duduk pada kursi putar dengan mata yang begitu serius menatap layar laptop didepannya.
"Selamat pagi, Pak. Saya Wulan Priyanka ingin melamar pekerjaan," ucapnya sedikit membungkuk.
Pria itu langsung melirik kearah Wulan dan melihat dari ujung kaki ke ujung kepala wanita didepannya. "Melamar jadi apa? OB atau Cleaning service?"
"Cleaning service, Pak."
"Coba sini surat lamarannya," titah pria itu.
Kaki Wulan melangkah menghampiri meja pria itu, perlahan map coklat itu ia taruh diatas meja.
"Ini, Pak."
Pria itu membuka map, dan memperhatikan surat lamaran dan beberapa surat yang Wulan bawa. Setelah beberapa menit membaca, pria itu mengambil kertas formulir dan bolpoin. Ia serahkan pada Wulan didepannya.
"Kau isi di lobby bersama yang lain. Hari ini yang melamar kerja cukup banyak, jadi saya seleksi dulu orang-orangnya."
"Baik, Pak." Wulan mengambil surat dan bolpoin itu. Sebelum berjalan menuju pintu, ia berkata. "Saya permisi dulu kalau begitu, Pak."
"Iya."
Ceklek~
Wulan berjalan menuju lobby dan duduk di kursi kosong disamping beberapa orang yang lain, tapi urutan kursinya berada dibelakang.
Saat Wulan mulai membaca dan mengisi formulir itu, tiba-tiba ia terdengar suara seseorang orang tengah menghampiri pria yang tengah berdiri agak jauh didepannya.
"Dimana Papah, Jo?"
Pria itu adalah Rio, ia menghampiri Jojo sang asisten Papahnya. Wulan terbelalak kaget, ia segera menutupi wajahnya menggunakan kertas formulir itu.
"Kenapa aku bisa bertemu dengan Mas Rio disini?" lirihnya pelan, ia masih menyembunyikan wajahnya dibalik kertas itu.
"Pak Mawan sedang meeting, Pak," sahut Jojo.
"Bilang pada Papah kalau aku menunggunya diluar, ya!" titah Rio
"Tapi meeting-nya masih lama, Pak. Memang Bapak ada perlu apa?" tanya Jojo.
"Aku ingin-"
"Rio!" pekik Mawan yang baru datang, ia berjalan menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Wulan mengintip dari balik kertas itu sedikit, melihat siapa suara berat yang memanggil nama suaminya.
Papah. Kenapa Mas Rio dan Papah ada disini?! Apa jangan-jangan ini kantornya Papah Mawan?! Astaga matilah aku, aku tidak mau bertemu dengan Mas Rio.
Batin Wulan.
"Papah ...," ucap Rio.
"Kamu ada apa?! Dari tadi telepon Papah terus? Kamu tidak lihat jam memang?" tanya Mawan kesal, matanya sudah menatap nyalang pada Rio. Ia juga menunjukkan arlojinya pada wajah anaknya.
"Papah ini galak amat, maafkan aku, Pah. Aku ada perlu sama Papah." Suara Rio terdengar begitu lembut.
"Kita ke ruangan saja, jangan ngobrol di lobby." Sebelum Mawan berbalik badan dan mulai melangkah, Rio memegang lengannya.
"Jangan di ruangan Papah, aku ada perlu dengan Papah urusan luar," cegah Rio.
Mawan mengerutkan dahi. "Urusan luar? Apa itu?"
"Aku ingin makan mangga muda, Pah. Apa Papah bisa mencarikan untukku?" pinta Rio dengan suara manja.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Seketika Wulan langsung tersendak kala mendengar ucapan Rio.
Rio, Mawan dan Jojo juga sempat melirik sebentar pada Wulan yang masih menutupi wajahnya dengan kertas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang wanita yang duduk disebelahnya.
Wulan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak mau berbicara karena takut Rio menyadari kehadirannya.
Mangga muda? Pagi-pagi begini Mas Rio ingin makan mangga muda?! Apa nggak sakit perut? Aneh-aneh aja memang.
Batin Wulan.
"Jadi kau kesini hanya karena itu?" tanya Mawan seraya mengerutkan dahi.
"Iya, Pah. Papah mau ya, mencarikan aku mangga muda."
"Kenapa harus Papah? Bukannya kau sendiri juga bisa? Pasar banyak! Supermarket banyak! Kenapa musti Papah yang cari?! Lagian ini masih pagi, nanti kau sakit perut. Otakmu kemana, sih?" wajah Mawan terlihat begitu emosi sekarang, kedua rahangnya sampai mengeras.
"Aku sudah sarapan kok, Pah. Ya, Pah ... aku mau Papah mencarikannya untukku." Lagi-lagi Rio memasang wajah memelas kepada Ayahnya.
Mawan tak memperdulikan ucapan Rio dan tingkah konyolnya, ia segera menepis lengan anaknya dan berjalan cepat menuju lift. Namun Rio masih ingin usahanya berhasil, ia mengejarnya dan akhirnya masuk kedalam lift secara bersamaan.
Ting~
Sepeninggal Rio dan Mawan, Wulan menurunkan kertas itu pada wajahnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah kedua pria itu benar-benar sudah menghilang atau belum?
Wulan langsung menghela nafas dengan lega.
Alhamdulilah, mereka sudah pergi. Aku harus cepat pergi dari sini.
Aku tidak mungkin bekerja di kantor Papah, karena itu berbahaya. Aku tidak ingin bertemu dengan Mas Rio.
Batin Wulan seraya bangun dari duduknya.
Ia berjalan cepat keluar dari pintu kantor itu. Namun saat sampai pada halaman depan, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
"Wulan!"
Deg~
^^^Kata: 1052^^^
__ADS_1