Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 11. Belantem


__ADS_3

Plakkkkk..... Indah tiba-tiba menampar wajahku, astaga! Mataku membulat sempurna. Ini pertama kali aku di tampar olehnya.


"Berhenti bilang seperti itu!" Pekiknya dengan emosi, wajahnya memerah.


"Aku punya suami. Aku miliknya, tidak ada yang boleh mengatakan hal itu selain Mas Rendi!" Dia membentak ku, tapi kenapa aku sangat tersentuh oleh kata-katanya. Jelas sekali itu untukku. Dia begitu tulus mencintaiku, aku benar-benar terharu.


Tindakanku lagi-lagi salah. Harusnya aku jujur dulu padanya, mungkin tidak akan ada salah paham seperti ini. Dia menyeka air mata di pipinya yang sudah mengalir, dan berbalik badan lalu melangkah meninggalkan aku dan pria ini yang hanya diam mematung.


Bayu melihat kearah ku dan melambaikan tangannya, "Dadah Om....." Aku melambaikan tangan pada anakku dan tersenyum.


Tak terasa air mataku menetes, tubuh ku seakan lemas tak berdaya. Hatiku campur aduk tak karuan. Lutut ku menopang tubuhku supaya tidak jatuh di bawah. Aku harus cari cara untuk bicara berdua dengannya, tapi gimana caranya? Dia susah sekali di ajak bicara berdua.


Aku tidak bisa hidup dengan wajah berbeda begini. Jelas sekali dia menganggap ku orang lain bukan suaminya.


"Rey... Lu kenapa?" tanya Rizky yang baru datang menghampiriku, kemana saja dia. Dia membantuku untuk berdiri.


"Kita pulang Riz." Sahutku malas.


...🍁POV Indah🍁...


Aku lagi-lagi tak habis pikir dengan pria aneh itu, bisa-bisanya dia bilang aku miliknya. Kemaren dia bilang dia suamiku. Sikapnya juga sangat aneh, dia menatapku dengan tatapan mesumnya. Jelas aku tidak suka! Aku hanya ingin di tatap oleh suamiku seperti itu, tapi tadi dia ingin mengajakku bicara? Bicara apa? Ah paling dia akan bicara hal yang tidak masuk akal.


Kalau Mas Rendi tahu dia akan habis olehnya, aku benar-benar tak terima di perlakukan oleh orang lain seperti itu.


"Bunda....." Panggil Bayu tiba-tiba, aku masih menggendongnya dan berjalan masuk ke kantor Papah.


"Ya sayang." Aku mencium pipi lembutnya.


"Bunda napa adi angis? Bunda cedih napa?"


Ternyata Bayu melihatku tadi menangis, "Tidak sayang, Bunda nggak apa-apa kok."


Dia mencium pipiku, manis sekali. "Bayu cayang Bunda....."


Aku membalas mencium pipinya, "Bunda juga sayang Bayu." Kamu benar-benar anak yang paling mengerti Bunda sayang, kamu tidak pernah rewel. Bunda beruntung punya kamu Nak.


Mood ku sekarang sudah berantakan gara-gara pria aneh itu, aku tidak bisa bekerja seperti ini. Lebih baik aku pulang saja deh. Aku berjalan menuju ruangan Papah.


Tok.... Tok.... Tok.


"Pah....." Ucapku


"Masuk sayang."


Ceklek.... Aku membuka pintu.

__ADS_1


"Indah..." Panggil Rio yang tengah duduk di sofa bersama dengan Papah.


"Opa....." Bayu memanggil Papah dengan tangan yang sudah siap untuk di gendong.


"Duh... Cucu Opa kok kesini. Mau ikut meeting bantuin Opa ya?" Papah mengangkat tubuh Bayu dan memangku nya di atas kedua pahanya.


"Pah aku mau pamit pulang ya." Ucapku meminta izin, dengan masih berdiri.


"Oh ya sudah nggak apa-apa, wajahmu kenapa sayang? Kamu habis menanggis?" Papah bangun dan mendekatiku, dia memeluk tubuhku.


"Ada apa? Cerita sama Papah?" Dia mengelus rambutku, apa wajahku terlihat habis menanggis? Padahal aku hanya nanggis sebentar tadi.


"Adi Bunda belantem cama Om-om di cape Opa." Ucap Bayu tiba-tiba.


Kita melepaskan pelukan. "Apa sayang? Bunda berantem?" tanya Papah kearah Bayu, Bayu mengangguk. Bocil ini kenapa musti bilang sih, padahal aku sudah malas untuk membahasnya.


Papah merangkul bahuku, mengajakku duduk di sofa di sampingnya. Rio hanya terdiam dan masih duduk di posisinya.


"Kamu berantem sama siapa? Om-om siapa yang di maksud Bayu? Kata Vinno kamu ada janji makan di cafe, sama siapa sayang?" Papah ini banyak pertanyaan sekali.


"Omnya Nella Pah. Tapi aku bukan berantem sama dia."


"Lalu?"


"Sama itu, siapa namanya aku lupa." Jelas sekali aku tidak mengingat nama pria aneh itu. "Dia orang yang bersama Rizky, temannya Mas Rendi."


Aku melihat kearah Rio. "Rio aku mau bicara berdua dengan Papah." Aku seperti tengah mengusirnya untuk pergi dari ruangan Papah.


Rio bangun dari duduknya, "Oke Ndah, gue keluar." Rio mendekati Bayu. "Bayu mau ikut Om nggak?" ajaknya.


Tapi Bayu menggelengkan kepala, "Ngga Om... Bayu pengen cama Opa..." Tolaknya, Bayu memang tidak dekat dengannya, aku juga heran kenapa. Padahal dia Om kandungnya, apa mungkin karena jarang ketemu.


Rio juga sekarang tinggal sendiri, karena aku sering tidur di rumah Mamah Santi. Iya mungkin karena itu.


Rio berjalan keluar dan menutup pintu. Aku melihat kearah Papah, apa aku harus ceritakan padanya tentang pria aneh itu?


"Sayang jadi apa?" tanya Papah mengenggam tanganku.


"Pah... Apa sampai sekarang Mas Rendi belum ketemu?" aku malah menanyakan hal yang berbeda dengan yang terlintas di pikiranku. Tapi aku masih penasaran dengan keberadaan Mas Rendi.


"Belum sayang. Kamu tidak usah mengharapkannya lagi, mungkin memang benar Rendi sudah tiada." Papah menatap kosong, aku yakin dia juga tidak percaya kalau Mas Rendi tiada.


"Pah mungkin nggak sih kalau Mas Rendi jadi orang lain?"


"Maksud kamu? Orang lain bagaimana?" Ah tidak-tidak, itu sangat konyol. Pria aneh itu tidak mungkin Mas Rendi.

__ADS_1


"Tidak Pah, lupakan saja. Aku pamit pulang ya." Aku sudah mengangkat bokongku tapi lenganku di hentikan oleh Papah.


"Papah masih ingin bicara denganmu, duduklah." Pinta Papah.


Aku mendudukkan bokongku lagi. "Kamu mau tidak menikah dengan Rio?" Mataku terbelalak, aku benar-benar kaget dengan ucapan Papah.


"Apa maksud Papah. Papah bercanda?" aku tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala.


"Sayang... Rio kan adiknya Rendi, tidak ada salahnya kan kalau kamu menikah dengannya, lagian kamu dan Rio sudah mengenal sudah lama. Kalian akan cocok." Tutur Papah.


Apa-apaan ini Papah, bisa-bisanya dia menyuruhku menikah dengan Rio. Jelas aku tidak mau.


Aku langsung berdiri. "Aku tidak mau! Papah bicara apa sih? Aku ini masih istrinya Mas Rendi," Aku menunjuk diriku sendiri.


"Bagaimana bisa Papah menyuruhku menikah dengan adiknya! Bagaiman perasaannya nanti?!" Ucap ku dengan nada sedikit meninggi, rasanya aku benar-benar emosi.


"Sayang berhenti bilang seperti itu, ikhlaskan Rendi. Kamu harus bahagia, jangan pernah berharap Rendi akan kembali. Ini sudah tiga tahun lamanya, apa kau tidak capek menunggu Rendi terus-menerus?"


Aku memang capek! Benar-benar capek! Tapi kalau pun Mas Rendi benar sudah tiada, untuk sekarang aku belum bisa menikah dengan orang lain. Apa lagi itu Rio, itu tidak mungkin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^


__ADS_2