
Di umurnya yang sudah terbilang bukan pria muda lagi, dia masih punya hasrat yang tinggi dengan urusan ranjang. Percayalah, umur boleh 46 tahun, tapi baginya dia tetaplah merasa menjadi anak muda. Karena dihiasi wajah tampan dan tubuh sempurna.
Namun berbeda nasib dengan Irene, ini berbanding terbalik. Kalau Andra menjadi orang yang paling bahagia dihari ini, justru ini menjadi hari kedua terburuk setelah dilecehkan oleh Andra. Diumurnya yang menginjak usia 28 tahun, dia harus menikah dengan pria matang, dengan selisih umur lebih jauh.
Namun perbedaan umur, tidak masalah bukan? Lagian dia juga bukan gadis dibawah umur. Hanya saja, dia menikah dengan cara yang cukup menyedihkan.
Balutan gaun pengantin panjang dan mewah berwarna putih, menghiasi tubuh cantiknya, jabang bayi itu belum sama sekali terlihat didalam perut, karena baru berusia 6 Minggu. Pakaian sudah terlihat oke, tapi dia belum diberi polesan make up. Karena sedari tadi dia terus menanggis diruang Make up. Menangisi takdir yang dia rasa itu tidak adil baginya.
"Irene, sudahlah berhenti menanggis," ucap Munah, Ibu dari Irene seraya mengusap lembut punggungnya.
"Aku tidak ingin menikah, Mah! Aku jijik sama Pak Andra!" umpat Irene kesal.
Munah melihat kepada penata rias yang sejak tadi berdiri mematung, menunggu Irene selesai menanggis.
"Mis, tunggu sebentar ya? Aku akan tenangkan putriku," ucap Munah.
"Oke, Bu. Saya tinggal dulu," sahut pria bertulang lunak itu berjalan keluar ruang make up.
Munah memegangi kedua pipi Irene dan menyeka air mata. "Irene sudahlah, berhenti menangis. Untuk apa juga kau menanggis? Harusnya kamu senang Andra tanggung jawab."
Irene menepis tangan Munah, "Mamah ini, dia wajar ingin tanggung jawab! Dia yang mengincarku selama ini! Aku disini jadi korban, Mah!" pekik Irene.
Air matanya terus mengalir deras, Munah memeluknya kembali. Mencoba menenangkan putrinya, "Sudah Irene, Mamah tahu Andra bukan tipe kamu. Tapi dia pria mapan juga, kamu dari dulu bukannya ingin menikah dengan pria kaya, kan?"
"Iya, tapi bukan bangkotan macam Andra, Mah! Aku menginginkan pria yang sempurna!"
"Yasudah begini saja, kau nikah dulu dengan Andra. Supaya anakmu itu punya nama belakang Ayahnya, nanti selanjutnya kita pikirkan kedepannya, ya sayang?"
Munah hanya bisa membujuk putrinya untuk menerima kenyataan, urusan berjodoh atau tidak. Dia berfikir itu urusan belakangan, yang penting menikah saja dulu, untuk menutupi aib.
Setelah diceramahi beberapa kali akhirnya Irene menurut dan mau untuk diberi polesan make up oleh penata rias.
Andra berada di ruang yang berbeda, dia keluar dan melihat dekorasi untuk tempat ijab kabul yang sebentar lagi akan dimulai, ada Anton yang setia menemaninya juga.
"Persiapan sudah selesai, Pak. Bapak tinggal ijab kabul saja," tutur Anton memberitahu.
"Oke."
Tak lama datanglah seorang gadis dengan rambut berwarna merah hasil dari cat rambut, panjang rambut nya hanya sebahu, dia tampak cantik dan manis memakai gaun berwarna putih selutut. Warnanya sedana dengan Andra dan Irene, siapa lagi kalau bukan Riana. Putri semata wayang Andra.
Dia berlari kecil menghampiri Ayahnya, "Papah."
Tubuhnya sudah memeluk Andra, "Kamu sudah datang cantik. Sama siapa?" tanya Andra seraya mencium kening.
"Sama sopir, Pah."
"Mamah kamu tidak ikut?" Andra bertanya tentang mantan istrinya.
__ADS_1
"Tidak, Mamah sedang sakit, Pah."
"Oh begitu, kamu sudah makan?" tanya Andra.
Riana mengangguk, "Sudah."
Dia melihat sekeliling gedung Hotel itu, mencari keberadaan calon ibu tirinya, "Dimana Tante Irene, Pah?"
"Dia masih di ruang make up, kamu jangan panggil Tante lagi, panggil Mamah sekarang ya?" pinta Andra.
"Iya, aku mau melihat Mamah Irene. Boleh. tidak?"
"Boleh. Tuh ruangannya." Andra menunjuk ruangan yang berada dipojok gedung.
"Yasudah aku kesana." Sudah mulai melangkah, namun terhenti dan kembali melihat wajah Andra. "Papah tampan sekali," ucapnya memuji dan meneruskan berjalan.
"Kamu juga cantik, sayang!" ucap Andra dengan lantang.
Tubuh Riana sudah berdiri didepan ruang make-up yang Andra maksud, tangannya sudah memegang gagang pintu. Namun terhenti kala mendengar.
"Pokoknya, kalau nanti setelah aku melahirkan. Aku mau bercerai dengan Andra, Mah."
Deg.....
Hati Riana terasa kesemutan, dia kenal betul suara itu milik siapa? Tapi kenapa Irene bisa bicara seperti itu?
"Enak-enak apa! Aku tertekan yang ada!" lanjutnya lagi.
Deg....
Itu bukannya suara Mamah Irene? Kenapa dia seperti tidak ikhlas menikah dengan Papah? Apa dia terpaksa?
Batin Riana dalam diam.
Ceklek.....
Irene dan Munah keluar dari ruangan itu, mata mereka terbelalak. Melihat Riana berdiri didepan matanya, "Kamu Riana, kan?" tanya Munah seraya menelan saliva.
"Iya, Tante siapanya Mamah Irene?" Riana berbalik bertanya.
Cih! Apa katanya? Dia menyebutku dengan sebutan Mamah? Aku bahkan masih pantas disebut Mbak! Umur dia denganku juga paling beda 4 atau 3 angka. Aku tidak Sudi dipanggil Mamah olehmu!
Gerutu Irene, dengan wajah masam sambil melihat calon anak tirinya.
Munah mengulurkan tangannya, "Kenalin, saya Munah Ibunya Irene.
Riana membalas uluran tangannya, "Aku Riana, boleh Riana memanggil Oma?"
__ADS_1
Munah dan Irene saling melayangkan pandangan. "Tentu, boleh dong sayang. Kamu 'kan anaknya Andra," sahut Munah canggung.
Raut wajahnya terlihat begitu tertekan, sama halnya dengan Irene.
Riana mengandeng lengan Irene. Mengajaknya untuk duduk didepan kursi akad nikah.
Sebagian tamu undangan berdatangan untuk menyaksikan prosesi ijab kabul. Santi, Rio dan Bayu juga sudah duduk dan ikut menyaksikan.
Andra duduk disebelah Irene, dia menatap dalam wajah wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya. Benih cinta itu makin tumbuh menjadi banyak.
Semuanya sudah hadir dan lengkap. Penghulu, ustadz, saksi dan juga wali yang ternyata Ayah kandung Irene sendiri sudah duduk diantara mereka berdua.
Hingga tiba saatnya, tangan Andra terulur menjabat tangan dengan Ayah Irene seraya berkata. "Saya terima nikah dan kawinnya, Irene Oktavia binti ....," ucapnya dengan lantang.
Hanya sekali ucapan, semua orang seisi gedung bersorak kata. "SAH.".
Semua orang disana memanjatkan do'a untuk kedua mempelai, supaya menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.
Walau berat hati, Irene tetap memegang tangan Andra untuk segera mencium punggung tangannya, dan sebaliknya. Andra mencium kening Irene.
"Aku mencintaimu, Irene." Andra berucap tanpa menerima balasan, tapi tidak apa. Yang penting Irene sudah menjadi istri dan miliknya.
***
Sementara itu, setelah selesai makan bersama sambil menyuapi Indah, Reymond pergi dengan Rizky menaiki mobil. Mereka berdua berencana untuk pergi ke kantor Rio.
Kebetulan juga, memang bukan sekedar mencari informasi. Perusahaan Rizky menjalin kerjasama dan ada meeting pagi ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf say, aku up-nya jadi pagi. Mataku lelah semalam 😔 lanjut nggak nih?