Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 175. Dia bukan cucumu!


__ADS_3

Santi duduk di kursi depan mobil Rio, sambil menggendong Raka. Di sampingnya ada Indra yang tengah menyetir. Sedangkan Rio, Wulan dan Rafa duduk di kursi belakang.


"Kau mau sewa baby sitter, Rio?" tanya Santi tanpa menoleh ke belakang.


"Tidak usah, Mah. Aku yang ngurus mereka berdua," jawab Rio.


"Kau yang mengurus? Mana bisa?"


"Bisalah, Mah."


"Lalu, bagaimana pekerjaan di kantormu nanti?"


"Ya tidak gimana-gimana, aku tetap kerja seperti biasanya. Paling aku akan mengajak si Kembar pergi bersamaku ke kantor."


"Kau gila? Masa membawa bayi ke kantor? Ada-ada saja." Santi geleng-geleng kepala.


"Aku juga bisa menjaga si Kembar kok, Mah. Mereka biar sama aku saja, aku 'kan bundanya," sahut Wulan.


"Iya, kamu memang bundanya, tapi kamu pasti akan merasa kerepotan nanti. Mamah akan menyewa baby sitter saja, deh."


"Tapi nanti dia bisa menjaga si Kembar tidak, Mah? Nanti malah tidak bisa lagi," ujar Rio tak yakin.


"Seorang pengasuh masa tidak bisa menjaga bayi? Kau ini konyol sekali, pasti bisalah. Mamah akan cari yang berpengalaman seperti Susi, pengasuhnya Caca dan Bayu."


"Carinya yang agak berumur saja, Mah," balas Rio.


"Kenapa memangnya? Kau takut tergoda?"


"Apaan sih Mamah? Mana bisa aku tergoda wanita lain selain Wulan." Rio menoleh pada Wulan dengan pipi yang bersemu merah. Segera ia kecup kedua pipi istrinya.


Cup ... cup.


"Ya deh, Mamah percaya kamu 'kan pria yang setia. Oya ... bagaimana tentang si Mitha dan Aji? Apa mereka masih terus mengusikmu?"


"Tidak, Mah."


Santi menghela nafas dengan lega. "Syukurlah. Kalau ada masalah apa-apa, kau beritahu Reymond saja. Mamah sudah menyuruh anak buah Reymond untuk mengawasi si Aji dan Mitha."


"Iya, Mah. Terima kasih, Mamah dan Kak Reymond memang yang terbaik aku sayang kalian berdua."


"Iya, Mamah juga sayang kamu, Wulan dan si Kembar." Santi langsung mengecup pipi Raka.


Cup~


***

__ADS_1


Rumah Rio.


Ceklek~


Rio membukakan kamar pribadinya. Tembok putih kamarnya juga sudah bermotif bunga-bunga, layaknya seperti pakaian yang Rio pakai sejak kemarin.


Sudah ada tempat tidur bayi yang lumayan besar sehingga sangat cukup luas untuk Rafa dan Raka tidur di sana.


"Bagaimana kamarnya? Bagus, kan?" tanya Rio pada Wulan yang baru saja ia baringkan ke kasur.


"Bagus, Mas. Tapi kenapa terus saja ada bunga di mana-mana?" tanya Wulan heran.


"Jawabannya hanya satu, yaitu hatiku yang berbunga-bunga." Rio menyentuh dadanya.


Santi membaringkan Raka juga di kasur, bersebelahan dengan Wulan dan Rafa.


"Mamah menginap di sini juga, ya?" pinta Rio.


"Iya, tapi Mamah tidurnya di sini sama Wulan dan si Kembar."


"Di kamar tamu saja, dengan Clara, Mah," jawab Rio.


"Enak saja, terus Wulan dan si Kembar tidak ada yang jaga dong? Kasihan."


"Janganlah, kau tidur dengan Pak Wahyu saja. Clara juga bisa tidur di sini, muat kok." Santi menepuk-nepuk kasur besar nan empuk milik Rio.


"Masa aku tidur sama Ayah," keluh Rio.


"Lha, memang kenapa? Kau tidak mungkin tidur dengan Wulan."


"Benar kata Mamah, Mas," tambah Wulan, mengangguki ucapan dari mertuanya.


"Aku kesepian dong."


"Sama Pak Wahyu masa kesepian, aneh sekali kau ini," cetus Santi.


"Iya, iya. Ya sudah deh. Aku hari ini masuk ke kantor dulu. Aku titip si Kembar dan Wulan ya, Mah," pinta Rio.


"Iya, terus kau ganti baju atau tidak?"


"Tidak, Mah. Aku pakai pakaian ini saja." Rio mendekati Santi untuk mencium tangannya, setelah itu beralih mencium kening Wulan, Raka dan Rafa. "Jagoan Ayah, Ayah kerja dulu. Kamu jangan nakal, ya?" Rio mengelus pelan pipi si Kembar silih berganti.


"Mas Rio hati-hati dijalan," ucap Wulan.


"Iya, kau juga harus banyak istirahat supaya cepat pulih." Rio mengusap pelan pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


***


Satu jam semenjak Rio pergi dari rumahnya, Mawan datang bersama Jojo menaiki mobil dan kini sudah terparkir di halaman rumah Rio.


Kedatangan Mawan tidak lain adalah ingin bertemu dengan kedua anak Rio yang masih ia anggap sebagai cucu kembarnya. Ia sudah diberitahu oleh Indah kalau Wulan melahirkan dari kemarin, namun baru sekarang ia mempunyai keberanian untuk menemui si Kembar dan tentunya saat Rio sudah pergi. Mawan tau betul, jika Rio melihat kedatangannya sekarang ... Rio pasti sudah mengusirnya. Jadi cara amannya menunggu Rio pergi dari rumahnya.


Sebelum datang ke rumah Rio, Mawan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu, namun tak menemukan mereka di sana. Ia juga sudah ke rumah Wahyu, tapi tetap saja mereka tidak ada.


Jojo yang mengusulkan untuk pergi ke rumah Rio dan ternyata benar, mereka ada di sini.


"Jo, kau ikut masuk dan bawa semua apa yang tadi aku beli," perintah Mawan seraya membuka pintu, turun dari mobil.


"Iya, Pak," jawab Jojo. Ia ikut turun, langsung membuka bagasi dan mengambil beberapa paper bag besar berisi pakaian, mainan dan pelataran bayi lainnya. Setelah itu ia ikut membuntut di belakang Mawan.


Ting ... Tong.


Mawan memencet bel pintu utama Rio dan tak lama pintu itu dibuka.


Ceklek~


"Pak Mawan, silahkan masuk, Pak," ucap Bibi pembantu yang baru saja membukakan pintu, ia melebarkan pintu itu supaya Mawan bisa masuk bersama Jojo.


Mawan melihat pada ruang tengah, tidak ada siapapun di sana. "Di mana Wulan dan si Kembar, Bi?" tanya Mawan.


"Ada di lantai dua, Pak. Mari saya antar." Bibi pembantu yang tak tau akan status Mawan mengajaknya menaiki anak tangga.


Saat mereka sudah berada di lantai dua, Mawan melihat Wulan, Santi dan si Kembar tengah duduk di lantai yang beralaskan kasur lantai di dekat jendela yang terbuka.


Wulan duduk selonjoran sambil menyandarkan punggungnya pada tembok, sedangkan Santi, ia juga duduk, tapi sambil mengajak bercanda si Kembar yang baru saja bangun dari tidurnya.


Indah, kata itu yang terlintas dalam benak Mawan. Pemandangan yang begitu indah dan tak mau ia sia-sia 'kan. Segera ia berjalan menghampiri mereka berempat bersama Jojo di belakangnya.


"Cucu Opa, kalian lucu sekali," ucap Mawan seraya duduk di kasur lantai. Dan tanpa permisi, ia segera mengendong salah satu dari mereka, mengecup keningnya.


"Oe ... oe ... oe." Rafa langsung menangis saat berpindah dalam gendongan Mawan.


Santi dan Wulan terbelalak. Mereka terperangah atas kehadiran Mawan yang datang secara tiba-tiba.


"Apa-apaan ini? Kembalikan cucuku!" pinta Santi dengan nada tinggi, ia mencoba untuk mengambil alih Rafa dari gendongan Mawan, namun Mawan menggeserkan lengannya.


"Mamah ... biarkan Papah bertemu dengan cucu Papah. Papah kangen mereka." Salah satu tangan Mawan mengelus pipi Raka yang masih berbaring di kasur.


"Cucu, cucu, dia bukan cucumu!" tegas Santi tak terima.


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2