
Setelah suasana hati ibu Santi merasa tenang dia mengajak Indah untuk pulang bersama namun Indah menolak karena dia harus pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu.
Lalu mereka berpisah, mertuanya masuk mobil dan Indah berjalan menyebrang dan masuk ke minimarket.
Indah membeli krim wajah yang biasa dia pakai dan beberapa stok pembalut untuk tamu bulannya. Setelah mengambil Indah berjalan ke kasir untuk mengantri karena saat itu minimarket lumayan ramai. Dan lalu Indah membayar dan setelah itu dia berjalan keluar namun dia menemukan dompet kulit berwarna coklat punya seseorang yang terjatuh.
Indah langsung mengambilnya dan menghampiri pria yang berjalan ke arah mobil dan berkata. "Maaf Pak. Apa ini dompet Bapak?" ucap indah yang yang mengulurkan tangannya dengan memegang dompet. Pria itu langsung menengok dan membuka kaca mata hitam yang dia kenakan hingga memperlihatkan wajah tampannya. "Ah."
Pria itu langsung memeriksa saku celananya dan berkata. "Dompetku juga nggak ada tapi coba aku periksa dulu ya di dalamnya."
Pria itu mengambil dompet yang Indah serahkan kepadanya dan langsung membukanya. terlihat jelas ada KTP di dalamnya yang bernama Steven Prasetyo pria berusia 30 tahun.
"Iya benar ternyata ini dompetku." Ucap Steven dia langsung mengambil beberapa uang dan memberikan kepada indah. "Ah nggak usah Pak." Ucap Indah menolak.
"Kamu mau kemana? Biar aku antar." Tanya pria itu menawarkan Indah tumpangan. "Nggak usah Pak ini aku lagi menunggu ojek. Sebentar lagi sampai kok." Ucap Indah.
"Ya sudah terima kasih untuk dompetnya. Aku duluan ya." Ucap pria itu sambil tersenyum manis. Indah mengangguk dan membalas senyumannya lalu pria itu masuk ke mobilnya dan pergi.
Pria yang sangat ramah. Andai saja Mas Randy bisa bersikap seperti itu padaku. Gumam Indah.
Setelah ojeknya sampai Indah langsung menaikinya dan pulang rumah.
Sampainya di rumahnya langsung mengetuk pintu dan mengucapkan. "Assalamualaikum Mah." Ibunya pun yang mendengar dari dalam langsung membukakan pintu dan menjawab salamnya. "Walaikumsalam sayang." Mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kebetulan kamu sudah datang Ayo kita makan bareng." Ucap ibunya yang menyuruh Indah makan karena dia juga baru saja ingin memulai makan malamnya, Indah mengangguk dia pun duduk bersama ibunya di meja makan dan mengambil nasi dan beberapa lauk di depan matanya.
"Apa kamu ada masalah sama Rendi?" tanya ibunya sambil mengunyah. Indah menjawab. "Nggak kok Mah."
"Kamu jangan tutupin semuanya sama Mamah sayang. Dan Mamah lihat badan kamu kurusan apa kamu sakit?" tanya ibunya yang memperhatikan anaknya tapi Indah selalu menutupinya karena dia takut dengan kondisi ibunya yang baru saja sembuh.
"Nggak Mah. Aku kalau ada apa-apa pasti bakal cerita sama Mamah. Mamah tenang saja ya." Ucap Indah sambil memegang tangan ibunya.
Setelah selesai makan Indah masuk ke kamar ibunya untuk mengambil ponselnya miliknya. Ketika dia hendak mengambil ponselnya, ponsel lama Indah ada yang menelepon dari nomor yang tidak dikenal. Indah langsung menjawab panggilan itu.
"Hallo selamat malam apa ini dengan Mbak Indah Permatasari." Ucap seorang pria dari telepon Indah.
"Iya benar dengan saya sendiri. Maaf ini dengan siapa ya?"
Tiba-tiba ibunya Indah masuk kekamar dan bertanya saat Indah selesai menelepon "Siapa yang menelpon sayang?" tanyanya, "Kantor koperasi Mah, aku lupa untuk membayar asuransi perbulannya," jawab Indah.
"Sejak kapan kamu pinjam uang di koperasi?" tanya ibunya yang tidak mengetahuinya. Indah pun menjelaskan kalau dulu dia pernah meminjam uang koperasi untuk biaya kuliah.
"Sayang maafin Mamah ya. Dari dulu nggak pernah bisa mencukupi kebutuhan kamu." Ucap ibunya merasa sedih dan merangkul pundak anaknya.
"Mama nggak boleh ngomong kayak gitu. Mamah nggak usah khawatir nanti aku akan melunasinya kok." Ucap Indah dan mengambil ponselnya lalu keluar dari kamar ibunya.
***
__ADS_1
Sementara itu Rendi pergi ke apartemennya untuk menemui Siska untuk memberitahu masalah hubungannya namun dia terkejut ketika melihat pipi kanan Siska yang merah bekas tamparan tadi sore. Dia pun langsung bertanya, "Pipi kamu kenapa?" tanya Rendi sambil memegang pipi Siska.
"Ini semua gara-gara ibu kamu. Masa tiba-tiba aku di tampar emang aku salah apa?" Tanya Siska.
"Aku tidak tahu kalau mamah sampai segitunya ke Siska." Ucap Rendi dalam hati.
"Eemm Sis. Kayaknya hubungan kita enggak bisa diterusin deh." Ucap Rendi sambil memegang tangan Siska. Siska langsung menjawab. "Maksud kamu kita putus?" tanya Siska.
"Iya. Maaf Sis aku bingung harus bagaimana lagi." Ucap Rendi dia pun duduk. Siska menolak. "Aku nggak mau putus sama kamu. Kamu nggak cinta lagi sama aku ya?" tanya Siska yang kemudian memeluknya.
"Bukan gitu Sis ya mungkin memang ini adalah pilihan yang terbaik."
"Terus gimana masalah mobil? Bukannya kamu bilang minggu depan ingin membelikan aku mobil?" tanya Siska menagih janji kepada Rendi. "Kalau masalah mobil kamu tenang saja, aku pasti akan belikan. Tapi sebaiknya mulai besok kamu jangan tinggal di apartemenku lagi ya. Aku takut mamah tau." ucap Rendi
"Kamu ngusir aku Ren. Kamu jahat!" Ucap Siska dengan marah. "Kamu emang mau diapain lagi sama Mamah? "Siska pun menggelengkan kepalanya. "Ya sudah aku pulang ya." Rendi bangun namun tangannya di pegang oleh Siska yang mencoba menghentikannya, "Terus Ren kalau misalkan aku butuh sesuatu apa kamu bisa belikan?"
"Maaf Sis aku nggak bisa." Ucap Rendi tersenyum dan mengelus rambut Siska diapun berjalan keluar apartemennya.
"Apa-apaan Rendi, Dateng cuma buat mutusin doang. Ah pasti ini semua gara-gara istrinya yang ngadu ke ibunya Rendi." Gerutu Siska.
***
Dia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil sambil menatap langit-langit di kamarnya.
__ADS_1
Kenapa aku lupa kalau aku punya hutang di koperasi. Kemarin kan uang dari mas Rendi sudah ku kirim untuk membayar hutang ke Nella terus sekarang aku harus melunasi uang koperasi itu dari mana? gumamnya.