
"Astaghfirullah!" Rio yang melihat keadaan istrinya sontak panik, ia mengambil dua handuk pada gantungan didekat shower untuk dililitkan pada tubuh istrinya, dan satu handuk lagi ia lilitkan di atas perutnya sendiri.
Segera Rio angkat tubuh Wulan dan membawanya keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamar inapnya.
Santi yang tengah duduk di luar kamar inap langsung berdiri dan terperangah melihat anaknya berlari tergesa-gesa menuju ruangan bersalin.
"Rio! Wulan kenapa?"
Kepanikan Rio hingga melupakan segalanya, Rio sampai tak sadar jika saat dirinya masuk ke ruang bersalin, lilitan handuknya terlepas begitu saja.
"Astaga Rio!"
Santi yang melihat penampakan bokong polos anaknya sekilas langsung berlari, ia memungut handuk itu di lantai dan ikut masuk ke ruang bersalin.
"Dokter! Dokter! Wulan mau melahirkan!" pekik Rio.
Sebelum Dokter dan dua Suster wanita itu menoleh pada Rio, Santi lebih dulu menyelamatkan harga diri anaknya. Ia segera memilitkan handuk di atas perut Rio.
Rio hanya melihat sekilas pada Santi dengan apa yang ia lakukan. Jujur saja, yang terpikir dalam benaknya hanya keselamatan istri dan kedua anaknya, dan yang lainnya ia lupakan begitu saja.
"Baringkan Mbak Wulan ke sini, Pak!" titah Dokter seraya menunjuk tempat tidur khusus untuk ibu melahirkan.
Rio mengangguk, lantas dirinya membaringkan tubuh Wulan di sana dengan hati-hati. Ia juga duduk di kursi kecil yang sudah disediakan didekat tempat tidur itu.
"Ibu keluar dulu." Sang Suster mengusir Santi untuk keluar, biarkan suaminya saja yang menemani istrinya melahirkan.
Tanpa menjawab, Santi segera keluar sambil berdo'a dalam hati untuk kelancaran proses kelahiran cucunya.
Lindungi Wulan dan kedua cucuku ya Allah. Beri kelancaran dalam proses persalinan dan semoga mereka baik-baik saja' batin Santi.
Dokter menarik hordeng untuk penghalang dari perut sampai tubuh bagian bawah Wulan, biar ia dan Suster yang mampu melihatnya. Dokter itu membuka kedua paha Wulan dengan lebar, mengangkat kakinya supaya jalan sang bayi lebih mudah.
Dokter sampai tidak sempat mengecek tekanan darah dan jantung, karena keadaannya sekarang sangat darurat. Terlebih lagi kepala bayi sudah menyangkut pada inti tubuhnya, tentu itu membuat Wulan ngilu.
"Baik, Mbak. Ini sangat mudah. Tarik nafas dan perlahan buang."
Wulan mendengar aba-aba dari Dokter, ia melakukan apa yang Dokter katakan. Salah satu tangannya memegangi besi ranjang dan satunya lagi mengenggam tangan Rio. Ralat, bukan mengenggam, lebih tepatnya mencengkeram karena terlalu kuat.
"Bismillahirrahmanirrahim, dorong, Mbak!" titah Dokter.
"Dorong Wulan!" ucap Rio memberikan semangat.
__ADS_1
"Eeeughh ...." Wulan langsung mengejen sekuat tenaga. "Huh ... huh." Tarikan nafasnya sudah naik turun, sakit dan linu pada bagian inti tubuhnya sampai mati rasa.
"Sekali lagi, Mbak!" titah Dokter.
"Ayok Wulan!" Rio ikut-ikutan meringis dan mengatur nafas, tapi ia begitu antusiasnya memberikan dukungan pada istrinya.
"Eeuuughhh ...." Wulan kembali mengejen, seakan mendorong bayinya untuk keluar. "Sakit!!" pekiknya.
"Sekali lagi, Mbak!" seru Dokter.
"Ayok sekali lagi Wulan!" Rio mengecup bibir Wulan sekilas, menurutnya itu akan membantu mempermudah proses melahirkan.
"Eeuughh ... aaarrrgghh ...." Erangnya seraya memeras telapak tangan Rio, kekuatan yang amat besar itu membuat Rio sedikit meringis.
"Oe ... oe ... oe."
Isakan tangis sang bayi begitu mengema pada ruangan itu, menandakan bayinya sudah lahir.
"Alhamdulilah," ucap Dokter dari balik hordeng.
"Alhamdulilah ya Allah." Rio mengusap wajahnya. "Bayinya laki-laki atau perempuan, Dok?" tanya Rio dengan mata berbinar.
"Laki-laki," jawab Dokter.
Ingin menarik lengan, tapi bahu yang berhasil Wulan raih. Ia kembali mencengkeram tubuh bagian atas suaminya yang tanpa sehelai benang itu, seakan menjadikan Rio sebagai pereda nyerinya.
"Sakit, Mas!" pekik Wulan sambil meringis kesakitan, ia merasakan mulas untuk kedua kalinya.
"Iya, Manis. Aku mengerti ... tetap semangat!" Rio menyeka air mata yang baru saja mengalir pada sudut mata istrinya.
"Kita mulai lagi, Mbak. Adiknya menyusul," ucap Dokter.
"Siap Dokter!" jawab Rio penuh semangat yang membara.
"Tarik nafas ... lalu buang," ucap Dokter.
"Tarik nafas lalu buang, Wulan!" Rio mengucapkan kalimat yang sama, padahal Wulan juga mampu mendengarnya.
Wulan kembali menarik nafasnya kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Dorong, Mbak!" titah Dokter.
__ADS_1
"Ayok dorong Wulan!" suporter Rio terus saja memberikan semangat, ia juga menyempatkan untuk sesekali mencium bibir istrinya.
Tiba-tiba, Rio merasa bahunya terasa pedih karena ulah cengkraman istrinya. "Aw ... aw! Sakit!" rintih Rio.
"Eeeuugghh ...," erang Wulan sekuat tenang, tengkuk Wulan sampai ikut menekuk. Ia meremas kuat besi ranjang dan satu tangannya kini berpindah posisi, dari mencengkeram bahu kini naik pada leher Rio. "Eeugghh ...."
"Aakkhhh! Sakit, Wulan!" Rio yang merasa tercekik, mencoba melepaskan cengkraman salah satu tangan istrinya. Namun sayangnya Wulan tidak mengetahuinya, ia bahkan tidak melihat ke arah Rio di samping, pandangannya di atas langit-langit ruangan itu.
Rasa mulas itu kembali ada dan ingin mengejen lagi. "Eeugghh ....," erangnya sekuat tenaga.
Dorongannya membuat bayi kedua mereka keluar dengan selamat. "Oe ... oe ... oe."
"Alhamdulilah," ucap Dokter penuh syukur.
"Huh ... huh ... huh." Wulan mengatur nafasnya naik turun, ia menoleh pada Rio. Wajah pria tampan itu sudah memerah lantaran tercekik.
"Oe ... oe ... oe." Dua suara isakan bayi itu kembali menggema, membuat Rio dan Wulan menggembungkan senyuman terindahnya.
Alhamdulilah, terima kasih ya Allah' batin Rio.
"Sa-sakit," lirih Rio seraya memandangi wajah Wulan dengan memelas. Sebab, Wulan masih mencekik lehernya. Mengetahui hal tersebut, Wulan langsung melepaskan cengkramannya. "Uhuk ... uhuk!" nafas yang tadinya tersendat, kini bisa lancar lagi.
Astaga, aku hampir saja mau mati' batin Rio.
Ia memegangi leher yang terasa sakit, tenggorokannya sampai kering kerontang.
Rio menurunkan dirinya dari kursi seraya sujud syukur. "Terima kasih ya, Allah. Aku sudah menjadi seorang Ayah."
Setelahnya, Rio berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah Wulan, ia mengecupi seluruh wajah istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Terima kasih, terima kasih Manisku. Kau telah melahirkan dua anak sekaligus untukku. Aku mencintaimu, Wulan." Leher yang tercekik tadi langsung ia lupakan begitu saja, yang ia ingat hanyalah kebahagiaan.
Wulan mengangguk, tubuhnya sudah lemas tak bertenaga. Wajahnya begitu pucat, namun hebatnya semua sudah bisa Wulan lalui, meskipun pagi ini ia belum sarapan.
"Kenapa? Kenapa denganmu?" Rio melihat Wulan seperti tengah kesusahan mengatur nafasnya, ia juga memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Se-sak," jawabnya terbata.
"Dok! Wulan sesak nafas!" pekik Rio cemas.
Salah satu Suster buru-buru menghampiri mereka sembari mendorong tabung oksigen. Ia segera memasangkan ventilator pada mulut dan hidung Wulan.
__ADS_1
"Pak Rio, silahkan Bapak boleh keluar dulu. Dokter akan menangani keadaan Mbak Wulan." Tangan Suster itu mengarah pada pintu ruangan.
Jangan lupa like 💕