
"Kenapa? Apa sakit?" tanya Rio cemas. Ia ikut memegangi perut buncit istrinya.
"Iya, Mas. Huh ...." Wulan membuang nafasnya dengan berat. "Mungkin efek bercinta kali, Mas. Jadi kram dan sakit."
"Maaf ... apa tadi aku mainnya kasar? Aku terbawa suasana Manis." Rio mengecup dahi istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas." Wulan mengangkat tubuhnya untuk bangun, ia meraih baju tidurnya yang berada di ujung kasur, kemudian memakainya.
"Kau mau kemana?" tanya Rio saat Wulan beranjak turun dari kasur dengan masih memegangi perut.
"Aku ingin mandi, Mas. Mas Rio memang tidak mau mandi?"
"Mau, tapi kita tidak istirahat dulu? Kita istirahat sebentar, bukannya kau capek?" Rio menarik lengan istrinya, supaya kembali untuk duduk di atas kasur.
"Badanku lengket, aku tidak betah. Perutku juga tidak nyaman rasanya." Wulan kembali berdiri.
"Eemm ... yasudah, ayok mandi bersama. Tunggu sebentar." Rio ikut bangun dan memungut celana boxernya di lantai, segera ia pakai dan keluar dari kamar bersama Wulan.
"Kalian baru bangun?" tanya Wahyu saat bertemu Wulan dan Rio di dapur, ia tengah merebus bakso pada panci besar.
"Iya, Ayah," jawab Rio.
Wahyu memperhatikan wajah Wulan, terlihat begitu pucat dan seperti kelelahan. Wanita itu masih memegangi perutnya.
"Kamu kenapa? Sakit? Perutmu sakit?" Wahyu mendekati Wulan dan ikut memegangi perutnya.
"Perutku kram Ayah, sakit juga," jawabnya.
"Apa ada mulesnya?" tanya Wahyu lagi.
"Mules? Seperti mau berak maksud Ayah?"
"Iya."
"Tidak, memang kenapa Ayah?"
"Tidak kenapa-kenapa, takutnya kamu mau melahirkan saja."
"Melahirkan? Masa sih?" Wulan menundukkan kepalanya, memandangi perutnya, merasa tak yakin.
"Usianya sudah 9 bulan, kan?" tebak Wahyu, dan langsung di anggukkan oleh mereka berdua.
"Apa jangan-jangan kamu beneran mau melahirkan?" sekarang giliran Rio yang menebak, menoleh pada Wulan yang menatapnya dengan wajah binggung. "Ayok mandi dulu, habis ini kita ke rumah sakit."
"Tapi, Mas. Aku ...." Wulan belum sempat meneruskan ucapannya, tapi tangannya sudah ditarik oleh Rio, mengajaknya masuk ke kamar mandi untuk mandi bersama.
__ADS_1
*
"Mas Rio, Mas Rio sedang apa?" Wulan masuk ke kamarnya. Ia melihat suaminya tengah sibuk mengemasi pakaian bayi yang sempat dikirim oleh Santi seminggu yang lalu. Memindahkan dari lemari, ke dalam koper.
"Kan kamu mau melahirkan, kita harus bawa pakaian si Kembar. Mereka 'kan lahir telanjang Wulan, nanti kedinginan bagaimana? Kasihan dong." Rio masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Tapi, Mas. Aku merasa ... aku belum mau melahirkan."
"Kita ke rumah sakit dulu saja, siapa tau kamu memang mau melahirkan." Rio telah selesai, ia mendorong koper dan merangkul bahu istrinya mengajak keluar kamar dan keluar rumah.
Rio melihat Wahyu sedang mengelap kaca gerobaknya, ia menghentikan langkah. "Ayah, kok Wulan mau melahirkan Ayah malah jualan. Libur sehari dulu dong!" pinta Rio dengan kesal.
Wahyu menoleh pada Rio, ia juga menghentikan aktivitas mengelapnya. "Jadi benar Wulan mau melahirkan? Ya sudah. Tunggu sebentar ...." Wahyu menutup kembali kiosnya dan berlari untuk mengunci pintu rumah.
Mereka sama-sama melangkahkan kakinya menuju jalan raya, mereka berdua saling merangkul bahu Wulan.
Tangan Rio melambai pada taksi yang baru saja lewat, namun setelah taksi itu berhenti Wahyu langsung masuk dan duduk di kursi belakang. Ia juga menarik lengan Wulan.
"Ayah kok duduk di belakang? Ayah di depan aja," tolak Rio.
"Kamu saja di depan, Ayah mau bersama Wulan. Nanti kalau Wulan merintih kesakitan, Ayah bisa meredakannya."
"Apanya yang bisa meredakan? Aku saja, aku 'kan suaminya." Rio tak mau mengalah, ia menepis tangan Wahyu dari lengan Wulan.
"Kau tidak tau rasanya orang mau melahirkan Rio, kau tidak akan mengerti." Wahyu menggelengkan kepala.
"Bukan itu maksud Ayah, tapi--"
"Maaf, kalian ini jadi naik atau tidak?" tanya sang sopir taksi, ia menoleh pada Rio dan Wahyu yang tengah berdebat merebutkan tempat duduk.
"Jadilah!" jawab Rio dan Wahyu berbarengan.
"Ayah sana pindah ke depan cepat! Nanti anakku keburu keluar Ayah!" pinta Rio dengan nada memaksa, ia mencoba menarik lengan Wahyu, tapi terlihat kesusahan.
"Mas Rio dan Ayah di belakang saja, biar aku duduk di depan," ucap Wulan mengalah.
"Eh jangan!" Rio dan Wahyu kembali berkata secara bersama.
"Kita duduk bertiga saja Rio, ini muat kok," saran Wahyu, ia menggeserkan bokongnya agak nyelip didekat pintu.
"Nanti Wulan enggap Ayah! Dia--"
"Tidak! Ini muat, percaya sama Ayah!" sergah Wahyu, kini tangannya berhasil menarik Wulan untuk duduk di sebelahnya.
Dengan berat hati Rio ikut masuk juga, karena ia juga sama-sama tidak mau mengalah. Ternyata yang di ucapkan oleh Wahyu tidak benar, mereka justru berdesakan di belakang kursi mobil itu.
__ADS_1
"Apa pinggangmu sakit? Sini Ayah bantu mengelusnya," kata Wahyu seraya menyentuh pinggang anaknya.
"Apa kau sudah merasa mules?" tanya Rio, ia menyentuh perut istrinya.
"Mas Rio, Ayah. Sepertinya aku belum mau melahirkan," jawab Wulan. Ia sendiri memang tidak merasakan tanda-tanda yang tadi disebutkan, dan perutnya sekarang baik-baik saja, tidak kram ataupun sakit.
"Kata Rio kamu mau melahirkan tadi?"
"Iya, Wulan mau melahirkan kok. Mangkanya kita ke rumah sakit dulu." Rio yang menjawab pertanyaan dari Wahyu.
Kalau ternyata aku belum mau melahirkan bagaimana? Kok aku yang mau melahirkan, mereka yang ribet gini' batin Wulan.
"Oh, semoga saja kamu melahirkan normal. Sebentar ... Ayah potong dulu kukumu." Wahyu mengambil gunting kuku yang sempat ia bawa, Wahyu merogoh ke dalam kantong celana.
"Untuk apa memotong kuku? Memang berpengaruh?" tanya Wulan binggung.
"Kukumu agak panjang. Takutnya saat kamu melahirkan nanti, wajah Rio kamu cakar-cakar." Wahyu sudah memotong kuku jempol Wulan dan beralih pada kuku jari telunjuk.
"Kenapa aku cakar wajah Mas Rio? Memangnya dia akan ikut saat aku melahirkan nanti?"
"Iyalah aku ikut, masa aku tidak menemanimu," sahut Rio. Ia mengambil ponselnya pada saku jas untuk menghubungi ibunya.
"Halo, Mamah."
"Halo, iya Rio."
"Mah ... Wulan mau melahirkan, sebentar lagi cucu kembar Mamah lahir ke dunia!" ucap Rio penuh antusias.
"Benarkah? Lalu sekarang kau di rumah sakit mana? Mamah akan segera menyusulmu."
"Nanti aku kirim alamatnya." Rio menutup sambungan telepon dan mengirimkan alamat lewat pesan pada Santi.
Sampainya di rumah sakit, Rio langsung mengendong Wulan, membawanya menuju ruangan bersalin.
"Bapak sudah daftar belum?" tanya Suster yang baru saja keluar dari pintu ruangan itu, melihat Rio dan Wahyu ingin masuk ke dalam.
"Belum, Sus," jawab Rio.
"Bapak daftar dulu, istri Bapak mau melahirkan, kan?"
"Iya."
"Biar Ayah saja yang mendaftarkannya, kau bawa Wulan masuk," titah Wahyu yang langsung di anggukan oleh Rio.
Rio membuka pintu ruangan itu, segera ia rebahkan Wulan ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Wulan terlihat diam dan begitu pasrah, padahal aslinya ia bertanya-tanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Apa beneran aku mau melahirkan?
Jangan lupa like 💕