
"Riz kita mau kemana? Kau tidak akan mengajakku main di hutan kan?" Tanya Anna, dia ini apaan sih. Siapa coba yang mau ngajak dia main di area seperti ini.
"Tidak. Lu diam aja sih jangan bawel!"
Gue masih tetap konsentrasi mengikuti mobil itu, dan sampai akhirnya mobil itu berhenti di tengah jalan. Gue memundurkan mobil gue agak jauh, supaya mereka tidak menyadari gue mengikutinya.
Dua pria kekar keluar membopong tubuh Rendi, semakin terlihat kalau itu beneran Rendi. Tapi yang lebih mengejutkan lagi. Gue lihat seorang wanita yang ikut keluar di pintu belakang mobil.
Wanita berambut panjang, dia memakai dress merah ketat dan sepatu high heels. Bodynya macam gitar Spanyol, gue kayak kenal itu wanita. Tapi gue masih belum yakin, karena wanita itu memakai masker dan kaca mata hitam. Lagian sudah malam juga, jadi tidak terlihat jelas.
Wanita itu membuntut di belakang kedua pria kekar yang masih mengangkat tubuh Rendi, mereka berjalan ke area hutan. Gue nggak bisa tinggal diem kayak gini, gue juga ikut membuntutinya, gue pun keluar dari mobil.
"Riz kamu mau kemana? Masa aku di tinggal sendirian. Aku takut." Ucap Anna dengan manja seraya ikut keluar mobil, ribet sekali dia ini.
"Ya udah ikut, nggak usah bawel." Sahut gue.
Gue berjalan agak menjauh dan melewati beberapa pepohonan. Mereka yang di depan untungnya tidak menoleh ke belakang sama sekali. Gue berhasil mengikuti mereka sampai ke gubuk kayu di tengah hutan.
Mereka berempat masuk dengan Rendi dan langsung mengunci pintu. Gue ingin masuk juga rasanya, tapi gue nggak berani ambil resiko. Gue terpaksa memantaunya dari jauh.
Gue berdiri di sekitar pondok itu, tepat di dekat gubuk. Banyak nyamuk yang mengigit tangan gue, si Anna juga sibuk menepuk nyamuk. Dia juga merasa di gigit mungkin.
"Riz, kita ngapain sih di sini? Seluruh tubuhku di gigit nyamuk nih. Kamu nggak kasihan sama aku." Ucap Anna di sebelah gue dengan memelas.
"Bawel lu An, diem kenapa sih. Kan lu udah gue bayar." Gue merasa sangat kesal padanya. Kaki gue juga kesemutan lama-lama berdiri.
Akhirnya gue duduk jongkok, Anna juga ikutan jongkok. "Riz... Kan kamu bayar aku buat memuaskan kamu, kenapa kamu malah ngajak aku di sini sih?"
Si Anna super bawel, dia emang nggak ngerti apa dari tadi gue ngikutin temen gue. Gue menghela nafas.
"Anna... Gue emang niat bayar lu buat bercinta, tapi kondisinya sekarang genting. Temen gue tadi di bawa sama orang asing dan di taruh di gubuk itu. Lu liat kan... Itu gubuk." Tutur gue sambil menunjuk pada gubuk kayu itu, Anna mengangguk. Semoga dia paham dan nggak nanya-nanya lagi.
"Oh jadi kamu mau menyelamatkan temen kamu Riz?"
"Iya itu paham. Mangkanya otak di pakai! Jangan burung cowok aja yang ada di otak lu." Gue tunjuk-tunjuk jidat Anna.
30 menit berlalu gue dengar suara orang teriak-teriak, tapi seperti suara laki-laki. Apa itu Rendi? Kenapa dia. Gue berdiri, kaki gue sudah berusaha melangkah, tapi gue urungkan. Setelah beberapa menit.
BOM!!!
Mata gue dan Anna terbelalak karena melihat kobaran api yang begitu dahsyat di gubuk itu.
"Kebakaran Riz!" Ucap Anna.
__ADS_1
Wanita dan dua orang pria kekar itu keluar dari gubuk kayu. Gue menarik tangan Anna dan mulai bersembunyi di balik pohon. Supaya mereka tidak bisa tahu posisi gue.
Setelah wanita dan para kacungnya pergi dan benar-benar menghilang. Gue langsung lari terbirit-birit menuju pintu pondok. Gue dobrak pakai kaki gue. Dan pintunya pun ambruk dan banyak kayu yang sudah terbakar.
"Ren..... Rendi."
Gue panggil si Rendi, tapi gue tidak melihat wujudnya, panas sekali di sini. Semua isi ruangan juga hampir terbakar. Jangan bilang Rendi sudah hangus dan menjadi abu gosok.
Mata gue berkeliling, dan akhirnya gue lihat kedua kaki yang tertimpa beberapa kayu, hampir seluruh tubuhnya tertimpa. Gue langsung menggeser kayu itu. Dan ternyata itu Rendi, dia berlumuran darah. Mungkin bisa di bilang mandi darah.
Tubuhnya di ikat kuat. Gue langsung membuka ikatan itu dari tangan dan kakinya.
Gue angkat kepalanya, gue tempelkan telinga kiri gue ke dadanya, masih berdenyut tapi lemah. Gue periksa denyut nadinya dan masih terasa walau samar-samar. Gue langsung mengangkat tubuhnya, tapi tiba-tiba gue mendengar suara beberapa kayu dari atas.
Kepala gue mendongak keatas, lalu tiba-tiba dari atas, ada kayu yang hendak terjatuh.
"Aaaaaa......" Gue menjerit, dan berusaha menghindar dengan reflek gue menutup mata.
Brukkkk.....
Perlahan gue membuka mata, dada gue sedikit lega. Syukurlah gue tidak kena.
Tapi kayu itu......
Gue langsung menggeser kayu itu, namun sayang! Wajah Rendi sudah keburu gosong dan berdarah terkena luka bakar.
"Ya Allah Ren... Kasih banget lu."
Serangan apinya begitu dahsyat, gue nggak sanggup lama-lama di sini.
Gue berjalan tergopoh-gopoh mengangkat tubuh Rendi untuk keluar dari neraka ini, walau tubuh kita berukuran sama. Tapi kalau caranya membawa dia pingsan begini, dia terasa begitu berat. Untungnya ada Anna, setidaknya dia bisa membantu gue menyetir mobil untuk membawa Rendi ke rumah sakit.
S
K
I
P
Sampainya di rumah sakit gue langsung membawanya ke UGD, tapi mendadak Rendi sadar sebelum ranjang pasien itu berhasil masuk ke ruang UGD.
"Riz... Ap-apa ini lu?" tanya Rendi, wajahnya begitu buruk rupa. Gue sampai tidak sanggup menatapnya. Dia terlihat seperti zombie, cuma bedanya dia tidak berwarna hijau.
__ADS_1
"Iya ini gue Ren."
"To-tolong, se-lamatkan gue Riz. Ja-jangan kasih ta-hu ke-luarga gue... Gue mo-hon raha-sia kan, sam-pai gu-gue sa-dar."
Rendi langsung jatuh pingsan, dia juga berbicara dengan terbata-bata.
Dokter langsung menanganinya di UGD, gue berdo'a semoga Rendi baik-baik saja. Kasihan juga kalau Rendi mati, Indah akan jadi janda muda. Arwah Rendi akan gentayangan nantinya, dan akan mengusik suami baru Indah.
Gue sangat kenal Rendi. Dia kalau sudah cinta sama seseorang itu, begitu dalam. Tapi gue masih binggung siapa yang tega lakukan ini padanya? Apa Rendi punya musuh? Gue juga nggak tahu.
Gue duduk di kursi panjang bersama Anna.
"Anna lu pulang saja gih. Udah malam." Ucap gue mengusir nya.
"Sudah mau pagi Riz, ini mah." Sahut Anna.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^
__ADS_1