Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 9. Tidak sopan!


__ADS_3

"Kamu penculik anakku kan? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu sudah di penjara sama Mamah. Apa kamu kabur?"


Apa yang dia bicarakan ini? Lucu sekali, dia masih menganggap ku penculik anak hasil keringat kita. "Tidak, aku....."


"Vinno kau panggilkan satpam." Indah memegang tangan laki-laki di sampingnya dengan menyela ucapan ku, ah tunggu dulu. Vinno? Dia laki-laki itu yang mencoba mendekati Indah di taman itu kan.


Sebelum si Vinno berjalan. Aku menghentikan lengannya, "Aku bukan seorang penculik, aku......"


"Indah...." Ucap Rizky tiba-tiba, kenapa semenjak aku menjadi orang lain. Banyak sekali orang yang selalu menyela ucapan ku. Padahal aku tidak suka, tidak sopan!


"Gue Rizky, apa lu masih inget sama gue?" Rizky mengulurkan tangannya, apa maksudnya ini. Dia mengajak Indah berkenalan di depan suaminya?


"Rizky?" Indah seperti sedang mengingat-ngingat dan membalas uluran tangannya, dengan cepat aku melepaskan tangan Rizky dari tangannya.


"Iya gue Rizky temennya Rendi." Tutur Rizky lagi.


"Oh iya, maaf Pak. Saya lupa." Indah berkata dengan nada merendah, tapi tadi bicara denganku tidak seperti itu. Kenapa aku sangat kesal jadinya.


"Aku Reymond...." Aku langsung mengenalkan diriku dan memegang tangannya, tangannya begitu halus. Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Indah mengenakan dress model kemeja, berwarna hitam kotak-kotak. Banyak kancing di bajunya, dari atas sampai bawah. Eh tunggu dulu. Aku melihat buah dadanya, wah mantap sekali. Sekarang sudah menjadi lebih besar. Mungkin efek sudah punya Bayu.


Body nya juga sangat bagus, kenapa istriku ini tambah menggoda aja. Ingin rasanya aku meremas sesuatu yang menonjol itu, ah kalung. Aku melihat kalung di lehernya, apa kalung dariku dia pakai? Tapi kok tidak ada berliannya? Prasaan aku memesan kalung bukan yang seperti itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Indah dengan tiba-tiba dan melepaskan genggaman tanganku.


Aku menelan saliva ku. "Tidak... Aku tidak lihat apa-apa." Aku langsung melihat kearah wajahnya, mungkin dia merasa aku pria yang tidak sopan.


"Jangan pernah melihatku seperti itu, itu tidak sopan!" Dia mendengkus kesal, duh maafkan aku sayang. Suamimu ini benar-benar mesum.


"Tidak... Aku tidak melihat apa-apa, maafkan aku." Aku tersenyum kecil padanya, tapi wajah Indah begitu kecut seperti ketek kambing. Padahal kalau senyum dia sangat manis mengalahkan madu.


"Maafkan teman gue Indah, dia kadang suka khilaf. Tapi dia pria yang baik dan sopan kok." Mantap sekali ucapan mu Riz.


"Jadi Bapak ada perlu apa? Apa mau bertemu Papah.... Maksudku Pak Mawan."


Dia meralat ucapannya, tapi kok dia ada di kantor Papah? Apa Indah sekarang bekerja di sini? Kenapa? Apa hartaku yang aku tinggalkan sudah habis?


"Iya Ndah. Apa Papah mu ada? Gue ada perlu dengannya,"


"Ada Pak. Mari saya antar." Ucap Indah dengan sopan, seraya berjalan di depan kita.


Aku dan Rizky mengikutinya dari belakang. Ah bokongnya menggoda sekali, membuat junior ku bangun saja. Sesekali aku melirik ke arah Rizky untuk memastikan dia jangan sampai melihatnya juga, Rizky mengalihkan pandangannya, bagus deh karena itu aset milikku.


Tok.... Tok.... Tok.


"Pah....." Sapa nya di depan pintu, suaranya lembut sekali, aku benar-benar jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"Masuk sayang."


Ceklek....


Kita bertiga kini masuk ke dalam, Papah tengah duduk di kursi putarnya sambil melihat majalah para modelnya.


"Pah... Ini temannya Mas Rendi, katanya ada perlu sama Papah." Wah dia memanggil namaku, iya sayang aku di sini.


"Oh Rizky, apa kabar kamu?" sapa Papah yang melirik kearah Rizky, Indah berjalan keluar ruangan dan membuat leherku seakan ikut berputar melihatnya berjalan.


Ingin sekali aku mendekapnya dari belakang, aku rindu sekali padamu sayang.


Brakkkk..... Aku terkejut, tiba-tiba ada mengebrak meja.


Aku langsung membenarkan posisi leher dan melihat ke arah depan. "Hei apa yang kau lihat? Tidak sopan!" Papah benar-benar terlihat sangat marah, dan menunjuk-nunjuk wajah tampanku.


"Maaf Pak, saya hanya melihat anak Bapak. Dia.... Dia ca-cantik sekali." Aku sudah mulai gelagapan. Bingung harus jawab apa.


Pertama Indah, kedua Mamah dan sekarang Papah. Kenapa mereka menjadi galak padaku, ah ini semua gara-gara wajah ku. Sepertinya wajah baruku pembawa sial!


"Dia asisten barumu Riz?" tanya Papah menatapku sinis.


Apa katanya? Ini anakmu yang selalu kau puji Pah. Tapi sekarang Papah menganggap aku asisten? Aku mengela nafas. Sabar-sabar Rendi.


Tidak apalah, dari pada Mamah dan Indah yang menganggap ku seorang penculik, penculik anakku sendiri. Terdengar sangat lucu.


"Duduklah." Papah mempersilahkan kami duduk, aku duduk di samping Rizky di kursi di depan Papah.


Papah menghela nafas, dan kembali menatapku. "Lain kali jaga pandangan mu, tidak sopan melihat wanita seperti tadi." Ucap Papah dengan nada sedikit merendah.


"Iya Pak, maafkan saya." Aku mengangguk dan kehabisan kata-kata.


Harusnya aku bisa lebih menjaga pandangan, Papah dan Mamah tampak seperti singa sekarang. Tapi aku bahagia, karena mereka begitu menyayangi Indah. Walau aku jadi korbannya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Indah keluar dari pintu ruangan Mawan dan tiba-tiba seorang anak kecil berlari menghampirinya sambil memeluk, "Bunda......"


Indah langsung menggendongnya, "Bayu sayang kamu ke sini. Sama siapa?"


"Omaa Salah dan Encus.." Sarah dan pengasuh Bayu menyusulnya dari belakang dan membawa dua 2 buah Tupperware yang sudah di lapisi plastik di tangannya.


"Indah..."


"Mamah...." Indah langsung memeluk dan mencium tangannya, "Kok Mamah ke sini?"


Sarah mengelus rambut Indah yang panjang itu. "Iya sayang. Mamah bawa bekal makan siang buat kamu dan Vinno." Ucapnya seraya memberikan plastik itu pada Indah.

__ADS_1


"Aku hari ini ada janji makan siang bareng sama Omnya Nella Mah di cafe, kalau tidak makan di sana rasanya tidak enak." Indah terlihat sangat binggung.


"Oh ya sudah kasih Papah mu saja." Sahutnya dengan santai.


"Bayu kamu sudah makan sayang?" tanya Indah seraya mencium pipi anaknya.


"Udah Bunda..."


"Ya sudah kamu makan sekarang di cafe, ini sudah jam makan siang. Bayu biar sama Mamah." Sarah mencoba mengambil Bayu dari gendongan Indah, tapi Indah menolaknya.


"Bayu biar aku ajak saja Mah. Eemmm Mamah juga ikut saja."


"Mamah nggak usah ikut, Mamah langsung pamit saja ya." Sarah mencium kening Indah dan berjalan keluar.


"Hati-hati Mah...." Sarah tersenyum.


Indah di tinggalkan bersama Susi pengasuh Bayu dan Vinno tiba-tiba datang menghampirinya, "Indah tadi Mamah ke sini?" tanyanya seraya mencium kening Bayu.


"Iya. Mamah bawa ini," Indah memberikan kantong plastik itu pada Vinno. "Kasih ke Papah satu ya Vin... Aku ada janji makan siang di cafe." Tuturnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


^^^Jangan lupa like ❤️....^^^


__ADS_2