
Di Rumah Hermawan.
"Indah, kau mau pergi kemana?" tanya Mawan saat melihat Indah tengah mengenggam tangan Bayu, turun dari tangga. Ia juga melihat ada tas selempang pada bahu kanannya.
"Aku mau ke sekolahnya Clara, Pah."
"Kamu jangan pergi kemana-mana, perutmu sudah besar. Papah takut kenapa-kenapa." Mawan mengulurkan tangannya, meminta Indah supaya duduk disampingnya, di ruang keluarga.
Indah menghampirinya, tapi masih berdiri. "Aku sudah beberapa hari tidak keluar rumah, aku bosan. Aku mau lihat Clara ke sekolah, Pah."
"Eemm ... yasudah, kamu sama Papah saja perginya."
"Memangnya Papah tidak kerja hari ini?" Indah memperhatikan Mawan yang mengenakan kaos polos hitam dan celana bahan berwarna abu-abu.
"Tidak, Papah tidak terlalu sibuk di kantor. Mangkanya tidak kerja."
"Tapi ... memangnya Papah serius ingin bertemu Clara? Biasanya Papah tidak pernah mau, kalau aku ajak."
"Kali ini mau. Ayok! Pergi dengan Papah." Mawan bangun dari duduknya, lalu mengendong Bayu dan mengajak Indah keluar dari rumahnya.
"Hole! Bayu mau ketemu Kaka Lala!" ucap Bayu dengan senangnya, ia mengangkat-ngangkat kedua tangannya ke atas.
"Papah!" panggil Rio yang baru saja turun dari taksi dan masuk kedalam gerbang. Mawan yang hendak masuk kedalam mobil saja sampai tidak jadi.
"Mau apa kau?" tanya Mawan dengan tatapan sinis, ia sudah curiga karena melihat Rio membawa map coklat di tangannya. Padahal alasan utama Mawan tidak masuk ke kantor dan ikut menemani Indah adalah ingin menghindari Rio. Tapi pria itu malah bertemu dengannya sekarang.
"Aku bawa surat perjanjian kita." Rio membuka map coklat itu dan memberikan dua lembar kertas pada Mawan.
Indah juga tidak jadi masuk kedalam mobil. Lantas, ia menghampiri Mawan dan Rio. "Surat perjanjian? Perjanjian apa?" tanyanya.
"Perjanjian karena Papah telah memintaku untuk bercerai dengan Wulan, Indah. Papah ingin menjodohkanku dengan wanita lain," papar Rio seraya memberikan satu lembar padanya, supaya Indah bisa membacanya.
...____________...
...Perjanjian Rio dan Hermawan...
Pihak A: Rio Pratama
Pihak B: Hermawan
__ADS_1
Jika pihak B menganggu rumah tangga atau berencana memisahkan istri dari pihak A. Pihak B juga harus siap jika sewaktu-waktu Pihak A melakukan hal yang sama.
Jika semuanya terjadi dan pihak A bercerai dengan istrinya Wulan Priyanka, pihak B juga harus siap untuk menceraikan istrinya Susanti.
Surat perjanjian ini dibuat seadil-adilnya, tanpa merugikan pihak manapun. Jadi, jika ingin bertindak, lebih utamakan untuk mengingat surat perjanjian ini. Supaya tidak menyesal dikemudian hari.
...___________...
Indah membulatkan netranya, saat tau isi dari perjanjian yang berupa ancaman rumah tangga kedua belah pihak, ada tempat untuk tanda tangannya juga diatas materai.
"Kok isi suratnya begini?" tanya Indah seraya mengerutkan kening. Lantas, Mawan mengambil surat itu dan langsung membacanya. Ia sama halnya dengan Indah, membulatkan netranya.
"Kau serius mengancam Papah dengan cara begini Rio? Apa otakmu sudah tidak ada?" geram Mawan.
"Seriuslah, memang Papah pikir aku bohongan?" Rio tersenyum mengejek saat melihat mimik wajah Mawan yang seperti tengah kebakaran jenggot. "Cepat tanda tangan, tidak perlu banyak mikir." Ia memberikan satu lembar surat lagi untuk Mawan, karena nantinya salah satu dari mereka bisa mempunyainya masing-masing.
"Kau taruh saja kedalam, Papah ingin pergi dulu." Mawan hendak masuk lagi kedalam mobil, namun lengannya dipegang oleh Rio.
"Apa susahnya tanda tangan dulu! Aku tadi ke kantor Papah, tapi Papah tidak ada!" tekan Rio memaksa.
"Papah tidak pegang pulpen Rio."
"Kata Papah ini berlebihan Rio, kau sampai bawa-bawa Mamah. Tidak baik, kau 'kan sebagai anak. Masa mau rumah tangga orang tuanya pisah." Mawan berusaha mencari celah.
"Kalau aku sebagai anak tidak boleh melakukan hal itu. Lalu, apa kabar Papah? Sudahlah, aku malas berdebat. Aku mau ke kantor sekarang, Pah."
Dengan berat hati Mawan mengambil pulpen itu dan tanda tangan pada kedua kertas. Kemudian, ia memberikan satu lembar itu ke tangan Rio dengan wajah kesal.
"Terima kasih, Pah. Semoga hari-hari Papah bahagia. Oya ... kalian ingin pergi kemana?" tanya Rio sambil tersenyum bahagia.
"Kita mau--"
"Jalan-jalan!" Mawan dengan cepat menyela ucapan Indah, membuat Indah menoleh pada Papahnya.
"Yasudah, aku pergi dulu kalau begitu." Rio mencium kening Bayu dan melambaikan tangan padanya. Ia keluar dari gerbang dan menaiki taksi yang tadi, yang sempat menunggunya.
Setelah kepergian Rio, Mawan, Indah dan Bayu masuk kedalam mobil. Dengan Irwan yang mengemudi.
"Pah, kok Papah tega sih punya niatan memisahkan Wulan dan Rio?" tanya Indah menatap mata Mawan dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah dibahas. Papah malas."
"Tapi aku tidak mau ya, Papah melakukan hal itu. Wulan dan Rio sebentar lagi punya anak, Pah. Papah akan punya cucu dari mereka, Papah harusnya ingat hal itu," papar Indah.
"Iya ... iya, kamu tidak perlu mengingatkannya, Papah juga tau," jawabnya dengan malas.
***
Mereka sampai di sekolah bertepatan sekali saat dimana murid-murid sedang senam di halaman sekolah. Clara begitu semangatnya mengerakkan tubuhnya sesuai arahan dari sang Guru, lantunan musik senam juga menambah rasa semangatnya pagi ini.
Mawan tersenyum saat melihat Clara yang tengah tertawa bersama teman-temannya, karena sempat saling senggol menyenggol.
Clara memang cantik, seperti Indah.
Wulan membulatkan matanya saat melihat Mawan, Bayu dan Indah berjalan menghampirinya yang tengah duduk. Tiba-tiba perasaannya tidak enak, ia menelan salivanya dengan kelat.
"Indah, Papah, Bayu. Kalian kesini?" tanyanya basa basi dan menarik senyum, ia segera mencium punggung tangan mertuanya. Lalu memeluk tubuh Indah sebentar.
"Kebetulan sekali aku kesini pas Clara senam. Jadi, aku bisa melihatnya, Wulan," kata Indah dengan mata yang berbinar-binar. Pandangannya tidak pernah lepas untuk Clara.
"Iya, Indah," jawab Wulan.
"Bayu mau ikut kecana, Bunda!" pinta Bayu seraya menunjuk barisan murid-murid itu.
"Jangan, kita lihat dari sini saja, Sayang." Indah menggelengkan kepalanya, dan meminta Mawan untuk menurunkan Bayu. Biarkan anak kecil itu berdiri sambil lompat-lompat karena kegirangan.
Mawan menatap wajah Wulan dengan tatapan tidak sehat, ia juga melihat perutnya yang tidak terlihat buncit.
"Papah, apa aku boleh kesana?" tanya Indah seraya menunjuk ke arah barisan murid-murid, karena Bayu menarik tangannya ingin ikut bergabung.
"Boleh, kamu ikut dibelakang saja, ajak Bayu." Mawan menoleh pada Irwan yang berada disebelahnya. "Kau pergi temani Indah."
"Baik, Pak." Irwan mengangguk, ia langsung berlari mengejar Indah dan Bayu.
Mawan ikut duduk disamping Wulan, pada teras depan kelas. Sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan. Mulutnya sudah menganga, tapi ia tutup kembali, karena baru sadar kehadiran Indra yang tengah berdiri disamping Wulan. Sudah macam bodyguard saja, tubuhnya sebelas dua belas dengan Irwan.
"Siapa kau?" tanya Mawan dengan ketus.
"Nama saya Indra Pak Mawan, Saya sopirnya Pak Rio," kata Indra memperkenalkan diri, membungkuk sedikit dengan sopan.
__ADS_1
^^^Kata: 1067^^^