Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 116. Pernikahan Rio dan Wulan ~Dasar Iblis!~


__ADS_3

Hersa dan Harun berada dibelakangnya, getaran ponsel Hersa berbunyi. Ia segera mengangkatnya dan mengangguk-anggukan kepala.


Setelah menerima telepon, ia membisikkan sesuatu pada telinga Reymond sebelah kiri. Membuat wajah pria tampan itu menarik senyum.


Orang yang di tunggu-tunggu Reymond akhirnya datang juga, Andra masuk kedalam rumah dengan Irene, Riana dan Rizky.


Sorotan mata itu tidak pernah lepas dari pandangan mata Reymond, dadanya sudah terasa sesak dan salah satu tangannya sudah mengepal diiringi langkah kaki keempat tamu yang menghampirinya.


Harun mendekat pada telinga Reymond dia seakan mengerti hati dari bosnya itu.


"Pak Reymond, Bapak sabar dulu ... Kita akan beraksi setelah Pak Rio selesai ijab kabul, jangan sampai Bapak mengacaukan acaranya," lirihnya seraya berbisik.


Reymond mengangguk pelan, kini mereka berempat sudah berada didepan mata. Rizky dan Andra menarik senyum menatap matanya.


"Reymond, Mbak Santi," sapa Andra sambil tersenyum.


Ia sama sekali tidak melihat kearah Indah yang berada ditengah. Padahal wanita itu sudah tersenyum manis menatapnya.


Santi hanya mengangkat kedua alis matanya pada Andra.


Reymond memalingkan wajahnya tepat mengarah pada Rizky.


Iblis! Bisa-bisanya kau masih bersikap biasa saja di depanku! Tanganku sudah gatal.


Gerutu Reymond.


Rizky mengelus-elus pundaknya.


Andra merasa ada yang aneh dengan sikap Reymond, tidak ada sapaan bahkan terkesan cuek.


Kenapa dia? Kok wajahnya seperti marah padaku?


Batin Andra.


"Bayu ... Tampan sekali kamu sayang," puji Andra seraya mencium kening Bayu.


"Hai, Dede Bayu," sapa Riana seraya mengelus pipi.


"Hai, Ante Lia," jawab Bayu.


"Om Andra!" panggil Rio dengan nada sedikit berteriak.


Andra langsung berbalik badan menghadap meja besar yang sudah ada Rio dan yang lain.


"Sini, Om!" Rio seolah meminta Andra untuk duduk di kursi ijab kabul bersama dengannya.


Cih! Malas sekali aku melihat tampangnya itu!


Gerutu Mawan, ia seperti masih punya dendam pada Andra. Matanya menatap tajam pada Andra.

__ADS_1


"Irene, aku duduk disana ... Kau disini saja dulu, ya?" pinta Andra seraya melepaskan gandengan tangan Irene.


"Iya," jawab Irena malas.


Tau begitu kenapa kau mengajakku! Dasar!


Gerutu Irene.


Andra sudah duduk di kursi, tepat disebelah Mawan.


"Mana pengantin wanitanya Rio?" tanya Andra.


"Belum datang, mungkin sebentar lagi, Om," jawab Rio.


Aku sih berharap Wulan tidak datang dan mengurungkan niat untuk menikah denganku. Aku tidak ingin menikah dengannya.


Batin Rio.


Sayang sekali, harapan Rio tidak terkabul. Kini didepan mereka dan para tamu, terlihat seorang wanita cantik. Iya, dia Wulan. Begitu cantik dan anggun mengenakan kebaya putih dan aksesoris pada sanggul rambutnya.


Wulan tersenyum malu karena menjadi pusat perhatian seisi ruangan, tangannya mengandeng Clara disebelah kiri. Gadis kecil itu sangat cantik dan manis, ia mengenakan gaun merah maroon panjang. Rambutnya terurai dengan bando pita diatasnya, warnanya sedana dengan gaun yang ia kenakan.


Dan disebelah kanan adalah Ayahnya, pria itu mengenakan setelan jas berwarna merah maroon juga. Wajahnya memang tidak tampan dan sudah berkerut dengan warna kulit sawo matang, tapi kali ini dia tampak begitu rapih.


Indah dan Santi melihat kearah Wulan sambil menarik senyum manis. Mereka menghampirinya untuk mengantar Wulan menuju kursi ijab kabul. Kini Wulan sudah duduk disebelah Rio, Ayah Wulan juga ikut duduk, karena dia walinya.


Jadi ini pengantinnya. Tidak cantik sama sekali, dia juga seperti wanita miskin. Cih! Selera Rio dan Rendi ternyata sama. Aku tidak habis pikir kenapa Mbak Santi mau menikahkan Rio dengan wanita seperti ini, Ayahnya saja terlihat seperti tukang parkir.


Gagal deh aku menjodohkan Indah dengan Rio. Rasanya tak ikhlas Rio menikah dengan wanita seperti ini. Rio terlalu bodoh karena n*fsu! Dia tidak memikirkan akibatnya, bisa-bisanya aku menjalin keluarga dengan orang miskin. Aku malu kepada seluruh rekan bisnisku yang datang.


Batin Mawan. Dia juga melihat kearah Wulan dan Ayahnya.


"Clara, kamu ikut Mamah saja. Kita berdiri disana," ucap Santi seraya mengenggam tangan gadis kecil itu.


Clara mengangguk, kakinya melangkah mengikuti Santi dan Indah diposisi yang sama.


Siapa gadis kecil ini? Cantik.


Batin Indah seraya menatap wajah Clara, gadis kecil itu juga menatap wajahnya.


"Kakak cantik!"


Indah langsung menarik senyum dan mengelus rambutnya, "Kamu juga cantik, sayang."


Indah berbisik ke telinga Santi yang berada disebelahnya, "Mah, memang Clara ini siapanya Wulan?"


"Dia Adiknya," jawab Santi.


Adik? Ah iya, dia pernah bercerita tentang Adiknya dulu.

__ADS_1


Batin Indah.


Karena semuanya sudah hadir dan lengkap. Acara ijab kabul segera dilaksanakan, seorang Ustadz tengah memimpin do'a. Terlihat Rio dan Wulan sedang menanda tangani surat-surat nikah.


Sampainya dimana Ayahnya Wulan berjabat tangan dengan Rio sambil mengatakan kalimat yang akan Rio katakan ulang.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Wulan Priyanka binti Wahyu Hidayat dengan ....,"


Rio berkata dengan lantang dan tegas, sampai seluruh orang disana bersorak kata 'SAH'


"Sah ... Alhamdulilah," ucap Santi dan yang lain.


Mereka memanjatkan do'a untuk Rio dan Wulan.


"Kalian sudah sah menjadi pasangan suami-istri," ujar Pak Penghulu.


Tangan Wulan perlahan mendekati pria yang sekarang menjadi suaminya, mengangkat untuk bisa mencium punggung tangannya.


Tapi Rio sama sekali tidak mencium kening. Wajahnya menampakan rasa tidak bahagia.


Mawan mengelus pundak Rio seraya berbisik.


"Selamat Rio, semoga pernikahanmu menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah."


Ia mengenggam tangan Rio begitu hangat.


"Jadilah suami yang baik, jangan pernah mempermainkan pernikahan. Papah tau kau tidak senang. Tapi ... Berusahalah, bersikap bahagia. Walau bukan sekarang, tapi nanti kau bisa mencintai istrimu apa adanya," ucap Mawan memberikan semangat, padahal sendirinya sama saja. Tidak senang dengan pernikahan ini.


Bagaimana pun nantinya aku tidak peduli, asalkan aku sudah bertanggung jawab dan menuruti ucapan Mamah.


Batin Rio.


Momen yang Reymond tunggu-tunggu telah datang, ia segera menyerahkan Bayu pada Indah sambil memeluk tubuh istrinya.


"Sayang, ini saatnya aku akan mengungkapkan semuanya dihadapan kamu dan semua orang disini. Tolong cegah Papah semampumu, aku tau dia nanti ikut emosi. Biarkan aku saja yang melepaskan semua kekesalanku," ucap Reymond seraya berbisik.


"Iya, Mas. Semoga berhasil," jawab Indah sambil mengusap bahu Reymond.


Setelah melepaskan pelukan, Reymond berlari menuju tempat ijab kabul dengan masih lengkap orang-orang disana. Ia berlari secepat kilat menuju Andra, tanpa basa-basi dan sebuah kalimat. Reymond mengepalkan kedua tangannya sampai urat-urat itu terlihat.


Tanpa menunggu lama, sebuah bogeman mendarat pada pipi kanan dan kiri Andra.


Buggghhh.......


Buggghhh........


Andra langsung terjungkal dari kursi, matanya terbelalak. Bahkan semua orang disana ikut membelalakkan mata.


"Reymond! Apa-apaan kau ini!" pekik Andra seraya bangun, ia begitu kaget dan memegangi kedua pipinya yang terasa nyeri.

__ADS_1


"Dasar Iblis!" teriak Reymond.


^^^Kata: 1030^^^


__ADS_2