Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 102. POV Wulan - Kecelakaan


__ADS_3

Aku mengendarai motor dengan dia yang berbonceng dibelakang. Kita sama-sama memakai helm.


Namun ditengah perjalanan Clara berkata. "Kak, aku haus ingin minum."


"Nanti, ya. Kakak cari warung," jawabku dengan cepat.


Tak lama motor yang melaju sudah aku berhentikan disisi jalan raya. Kakiku sudah menyangga pada aspal, aku menunggu Clara untuk turun dari motor.


Namun dari arah depan ada sebuah mobil melaju dengan cepat dan ugal-ugalan. Menurutku ini terlalu cepat, aku dan Clara belum sempat turun. Tapi mobil itu sudah datang menabrak kearah motorku.


Braakkkkk........


"Auw!" pekikku.


Tubuhku sudah tersentak jatuh tertimpa motor bersama dengan Clara, mobil itu bukan seperti menabrakku. Lebih tepatnya mengiling.


Kepalaku ikut terbentur trotoar jalan dan terasa begitu sakit, untungnya kita masih memakai helm.


Tapi sekarang penglihatanku sangat buram. Aku hanya bisa mendengar suara tangisan Clara.


"Kakak, sakit. Hiks ... Hiks ... Hiks."


Aku juga merasa ada beberapa orang berkerumun datang menghampiri, wajahnya tidak jelas dan tak lama aku jatuh pingsan.


***


Perlahan aku membuka mata dan melihat sekeliling ruangan, ini seperti asing namun aku mencium aroma obat dan beberapa pelaratan rumah sakit.


Ternyata ini di rumah sakit, aku sedang berbaring dengan kaki kiri yang sudah berbalut kain kasa, celana jeans yang aku pakai bahkan sudah di robek sampai lutut.


Aku mendengar suara langkah kaki datang membuka pintu. Dua orang pria, aku yakin dengan pria yang mengenakan jas putih dan kaca mata itu adalah seorang Dokter, tapi pria tampan yang berada disebelahnya begitu familiar. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu muda, begitu rapih dan sangat tampan.


Aku pernah melihatnya sekilas di kantor dan pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu, dia adalah Rio Pratama, CEO sekaligus Bosku di kantor.


Untuk kedua kalinya dia menabrakku, mungkin hanya aku yang mengingatnya, kalau orang seperti dia menurutku tidak akan ingat.


"Bagaimana kondisi Anda sekarang? Apa ada bagian yang sakit?" tanya Dokter berkacamata itu seraya menghampiri dengan Pak Rio.


"Tidak, Dok. Saya baik-baik saja."


Aku baru sadar, dimana Clara adikku?


"Dok, dimana Clara Adikku?"


Dokter itu menarik horder disebelah tempat tidurku. Aku melihat Clara tengah berbaring tidak sadarkan diri, kedua kakinya dibalut kain kasa.


Aku menarik tubuhku untuk bangun. "Apa Clara baik-baik saja, Dok?"

__ADS_1


"Iya, baik. Cuma lukanya tadi sangat parah. Hingga harus dua kali di jahit pada kedua kakinya," sahut Dokter.


Aku menatap nanar wajah cantik Adikku, Padahal saat ini saja dia sudah sakit ginjal. Sekarang dia masih terkena musibah, kasihan sekali kamu sayang.


Aku menurunkan kedua kakiku kebawah untuk berjalan menuju tempat tidur Clara, walau masih terasa sakit dan perih. Tapi aku masih bisa berjalan dengan normal.


Pak Rio sedari tadi melihat wajahku dan Clara silih berganti, tapi dia diam saja. Oh iya? Aku baru sadar juga kenapa dia bisa ada disini?! Apa dia yang menabrakku?


"Maafkan aku, ya. Tadi aku mengendarai mobil ugal-ugalan sampai menabrak kamu dan Adikmu."


"Iya, Pak Rio. Tidak apa."


"Kau tahu namaku?"


Benar dugaanku, dia tidak mungkin mengenalku sebagai karyawatinya.


"Saya Wulan, Pak. OB di kantor Bapak," jelasku memberitahu.


"Oh begitu." Wajah dia terlihat begitu datar.


Tangannya perlahan mengambil sesuatu dari saku jas dan memberikan selembar kotak persegi empat padaku.


"Ini kartu namaku, ada nomorku disitu. Aku akan bayar biaya kerusakan motormu, kalau misalkan kau butuh biaya pengobatan kamu dan Adikmu, kau bisa telepon atau temui aku di ruanganku."


"Baik, terima kasih, Pak."


Semenjak dari situ, aku seperti memanfaatkan uang dari Pak Rio dengan alasan pengobatan kecelakaan yang ia perbuat. Aku sudah meminta tiga kali biaya rumah sakit pada dirinya, padahal pengobatan kecelakaan itu hanya dua kali, satu kali aku minta untuk biaya cuci darah Adikku dengan alih-alih biaya kecelakaan.


Aku berbohong karena uangku yang memang saat itu tidak ada, tapi aku merasa kasihan pada Clara, kalau sampai dia telat cuci darah. Kondisinya makin memburuk.


Selain karena gajihku yang pas-pasan, aku juga punya biaya tanggungan yang lain. Aku hidup bertiga dengan Ayahku, dia hanya penjual bakso keliling dengan keuntungan pas-pasan.


Hingga tiba saatnya hari ini, aku butuh sekali biaya cuci darah. Namun kali ini aku tidak akan meminta uang padanya, tapi kasbon.


Hampir setiap pagi hari aku selalu membuatkan dia secangkir kopi, walau selalu tidak di minum. Tapi itu sengaja aku lakukan supaya ada alasan jika datang ke ruangannya.


Tok ... Tok ... Tok.


"Masuk."


Aku langsung meraih gagang pintu dan masuk ke dalam.


"Selamat pagi, Pak. Saya antarkan kopi buat Bapak."


Pak Rio tengah duduk di kursi putar miliknya, ia bahkan tidak menjawab dan mengangguk sama sekali, matanya berfokus pada layar laptop. Aku menaruh secangkir kopi hitam itu diatas mejanya.


"Pak Rio, ada hal yang ingin saya bicarakan," ucapku dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Pak Rio melihat ke arahku, tapi wajahnya terlihat tidak bersahabat.


"Apa?! Soal biaya kecelakaan lagi?! Memang Adikmu itu tidak sembuh-sembuh?!" nadanya terdengar begitu lantang.


"Ini bukan masalah kecelakaan, tapi saya butuh uang untuk mengobatannya yang lain. Dia sedang sakit, tapi kali ini saya tidak meminta uang, Pak. Saya mau meminjam."


"Aku sudah rugi banyak untukmu Wulan! Sekarang pergi dari sini!" pekiknya mengusir.


Rugi banyak? Apa selama ini dia tidak ikhlas?


"Pak, saya mohon ... Saya butuh sekali uang, saya mau meminjam 10 juta. Nanti Bapak bisa potong gajih saya 2 bulan."


"Aku tidak mau! Kau pergi dari sini cepat!" jari telunjuknya sudah mengarah pada pintu, aku tahu dia mengusirku.


Kalau aku tidak dapat uang bagaimana? Sekarang saja Adikku sudah pingsan dan dibawa ke ruang ICU. Aku tidak mau kehilangan Adikku satu-satunya, aku sangat menyayanginya.


Aku langsung membungkuk dan menempelkan kedua telapak tanganku.


"Pak saya mohon ... Saya butuh sekali uang, kalau tidak. Adik saya bisa tiada," ucapku dengan wajah memelas.


Pak Rio terdiam sejenak, entah apa yang ada dalam benaknya. Tapi dia memperhatikanku dari atas sampai bawah.


"Apa yang kau punya?"


Deg.....


Apa maksudnya?! Aku sudah jelas-jelas meminjam uang, bukankah itu tandanya aku tidak punya apa-apa?!


"Aku tidak punya ....,"


"Tubuhmu saja aku tidak tertarik. Wajahmu kurang cantik, tapi ... Apa kau masih perawan?"


Deg......


Mataku terbelalak. Ia langsung menyerbu ucapanku dengan pertanyaan mengenai kata 'perawan' apa maksudnya? Dia menghinaku atau apa?


"Maaf, kenapa Bapak bertanya seperti itu?"


"Aku tahu kau belum menikah, tapi ... Apa kau masih perawan?"


Deg.....


Dia lagi-lagi bertanya memakai kata itu, sungguh membuat jantungku berdetak sangat kencang dengan tubuh yang bergetar.


"Iya, saya masih perawan. Tapi ... Kenapa Bapak bertanya seperti itu?"


^^^Kata: 1041^^^

__ADS_1


Maaf ya, Author baru sempat up. Hari ini sibuk banget soalnya. Kalau sempat aku up sebab lagi. jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️


__ADS_2