Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 100. Bagaimana rasanya?


__ADS_3

Warning!! Kawasan 18+, yang tidak suka. Boleh di skip.


***


"Masa iya?! Yasudah aku minta maaf, deh. Aku tidak marah sama kamu, sayang. Mana bisa aku marah padamu."


"Benarkah?"


"Iya, sayang."


Pandangan mata Reymond langsung tertuju pada kalung Indah. Dari semenjak ia bertemu kembali dengannya, ada rasa binggung. Kalung itu seperti yang ia pesan namun kenapa tidak sama.


Tangan kekar itu perlahan menyentuh kalung yang melingkari leher jenjang istrinya, "Sayang. Kalung ini cantik sekali, tapi jauh lebih cantik kamu. Kamu beli dimana?"


"Aku tidak membelinya."


"Kamu suka kalungnya?"


"Iya, Mas."


Reymond menghela nafas dengan lega. "Syukurlah kalau kamu suka, aku pesan kalung ini lama sekali. Tapi kok aku perhatikan, kalungnya tidak sama dengan yang di foto ya?"


Indah ikut memegangi kalung itu. "Apa maksudmu? Pesan kalung?! Ini kalung bukan dari kamu, Mas. Kapan juga kamu memberikan padaku?" wajah keduanya terlihat begitu binggung.


"Ini kalung yang dari kurir, kan? Aku pesan dan memintanya untuk mengantar ke rumah Papah Antoni, sayang."


"Oh, mungkin ini yang kamu maksud, Mas."


Indah bangun dari kasur dan membuka lemari pakaian, terdapat laci didalam. Tangannya menarik laci itu dan mengambil kotak merah panjang. Ia membuka kotak itu dan kembali duduk diatas kasur, disebelah Reymond.


"Kalung ini bukan?" tanya Indah sambil membuka kotak perhiasan.


Reymond langsung mengambil kalung itu dan memperhatikan dengan seksama. "Iya, ini kalung dariku. Tapi kok ....,"


Matanya memusatkan lagi pada kalung yang Indah pakai. "Kenapa kalung dariku kamu simpan? Dan kalung dari siapa ini."


Dengan cepat Reymond melepaskan kalung pada leher Indah dan menganti dengan kalung darinya. "Itu dari Rio, Mas."


Deg.....


Matanya membulat sempurna. "Apa?!"


Dada Reymond langsung terasa sakit. Ia berdiri seraya berjalan membuka jendela kamar, dilemparnya kalung itu ke bawah.


"Kenapa dibuang?" tanya Indah.


Tanpa jawaban Reymond langsung mengangkat tubuh Indah, mengajaknya untuk ke kamar mandi. Lagi-lagi ia merasa sangat emosi.


"Mas, kenapa ke kamar mandi? Aku sudah mandi tadi pagi. Ini masih siang."


Reymond perlahan menurunkan tubuh Indah didalam bathtub. Ia melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh istrinya, namun wajahnya masih sangat kesal.


"Mas apa ....,"


Cup.....


Ia mencium sekilas bibir itu. "Kita mandi sayang, aku kepanasan."


Indah duduk dengan tubuh polosnya didalam sana. Sedangkan Reymond sibuk melucuti semua pakaiannya, pakaian Indah dan dirinya di lempar keluar kamar mandi.


Air bathtub perlahan ia isi dan kini tubuh kekar itu ikut duduk dibelakang Indah. Dari belakang, kedua telapak tangan itu meremas secara perlahan gunung kembar didepannya.


"Aku tidak suka kau memakai benda dari pria lain. Apa selama aku tiada kau sering diberi sesuatu oleh pria lain?" tanya Reymond berbisik sambil menjilati leher wanitanya.


"Aaahhh ... Tidak, Mas." Suara desahan itu langsung keluar.


"Bagus."


Reymond meraih sabun cair pada spons, busanya ia oleskan pada seluruh tubuhnya dan tubuh Indah.


Setelah selesai dari mandinya dan mengeringkan tubuh. Reymond kini mengangkat tubuh Indah kembali dan membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Mas ... Kalau Bayu kesini bagaimana?"

__ADS_1


"Tidak, aku sudah titip dia pada Susi."


"Kalau orang lain bagaimana, Mas?"


"Siapa? Di rumah ini hanya ada aku, kamu, Bayu, Susi dan Bibi. Selain Bayu, mereka tidak mungkin kesini."


Tubuh Reymond sudah naik keatas kasur. Ia membuka lebar-lebar kedua kaki istrinya dan membungkuk kearah gua favoritnya itu.


"Mas ..."


Bibir Reymond sudah mendarat dan menjilati area itu, membuat Indah meremas bantal dengan kuat dan memejamkan mata.


"Aaaahhhh ... Mas."


Lidah Reymond begitu lincah kini jari tengahnya juga sudah menarik ulur area itu.


Enak sekali.


Batin Indah.


"Bagaimana rasanya?" tanya Reymond dengan semangat memainkan jarinya didalam sana.


"Aaaahhhh ....," Indah hanya membalasnya dengan desahan.


Kini ia beralih pada kedua benda kenyal didepannya. "Tambah besar ini, sebentar lagi sainganku bukan hanya Bayu. Tapi Adiknya."


Ia menyusu dan menyedotnya dengan kuat, salah satu tangannya memelintir dan memainkannya.


"Aaaakkkhhh ... Mas."


Tangan Indah beralih meremas rambut Reymond, suaminya itu sudah menciumi gunung itu silih berganti dan mengecup tanda merah diatasnya.


"Mas ... Ayok lakukan! Nanti aku keburu keluar," pinta Indah.


Baru juga pemanasan ia sudah berkeringat dan nafasnya sudah naik turun.


Setelah cukup puas dengan kedua gunung itu Reymond menghimpit tubuh Indah dan mengusap-usap junior yang sudah tegang itu.


Tangan Indah memegang bahu Reymond. "Mas, main pelan-pelan ... Ingat aku sedang hamil."


Junior itu sudah ia bantu untuk masuk kedalam milik Indah.


Bres......


"Aaaahhhh ....,"


"Yes!" Reymond memainkan permainannya maju mundur dan pelan-pelan. Bibirnya kini mendarat pada bibir didepan.


Ia menciuminya begitu dalam dengan melum*tan penuh mesra, lidah mereka sudah mulai beradu.


Awalnya hanya pelan. Namun semakin lama permainan itu makin cepat, ia memompanya begitu cepat hingga tubuh keduanya ikut terguncang.


"Enak, sayang." Wajah keduanya sudah bercucuran keringat.


"Mas."


"Apa sayang? Milikmu nikmat."


"Ah!"


"Bagaimana rasanya?"


"Ah!"


"Sayang. Jawab aku, bagaimana rasanya?"


"Ah!"


Bukannya menjawab Indah malah sibuk mendesah dan menarik-narik seprei hingga terlepas dari kasur.


Kini posisi mereka beralih menjadi duduk, Reymond memangku tubuh Indah diatasnya sembari menyender pada sisi ranjang.


"Mas aku tidak mau diatas."

__ADS_1


"Ini enak, masa tidak mau." Reymond membantu Indah untuk memompanya maju mundur.


Kedua tangannya sudah memegangi pinggul dan membantunya untuk mencapai puncak.


"Mas ...." Bibir itu sudah ia gigit.


Reymond kembali menyusu dan menghentak-hentakannya dari bawah.


"Mas ... Aku."


"Keluarkan sayang."


Setelah beberapa saat berlalu.


"Aaaaaahhhhhh ....,"


"Aaaakkkhhhhhh ....,"


Mereka meleburkan seluruh larva milik masing-masing menjadi satu.


Akhirnya jos.


Batin Reymond.


Permainan itu sudah terhenti, Reymond membaringkan tubuh Indah dan tubuhnya sambil berpelukan.


Nafas mereka sudah beradu dan berkeringat. Tangan Reymond meraih remot AC pada nakas, untuk menaikkan satu suhu. Kasur Indah sudah berantakan dan tidak karuan. Bantal dan selimut sudah berjatuhan.


"Perutmu sakit tidak?" tanya Reymond seraya menciumi rambut Indah.


Mata Indah sudah terpejam. "Tidak, Mas."


"Bagaimana rasanya tadi? Apa tetap enak?"


"Iya, enak, Mas."


Pipi Reymond langsung bersemu merah, tangannya perlahan mengusap-usap perut Indah. "Aku mencintaimu, sayang."


"Aku juga, Mas."


Tok ... Tok ... Tok.


Deg.....


Terdengar bunyi suara ketukan pintu, membuat mata mereka yang tadinya terpejam jadi terbuka dengan lebar.


"Mas, siapa yang mengetuk pintu? Aku takut Papah," ucap Indah seraya melihat wajah Reymond.


"Jangan dulu dibuka, tunggu dia bersuara," lirih Reymond berbisik.


Tok ... Tok ... Tok.


"Bunda!"


Deg.....


"Bayu, Mas," ucap Indah sambil menyenggol lengan suaminya.


Mereka berdua langsung menghela nafas dengan lega.


"Biar aku yang membukanya sayang." Reymond turun dari kasur, ia mengambil handuk dulu didalam kamar mandi untuk melilitnya diatas perut.


Kakinya sudah melangkah menuju pintu dan memegang gagang pintu.


"Indah, buka pintunya sayang."


Deg.....


Tubuh Reymond langsung berbalik dengan mata yang melotot. Mereka berdua melayangkan pandangan, keduanya hafal betul suara siapa itu.


Gawat! Bisa mati aku.


Batin Reymond.

__ADS_1


"Mas," lirih Indah dengan rasa takut.


^^^Kata: 1054^^^


__ADS_2