Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 106. Anaknya Siska? Adiknya Indah?


__ADS_3

"Boleh Mbak, silahkan," sahut wanita paruh baya yang memakai jilbab.


Indah langsung ikut duduk disebelah anak kecil laki-laki yang tengah makan dengan lahapnya, mata Indah langsung menyoroti dua menu didepannya.


Padahal hanya tumis kangkung dan tempe goreng. Tapi entah kenapa dia begitu ngiler ingin melahapnya, tangannya sudah mengelus-elus perut.


Kenapa terlihat begitu enak, aku jadi lapar.


Batin Indah.


"Mbak mau makan?" tanya wanita berjilbab itu, dia mengerti sikap Indah dan tatapan laparnya itu.


"Memangnya boleh, Bu?" tanya Indah malu-malu.


"Tentu boleh, tapi ini cuma seadanya aja. Saya ambilkan, ya?" Indah mengangguk


Wanita itu mengambilkan satu centong nasi keatas piring. "Segini cukup tidak?"


"Cukup, Bu."


Wanita itu menaruh tumis kangkung dan 3 goreng tempe diatas nasi, tidak lupa menaruh sendok juga.


"Ini, Mbak," ucapnya seraya menyerahkan.


"Terima ka ....,"


"Sayang, sedang apa kamu?" tanya Reymond yang tiba-tiba datang bersama Bayu. Tangan Indah sudah terulur hendak mengambil piring itu, namun tidak jadi.


Indah menoleh pada Reymond dan Bayu dengan kepala mendongak. "Mas, aku pengen makan," lirihnya pelan.


"Kan ada burger sama pizza." Tangan Reymond memegang tangan Indah, menariknya untuk bangun dari duduk.


"Kita makan disana, jangan meminta makanan orang lain. Tidak enak," sergah Reymond.


Indah langsung berurai air mata dan menelan saliva. Wanita berjilbab itu seakan mengerti kalau Indah sedang ngidam.


"Istri Bapak tidak meminta, saya yang memberikannya." Piring dalam telapak tangannya belum sama sekali disentuh oleh Indah.


"Tidak, terima kasih Bu. Aku dan istriku punya makanan sendiri. Itu buat Ibu saja," tolak Reymond seraya mengajak Indah berjalan. Namun kaki istrinya seakan keras dan menempel pada rumput hijau.


"Mas, aku mau makan itu. Kayaknya enak," pinta Indah dengan wajah sendu.


"Tapi makannya seperti tidak enak begitu sayang. Kita makan ke Restoran saja, ya?" rayu Reymond seraya menyeka air mata yang mengalir.


Memang dari penglihatan Reymond menu tadi seperti tidak enak. Dia bahkan memang tidak suka dengan kangkung, apalagi sayur itu terlihat dibuat dari pagi.


Indah menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak mau. Aku pengen makan yang Ibu itu berikan padaku, Mas."


Reymond menghela nafas dengan gusar. "Oke, kau boleh makan itu," jawabnya mengalah.

__ADS_1


Kini mereka balik lagi dan ikut bergabung dengan perkumpulan anak-anak itu. Indah dan Bayu sudah duduk lesehan, ia juga langsung memakan makanan yang wanita berjilbab itu berikan.


"Bunda, Bayu mau. Aaaaaa."


Mulut Bayu sudah ternganga, dia ingin ikut bareng Indah. Dengan cepat Indah menyuapinya.


Reymond ikut duduk disamping Indah. Ia menarik senyum sambil memandang. "Apa rasanya enak?"


"Enak Ayah!" Bayu yang menyahut.


"Kamu mau, Mas?"


"Tidak, buat kalian saja," tolak Reymond.


Kenapa dia dan Bayu makan dengan lahap begitu, aku yang melihat menu itu saja sudah tidak berselera.


Batin Reymond.


Wanita berjilbab itu terus memperhatikan wajah Indah. Merasa pernah bertemu tapi sudah lupa. "Mbak namanya siapa?" Kini dia duduk disebelah Indah.


"Indah, Bu."


"Kita sepertinya pernah bertemu Mbak, beberapa tahun yang lalu di tempat ini. Saya Susan."


Indah menoleh pada Susan. "Benarkah? Aku memang dua kali kesini, Bu."


Reymond memperhatikan semua anak-anak itu, mereka sudah selesai makan dan pergi berbaris untuk mencuci tangan.


"Saya mengurus panti asuhan, Pak. Anak-anak semua ini yang tinggal bersama saya," sahut Susan.


Tiba-tiba terlintas dalam benak Reymond, ia mengingat ucap Siska sebelum meninggal yang mengatakan untuk mencari anaknya berada.


Anaknya Siska? Adiknya Indah? Maksudnya bagaimana? Kenapa harus Adiknya Indah yang jadi anaknya Siska? Hubungan dengan Indah apa?


Batin Reymond sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, ia belum bisa mencerna perkataan Siska beberapa hari yang lalu.


"Oh, iya Bu. Saya ingat, waktu itu ada gadis kecil menangis di pinggir danau. Aku membelikannya boneka," jelas Indah mengingat.


"Iya, benar Mbak. Mbak waktu itu dan suami memberikan semua anak-anak mainan, saya berterima kasih sekali."


Tapi sepertinya suami Mbak Indah waktu itu bukan orang ini.


Batin Susan seraya melihat wajah Reymond.


Ah iya, aku juga ingat. Aku yang membelikannya.


Batin Reymond.


"Tidak masalah, Bu. Suamiku memang orang yang baik."

__ADS_1


Susan mengelus rambut Bayu secara perlahan. "Nama kamu siapa, Nak?"


Bayu menoleh padanya, "Bayu, Oma."


"Oya, Bu. Gadis kecil itu sekarang dimana? Dia sepertinya tidak ada disini?" tanya Indah dengan mata yang berkeliling menatap wajah anak-anak perempuan.


"Dia sedang sakit."


"Oh, sakit apa Bu?"


"Demam."


"Sekarang berapa usianya? Apa dia sudah sekolah?"


"6 tahun, iya. Dia sudah kelas 1 SD."


"Namanya siapa, Bu? Aku lupa."


"Shelly."


Apa aku bisa cari anaknya Siska di panti asuhan ini?! Sepertinya usia anak-anak ini masih kecil-kecil. Selisih 2 tahun atau 3 tahun dengan Bayu. Tidak mungkin juga Siska anaknya sudah remaja. Tapi aku harus bicara juga dengan Indah, nanti dia bisa salah paham dan mengira aku mencari anakku dan Siska.


Batin Reymond.


"Apa kapan-kapan aku boleh main ke panti, Bu?" tanya Indah.


"Boleh banget, Mbak. Silahkan."


Reymond mengambil kartu nama didalam dompetnya seraya memberikan pada Susan.


"Ini kartu namaku, Bu. Ibu bisa mengirimkan alamat panti ke nomorku."


Susan mengambil kartu itu dan membacanya, "Pak Reymond Alexander, iya. Nanti saya hubungi Bapak."


Perlahan Indah memegang tangan Reymond. "Mas, kamu begitu pengertian sekali. Aku bahkan belum meminta alamat, tapi kamu sudah memberikan kartu namamu," puji Indah sambil tersenyum.


Kedua pipi Reymond langsung bersemu merah, padahal niatnya juga ingin mencari anak Siska. Tapi kebetulan Indah bilang mau main ke panti, dia merasa sangat beruntung.


"Iya dong sayang. Aku ini memang suami yang pengertian," ucapnya dengan bangga seraya menepuk dada.


***


Santi sudah pulang ke rumah Hermawan, namun tidak pulang sendirian. Ia mengajak Wulan datang untuk menemui Mawan, Santi juga mengirimi Rio pesan untuk datang ke rumahnya, tapi tidak beralasan apapun. Yang penting dia datang saja, karena tekad Santi sudah bulat untuk menjodohkan Rio dengan Wulan.


Wulan sudah berganti pakaian, ia mengenakan dress cantik selutut dengan model A-line dan sepatu high heels. Wajah yang tadinya polos itu sudah diberikan polesan make up, Santi sudah merubah penampilan Wulan yang menurutnya biasa saja, kini menjadi cantik jelita. Supaya Rio dan Mawan setuju akan niat baiknya itu.


Mereka sudah berjalan masuk kedalam rumah. Terlihat Rio sudah datang lebih dulu dan tengah mengobrol santai ditemani dua cangkir kopi diatas meja. Keduanya duduk di sofa ruang tamu.


"Papah, Rio," panggil Santi yang kini berada didepan mata kedua pria itu.

__ADS_1


Mata Mawan dan Rio terbelalak, dia kaget melihat Wulan disamping Santi.


^^^Kata: 1027^^^


__ADS_2