Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 94. Aku sekarang ingin


__ADS_3

Wulan menoleh kearah Rio yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Pekerjaannya saja sejujurnya belum selesai, tapi Rio ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Wulan.


"Wulan, kok kamu diam saja? Apa Rio menyakitimu? Jangan pernah menutupi apapun dari Ayah. Mulai sekarang, jujurlah pada Ayah."


"Tidak Ayah, Mas Rio tidak menyakitiku."


Mendengar ucapan dari Wulan, Rio segera menoleh kearah wanita itu dan tersenyum padanya.


"Syukurlah, yasudah. Kalian bersenang-senanglah berdua, Ayah selalu do'akan yang terbaik untukmu."


"Iya, terima kasih Ayah."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit berlalu, Indra memberhentikan mobilnya pada sebuah salon kecantikan.


Rio menggandeng tangan Wulan, mengajaknya masuk di sebuah gedung yang lumayan besar itu. Tak lama ada seorang pria bertulang lunak menghampiri mereka berdua.


"Selamat sore menjelang malam Mbak cantik dan Mas ganteng," sapa pria itu sambil mengelus dagu Rio sekilas.


"Ish! Jangan pegang-pegang!" pekik Rio tak terima seraya mengusap kasar dagunya, menghilangkan bekas tangan pria itu. "Dimana Tante Dewi? Aku ingin bertemu dengannya!"


"Rio, kau Rio anaknya Santi, kan?" Dari kejauhan wanita cantik paruh baya itu berkata dan mendekati mereka berdua.


"Iya, Tante. Aku Rio."


"Wah, tambah tampan kamu sekarang, ya! Siapa ini?" tanya Dewi seraya tersenyum dan melihat kearah Wulan.


"Ini Wulan istriku, Tante. Aku ingin Tante mendandaninya dan mengecat kukunya."


"Hai Wulan," sapa Dewi dengan uluran tangan.


"Hai Tante." Wulan membalas uluran tangan itu dan tersenyum padanya.


"Ayok ikut Tante ke dalam, Tante akan merubahmu jadi bidadari."


Wulan menoleh sebentar kearah Rio. Pria itu mengangguk pelan, seolah mengizinkan Wulan masuk kedalam ruangan yang sudah disediakan khusus oleh salon tersebut.


Selagi menunggu Wulan, Rio mendudukkan bokongnya pada sofa single. Tangannya meraih ponsel pada saku jasnya untuk menelepon Dido.


"Halo. Selamat malam, Pak."

__ADS_1


"Tiga hari aku tidak masuk ke kantor, kau urus semuanya dan jangan sampai ada yang cacat setelah aku kembali!" Rio memberitahu sekaligus mengancamnya.


"Kenapa memangnya, Pak? Bapak sakit?"


"Aku pergi berbulan madu, kau tidak usah memikirkanku!"


*


Tiga puluh menit berlalu, Wulan dan Dewi menghampiri Rio yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


"Rio, lihatlah istrimu," kata Dewi seraya merangkul bahu Wulan.


Mata yang sedari tadi menatap layar ponsel, kini beralih meneladah tepat pada wajah istrinya yang tengah memandangnya. Wajah Wulan sudah memakai make up dan terlihat sangat cantik. Kedua pipi pria itu langsung bersemu merah.


"Bagaimana? Tambah cantikan dia?" tanya Dewi.


Rio mengangkat bokongnya untuk berdiri. "Iya Tante, tapi manisnya lebih mengalahkan cantiknya."


Apa maksud Mas Rio?


"Lihat juga kukunya, apa kau suka dengan warnanya?" Dewi menunjukkan kedua tangan Wulan pada Rio. Sepuluh kuku itu sudah berhasil menjadi cantik dengan warna cat berwarna merah, ada motif bunga mawar putihnya juga. Membuat kuku-kuku itu terlihat menjadi lucu.


"Kukunya manis. Aku suka, terima kasih Tante," ucap Rio.


Rio meraih tangan Wulan dan mencium punggung tangannya. Spontan, membuat Wulan membulatkan kedua matanya. "Mas ... apa yang Mas Rio lakukan? Ini tidak sopan." Wulan segera menarik lengannya dari tangan Rio.


"Kok tidak sopan? Aku 'kan mencium tangan istriku sendiri."


"Iya, tapi yang harusnya mencium tangan itu aku, bukan Mas Rio."


"Tidak apa-apa, nanti giliran kau yang mencium tanganku."


"Mungkin Mamah lupa, dimana tempat pembayarannya Tante?" Rio mengambil dompet pada kantong belakang celananya.


"Tidak usah, ini gratis untuk kalian berdua. Hitung-hitung hadiah pernikahan."


"Ah, jangan begitu Tan. Aku tidak enak."


"Tidak apa-apa, Rio. Mamahmu 'kan temanku. Yasudah, kalian bersenang-senanglah."


"Terima kasih Tante, kalau begitu kami permisi," pamit Rio.


"Sama-sama."


Wulan mengulum senyum pada wanita didepannya, Dewi juga melakukan hal yang sama.


Sekarang mereka berdua kembali masuk kedalam mobil.


"Pak Rio, ini pesanan Bapak," ucap Indra. Pria itu memutar tubuhnya kebelakang untuk menyerahkan satu paket pizza berukuran besar dan dua botol teh manis dalam kemasan.


Rio mengambil apa yang Indra berikan dan membuka kotak pizza tersebut.


"Makan ini, buat mengganjal perut. Kau belum makan, kan?"


"Makannya nanti saja kalau sudah sampai, Mas. Mas Rio makan duluan saja."


Orang kita akan melakukan perjalanan jauh, masa tunggu sampai.

__ADS_1


"Kau juga harus makan. Satu potong, nih!" Rio mengambil potongan pizza dan menyodorkan tepat pada bibir istrinya. "Buka mulutmu!"


Wulan menurut dan membuka mulutnya. Ia mengigit, lalu mengunyahnya secara perlahan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rio lagi.


"Enak, Mas."


"Ambil ini dan makan yang banyak." Rio memberikan potongan pizza itu ke tangan Wulan, bekas gigitannya barusan.


Indra menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi dengan konsentrasi.


Rio melihat Wulan seperti tengah membutuhkan air minum. Ia menyerahkan botol yang sudah terlepas dari segelnya itu.


"Ini minum dulu."


Wulan mengangguk, ia sama sekali tidak curiga dengan tutup botolnya karena tenggorokannya sangat seret, ia menenggak teh manis itu sampai tandas tak tersisa.


Empat puluh menit berlalu, Wulan merasa bosan. Ditambah lagi karena perjalanan mereka yang terasa sangat lama dan panjang. Namun disisi lain, ia merasakan tubuhnya yang mendadak menjadi panas. Jantungnya juga berdebar sangat kencang. Kini posisi duduknya menjadi tidak nyaman, ia terus saja menggeser-geserkan bokongnya dengan gelisah sedari tadi.


Tubuhku kenapa? Kok aneh begini?


Wulan menoleh kearah Rio yang sedari tadi diam-diam memperhatikan tingkah lakunya.


Apa obatnya sudah bekerja? Apa tidak kecepatan, ya?


Rio melihat arloji pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8.


"Mas ...," panggil Wulan lirih. Ia mendekatkan tubuhnya untuk bergelayut pada lengan Rio.


"Ada apa?" Rio mengusap keringat pada dahi Wulan, ia juga merasa kulit wajah Wulan terasa panas.


"Mas ... kok aku merasa panas banget, ya?" Wulan mengibaskan tangannya kearah wajah, ia juga mengusap keringat pada leher yang sudah mengalir.


"Benarkah? Sebentar ... aku tambah suhu Ac-nya." Rio mengambil remote AC yang berada didekat kursinya. Lalu, ia memencet tombol untuk menaikkan suhu.


Wulan sedari tadi tidak ada henti-hentinya menatap wajah Rio, bahkan tatapannya kali ini amat dalam.


Kenapa Mas Rio terlihat sangat tampan? Lebih tampan dari biasanya.


Perlahan salah satu tangannya mengusap kedua paha Rio. "Mas ... apa aku boleh duduk di pangkuanmu?"


Mata Rio membelalak. Namun seketika ia mengulum senyuman yang begitu indah.


"Tentu boleh, duduklah disini." Rio membantu Wulan yang akan berpindah posisi untuk duduk dalam pangkuannya itu, kini mereka sudah saling berhadapan dan sama-sama merona.


Kedua tangan Wulan menyentuh lembut kedua pipi pria didepannya.


"Mas ... Mas Rio tampan," pujinya sambil tersenyum.


"Kamu juga manis," balas Rio.


Wulan memeluk tubuh pria itu dengan erat, wajahnya masuk kedalam jaket itu. Ia menciumi dada Rio yang masih berlapis kaos putih. Bokong Wulan lagi-lagi tidak bisa diam, bergerak-gerak terus dan membuat lawannya dibawah sana ikut terbangun.


"Wulan, kenapa kau tidak bisa diam duduknya sedari tadi? Ada apa?" tanya Rio tanpa dosa, padahal ialah yang menjadi sebabnya.


"Mas ... sepertinya aku sekarang ingin ...," lirih dengan suara parau di telinga kiri Rio.

__ADS_1


"Ingin apa?"


^^^Kata: 1090^^^


__ADS_2