
Nanti aku izin ke Mas Rio deh, lagian aku tidak mau hidup terlalu tergantung padanya. Aku tidak mau diremehkan lagi jadi wanita.
"Iya, aku masih mau kok kerja disana."
"Yasudah ... kalau tubuhmu sudah baikkan, kamu bisa kerja lagi disana, Wulan," ujar Ivan seraya tersenyum padanya, Wulan juga membalas senyumannya itu.
Lama-lama Rio makin geram melihat pemandangan dari balik jendela itu. Segera ia berlari keluar kamar. Namun saat keluar dari pintu utama rumah itu, handuk yang ia pakai tersangkut pada gagang pintu. Rio sendiri tidak menyadari kalau tubuhnya kini sudah polos, didalam pikirannya hanya ingin membuat perhitungan pada laki-laki yang sedari tadi terus memandangi wajah istrinya.
"Wulan ...," ucapnya saat berada di teras.
Wulan menoleh kearah Rio dengan kedua mata yang membulat sempurna. "Astaga Mas Rio!" Wulan memekik dan berlari menghampirinya, ia langsung berdiri di didepan Rio, supaya mampu menutupi tubuh polos suaminya.
'Mas Rio ini sudah gila apa bagaimana? Apa tidak ada urat malu keluar rumah bugil, begini?' gerutu Wulan.
Rio hanya fokus melihat dua bangku kosong di teras. Ternyata tidak ada siapa-siapa disana. "Dimana orang yang bersamamu tadi?"
Wulan tidak menjawabnya, ia segera mendorong kasar tubuh Rio untuk masuk kedalam rumah dan berlalu pergi menuju dapur dengan wajah cemberut. Sedangkan Rio, pria itu baru sadar kalau sekarang tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
"Astaga, ternyata aku bugil keluar rumah? Memalukan sekali. Apa ada yang melihat?" Rio meraih handuk yang terlantar di lantai. Ia melilitkan kembali pada tubuh bagian bawahnya.
Tak lama Wulan datang dari dapur, kedua tangannya membawa nampan berisi dua piring nasi goreng dan satu gelas teh manis hangat dan secangkir kopi hitam. Ia langsung saja duduk diatas tikar tanpa menghiraukan Rio yang sedari tadi berdiri didekat pintu. Wajah Wulan sudah memerah karena kesal.
Kenapa dia seperti marah? Apa Aku punya salah padanya?
Rio melangkahkan kakinya menghampiri wanita yang kini sedang mengunyah satu suap sarapan kedalam mulutnya. Ia ikut duduk lesehan di depannya.
"Wulan, kau kenapa? Apa kau marah padaku?" tanya Rio seraya memegang lengan Wulan, tapi sayangnya Wulan sama sekali tidak menjawab, ia fokus sarapan.
Bodoh sekali aku! Pasti dia marah gara-gara aku tanpa busana tadi!
Rio mengambil sendok diatas piring yang sudah Wulan taruh untuk porsi nasi gorengnya. Tapi ia malah menyendokkan nasi goreng yang kini berada di tangan Wulan.
'Kok dia malah makan nasi gorengku? Aku 'kan sudah siapkan nasi goreng untuknya' batin Wulan.
'Nasi goreng buatan Wulan memang tidak ada duanya' batin Rio.
"Wulan, maafkan aku. Tadi aku keluar buru-buru sampai tidak melihat kondisiku. Aku sangat kesal melihat laki-laki yang terus saja memandangimu," ucap Rio sambil menatap lekat pada wanita didepannya.
"Laki-laki siapa?" Wulan sama sekali tidak menatapnya, ia menunduk dan melihat nasi goreng.
__ADS_1
"Yang tadi bersamamu di teras."
Apa kak Ivan yang di maksud Mas Rio? Kapan dia memandangiku? Bukannya kita hanya mengobrol tadi.
"Siapa dia Wulan? Apa dia mantan pacarmu?"
"Bukan, Mas. Dia Kak Ivan, ketua shift di tempatku kerja."
"Apa kau berbohong?" tanya Rio seraya mengangkat dagu Wulan sedikit, supaya wanita itu dapat saling melayangkan pandangan dengannya.
"Apa kau berbohong padaku?" Mata Rio menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Saat dulu saja, kau bilang tidak kenal dengan Dido, tapi nyatanya dia mantan pacarmu. Jangan bohongi aku lagi, Wulan. Aku mohon ...." Rio berusaha untuk mengontrol emosinya, padahal saat ini darahnya sudah mendidih.
"Pada saat itu, aku sebenarnya tidak ada niat untuk berbohong, Mas. Aku hanya ingin menganggap Kak Dido tidak pernah ada dalam hidupku. Aku sangat membencinya. Jadi itu sebabnya ... aku lebih memilih bilang kalau aku tidak mengenalnya. Lagian ... dia 'kan hanya masa laluku," papar Wulan.
"Lalu kenapa kau memanggil laki-laki itu dengan sebutan Kakak?"
Entah mengapa Rio begitu kesal jika mendengar Wulan memanggil seorang pria dengan panggilan itu. Mungkin penyebab yang pertama adalah Dido.
"Ya karena dia lebih tua dariku, Mas. Jadi aku panggil dia Kakak."
"Aku tidak suka kau memanggil pria lain dengan sebutan Kakak. Jangan panggil dia Kakak, Wulan. Sama pada Dido juga, kau jangan memanggilnya Kakak!"
"Lalu aku panggil mereka siapa? 'Mas."
"Lalu aku harus panggil mereka siapa?"
"Namanya saja."
"Aku 'kan sudah bilang, dia lebih tua dariku."
"Yasudah Bapak, panggil mereka berdua Bapak!"
"Kalau Bapak ketuaan, Mas. Mereka masih muda."
"Aku juga masih muda, tapi kau dulu memanggilku Bapak!" elaknya tak mau kalah.
Dia ini kenapa sih? Aneh sekali.
Makin lama berbicara dengan saling memandang, Rio malah fokus melihat bibir Wulan yang licin karena minyak nasi goreng. Ujung ibu jarinya perlahan meraba dan mengelusnya secara perlahan.
__ADS_1
Apa yang dia lakukan? Mau apa dia?
Tubuh Rio makin mendekat padanya, hingga punggung wanita itu menempel pada tembok. Wulan sampai dibuat gugup dengan debaran jantung dan keringat yang tiba-tiba saja muncul pada dahinya.
Rio mengambil piring nasi goreng yang berada di tangan Wulan, meletakkannya di lantai.
Saat ini kedua wajah itu sangatlah dekat, bahkan nafas mereka saja sudah saling bertemu.
Cup~
Satu kecupan menempel pada bibir ranum berwarna merah muda. Rio memagut dan melum*tnya dengan lembut, kedua matanya terpejam.
Namun tidak dengan Wulan, wanita itu masih membelalakkan kedua matanya, ia begitu kaget dengan Rio yang sekarang lebih sering mencium dan mengajaknya berciuman.
Kenapa Mas Rio menciumku? Kita 'kan belum selesai sarapan.
Rasa nasi goreng itu sangat kental pada saliva keduanya. Tapi Rio tidak peduli akan hal itu. Nyatanya ia begitu semangat mengajaknya berciuman. Sekarang kedua tangannya sudah berhasil meremas dua gundukan yang masih tertutupi oleh dress.
Cumbuan itu tidak hanya di bibir, kepala Rio turun dan langsung mengecup leher wanita yang kini sudah ikut terhanyut dalam kenikmatannya.
Tanda merah sisa kecupan kemarin saja masih ada. Tapi sekarang Rio kembali menjilati dan menggigitnya dengan penuh nafs*.
"Ma-Mas ...," lirih Wulan.
Hasrat Rio sangat menggebu dan meminta lebih dari itu. Benda dibawah sana sudah sangat keras dan berkedut, ingin segera merasakan hangatnya dari sang empu.
Rio lantas bangun dan mengangkat tubuh Wulan, berjalan menuju kamar lalu merebahkan secara perlahan tubuh itu.
"Mas ... memangnya bo--"
"Boleh! Aku sudah boleh menyentuhmu!" sergah Rio seraya mengunci pintu kamar dengan rapat.
Ia menghempaskan lilitan handuk pada perutnya begitu saja, hingga tergeletak di lantai.
Kaki dan lututnya mulai naik keatas kasur sambil merangkak.
Entah kenapa Wulan menjadi sangat takut sekarang, tubuhnya menjadi bergetar hebat. Hingga Rio bisa tau akan hal itu.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
"Tidak kenapa-kenapa."
^^^Kata: 1033^^^