Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
89. Apa Om lupa ingatan?


__ADS_3

Apa dia sengaja mengincar Rendi? Kenapa pas Rendi memegang perusahaan dia bekerja dengannya, mencurigakan.


Batin Andra seraya memegang jari jemarinya


"Tapi wanita miskin kayak dia, menikah dengan Rendi pasti ingin mengincar........."


Tok... Tok... Tok. Ucapan Andra terhenti karena ketukan pintu.


"Masuk." Sahutnya.


Ceklek.....


"Eh Rendi." Ucapnya, ternyata Rendi yang datang bersama Dion


Semoga tadi dia tidak dengar, dengan apa yang tadi aku bicarakan dengan Anton.


Batin Andra.


"Tumben kamu kesini ada apa?" tanya Andra dengan senyum palsu.


Rendi duduk di kursi di depan Andra, "Rendi mau minta Melly untuk jadi sekretaris Rendi kembali Om." Ucapnya.


"Apa maksudmu? Dia sudah Om ambil, sekarang seenaknya kau ambil lagi. Dia bukan barang Ren." Sahut Andra sedikit emosi.


Rendi menghela nafasnya dengan kasar. "Rendi tau dia manusia. Melly wanita baik-baik Om, tidak seharusnya Om perlakukan dia seperti wanita murahan." Ujar Rendi kesal.


"Om makin nggak ngerti deh Ren. Maksud kamu apa?" tanya Andra pura-pura bego.


"Om tidak perlu berpura-pura, Rendi tahu semuanya, Om selalu merayunya di luar kerjaan kantor. Benar-benar memalukan." Ucapnya merasa jijik seraya memalingkan wajah.


"Jaga bicara kamu Ren! Kamu tidak sadar dengan siapa kamu bicara!" Pekiknya mengebrak meja.


Dion dan Anton terkejut, mata mereka membulat dan saling memandang satu sama lain.


"Rendi sadar, Rendi nggak mabuk. Om yang harusnya sadar." Kata Rendi sambil berdiri dan merapihkan jas, wajahnya terlihat begitu masam. Rendi ikut emosi.


"Mulai hari ini juga Rendi bawa Melly ke kantor Rendi, tapi Om tidak perlu khawatir. Rendi akan bawa gantinya, sekretaris yang nggak kalah pintar dengan Melly." Ucapnya melangkah keluar ruangan di ikuti oleh Dion.


"Apa-apaan dia, Melly ngadu apa sama Rendi. Dasar sialan." Gerutu Andra mengacak-acak rambut.


Rendi berjalan dengan gagahnya menyusuri lobby kantor dengan Dion dan Melly di belakang, tapi dia tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita.


"Rendi...." Panggil wanita itu dengan sumringah, dengan memakai dress seksi berwarna hijau dan sepatu hak tinggi.


Rendi menoleh ke arahnya dengan tatapan tak suka. "Ren sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku kangen sama kamu." Ucapnya di barengi langkah kaki.

__ADS_1


Siska. Ngapain dia ke kantor Om Andra. Ah tapi itu tidak penting.


Batin Rendi. Dia langsung melengos dan berjalan tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Siska.


🌼🌼🌼🌼


Tok... Tok... Tok, suara ketukan pintu yang terdengar dari luar ruangan Andra.


Itu pasti Rendi, dia mungkin berubah pikiran.


Batin Andra.


"Masuk..." Sahutnya.


Ceklek....


"Om...." Panggil Siska sambil memegang gagang pintu.


"Ah kamu, aku kira Rendi." Sahutnya kecewa.


Siska langsung duduk di sofa ruangan, dan Andra berjalan menghampirinya. "Ada apa cantik?" tanyanya membelai pipi.


"Om aku mau bicara serius, apa kita bisa bicara empat mata?" tanyanya melihat kearah Anton sang asisten, mengisyaratkan mengusir.


Siska membuka tas jinjing kecil yang ia bawa, lalu mengeluarkan alat tes kehamilan dengan dua garis merah merah di atasnya, dia langsung memperlihatkan pada Andra. "Aku hamil Om." Kata Siska tiba-tiba.


Mata Andra langsung terbelalak. "HAMIL??" tanyanya dengan spontan mengeserkan tubuhnya agak menjauh. "La-lalu.. Buat apa kau... Mem-beri tahuku?" tanyanya dengan nada terbata-bata.


"Aku hamil anak Om." Ujarnya memegang perut.


"Kau jangan bicara omong kosong Sis. Aku tidak percaya." Sahut Andra berdiri dan berpindah posisi duduknya ke kursi putar.


Siska juga ikut berdiri dan menghampirinya, "Apa maksud Om tidak percaya, aku hamil anak Om! Bahkan kita sering melakukannya, apa Om lupa ingatan?" tanya Siska memegang tangan Andra.


Dengan cepat Andra menepisnya, "Heh jalang! Bisa saja kan itu bukan anakku, kan kau sering melakukannya dengan pria lain." Umpatnya.


Siska menggelengkan kepalanya, "Sumpah demi apapun. Aku yakin anak ini adalah darah daging Om, sebulan kebelakang aku hanya bermain dengan Om seorang. Om harus tanggung jawab dan nikahin aku!" pekiknya menunjuk diri sendiri, meminta pertanggung jawaban. Dia benar-benar yakin anak yang di kandungnya adalah benih dari Andra.


Tangan Andra sudah berayun dan langsung menampar Siska.


Plakkkkk..... "Dasar wanita murahan!" Umpat Andra.


"Aaww..." Jerit Siska memegangi pipi kirinya yang terasa perih.


"Walaupun aku seorang duda. Tapi aku mempunyai anak, aku tidak mau memberinya ibu tiri jalang macam kamu." Umpatnya dengan nafas yang tersengal-sengal, mengatur nafas.

__ADS_1


Andra berjalan ke arah brangkas. Mengetik kata sandi lalu membukanya, di ambilnya uang dua gepok senilai 20 juta dan menaruhnya di atas meja. "Ambil uang ini dan gugurkan kandungan mu,"


Mata Siska langsung terbelalak. "Aku tidak mau menggugurkannya Om." Seru Siska sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa mau mu? Bukannya kau adalah wanita yang tidak menginginkan sebuah pernikahan. Aku sudah mengeluarkan biaya untukmu. Mulai dari makan, make up dan tempat tinggal. Jangan bersikap kurang ajar dengan meminta hal yang lebih." Pekiknya.


Siska mengigit bibir bawahnya dengan tubuh yang sudah gemetar.


Aku tidak mau menggugurkan bayiku, kehamilan ku yang pertama saja tidak berhasil aku gugurkan. Itu hanya membuat badanku merasa kesakitan. Bayi itu tetap lahir. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan?


Batin Siska melamun.


"Hei!" Bentaknya, "Kenapa kau diam saja, sudah ambil uangnya dan pergi dari sini!" Seru Andra dengan tangan yang sudah menunjuk kearah pintu.


Tapi Siska masih berdiri dalam diam dan memegangi perutnya yang belum terlihat buncit itu.


"........"


🌺🌺🌺🌺


Di kantor Rendi.


Setelah sampai Rendi langsung masuk kedalam ruangannya, di ikuti oleh Dion dan Melly.


Rendi langsung duduk di kursi putarnya, "Dion kau bilang sama Irene suruh dia bereskan barang-barangnya sekarang dan kau antarkan ke kantor Om Andra." Perintah Rendi.


"Baik Pak." Sahut Dion yang langsung beranjak keluar.


"Pak Rendi sekali lagi terima kasih, Bapak sudah bantu saya dan mengizinkan saya untuk kerja lagi di kantor Bapak." Ucap Melly membungkuk.


Rendi mengangguk. "Kau suruh OB buatkan aku kopi, ah jangan kopi. Teh manis hangat saja." Perintah Rendi yang langsung meralat, karena ingat kejadian kopi kemaren.


"Baik Pak." Sahut Melly hendak keluar dan berpapasan dengan Irene yang hendak masuk kedalam, wajah Irene menatap Melly sangat keki.


"Pak Rendi. Kenapa saya di pindahkan, apa salah saya?" tanya Irene yang binggung, pasalnya dia sudah lega karena kemaren tidak jadi di pecat. Eh hari ini tepat setengah hari dia di suruh pindah kantor.


Rendi berdecak kesal. "Kau tidak cocok menjadi sekretaris ku. Sudah sana ikut Dion ke kantor baru mu." Ucapnya mengusir.


"Tapi Pak, aku tidak mau.... Aku....."


"KELUAR!!!" Pekik Rendi marah sambil melotot. Irene dengan cepat memegang gagang pintu hendak keluar. Hati dan jantungnya begitu bergetar melihat bola mata Rendi yang seakan ingin keluar.


...🌾🌾🌾🌾🌾...


Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❤️ Jangan lupa favorit kan ya.....

__ADS_1


__ADS_2