
Mawan melihat kearah wajah Santi, "Mamah berbohong! Sejak kapan Mamah membeli alat begini. Kalaupun Mamah beli untuk diri sendiri, kenapa tidak langsung memakainya?! Kenapa musti ke kamar Indah?"
Ceklek.....
Pertanyaan yang menyudutkan belum Santi jawab, sekarang Indah terbangun sambil menggendong Bayu.
"Opa, Oma. Napa belicik?" tanya Bayu.
"Iya, Mamah dan Papah kenapa?" Indah menghampiri Santi yang terdiam, dia menoleh kearah Mawan dengan wajah emosi.
Indah mengerutkan dahi. "Papah! Ini masih pagi! Kenapa sih pagi-pagi sudah marah-marah?" tanya Indah kesal.
"Bagaimana Papah tidak marah? Mamah kamu, ingin memberikan kamu benda ini!" Mawan menunjukkan tespeck didepan wajah Indah.
Mata Indah terbelalak.
Tespeck? Kenapa Mamah memberikan itu padaku? Aku 'kan tidak sedang hamil.
Batin Indah.
"Mamah sama saja menghina kamu! Kamu tidak punya suami. Bagaimana bisa kamu memakai benda ini!"
Mawan membuka kardus dan mengambil benda berukuran sedang itu, dia ingin membelahnya, tapi dihentikan oleh Santi.
"Papah! Jangan dipatahkan. Kita coba dulu saja, siapa tau Indah beneran hamil, dia 'kan dan Reymond pernah ...,"
Takkk..... Benda itu berhasil terbelah menjadi dua oleh tangan Mawan.
"Mamah ini tidak waras! Indah tidak hamil! Lagian Reymond memperkosa dia sekali, mana bisa jadi anak! Papah juga tidak mau Indah hamil, apalagi anak Reymond! Itu aib Mah!" pekik Mawan dengan lantang.
Mawan berdecak kesal, tangannya memegang lengan Santi, mengajaknya untuk masuk ke kamar.
"Mamah ini keterlaluan sekali! Bisa-bisanya melakukan hal itu, Papah ingin Rio yang menikah dengan Indah!" pekik Mawan seraya masuk kamar mandi meninggalkan Santi sendiri.
***
Bibi pagi-pagi sudah menyiapkan beberapa menu sarapan. Nasi goreng, bubur ayam dan nasi uduk diatas meja makan. Dia tidak mau lagi di marahin Mawan karena kejadian kemarin.
"Pagi, Bi," sapa Indah seraya menarik kursi untuk dia dan Bayu duduk.
"Pagi, Non. Nona Indah bagaimana tangannya? Apa sudah sembuh?"
Indah memperlihat tangannya yang sudah kembali putih menyatu dengan kulitnya, "Sudah, Bi. Lihat, seperti tidak kenapa-kenapa."
"Syukurlah." Bibi menghela nafas lega. "Bibi ke dapur dulu. Silahkan sarapan Nona."
"Iya, Bibi juga."
__ADS_1
Bibi pembantu berjalan menuju dapur untuk membersihkan sisa-sisa piring kotor. Sementara Indah memperhatikan menu sarapan, tapi tidak ada yang menggugah selera pada mulut dan lidahnya.
Indah menoleh pada Bayu yang sudah menatap dengan tatapan lapar. "Bayu mau apa?"
"Naci goleng, Bunda."
Indah mengangguk dan mengambil piring untuk menuangkan nasi goreng untuk Bayu. Perlahan dia menyuapinya.
Ting ... Tong.
Ting ... Tong.
Bunyi bel diluar pintu berbunyi, Indah heran siapa yang pagi-pagi bertamu?
Bibi segera membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Rio. Dia begitu rapih dan tampan memakai setelan jas berwarna cream, dia membawa paper bag besar dan berjalan menghampiri Indah di meja makan.
"Pagi Indah, Bayu," sapa Rio sambil tersenyum.
Wajah Indah begitu masam, malas untuk melihat wajah Rio.
"Pagi Om Lio," sahut Bayu.
Rio mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Indah, Indah menggeserkan kursi yang ia duduki sedikit, supaya tidak terlalu dekat dengan Rio.
"Mau apa kesini?"
Rio memasukkan tangannya pada saku jas dan memberikan cincin dari Rendi kepadanya, "Ini, aku mau berikan lagi. Maaf kemarin aku sudah memaksamu."
Tak lama Mawan dan Santi datang menghampiri mereka di meja makan. "Rio, kamu pagi-pagi sudah datang," ucap Mawan sambil tersenyum.
"Iya, Pah," jawab Rio.
Santi dan Mawan duduk, ikut sarapan bersama. "Kamu sudah rapih begitu, mau pergi kemana?" tanya Santi.
"Hari ini 'kan pernikahan Om Andra, Mah. Aku mau menghadirinya, rencana aku mau ajak Indah juga. Aku sudah bawakan gaun untuknya," jawab Rio seraya memberikan paper bag yang ia bawa pada Santi.
"Ah iya. Mamah sampai lupa, acaranya jadi di rumah?" tanya Santi.
"Tidak, Om Andra menyewa gedung Hotel. Katanya dia juga mengundang banyak rekan bisnisnya, apa Rio boleh ajak Indah?" tanya Rio menatap wajah Santi dan Mawan secara bergantian.
"Aku tidak mau," sahut Indah cepat.
"Kenapa? Ikut saja dengan Rio, Indah," ucap Mawan.
Indah menoleh padanya, "Papah. Bukannya Papah tau Om Andra tidak pernah menyukaiku?"
"Ah benar juga, kau tidak perlu mengajak Indah. Rio," jawab Mawan mendukung.
__ADS_1
"Memang sudah ijab kabul belum?" tanya Santi.
"Mungkin 1 jam lagi, Mah." Rio melihat jam di pergelangan tangannya.
Santi mengangkat bokongnya, "Yasudah, kamu pergi saja dengan Mamah. Nggak usah ajak Indah, sebentar Mamah ganti pakaian dulu."
Santi berjalan menuju kamarnya sambil membawa paper bag dari Rio. Dia menaruhnya didalam lemari, Santi memilih beberapa gaun mahal yang masih baru pada lemarinya.
Mawan menoleh pada Indah yang sedari tadi terlihat tak nyaman, berada disamping Rio.
"Kamu kenapa? Sudah sarapan?"
"Aku tidak pengen, Pah," jawab Indah.
Mawan meraih segelas susu putih didekat lengangnya, "Yasudah minum susu saja."
Indah mengangguk dan meminum susu itu sampai habis.
"Kamu hari ini mau ke kantor atau tidak?" tanya Mawan.
"Iya, Pah. Aku bosan di rumah."
"Kamu ganti pakaian sekarang, Nanti kita pergi bersama," ucap Mawan seraya mengelus punggung Indah.
"Aku boleh ajak Bayu juga?"
"Jangan. Bayu biar sama Susi, nanti dia ikut ke acara Andra bareng dengan Mamah dan Rio."
Indah mengangguk dan berjalan menuju kamarnya untuk menggantikan pakaian.
***
Sementara itu, di apartemen Reymond. Dia sedang menyisir rambutnya didepan kaca, dia merasa sangat menyukai wajahnya yang sekarang, tidak henti-hentinya untuk memandang dirinya sendiri.
"Rey, kata Hersa. Om Andra menyewa gedung Hotel buat acara pernikahannya," ucap Rizky memberitahu.
Dia tengah duduk bersantai diatas kasur Reymond dan menyeruput secangkir kopi.
"Bagus juga, lebih enak di Hotel. Menangkap Jalang pasti lebih mudah," sahut Reymond dengan yakin.
"Tapi hari ini kita cari informasi dulu, kira-kira Om Andra kenal atau tidak dengan Haris. Jangan sampai sia-sia."
Reymond mengangguk. "Yasudah, kita ke kantor gue saja, maksud gue ke kantor Rio. Kita bisa dapatkan informasi disana, karena kantor Om Andra sekarang terhubung dengan kantor Rio," jelas Reymond.
"Tapi pagi ini kita ada meeting dengan Om Mawan dulu Rey, apa lu tidak masalah jika bertemu dengannya?" tanya Rizky.
"Apa masalahnya? Bukannya bagus, siapa tau lama-lama hati Papah bisa luluh."
__ADS_1
Reymond mengambil ponselnya diatas meja. "Gue mau coba telepon Indah sebentar ya," ucap Reymond seraya menelepon.
Dia begitu penasaran dengan hasil tespeck itu, walau belum yakin. Tapi kalau benar Indah hamil, dia akan lebih bahagia dan bisa secepatnya bersatu kembali.